Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (BONUS II (END): TIMMY SINGGAH DI HATINYA) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Edelweis, Mari Kita Mengacau!

Saat jam istirahat tiba, Hami dan Afika menyeretku di bawah pohon dekat lapangan basket. Mereka melarang Miwon untuk ikut kami bertiga karena kami membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan rahasia perempuan, yaitu rahasiaku. Semalam kami bertiga melakukan video call dan aku menceritakan bahwa aku baru saja mengutarakan perasaanku pada Edelweis secara spontan.

“Sejak kapan kamu menyukai Ed?” Afika mendahului Hami yang hendak berbicara duluan. Aku pun hanya tersenyum malu-malu. Hami memegang pundakku dengan tatapan menyelidik.

“Iya nih! Apa jangan-jangan selama ini rasa sukamu pada Miwon cuma pelampiasanmu saja karena tidak bisa menggapai perasaan kakaknya? Lalu sekarang kamu merasa bahwa ini waktunya?”

“Hey, novelis! Imajinasimu sudah terlalu jauh..!!!” seruku kemudian.

“APA?! TIMMY NAKSIR KAKAKKU?!!” kami bertiga terkejut saat melihat Miwon muncul di balik pohon. Miwon terlihat agak shock.

“Hey, kenapa kamu selalu suka bersembunyi disana sih?!” Afika berseru dengan perasaan jengkel. Mungkin ia kesal karena Miwon tidak menuruti perkataannya untuk tidak mengikuti kami bertiga.

“Tunggu dulu.. tunggu dulu..!!!” Miwon memegang pelipisnya dan berpikir dengan keras. “Jadi selama ini aku hanya sebagai tempat pelampiasan Timmy? Wah, kak Ed memang sepopuler itu..,”

“Mikirmu kejauhan, oppa!” jeritku sebal. Kujitak kepalanya supaya Miwon cepat sadar dengan apa yang dikatakannya. Kenapa perkataan Hami seperti sihir sih? Semua bisa percaya dengan perkataannya. Padahal sebenarnya aku kan...

“Kenapa malah berwajah sedih gitu?” tanya Hami bingung. Mereka bertiga menungguku untuk berbicara. Duh, tatapan mereka membuatku agak gugup. “Timmy, bicaralah!” Hami mengguncang-guncang tubuhku.

“Duh, iya iya!!! Aku juga nggak tahu kenapa aku bilang begitu sama Ed.”

“HAH?!!!” duh, mereka bertiga kok agak idiot sih. Berisik banget teriak kok bersamaan. Kulihat Miwon berbalik memunggungiku. Sepertinya oppa-ku satu ini mulai mencoba berpikir lagi. Sedangkan kedua temanku melihat Edelweis yang sedang berjalan kemari. HAH?! Ed akan kesini?! Apa yang harus kulakukan? Apa?! Apa??! Kenapa mendadak aku panik begini?!

“Fik, aku ingin berbicara sebentar denganmu,” ucap Edelweis dengan tenang. Edelweis melirikku sesaat sebelum menarik tangan Afika. Namun Miwon menahan tangan Edelweis.

“Mau bicara apa, kak? Apakah perlu ada sesuatu yang dirahasiakan?”

Edelweis menarik nafas sesaat. Lalu melihat kami berempat dengan tatapan ragu. ‘Hah! Apa dia benar-benar akan memaki Afika?!!’ pikirku kemudian. Edelweis membuka-menutup mulutnya berkali-kali seperti menahan untuk mengucapkan sesuatu. Lantas ia menoleh padaku.

“Tim, bisakah kamu membantuku mengatakannya?” ucapan Edelweis membuatku panik seketika. ‘GYAAA..!!! Ed benar-benar sudah gila! Tapi Ed sudah berjalan sejauh ini! Aku harus membantunya!’ Aku menodongkan jariku di depan wajah Afika dengan berani. Edelweis meniruku dengan gugup.

“KAU! DASAR PEREMPUAN BERWAJAH SAMBAL!”

