Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (23~TIDAK BIMBANG LAGI) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Pertemuan dengan setan yang membuat heboh!

Danu menaiki tangga dan berjalan menuju kelasnya. Sampai di depan pintu kelas yang tertutup, dia melihat arah jarum jam yang menunjukkan pukul enam tepat.

“Sepertinya aku terlalu pagi,” katanya sambil membuka pintu kelas. Danu merasakan bulu kuduknya sedikit merinding. Ruangannya sangat gelap dan mengeluarkan aroma yang menyengat. Dilihatnya ac belum dinyalakan sama sekali. Danu memberanikan diri untuk masuk. Dia menyalakan ac. Lalu hendak menyalakan lampu.

“Danu..,” dia terkejut karena merasa seperti seseorang sedang memanggilnya. Dengan sedikit gemetaran dia segera menoleh. Terdapat seorang gadis berambut panjang yang duduk di sudut kiri bangku kelas. “Lampunya jangan dinyalakan.

Bulu kuduknya semakin meremang. Danu berteriak dan segera berlari keluar kelas. Karena tergesa-gesa, dia tersandung dengan kakinya sendiri. Tubuhnya terperosok di ubin dekat undakan tangga. Dia bangkit dan berlari lagi.

#Korban pertama (gara-gara Afika)

Risa melangkah menuju undakan kecil di dekat ruangan kelasnya. Dia hendak membuka pintu. Dilihatnya ruangan tampak gelap gulita. Tubuhnya merinding sesaat. Dia memutuskan untuk melihat ruangan kelas dari kaca luar. Benar, ruangan itu benar-benar gelap. Tetapi seperti ada asap hitam yang mengepul di sudut kiri kelas. Risa menghapus perasaan ngeri yang menjalari tubuhnya. Dia melangkah masuk dan menekan tombol lampu.

“Afika,” sapanya kemudian. Dia sudah menduga jika cewek yang duduk di pjokan itu Afika. Risa hendak mendekatinya. Namun dia melihat seseorang yang duduk di bangku sudut kanan. Afika mengusap matanya yang sembab dan berjalan menuju Risa berdiri.

“Pagi, Ris,” sapanya. Risa tidak menjawab sapaannya. Dia malah menunjuk seorang gadis berambut panjang yang tengah duduk di bangku sudut kanan. Afika juga terkejut ada seseorang selain dirinya. Keduanya saling melihat.

“Kayaknya dia bukan siswi disini,” bisik Risa.

“Sepertinya dia tampak asing. Sedari tadi aku sendirian disini. Bagaimana kalau kita lihat kakinya?” keduanya menengok ke bawah. Benar-benar tidak punya kaki! Setelah mengetahui kenyataan itu, mereka segera berlari dan saling berebut pintu keluar. Setelah keduanya keluar, mereka berlari dan berteriak secara bersamaan.

#Korban kedua dan ketiga (gara-gara setan sungguhan)

☻☺☻

“Hahaha.. jadi kalian melihat setan yang asli? Sungguh keajaiban!” celetuk Damar. Setelah insiden tadi pagi, Afika dan Risa dikerubungi oleh teman-teman sekelas. Danu berusaha memasuki gerombolan.

“Berarti yang aku lihat tadi pagi setan beneran?!!” paparnya sedikit merinding.

“Bukan! Tadi itu aku tahu!” gumam Afika pelan, sedikit kesal.

“Waa.. aku nggak nyangka kalau kelas kita benar-benar berhantu!” jerit Damar. Afika merasa kepanasan digerombolin seperti itu. Maka dia segera keluar dari gerombolan. Dia melihat Miwon berdiri tidak jauh darinya. Miwon dan Hami berjalan ke arahnya.

“Gara-gara setan, sekarang kamu terlihat semakin dekat ya dengan teman-teman?”

“Begitulah, Won,” kata Afika pelan. Dia hanya melihat Miwon sekilas. Entah kenapa jika dia melihat wajah Miwon  mengingatkannya telah melukai Edelweis. Dia merasa bersalah. Hami menepuk bahunya.

“Matamu kelihatan sembab, Fik,” Afika tahu itu. Dia menangis semalaman. Merutuki dirinya sendiri karena merasa bersalah pada Edelweis yang selama ini baik padanya. Bahkan Mayang juga menghiburnya semalaman. Miwon ikut-ikutan memperhatikan wajahnya.

