Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (22~KATA-KATA YANG MEMBUAT TERLUKA) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Rahasia musik dari hape Miwon

Hari ini seharusnya jam pelajaran Sejarah. Akan tetapi karena guru-guru sedang rapat, maka jam kosong dengan segudang tugas. Kami harus menyelesaikan soal-soal dalam satu bab. Humm, guru-guru selalu punya cara untuk menjadikan waktu kosong sebagai waktu yang bermanfaat. Kami sebagai murid harus mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh guru. Lain halanya dengan tugas Danu. Sebagai ketua kelas, dia tidak hanya memiliki tugas untuk mengerjakan soal. Tetapi juga mengawasi teman-temannya jika ada yang keluar kelas tanpa ijin. Lagipula siswa-siswi di kelas kami agak berbeda, agak nakal maksudnya. Misalnya empat cewek ngakunya ijin ke toilet sebentar, eh malah ditemukan nongkrong di kantin. Apalagi para cowok. Mereka tidak ada henti-hentinya membuat keriutan di dalam elas. Bagus sih, mereka nggak sampai keluar kelas. Tetapi suara teriakan mereka begitu mengganggu. Apalagi Miwon terlihat mengganggu teman-teman yang lain. Dia pukul sana-pukul sini sambil tertawa dengan cowok-cowok yang lain. Selain itu yang paling bikin greget itu... DIA SELALU MINTA CONTEKAN!!!

“Ham, ayolah nomer satu! Pliiss,” katanya sambil melepas salah satu earphone yang ia pakai. Yap, akhir-akhir ini dia sering menggunakan earphone. Dimanapun. Saat pagi sebelum pelajaran dimulai dan sepulang sekolah. Di sela-sela waktu seperti ini, dia menggunakannya. Entah lagu apa yang sering ia dengarkan. Aku menjadi sedikit penasaean.

“Nih,” kutodongkan lks sejarah di depannya.

“Beneran? Wah! Terima ka.,” kutarik lagi lks dari hadapannya. Miwon langsung bengong. Aku hampir tertawa melihatnya bengong seperti itu.

“Ada satu syarat.”

“Wah, nggak ikhlas nih,” cibirnya. “Baiklah. Apa syaratnya?”

Aku tersenyum mendengar persetujuannya. “Aku ingin tahu lagu apa yang kamu dengarkan sekarang,” Hami menimpuk kepalaku dengan buku tebal sejarah yang digulung.

“Aduh!”

“Kamu ngapain juga penasaran dengan apa yang didengarkannya.”

“Aku.. penasaran ajah,” kataku sambil mengusap-usap kepala bekas pukulan Hami. Miwon tertawa terbahak-bahak. Aku melihatnya dengan heran. Lalu dia terdiam sesaat.

“Ogah!” setelah mengatakan itu, Miwon menyabet lks yang sedang dikerjakan Hami. “Pinjam dulu ya, Ham!” dia segera berlari-lari kecil menjauh. Hami, jelas saja dia marah!

“HEY, KEMBALIKAN!”

Huh, Miwon selalu saja begitu. Tidak pernah memberitahu siapapun dengan apa yang didengarkannya lewat earphone itu. Timmy pun juga tidak diberitahunya. Hal itu yang membuatku begitu penasaran. Sangat penasaran!!!

“Fik, dicariin Ed nih!” Mari berteriak dan menoleh ke arahku. Aku segera berjalan ke arah Ed yang tengah berdiri menungguku di depan pintu kelas. Dia ttersenyum sambil melambaikan tangan. Oh ya, satu hal! Dia kemari bersama dengan Wildam. Tiba-tiba seseorang menahan lenganku. Aku menoleh.

“Aku pinjam lks-mu dong,” ucap Miwon sambil tetap menahan lenganku. Aku melihat lks Hami yang masih dipegangnya. Aku dan Hami melihatnya dengan bingung. Setelah itu dia malah melempar lks Hami ke belakang.

“Hey! Nggak usah pinjam-pinjam lagi ya! Awas yo!” dumel Hami, sedikit mengancam. Dia ngomel-ngomel sambil mengambil lks yang tergeletak di lantai.