“KAU! DASAR PEREMPUAN BERWAJAH SAMBAL!” Ed juga menirukan suaraku. Baik Hami, Miwon dan Afika melihat kami dengan tatapan  bingung. Aku tetap bereaksi seolah-olah aku berada di panggung teater.

“KAMU TIDAK TAHU KAN SEBERAPA BANYAK LUKA DI HATIKU?! KAMU SUDAH BANYAK MEMPERMAINKANKU!”

“KAMU TIDAK TAHU KAN..,” Ed menggeser tubuhnya didekatku dan berbisik, “Kamu serius?” kuanggukkan kepalaku dengan mantap. Edelweis pun melanjutkan, “KAMU TIDAK TAHU KAN SEBERAPA BANYAK LUKA DI HATIKU?! KAMU SUDAH BANYAK MEMPERMAINKANKU!”

“Kakak, kamu bicara apa..,” Miwon segera berdiri memunggungi Afika. ‘Cih, oppa! Dia selalu bersikap seolah-olah menjadi pahlawan kesatria kesiangan untuk Afika!’ Suasana sudah menjadi agak tegang.

“Ya.. maaf, aku tidak ingin mendengar lagi kamu berbicara kalau aku adalah orang yang baik di matamu. Karena aku bukanlah malaikat seperti yang kamu pikir.”

Aku melihat kesedihan di mata Afika. Mungkin kata-kata terakhir yang Edelweis ucapkan sendiri agak sedikit menyakiti hati Afika. Miwon menarik kerah seragam Edelweis dengan kasar.

“SUDAH, KAK, CUKUP!!!”

Aku langsung berteriak kencang, “ED, INI SAATNYA!!!” Edelweis mendengar komando dariku dan seolah-olah mengerti apa yang aku katakan, ia segera menonjok pipi Miwon dengan keras. Afika dan Hami berteriak karena terkejut. Hami menarikku dan berseru, “TIMMY! Sebenarnya apa yang sudah kamu rencanakan dengan Ed?”

“Aku sudah mengeluarkan sisi lain dari sang malaikat,” jawabku sembari mengerlingkan mata. Afika berusaha menahan Miwon yang hendak berbalik memukul Ed. Sedangkan Edelweis.. ya, malaikat itu melihat keduanya dengan perasaan lega. Setidaknya apa yang dilakukannya sudah mengurangi luka hatinya. Tak lama kemudian dia tertawa keras sambil berselonjor di atas tanah. Pada hari itu juga aku melihat tawa dari seorang malaikat. Wajahnya yang terhalang oleh siluet matahari sangatlah mengagumkan. Aku pun ikut tertawa dengannya.

“Kalian sudah gila ya?” Hami menggelengkan kepala tidak percaya. Sementara Afika terlihat tidak jadi menangis dan Miwon melihat kami seperti kambing cengok.

“Maafkan aku ya, Afika.. Maaf juga, dek Miwon. Ini semua adalah ide Timmy dan aku merasa harus melakukannya atas dasar kemanusiaan terhadap diriku sendiri!” seru Edelweis di sela tawa.

“Dan kami sudah berhasil memanusiakanmu kan, kak?” pada akhirnya Miwon tidak jadi marah. Pada akhirnya suasana yang tegang kini berganti menjadi tawa membahana dari kami. Terkadang suatu kekacauan bisa disambut dengan tawa apabila kita bisa jujur satu sama lain dan sang malaikat pun sudah membuktikannya.

***

“Kepada sang penakhluk hati akan ku serahkan jiwaku tanpa pemikiran panjang. Telah kupastikan hadirmu menjadi cambuk baginya. Namun mabuk kepayang bagiku. Diriku tidak merasakan ancaman bila didekatmu. Rasakanlah ketulusanku yang membara ini. Langit dan bumi pun mampu merasakannya jua,” setelah mengucapkan kalimat itu, Timmy menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan pemuda di depannya. “Duhai sang penakhluk hati..,” belum berlanjut pada kalimat berikutnya, matanya melesat ke arah bangku penonton. Melihat sosok cowok yang setiap malam dipikirkannya akhir-akhir ini sedang duduk di antara bangku-bangku penonton yang hampir saja kosong melompong membuatnya melonjak kegirangan.

