Lima orang gadis saling berkumpul setelah menaiki wahana hysteria. Begitu pula dengan ketiga cowok yang juga baru saja turun dari sana. Salah satu cewek berwajah agak pucat. Matanya melotot dan wajahnya berkeringat.
“Ayo, kita naik itu!” seru Miwon sambil menunjuk roller coaster. Lima orang itu langsung berlari ke arah sana sambil menjerit senang. Hanya dua cewek dan cowok yang tersisa.
“Fik, kamu nggak apa-apa?” tanya Edelweis agak khawatir.
“Badan kayak berasa diayak nih,” desis Afika sembari mengatur nafasnya.
“Fik, ayo kita naik kesana!” Miwon menarik tangan Afika untuk segera berbaris di atrian rollercoaster. Afika menggelengkan kepala dengan cepat.
“Aku juga nggak mau! Disana serem ah! Timmy takut!” seru Timmy yang berjalan mendekati mereka. Lalu Edelweis menyeretnya dengan menarik kerah bajuya dari belakang.
“Kalau begitu ayo ke tempat yang tidak menyeramkan!” seru Edelweis. “Dek, jangan paksa Afika. Kasian dia. Kayaknya ketakutan gitu,” imbuhnya sebelum pergi. Miwon mendekati Afika. Dia melihat mata Afika yang meleng kemana-mana. Tarikan nafasnya pun tidak beraturan. Miwon menarik tangan Afika lagi.
“Ayo kita istirahat dulu. Aku tidak akan memaksamu untuk menaiki wahana yang seram-seram lagi kok,” mereka duduk di undakan tangga. Mereka saling terdiam.
“Hey, lihat! Apa kita harus menaiki permainan kekanak-kanakan itu?!” seru Miwon sambil menunjuk ke arah wahana berbentuk pesawat helikopter beroda dengan area rel yang tidak terlalu tinggi. Lalu mereka berdua melihat Timmy dan Ed berada disana.
“Ini menyenangkan! Yaaahuu..,” teriak Timmy girang. Miwon dan Afika saling memandang. Mereka tertawa secara bersamaan. Kemudian Afika memutuskan untuk berdiri.
“Oke! Ayo, kita pergi ke wahana yang menyeramkan,” Miwon ikut berdiri.
“Nggak usah memaksakan diri lah, Fik,” katanya. Afika menggelengkan kepala.
“Aku ingin menyukai apa yang kamu sukai. Dengan begini aku akan lebih mengenalmu.” Degh! Jantung Miwon terasa dipanah tombak cinta. Dia memukul-mukul dadanya sambil meringis sendirian. “Miwon, kamu kenapa?” tanya Afika bingung. Miwon langsung tersadar. Dia memegang kedua tangan Afika.
“Kamu begitu manis. Aku janji besok kita akan pergi ke museum manapun. Terserah kamu! Tanpa kak Ed, Timmy, Hami, Tara, dan Wildam! Hanya kita berdua! Aku juga ingin menyukai apa yag kamu sukai. Dengan begitu kita bisa sama-sama mengenal lebih jauh.”
“Emm!” kata Afika menganggukkan kepala lagi sambil tersenyum. Dia mengambil dua penjepit rambut dari dalam tas kecilnya. Dia memasangkan jepit di rambutnya dan memasangkan satu lagi di rambut Miwon. Keduanya saling tersenyum.
“Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah hantu!!!!”
Miwon menarik tangan Afika sambil berlari menuju rumah hantu. Mereka berdua terlihat bahagia satu sama lain. Tekad mereka selalu sama. ‘Dengan begitu, kita bisa mengenal satu sama lain lebih jauh.’
TAMAT
Hai, teman-teman pembaca! Terima kasih karena selama ini bersedia menunggu setiap kelanjutan bab dari ADOLESCERE LOVE. Sebenarnya kisah ini belum benar-benar TAMAT, loh. Pada chapter selanjutnya, saya akan menambahkan bab baru untuk menghadirkan sudut pandang dari EDELWEISS. Tentunya saya agak kasihan sama dia, udah kehilangan pasangan, kisah hidupnya hanya sedikit lagi.. hanya di beberapa bab. Maka dari itu, pada chapter selanjutnya saya akan membubuhkan sedikit kelanjutan dari perjalanan hidup Edelweiss. Siapa nih yang ngefans juga sama Edelweiss dan nggak sabar menunggu chapter selanjutnya? Nantikan chapter selanjutnya yaa, teman-teman pembaca! Terima kasih atas dukungannya selama ini..!!!!
NANTIKAN BONUS CHAPTER SELANJUTNYA!!!!!!!