“Won, kenapa lks Hami..,”

“Aku pinjam lks kamu. Nanti aku kasih tahu apa yang aku dengarkan,” nih anak kenapa sih? Tadi katanya nggak  mau. Sekarang malah bilang mau pinjam dan mengabulkan syaratku begitu saja.

“Ya. Kamu bisa ambil lks-ku di mejaku,” kataku sambil berjalan lagi. Tetapi dia menahanku lagi. Aku melirik ke arah Edelweis. Ya, sekarang Ed pasti bingung melihat tingkah kami. “Apa lagi?”

“Tolong ambilkan,” aku menghela nafas panjang. Aku segera kembali ke bangku. Sementara itu Miwon mengikutiku dari belakang. Aku segera memberikan lks padanya.

“Kalau sudah selesai, tolong kumpulkan lks ku di meja Danu,” setelah mengatakan itu, aku melihat ke arah depan pintu kelas. Edelweis maupun Wildam sudah tidak ada lagi. Mereka sudah pergi. Kenapa aku menjadi sedikit merasa bersalah gini ya?

“Kata Ed, nanti dia akan menjemputmu disini sepulang sekolah,” kata Hami tiba-tiba. Kehadirannya mengagetkanku. Dia membawa komik lawas yang ku kenal berjudul Hanya Aku. Aku bisa menebak jika tadi Wildam kesini juga hendak meminjamkan komik padanya lagi. “Aku ingin membaca komik dalam suasana tenang. Disini terlalu ramai,” begitu katanya. Setelah mengatakan itu, dia menyeret Timmy yang sedari tadi bercanda bersama Risa dan Damar. Wah, kasihan Timmy. Dia harus pergi dengan Hami di toilet hanya untuk menemaninya membaca komik, hiihihi...

“Woy,” aku langsung menoleh. Miwon melepas earphonenya dan memasangkan keduanya di telingaku. Lalu diberikan hapenya padaku.

“Nggak ada suaranya,” kataku sambil mengerutkan kening.

“Itu karena belum kamu nyalakan musiknya.”

“Heh? Aku kira sudah dinyalakan,” aku segera menyalakan layar hapenya. Miwon menduduki bangku Hami.

“Jauh-jauh, gih. Ntar aku nggak konsentrasi,” katanya sembari mengibas-ngibaskan tangannya. Aku langsung mengetatkan gigiku.

“Idih, nyontek ajah pakai konsentrasi. Nggak keren banget!” sungutku kemudian. Aku segera berjalan meninggalkannya. Kursi Miwon menjadi pilihanku untuk duduk. Aku kembali menyalakan hapenya. WHAT??! Isi daftar lagunya cuma dua? Lagian file nya juga bukan file musik tetapi hanya file rekaman suara. Karena aku sangat penasaran, aku segera menyalakan rekaman pertama. Suaranya seperti permainan piano. Aku meninggikan beberapa volume karena suara teman-teman sekelas yang semakin ramai. Aku mulai mendengarkan denga seksama. “Ini kan..,” aku langsung berbalik ke belakang. Miwon juga tengah menatapku. Ekspresinya yang diam tidak mampu kubaca. Saking deg - deg-annya, aku kembali menghadap ke depan. Suara piano ini seperti permainan piano yang pernah aku mainkan. Bahkan ketika suara nadanya berakhir, terdengar tepuk tangan. Aku segera memeriksa tanggal rekamannya. Yang benar saja! Ini kan dimana hari aku kerja kelompok dengan Miwon! Jadi pada waktu Miwon terlihat sibuk dengan hapenya... ternyata dia tidak benar-benar sibuk. Waktu itu dia merekam permainan pianoku! Dadaku mulai bergejolak. Perasaan aneh ini lagi! Aku merasakkannya lagi. Seperti kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku. Aku merasa sedikit bahagia. Dengan sedikit kesadaran karena kepalaku berasa berputar-putar, aku menyalakan satu rekaman lagi. Aku mendengarkannya lagi. Terdengar nyanyian dari suara yang aku kenal. Ya, suara Miwon. Dia sedang menyanyikan lagu Kiss the Rain seperti yang dia bawakan saat ulang tahunku kemarin. Kenapa dia melakukan ini? Apakah ini alasan kenapa dia tidak mengijinkanku untuk mendengarkannya? Tetapi kenapa tadi dia malah memperbolehkanku? Miwon, kenapa.. kenapa sekarang aku merasa sebahagia ini??!