“Edelweis, hey! My man!!!” dia menunjuk ke arah dimana Edelweis duduk. Pak Halim, guru pelatih teater yang duduk di bangku penonton paling depan langsung membalikkan tubuhnya ke belakang. Edelweis yang merasa tidak enak langsung tersenyum canggung.

“Timmy, kamu harus serius dong. Tinggal seminggu lagi loh kita tampil!” keluh cowok di depan Timmy yang sedari tadi memainkan peran dengannya. Timmy menepuk pipi cowok itu pelan sembari tersenyum. Cowok itu merasa terpesona saat melihat wajah Timmy didekatnya.

“Baiklah, sang penakhluk hati. Saya akan lebih serius lagi.”

“Baiklah. Sampai disini dulu latihannya. Besok siang kita berkumpul lagi seperti biasanya ya,” pak Halim bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan. “Good job! Terima kasih untuk kalian yang sudah bekerja keras hari ini.”

Timmy dan anggota teater lainnya bertepuk tangan. Begitu pula dengan Edelweis. Kemudian Edelweis berjalan menghampiri Timmy yang turun dari panggung. Namun langkahnya terhenti saat melihat cowok yang sebelumnya berlatih bersamanya datang mendekati gadis itu.

“Timmy, aku traktir makan yuk.”

“Dalam rangka apa?”

“Ummh, dalam rangka pedekate.. eeh.. keberhasilan latihan teater kita hari ini.”

“Berarti kamu mau traktir kita semua dong!”

“Kita semua?” ulangnya dengan wajah bingung.

“Iya. Kita! Teman-teman satu teater.”

“Eh.. ehh.. nggak! Bukan! Maksudnya..,”

“Tapi maaf ya aku nggak bisa ikut. Aku sudah ada janji sama seseorang,” setelah berkata seperti itu, Timmy berbalik dan mengacungkan tanda peace sembari tersenyum lebar ke arah Edelweis. Edelweis melihat cowok sebelumnya sedang melongo menatap kepergiannya dengan Timmy.

“Tim, kamu sengaja ya?”

“Sengaja apa?”

“Dia kan cuma mau traktir kamu. Itu berarti dia..,”

“Iya aku tahu kok kalau Steven naksir aku.”

“Oh jadi Namanya Steven,” Edelweis terdiam sejenak. Sebelumnya saat melihat Timmy didekati oleh cowok yang bernama Steven itu, dia merasakan ketidaknyamanan. Dia merasakan perasaan aneh yang tidak dia ketahui. ‘Entah kenapa aku merasa sedikit tidak suka melihat pemandangan itu,” begitu pikirnya. “Lha, terus? Harusnya kamu..,”

“Aku nggak mau ngasih harapan ke dia, Ed.”

“Kamu kok memotong kata-kataku terus sih. Iih, gemas!” Edelweis mencubit kedua pipi Timmy yang chubby. Ia tidak tahan mendengar Timmy mampu menebak apa yang di pikirannya terus-menerus.

“Karena yang aku suka bukan dia. Tapi kamu,” Edelweis langsung terdiam mendengar kespontanan Timmy. Ia tidak menyangka Timmy mudah berterus terang. Sangat berlawanan dengan dirinya yang lebih terkesan menutup-nutupi sesuatu agar dirinya tetap terlihat baik di mata orang lain.

Namun Timmy, gadis itu akan tetap mengeluarkan segala apa yang dipikirkannya. Baik hal itu bersifat sesuatu yang buruk sekalipun. Hal itu membuat Edelweis kikuk. Tidak berkutik sama sekali. Ia tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.

Timmy menoleh ke arah Edelweis. Ia menyadari kebisuan orang disebelahnya. Ia melangkah ke depan dan menghentikan Edelweis yang berjalan dalam lamunan. Kini mereka saling berhadapan. Edelweis agak sedikit terkejut.