“Aah, ya! Kenapa sekarang matamu jadi tambah gosong?” Afika segera memukul bahu Miwon. Dia merasa sedikit kesal karena dibilang ‘mata gosong’. “Pasti kamu tidur larut malam lagi ya, Fik.”

Afika menghela nafas.

“Begitulah,” katanya singkat. Hami merangkul Afika dan menunjuk Timmy yang melihat tajam ke arahnya. Tidak biasanya dia melihat ekspresi kemarahan dari Timmy. Gadis kecil itu selalu menunjukkan wajah cerianya. Afika dan Hami hendak mendekatinya. Namun bel masuk berbunyi. Teman-teman sekelasnya langsung berhamburan. Mereka segera duduk di bangku masing-masing. Miwon menarik tangan Afika.

“Boleh aku duduk denganmu lagi?”

☻☺☻

Miwon ditugaskan untuk mengumpulkan buku-buku lks Sosiologi di ruang guru. Afika yang melihat itu langsung membantu membawakan sebagian buku lks yang dibawa Miwon. Timmy merasa benar-benar cemburu melihat hal itu. Hami cukup memahami apa yang terjadi pada temannya itu. Seharian dia tidak berbicara satu patah katapun. Dia hanya uring-uringan pada dirinya sendiri. Marah-marah kalau penggarisya jatuh di lantai, marah-marah kalau dia salah menulis jawaban, marah-marah kalau dia sempat melihat kedekatan Miwon dan Afika ketika jam pelajaran berlangsung.

“Kamu pasti merasa tidak suka melihat kedekatan mereka kan?” tanya Hami setelah Timmy terus memandang Miwon dan Afika sampai keluar kelas. Timmy tidak menghiraukannya. Wajahnya cemberut dan terus saja mencoret-coret buku. “Tenang saja, Afika tidak akan mengganggu hubungan kalian kok.”

Timmy menoleh dengan cepat.

“Afika benar-benar tidak akan merebut oppa-ku kan?”

Hami melihatnya dengan tampang penuh menyelidik. “Kenapa kamu bisa bilang begitu? Walaupun Afika menyukainya, dia tidak akan berbuat seperti itu pada sahabatnya sendiri,” Timmy menunduk lemas.

“Aku tahu itu. Afika tidak akan melakukannya. Tetapi aku tidak yakin dengan Miwon,” katanya sambil menahan butir-butir air mata yang hampir keluar.

“Kenapa? Bukannya kalian saling menyukai? Kenapa kepercayaan dirimu hilang begitu saja? Kamu harus percaya pada pacar sendiri dong.”

“Dia bukan pacarku lagi,” Hami mengernyitkan kening mendengarnya. “Dia memintaku untuk berhenti membahagiakannya. Dia memilih untuk terus menyukai cewek itu walaupun cewek itu bersama dengan orang lain.”

Hami terkejut, “Jadi.. Miwon dan kamu..,”

Timmy menggeleng kuat-kuat. Dia menatap sahabatnya dengan serius.

“Aku tidak perduli kami memiliki hubungan seperti apa. Aku tetap akan mempertahankannya. Bagaimanapun juga dia cinta pertamaku!”

Afika dan Miwon kembali ke kelas. Timmy segera menahan cowok itu.

“Aku ingin berbicara padamu. Hanya berdua,” Miwon hendak menjawab, namun dia melihat Pak Moto, guru matematika memasuki ruangan kelas.

“Okay. Pada waktu jam istirahat saja ya.”

☻☺☻

“Aku tidak ingin putus denganmu,” kata Timmy. Mereka berdua saling bericara di bawah tangga dekat lapangan basket. Miwon berdiri samil melipat kedua tangannya.

“Tim, kita sudah membicarakan ini sebelumnya.”

“Kamu egois, Won. Kamu tidak pernah menghargaiku sedikitpun. Padahal aku sudah berupaya untuk membahagiakanmu.”

“Aku selalu menghargaimu. Tetapi aku tidak bisa lagi membohongi perasaanku padamu lagi. Kamu selalu aku anggap sebagai adik perempuanku,” kata Miwon sambil mengusap rambut gadis itu lembut. Timmy menampik tangan Miwon penuh emosi.