☻☺☻

Jam pelajaran terakhir telah berakhir. Afika segera memasukkan buku-buku di dalam ranselnya. Lalu dia berdiri dan meminta agar Hami memerinya jalan untuk keluar dari bangkunya.

“Kok buru-buru amat. Bukannya nanti Edelweis ya yang menjemput kamu?”

Afika menggeleng.

“Aku ingin memberitahunya sesuatu, Ham.”

“Apa itu?”

“Aku harus segera pergi ke kelasnya,” walaupun Hami masih bingung dengan ekspresi serius temannya, akhirnya dia tetap memberi jalan. Afika terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Miwon melihat kepergiannya. Dia memainkan pulpen yang diapit di jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Oppa, hari ini kita kemana? Aku ingin makan yang hangat-hangat nih. Kebetulan lagi hujan deras.”

“Bakso gimana?”

“Boleh,” wajah Timmy langsung cerah. Miwon berhenti memainkan pulpennya.

“Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan padamu.”

☻☺☻

“Fik, aku baru saja akan menjemputmu,” Edelweis melihatku dengan senyumannya yang paling manis. Aku tahu senyumannya itu hanya ditujukan padaku. Sebelum kami pacaran, selama ini aku tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Apalagi dengan teman-teman terdekatnya. Seharusnya aku merasa senang. Edelweis sangat perhatian dan selalu tersenyum seperti itu padaku. Dia selalu berlaku lembut padaku. Akan tetapi semakin dia berbuat baik seperti itu, membuatku semakin menahan kejujuran yang seharusnya aku katakan. Sebenarnya aku tidak ingin menyakitinya. Tetapi bagaimana lagi...

“Wah, hari ini hujannya sangat deras ya,” katanya sambil memandang hujan yang turun. Dia kembali melihatku dan merengkuh tanganku. “Memegang tanganmu sepertit ini membuatku jadi hangat,” katanya tersenyum lagi. Aku menunduk sedih mendengarnya.

“Aku.. ingin membicarakan hal yang penting.”

“Okay! Ayo kita duduk di bangku depan perpustakaan.”

Sepanjang perjalanan, Edelweis tetap menggenggam tanganku. Tangannya juga terasa hangat. Aku pun berpikir betapa beruntungnya aku karena dia telah memilihku. Edelweis yang selalu baik di mataku. Dulu aku begitu menyukainya. Aku selalu memikirkan dirinya, setiap saat. Seperti apa yang dilakukannya setiap hari. Tetapi sekarang.. entah kenapa aku seperti tidak pernah memikirkannya sedikitpun, seperti dulu. Kemana diriku yang selalu memujanya? Aku bisa melihat jika kami sedekat ini. Tetapi kenapa aku merasa malah semakin mejauhinya?

“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” aku tersadar dari lamunanku. Kami sudah duduk di bangku panjang dekat perpustakaan. Aku masih terdiam. Mengatupkan mulut rapat-rapat. Aku tidak tahu apa aku harus mengatakan ini. Aku juga tidak bisa menatap mata Ed. Mataku langsung menghindari tatapannya. “Kalau tidak bisa dikatakan, lebih baik jangan.”

Dadaku yang semula sesak, kini terasa sedikit lega. Aku bisa bernafas sedikit lebih baik. Aku mulai memainkan jari-ariku. Aku merasa sedikit gugup.

“Kamu masih ingat kettika kita pertama kali bertemu?” tanyaku mulai membuka pembicaraan. Edelweis tampak berpikir.

“Uhmm, aku ingat. Kamu datang pada awal semester di kelas. Semua teman di kelas yang melihatmu langsung berlari keluar kelas. Mereka semua sangat takut melihat dirimu. Lalu mereka hanya berdiri di dekat pintu kelas sambil mengintip. Dan aku..,”

“Iya, aku ingat. Kamu tetap duduk di bangku depan. Kamu sedang tertawa melihat reaksi mereka. Lalu kamu yang menyapaku duluan.”