“Timmy! Kaget sekali! Aku kira siapa..?”

“Menurut Edelweiss, Timmy itu orangnya kayak gimana?”

‘GLEK!’ Edelweis menelan ludahnya dalam sesaat. Kemudian ia tertawa canggung. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

“Maaf, Timmy. Kamu memang cewek yang baik. Tapi aku tidak bisa..,”

“Kenapa?” potongnya. “Kenapa Timmy tidak bisa? Tapi Afika bisa?”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin sendiri dulu. Tidak ingin pacaran lagi dulu. Aku ingin kembali bernafas setelah membangun ikatan yang rapuh sebelumnya. Aku harus memiliki kepercayadirian dalam menjalin hubungan lagi. Tidak ingin terantuk seperti dulu. Timmy bisa mengerti kata-kataku kan?” Edelweiss menjelaskan sambil mengusap kepala Timmy.

Timmy menunjukkan senyum di wajah polosnya.

“Timmy mengerti. Edelweiss juga harus ingat kalau pernyataan Timmy akan tetap sama sampai hari itu tiba.”

***

Edelweiss merasa keanehan dalam diri Timmy setelah mereka mengobrol di hari itu. Setelah kejadian itu, Timmy seperti menghindari Edelweiss. Saat mereka bertemu dalam jarak 1 meter, Timmy membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menjauh darinya. Saat Edelweiss hendak menemuinya di dalam kelas, Hami mengatakan bahwa Timmy tidak ada di dalam kelas. Padahal jelas-jelas Edelweiss melihatnya sedang meringkuk di bawah meja guru. Karena merasa ada yang salah, Edelweiss berusaha menemui Timmy di ruangan teater. Namun saat melihat Timmy yang tertawa terbahak-bahak ketika mengobrol dengan Steven, Edelweis memilih untuk pergi.

Miwon merasa ada yang salah dengan kakaknya. Pada saat jam istirahat tiba, Miwon mendatangi kakaknya yang sedang duduk bersama dengan Mayang, Tara, dan Wildam di depan lapangan basket. Ia mendapati kakaknya tenggelam di dalam lamunan dan tidak merespon Wildam yang sedang membuat lelucon pada wajahnya. Miwon duduk di samping kakaknya.

“Ada yang melamun nih,” sahutnya sambil menepuk bahu Edelweiss. Kemudian Edelweiss tersadar dalam lamunannya. Ia agak terkesiap melihat kehadiran adiknya. “Tenang, kak. Ini Miwon. Bukan setan. Hahaha..,”

“Eh, ya!” Edelweis yang semula berdiri karena terkejut, lalu ia duduk lagi. Kemudian Edelweis tampak terdiam lagi. Miwon menyadari pandangan kakaknya lurus ke depan. Miwon berusaha memastikan apa yang dilihat oleh kakaknya. Ia merasa yakin bahwa kakaknya tidak sedang melihat para siswa bermain basket. Pandangan Edelweiss seperti sedang melihat di seberang lapangan sana. Ia melihat Afika dan Hami yang tengah mengobrol disana.

‘HAH! Apa jangan-jangan kakak masih belum move on dari Afika?!!’ Miwon berusaha menghapus firasat buruknya. ‘TIDAK! Itu semua sudah berlalu!” Ia menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.

“Dimana Timmy?” Miwon agak kaget mendengar suara kakaknya. Edelweis menoleh ke arahnya.

“Oh! Ternyata kakaknya sedang mencari sosok Timmy toh! Aku kira..,” Miwon tertawa lega. Edelweis mengernyitkan keningnya.

“Aku kira? Maksudnya?”

Miwon menjadi agak salah tingkah.

“Oh! Tadi Timmy lagi diskusi sama anak-anak teater. Terus mau makan bakso di kantin juga!”