“Lebih baik kamu tetap membohongiku!” Timmy menitikkan air mata sembari terduduk. Miwon juga berjongkok dihadapannya.

“Maafkan aku, Tim. Aku tidak bisa membohongi temanku yang paling manis dan baik ini. Kamu cewek yang terlalu baik untuk dibohongi,” Timmy mengusap air matanya yang baru saja mengalir.

“Kamu sangat suka padanya?” Miwon mengangguk.

“Kalau begitu kamu harus memperjuangkannya. Jangan pantang menyerah hanya karena sainganmu adalah kakaknya.”

“Kenapa kamu tiba-tiba..,” Miwon merasa bingung dengan tingkah Timmy.

Cewek itu mengendikkan bahunya. “Aku tidak tahu apa yang aku katakan ini. Tetapi aku tahu dimana titik aku harus menyerah.”

“Timmy,” Miwon menarik nafas lega.

“Kalau begitu aku boleh mengucapkan satu permintaan padamu?”

“Apa itu?”

“Tolong kembalikan barang-barang yang pernah aku berikan padamu,”

“Okay, besok akan aku kembalikan.”

“Nggak, aku maunya sekarang!”

“Kenapa?”

“Aku ingin segera membakar barang-barang itu.”

“Sayang sekali kalau harus dibakar.”

“Kamu ingin aku secepatnya melupakan perasaanku padamu kan?” tanya Timmy. Miwon mengangguk perlahan.

“Makanya nanti antar aku ke rumahmu setelah pulang sekolah. Aku akan mengambil sendiri barang-barang itu,”

“Tapi nanti kita ke rumah kak Ed dulu ya. Aku ingin menemui ibuku disana.”

“Ibu? Lho kalian nggak satu rumah?”

“Ceritanya panjang. Rumit kalau diceritakan sekarang.”

“Okay. Aku juga nggak suka yang rumit-rumit. Sampai nanti,”  setelah megatakan hal itu, Timmy berlari meninggalkan Miwon. Dia berlari ke arah Hami dan Afika yang duduk di bawah pohon seperti biasanya.

 “Kamu terlihat serius amat. Ngomong apaan sih tadi sama Miwon?” tanya Hami. Timmy melihat Afika yang melihat sekilas padanya. Dia tersenyum penuh arti.

“Nanti Miwon membawaku ke tempat yang istimewa,” ucapnya dengan wajah riang. Kemudian ia duduk di sebelah Afika. “Kamu nggak cemburu kan, Fik?”

“Apa?”

“Sepulang sekolah nanti aku diajak oppa ke tempat yang istimewa. Dia bilang tempat itu istimewa baginya. Kamu nggak cemburu? Cemburu nggak?” tanyanya berkali-kali sambil mendekatkan wajahnya ke arah Afika yang sedikit merengut.

“Nggak, Tim. Enggakkk!”

“Ya udah kalau nggak, cih,” Timmy menyabet donat Afika dan memakannya dengan rakus. ‘Aku gagal membuatnya cemburu!!!!!’ pikirnya gemas.

☻☺☻

Hami sedang melanjutkan membuat kerangka tubuh tokoh komik. Tangannya sangat lihai menggunakan pen tablet. Sesekali dia memutar tubuhnya untuk sedikit bersantai. Dia memutar tubuhnya dengan kursinya yang beroda. Hami melihat Afika sedang memilin-milin bantal berbulunya di atas tempat tidur.

“Kamu masih sedih memikirkan perasaan Edelweis?” Afika mengangguk.

“Bukan itu saja, tapi..,”

“Soal Timmy dan Miwon kan?” Afika mengangguk lagi. Kepalanya setengah menunduk. Hami menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sekarang kamu bisa bebas memikirkannya, Fik. Mereka berdua sudah putus.”

Afika mengangkat kepalanya dengan cepat.

“Pu.. tus? Kenapa???” Hami melanjutkan menggambar lagi. Afika berjalan mendekatinya.

“Tadi Timmy cerita sama aku. Tetapi dia tidak akan menyerah dengan perasaannya. Aku nggak tahu deh dia sungguh-sungguh mengatakannya atau tidak.”

“Kalau begitu kamu tahu kan sekarang mereka pergi kemana?” Hami menggeleng.

“Kenapa? Kamu mau membuntuti mereka?” Afika terduduk lagi di atas kasur.