“Wah, ingatanmu masih bagus,” katanya sambil tersenyum.

“Kamu juga,” kataku juga tersenyum kecil. “Maksudku bukan pertemuan kita di kelas. Tetapi pertemuan kita di jalan raya dekat sekolah.”

“Di jalan raya?”

Aku mengangguk. “Sehabis melihat daftar pengumuman penerimaan siswa, aku melihatmu sedang menolong nenek yang terjatuh di depan sekolah. Kamu segera menuntunnya berjalan dan membantunya menyeberang sampai depan gedung DPRD. Nenek itu tidak sadar jika beliau menjatuhkan tasnya. Aku juga menyeberang jalan dan memberikan tas itu padanya. Aku melihatmu tersenyum padaku dan bilang..,”

“Terima kasih. Kamu orang yang sangat baik,” sambungnya. Aku menganggukkan kepala sambil menahan air mata yang hampir tumpah. Aku mencoba untuk tersenyum.

“Iya, iya. Aku tidak menyangka jika aku akan bertemu lagi denganmu.”

Edelweis tersenyum dan memegang tanganku lagi.

“Karena kita sudah ditadirkan untuk bertemu,” aku segera melepaskan tangannya dariku. Aku menutup muka dengan kedua tanganku.

“Aku.. benar-benar bahagia karena sudah mengenalmu. Kamu benar-benar orang yang baik, Ed. Bukan aku. Aku.. cewek yang jahat!”

“Jangan bilang begitu, Fik. Terkadang penilaian orang lain itu tidak semuanya benar. Mereka bisa bilang kamu jahat atau apa karena penampilanmu yang menakutkan. Tetapi setelah mengenalmu, mereka pasti akan mengatakan hal yang berbeda.

“Bukan itu maksudku, Ed,” sergahku dengan memandang wajahnya. Kini air mataku mengalir deras, mengalahkan derasnya hujan siang ini.

“Kenapa kamu menangis?”

“Aku.. cewek yang jahat karena ingin memutuskanmu.”

Aku bisa melihat ekspresi kaget dari sorot matanya. Aku mengusap air mata yang sedari tadi mengalir.

“Aku menyukai orang lain!” ucapku sedikit lebih keras. Aku yakin suaraku juga sudah mengalahkan suara derasnya hujan. Suaraku tidak tenggelam didalamnya. Aku yakin, sangat yakin Ed mendengar ucapanku. Karena sekarang dia hanya diam. Namun aku tidak melihat ekspresi kemarahan dari raut wajahnya. Dia hanya diam memandangku.

Tidak lama kemudian dia bangkit dari duduknya.

“Aku mengerti. Kalau begitu aku pulang dulu,” Ed berjalan meninggalkanku sendirian. Aku menangis sesenggukkan. Aku merasa telah menyakitinya. Aku telah menyakitinya! Aku benar-benar perempuan yang jahat! Menyakiti cowok sebaik dia!

Seseorang merengkuhku dari belakang. Aku menoleh.

“Hami.”

“Sudah aku duga akan menjadi seperti ini,” aku menangis dan terus menangis. Sampai air mata yang aku keluarkan tidak tersisa lagi.

☻☺☻

Timmy tidak berkata apa-apa. Setelah aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kami, dia tidak menjawab apa-apa lagi. Dia hanya diam sambil memakan baksonya. Aku tahu jika hal ini bisa melukainya. Tetapi aku juga tidak bisa menutupi sesuatu yang seharusnya sudah lama ingin aku kattakan.

“Aku benar-benar tidak bisa melupakannya. Kami bertemu setiap hari. Dan aku selalu goyah ketika bersamanya. Sudah aku putuskan untuk tetap menyayanginya walaupun sedikitpun dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku,” lanjutku. Timmy masih diam. “Aku tahu kamu ingin membahagiakanku. Tetapi jika tetap membiarkan seperti in, maka hanya akan membuatmu semakin terluka. Aku tidak mau hari itu terjadi. Dimana kamu sudah terlalu banyak membahagiakanku dan aku tidak bisa membalas perasaanmu. Terlebih lagi kamu sudah kuanggap seperti adikku sendiri.”