“Berarti sekarang dia ada di kantin?” Miwon hendak menjawab. Namun kakaknya langsung berdiri dan beranjak pergi. Miwon merasakan sesuatu yang ganjil. Kakaknya tidak pernah tergopoh-gopoh dalam setiap bertindak. Edelweis yang dikenalnya adalah seseorang yang merencanakan sesuatu sedetail mungkin. Berpikir dahulu sebelum bertindak. Akan tetapi kali ini Edelweiss memutuskan sesuatu yang belum pasti sebelum mendengarkan jawabannya. Edelweiss bukan orang yang seperti itu!

“Aku masih belum yakin. Tapi pasti ada sesuatu dengan kakak dan Timmy!” cetusnya kemudian. Dia tidak menyadari bahwa ucapannya di dengarkan oleh Mayang, Tara, dan Wildam. Rupanya sudah sedari tadi kelompok tiga serangkai itu menyadari kepergian Edelweis.

“Ada apa dengan Ed dan Timmy?” tanya Mayang. Miwon langsung tersadar. Ia menjadi salah tingkah kembali.

***

Edelweis mencari keberadaan Timmy di tengah kerumunan para siswa di kantin. Namun ia tidak menemukan sosok gadis kecil itu. Entah kenapa Edelweiss merasa sedih. Ia keluar kantin dengan muka masam. Saat melewati lorong kelas yang agak gelap, ia menemukan sosok gadis itu. Namun ia tidak sendirian. Ia sedang bersama dengan Kevin.

Melihat Timmy yang bersandar di tembok dan tangan Kevin menghantam tembok hingga keduanya saling bertatapan, benar-benar membuat Edelweiss naik darah. Ia merasakan darahnya mendidih. Edelweiss benar-benar tidak suka melihatnya. Dia mendatangi keduanya dengan marah. Lalu Edelweis mendorong Kevin hingga terjatuh dan menarik tangan Timmy dengan kasar. Timmy agak terkejut melihat kehadiran Edelweiss yang tiba-tiba. Ia berusaha melepaskan tangannya dari Edelweiss.

“Ed, sakit!” Edelweis melepaskan tangannya dan berbalik di hadapan Timmy. Ia menggoncang-goncangkan pundak Timmy dengan emosi yang meluap-luap.

“Sebenarnya ada apa denganmu?! Tidak! Ada apa dengan kita?! Aku berusaha mencarimu.. menemuimu! Tapi kamu malah berlari menghindariku! Dua minggu lima hari kita tidak bertemu! Tapi ternyata apa yang kamu lakukan sekarang??! Berduaan saja dengan Steven! Padahal kamu bilang suka sama aku! Tapi kamu malah menjauhiku! Padahal aku kangen kamu tahu!”

“Apa?” Timmy agak terperangah mendengar perkataan pemuda di depannya. Matanya terbelalak hampir tidak Percaya bahwa Edelweis berada di depannya dan mengatakan segala isi di pikirannya. Edelweiss yang semula menggila, kini terdiam. Ia seperti menyadari sesuatu yang aneh. Ia menoleh dan melihat Steven yang berdiri bersama dengan anak-anak teater. Mereka tertawa geli. Edelweiss kembali melihat Timmy.

“Iya, Ed. Aku nggak lagi berduaan sama Steven. Kami lagi latihan. Tapi anak-anak teater duduk menonton kami dari samping.”

“Tapi.. kenapa harus disini?”

“Disini tempatnya sepi. Para siswa nggak banyak lalu-lalang disini. Cocok buat latihan. Tapi masa sih Ed nggak melihat anak-anak teater di dekat kami?”

“Itu karena mataku hanya melihatmu. Dasar boncel!” Edelweis mengacak-acak rambut Timmy dengan gemas. ‘CIYEEE…,’ para siswa anggota teater menggoda keduanya sembari tertawa cekikikkan. Sementara Kevin langsung merasa patah hati. Edelweiss berjalan pergi meninggalkan Timmy. Namun Timmy langsung mengejarnya. Timmy langsung memeluk erat tubuh Edelweiss dari belakang. “Hey, nanti ada guru yang melihat!”