“Aku nggak tahu harus melakukan apa,” Hami tidak menjawab. Dia tampak serius di depan komputer. “Komik itu menceritakan tentang apa, Ham?” tanya Afika ingin tahu.

“Jaman dahulu kala lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang membuat bahagia setiap orang yang melihatnya. Seorang penyihir yang tidak suka dengan kedua orang tua bayi itu langsung mengutuk si bayi. Di kala malam, wujud bayi itu berubah menjadi serigala. Kedua orang tuanya selalu menyembunyikan wujud putrinya di kala malam hari tiba. Bahkan seluruh istana tidak tahu. Saat kedua orang tuanya telah tiada, orang-orang istana melihat perubahan wujudnya dan mereka segera lari meninggalkan istana. Hanya Beldo, pelayan istana yang tidak kabur dari istana. Sejak kecil dia sudah berteman dengan sang putri. Dia tidak takut dengan wujud sang putri. Dia selalu menemani sang putri kemanapun dan selalu membantunya,” sepenggal cerita itu mengingatkannya kepada Miwon yang selalu membantunya.

“Hingga suatu hari mereka kedatangan seorang pangeran dari negeri yang jauh. Pangeran itu bernama Caine. Pangeran itu mengaku jauh-jauh meninggalkan istananya untuk mencari adiknya yang telah lama hilang. Sang putri menerimanya dengan tangan terbuka. Pangeran Caine tinggal beberapa hari di dalam istananya. Namun ternyata Caine tidak sengaja melihat tompel di tengkuk leher Beldo. Caine mengatakan bahwa Beldo adalah adik yang dicarinya selama ini. Caine ingin membawanya kembali ke istananya. Namun Beldo menolak. Dia tidak ingin meninggalkan sang putri sendirian. Lalu Caine bermaksud menikahi sang putri agar keduanya dapat diboyong ke istananya. Sang putri menerima lamarannya. Sang putri juga menyukai Caine. Dia juga menyatakan bahwa dia memiliki kutukan. Caine menerimanya apa adanya. Yang terpenting sekarang adalah melindungi adiknya dan sang putri. Lalu seiring waktu dalam perjalanan, sang putri merasa ada yang salah dengan pilihannya. Kemudian saat pernikahan berlangsung, keraguannya hilang seketika. Dia mengatakan bahwa yang dicintainya selama ini adalah Beldo bukan Caine. Rupanya Beldo juga menyimpan perasaan kepada sang putri. Akhirnya Caine merelakan sang putri untuk kebahagiaan adiknya di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada sang putri. Kutukan sihir yang ada dalam diri sang putri pun terpatahkan. Karena dia telah menemukan cinta sejatinya.”

Air mata Afika menitik sedikit demi sedikit.

“Cerita yang bagus, Ham. Aku yakin jika komik ini akan cepat laris di pasaran,” katanya sembari menahan air mata yang hampir tumpah. “Tetapi kenapa aku merasa tidak asing dengan tokoh-tokohnya ya?”

Hami berhenti menggambar. Dia menoleh ke arah Afika.

“Itu karena kalian bertiga yang telah menjadi inspirasiku,” katanya sambil tersenyum. “Kamu, Edelweis, dan Miwon. Nggak apa-apa kan?”

“Kami bertiga?” kata Afika berpikir ulang. “Jadi kamu membuat watak dan kisah kami bertiga?”

“Nggak semuanya. Sikap sang putri agak berbeda denganmu. Sang putri berani untuk menyatakan cintanya. Sedangkan kamu selalu ragu dengan keyakinanmu.”

Afika mencoba untuk tersenyum. Tetapi perkataan Hami terlalu menohok di dadanya. ‘Benar. Aku tidak terlalu yakin dengan perasaanku. Aku selalu plin-plan dalam menghadapi hidupku ini,’ hatinya merutuki dirinya sendiri.

“Fik,” kepala Afika menengadah. Melihat Hami yang kini memandangnya. “Kalau kamu benar-benar menyukainya, katakanlah. Tidak akan ada yang mencegahmu lagi. Kamu berhak mendapatkan kebaika hidup seperti sang putri. Maka kutukanmu akan hilang begitu saja.”