Timmy meminum teh hangatnya sampai habis.

“Pokoknya Timmy tidak akan menyerah untuk membahagiakan oppa,” setelah mengatakan itu, dia pergi meninggalkanku. Ku acak-acak rambutku dengan emosi. Aku tidak tahu apa yang kulakukan ini benar atau salah. Aku tahu jika Timmy merasa sakit hati dengan apa yang aku katakan tadi Tetapi apa boleh buat. Satu-satunya cewek yang ingin kugenggam erat saat ini adalah Afika. Afika Kalea Meraldi.

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Red String of Fate
407      317     1     
Short Story
The story about human\'s arrogance, greed, foolishness, and the punishment they receives.
Cerita yang Benar
12      8     0     
True Story
Di dalam lorong tersebut, Lily bertemu dengan makhluk-makhluk ajaib: burung hantu bijak yang bisa berbicara🦉, peri air yang cantik💧, dan bahkan kuda bersayap yang bisa terbang! 🌈 Akankah Lily menemukan jalan pulang? Dapatkah ia menyelesaikan misi-misi sulit dan kembali ke rumahnya? Ataukah ia akan terjebak selamanya di negeri ajaib ini? cerita yang benar deskripsi ! % $ # @askdfjasdlkfj
Dear, My Brother
0      0     0     
Romance
Nadya Septiani, seorang anak pindahan yang telah kehilangan kakak kandungnya sejak dia masih bayi dan dia terlibat dalam masalah urusan keluarga maupun cinta. Dalam kesehariannya menulis buku diary tentang kakaknya yang belum ia pernah temui. Dan berangan - angan bahwa kakaknya masih hidup. Akankah berakhir happy ending?
Te Amo
5      5     0     
Short Story
Kita pernah saling merasakan titik jenuh, namun percayalah bahwa aku memperjuangkanmu agar harapan kita menjadi nyata. Satu untuk selamanya, cukup kamu untuk saya. Kita hadapi bersama-sama karena aku mencintaimu. Te Amo.
Me & Molla
3      3     0     
Short Story
Fan's Girl Fanatik. Itulah kesan yang melekat pada ku. Tak peduli dengan hal lainnya selain sang oppa. Tak peduli boss akan berkata apa, tak peduli orang marah padanya, dan satu lagi tak peduli meski kawan- kawannya melihatnya seperti orang tak waras. Yah biarkan saja orang bilang apa tentangku,
Si Mungil I Love You
4      4     0     
Humor
Decha gadis mungil yang terlahir sebagai anak tunggal. Ia selalu bermain dengan kakak beradik, tetangganya-Kak Chaka dan Choki-yang memiliki dua perbedaan, pertama, usia Kak Chaka terpaut tujuh tahun dengan Decha, sementara Choki sebayanya; kedua, dari cara memperlakukan Decha, Kak Chaka sangat baik, sementara Choki, entah kenapa lelaki itu selalu menyebalkan. "Impianku sangat sederhana, ...
U&I - Our World
4      4     0     
Short Story
Pertama. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu indah, manis, dan memuaskan. Kedua. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu menyakitkan, penuh dengan pengorbanan, serta hampa. Ketiga. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu adalah suatu khayalan. Lalu. Apa kegunaan sang Penyihir dalam kisah cinta?
Stars Apart
385      290     2     
Romance
James Helen, 23, struggling with student loans Dakota Grace, 22, struggling with living...forever As fates intertwine,drama ensues, heartbreak and chaos are bound to follow
BIYA
11      2     0     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
PALETTE
5      5     0     
Fantasy
Sinting, gila, gesrek adalah definisi yang tepat untuk kelas 11 IPA A. Rasa-rasanya mereka emang cuma punya satu brain-cell yang dipake bareng-bareng. Gak masalah, toh Moana juga cuek dan ga pedulian orangnya. Lantas bagaimana kalau sebenarnya mereka adalah sekumpulan penyihir yang hobinya ikutan misi bunuh diri? Gak masalah, toh Moana ga akan terlibat dalam setiap misi bodoh itu. Iya...