“Timmy juga kangen sama Ed. Tapi Timmy sadar diri harus kasih waktu untuk Ed. Ed ingin sendiri dulu. Jadi Timmy harus menahan diri Timmy untuk bertemu denganmu. Ed jangan marah lagi ya sama Timmy. Pernyataan Timmy tetap berlaku loh, Ed. Jadi Ed juga harus kasih jawaban lagi sama Timmy sampai hari itu tiba,” Edelweis menyunggingkan senyum sebelum membalikkan tubuhnya. ‘Anak ini. Bilangnya ngerti tapi ternyata sok-sok an mengerti ya? Dasar, bikin orang cemas saja.’

“Aku ingin sendiri dulu bukan berarti kemana-mana selalu ingin sendiri atau tidak ingin bertemu dulu dengan Timmy. Tapi aku menginginkan status single dulu dalam waktu yang aku tidak tahu kapan pastinya. Aku tidak ingin berpacaran dulu. Bukan berarti tidak menginginkan Timmy sebagai pacarku. Aku malah sudah membayangkannya. Semenjak aku mendengar pernyataan Timmy, aku merasa sudah melihat bahwa ke depannya kamu akan selalu ada untukku dan memegang tanganku. Seperti perasaanmu yang tiba-tiba datang itu sama dengan apa yang aku rasakan. Aku ingin Timmy mengerti kalau sekarang Timmy ada di dalam jadwalku. Aku ingin melakukan hal apapun denganmu. Karena sekarang kamu merupakan seseorang yang berharga bagiku juga.”

Timmy berusaha mencerna kata-kata Edelweiss. Namun bagi seorang Timmy, memahami perkataan orang lain panjang kali lebar pun dia tidak akan paham. Edelweiss pun menyadari hal itu. Ia melihat keterbingungan yang ada di wajah gadis itu.

“Kayaknya kalau gini kamu bakalan ngerti deh!” Edelweiss mengecup kening Timmy dalam waktu yang singkat hingga Timmy tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Timmy langsung menodongkan tangannya ke depan.

“Tunggu dulu.. tunggu dulu! Itu berarti Ed..,” Timmy berusaha berpikir lagi. Lantas ia melihat Edelweiss yang sedang tersipu-sipu sambil melihat ke arah lain. “Kyaaa… hari itu tiba! Hari itu sudah tiba!!!!”

Timmy langsung bergelayut di lengan Ed dan berbicara ngalor-ngidul. Edelweiss mendengarkannya dengan senyuman yang kini tidak mampu ia lepaskan. Edelweiss menyadari bahwa Timmy merupakan seseorang yang berharga baginya. Timmy menjadi tempat persinggahan hatinya yang terpenjara. Meruntuhkan kekerasan hatinya yang telah lama berpagar besi. Gadis yang mengajarinya banyak hal. Terutama selalu terbuka dalam mengekspresikan setiap jengkal di hatinya.

***

AUTHOR’S NOTE

Terima kasih kepada para pembaca tinlit yang sudah menemaniku menyelesaikan kisah ini. Pada akhirnya semuanya berakhir happy ending. Oh ya, untuk kalian yang merasa penasaran dengan hubungan apa yang dimiliki Wildam dan Hami? Mereka memiliki hubungan yang spesial antar sahabat. Walaupun samar, namun sebenarnya mereka memiliki hubungan yang baik di belakang layar kisah ini. Tidak hanya saling bertukar komik ataupun hanya memiliki hobi yang sama, sebenarnya mereka juga sering bertukar pikiran tentang segala sesuatu, apalagi kalau itu urusan mading. Mereka yang paling betah dan antusias dalam mengerjakan setiap titah dari sang ketua, Edelweiss. So, sekali lagi terima kasih atas kesetiaan kalian dalam mengikuti kisah ADOLESCERE LOVE hingga dua sekuel yang saya tayangkan. Semoga kalian menyukainya. Tunggu karyaku yang akan datang lainnya yaa! SAMPAI JUMPA!!!! ^_^”o