Mereka terdiam sesaat. Afika menutup matanya. Air mata mengalir seketika. Dia membayangkan seorang cowok yang selama ini benar-benar berada dihatinya. Cowok yang pertama kali bertemu dengannya dan mengajaknya berbicara di kelas. Cowok yang ingin berteman dengannya. Cowok yang menyatakan cinta padanya. Cowok yang selalu mencuri perhatiannya. Cowok yang selalu mendekatkan dirinya dengan teman-teman. Cowok yang memakaikan jepit untuknya. Cowok yang sering menelepon, mengirim pesan dan menggunakan video call dengannya. Cowok yang memutuskan untuk berhenti menyukainya. Cowok yang tertidur di dapur. Cowok yang membantunya melempar bola basket. Cowok yang mengajaknya berfoto. Cowok yang membuatnya berani untuk tersenyum tanpa ragu. Cowok yang selalu mengisi hari-harinya dengan tertawa.

Afika membuka matanya kembali.

“Sepertinya aku harus segera mengatakannya,” Afika segera mengambil ranselnya. Dia berbalik kembali dan memeluk sahabatnya degan erat. “Terima kasih, Ham. Kamu memang sahabatku yang baik.”

“Kamu tahu dimana Miwon sekarang?” Afika tersenyum kecil.

“Setidaknya aku tahu dimana mereka berdua pergi.”

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
SECRET IN KYOTO
326      254     6     
Short Story
Musim semi adalah musim yang berbeda dari empat musim lainnya karena selalu ada kesempatan baru bagiku. Kesempatan untuk tumbuh dan mekar kembali bersama dengan kenangan di masa lalu yang kuharap akan diulang kembali.
BIYA
11      2     0     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
Diskusi Rasa
4      4     0     
Short Story
Setiap orang berhak merindu. Tetapi jangan sampai kau merindu pada orang yang salah.
Rindu Yang Tak Berujung
314      237     7     
Short Story
Ketika rindu ini tak bisa dibendung lagi, aku hanya mampu memandang wajah teduh milikmu melalui selembar foto yang diabadikan sesaat sebelum engkau pergi. Selamanya, rindu ini hanya untukmu, Suamiku.
LUCID DREAM
3      3     0     
Short Story
aku mengalami lucid dream, pada saat aku tidur dengan keadaan tidak sadar tapi aku sadar ketika aku sudah berada di dunia alam sadar atau di dunia mimpi. aku bertemu orang yang tidak dikenal, aku menyebutnya dia itu orang misterius karena dia sering hadir di tempat aku berada (di dalam mimpi bukan di luar nyata nya)
Jika Aku Bertahan
71      40     0     
Romance
Tidak wajar, itu adalah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan pertemuan pertama Aya dengan Farel. Ketika depresi mengambil alih kesadarannya, Farel menyelamatkan Aya sebelum gadis itu lompat ke kali. Tapi besoknya secara ajaib lelaki itu pindah ke sekolahnya. Sialnya salah mengenalinya sebagai Lily, sahabat Aya sendiri. Lily mengambil kesempatan itu, dia berpura-pura menjadi Aya yang perna...
Memories The Series - Pandora Box
28      15     0     
Action
Kanaya, ahli forensik yang mengelilingi dunia hanya untuk mencari penjelasan dari setiap mimpi buruk yang hadir disetiap tidurnya. Hari-hari dilaluinya tanpa penjelasan yang pasti, langkahnya kini terhenti di kota SEOUL, tempat yang menorehkan setitik petunjuk. Dalam perjalanannya Kanaya terjebak dalam cinta yang membuatnya rapuh dan ingin menyerah. Park Minwo seolah menjadi magnet bagi Naya un...
Aku Sakit
44      11     0     
Romance
Siapa sangka, Bella Natalia, cewek remaja introvert dan tidak memiliki banyak teman di sekolah mendadak populer setelah mengikuti audisi menyanyi di sekolahnya. Bahkah, seorang Dani Christian, cowok terpopuler di Bernadette tertarik pada Bella. Namun, bagaimana dengan Vanessa, sahabat terbaik Bella yang lebih dulu naksir cowok itu? Bella tidak ingin kehilangan sahabat terbaik, tapi dia sendiri...
ALIF
19      9     0     
Romance
Yang paling pertama menegakkan diri diatas ketidakadilan
Guguran Daun di atas Pusara
263      189     1     
Short Story