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Asrama dan Asmara
4      4     0     
Short Story
kau bahkan membuatku tak sanggup berkata disaat kau meninggalkanku.
Ginger And Cinnamon
64      18     0     
Inspirational
Kisah Fiksi seorang wanita yang bernama Al-maratus sholihah. Menceritakan tentang kehidupan wanita yang kocak namun dibalik itu ia menyimpan kesedihan karena kisah keluarganya yang begitu berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya itu membuat semua harapannya tak sesuai kenyataan.
Bukan kepribadian ganda
88      38     0     
Romance
Saat seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya, mengasingkan bukan cara yang tepat untuk bertindak. Maka, duduklah disampingnya, tepuklah pelan bahunya, usaplah dengan lembut pugunggungnya saat dalam pelukan, meski hanya sekejap saja. Kau akan terkenang dalam hidupnya. (70 % TRUE STORY, 30 % FIKSI)
Love Rain
123      4     0     
Romance
Selama menjadi karyawati di toko CD sekitar Myeong-dong, hanya ada satu hal yang tak Han Yuna suka: bila sedang hujan. Berkat hujan, pekerjaannya yang bisa dilakukan hanya sekejap saja, dapat menjadi berkali-kali lipat. Seperti menyusun kembali CD yang telah diletak ke sembarang tempat oleh para pengunjung dadakan, atau mengepel lantai setiap kali jejak basah itu muncul dalam waktu berdekatan. ...
Tsurune: Kazemai Koukou Kyuudoubu - Masaki dan Misaki dan Luka Masa Lalu-
41      10     0     
Fan Fiction
Klub Kyudo Kazemai kembali mengadakan camp pelatihan. Dan lagi-lagi anggota putra kembali menjadi 'Budak' dalam camp kali ini. Yang menjadi masalah adalah apa yang akan dilakukan kakak Masaki, Ren, yang ingin meliput mereka selama 3 hari kedepan. Setelah menjadi juara dalam kompetisi, tentu saja Klub Kyudo Kazemai banyak menjadi sorotan. Dan tanpa diketahui oleh Masaki, Ren ternyata mengundang...
That Devil, I Love
96      45     0     
Romance
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Airin daripada dibenci oleh seseorang yang sangat dicintainya. Sembilan tahun lebih ia memendam rasa cinta, namun hanya dibalas dengan hinaan setiap harinya. Airin lelah, ia ingin melupakan cinta masalalunya. Seseorang yang tak disangka kemudian hadir dan menawarkan diri untuk membantu Airin melupakan cinta masa lalunya. Lalu apa yang akan dilakukan Airin ? B...
Kata Kamu
15      6     0     
Romance
Ini tentang kamu, dan apa yang ada di dalam kepalamu
Lilian,Gelasmu Terisi Setengah
5      5     0     
Short Story
\"Aku bahkan tidak dikenali oleh beberapa guru. Sekolah ini tidak lain adalah tempat mereka bersinar dan aku adalah bagian dari figuran. Sesuatu yang tidak terlihat\"
Ręver
23      22     0     
Fan Fiction
You're invited to: Maison de rve Maison de rve Rumah mimpi. Semua orang punya impian, tetapi tidak semua orang berusaha untuk menggapainya. Di sini, adalah tempat yang berisi orang-orang yang punya banyak mimpi. Yang tidak hanya berangan tanpa bergerak. Di sini, kamu boleh menangis, kamu boleh terjatuh, tapi kamu tidak boleh diam. Karena diam berarti kalah. Kalah karena sudah melepas mi...
About love
18      14     0     
Romance
Suatu waktu kalian akan mengerti apa itu cinta. Cinta bukan hanya sebuah kata, bukan sebuah ungkapan, bukan sebuah perasaan, logika, dan keinginan saja. Tapi kalian akan mengerti cinta itu sebuah perjuangan, sebuah komitmen, dan sebuah kepercayaan. Dengan cinta, kalian belajar bagaimana cinta itu adalah sebuah proses pendewasaan ketika dihadapkan dalam sebuah masalah. Dan disaat itu pulalah kali...