Pasangan baru yang heboh!
“Attention, please!” seruan Timmy di depan kelas membuat teman-teman di kelasnya mulai memperhatikannya. Suara mereka bertambah riuh ketika melihat Timmy menggamit lengan Miwon. “Aku ingin mengumumkan bahwa hari ini aku dan oppa resmi menjadi sepasang kekasih!”
Sebagian temannya bertepuk tangan sembari mengucapkan selamat. Sebagian lagi minta ditraktir alih-alih merayakan hari jadi mereka. Sebagian yang lain lagi hanya bengong dan ngedumel.
“Won, katanya mau mengambil hati sadako. Kenapa malah nyasar ke cewek lollipop kayak gini sih?” sahut Risa agak jengkel dengan Miwon. Pasalnya sebelumnya Miwon sudah bertekad utuk berpacaran dengan Afika, tetapi sekarang malah mengumbar bahwa dia pacaran dengan Timmy. Tidak tahu kenapa Risa menjadi sedikit bersimpati dengan Afika.
“Maksud lo? Afika sudah jadian sama Edelweis tahu. Jadi nggak mungkin Miwon mengambil hati Afika,” perkataan yang diucapkan oleh Timmy membuat semua temannya terperangah. Sementara itu, Hami hanya terdiam duduk di bangku Afika. Yeah, dia sedang menunggu Afika yang agak telat. Padahal biasanya Afika masuk kelas lebih pagi daripadaa teman-teman sekelas lainnya.
“Selamat ya! Semoga kalian tambah langgeng!” seru Amar.
“Kalian cocok kok! Dua orang yang paling heboh di kelas menjadi pasangan! Wah, good news!” sambung Danu.
“Lebih greget pasangan Afika dan Edelweis dong. Pasangan campuran antara anak IPA dan IPS! Mister cool lupe Miss Sadako, waw!” teriak Amar lagi. Risa menjitak kepala Amar.
“Ngomong pakai bahasa apa sih??! Lebay banget nih anak! Sudah gila ya?!”
Sedari tadi Hami melihat Miwon yang hanya diam. Seperti tidak merasa bahagia sedikitpun. Kemudian Risa melihat Afika yang berdiri di dekat daun pintu.
“Oh, Afika!” serunya sambil melambaikan tangan. Afika yang semula melihat kedua temannya yang berdiri di depan kelas langsung mengalihkan pandangan.
“Pagi, Ris,” sapanya. Dia berjalan masuk kelas dan berhenti di dekat Timmy dan Miwon. “Selamat ya. Akhirnya kalian jadian juga,” Afika berusaha memberikan seyuman terbaiknya. Tetapi ia sadar bahwa senyuman yang dia tunjukkan akan terlihat kacau karena dia merasakan ketidaktulusan atas kata-katanya. Miwon menyunggingkan senyum dan merangkul Timmy. Hami yang melihat kejadian itu hanya menyipitkan mata dengan curiga.
“Thank you, Fik. Oh ya, aku berniat untuk pindah bangku dengan Timmy. Nggak apa-apa kan?” tanya Miwon tersenyum. Afika segera mengangguk.
“Aku sih nggak apa-apa. Tapi kamu harus ijin dulu dengan Hami.”
Timmy tersenyum senang, “Wah, kamu benar-benar ingin duduk denganku?! Aku senang banget!” dia menggamit lengan Miwon semakin erat. Afika berjalan menuju bangkunya.
“Ham, kamu mau kan duduk denganku?” kata Afika dengan tatapan datar.
“Ya. Sebenarnya sudah lama aku ingin duduk sebangku denganmu,” ucap Hami mempersilahkan Afika untuk duduk di pojok tembok. “Untung saja kamu datang. Sebentar lagi bel akan berbunyi.”
Afika melirik sekilas ke arah Miwon dan Timmy yang saling bercanda di bangku. Hami menepuk bahu Afika berkali-kali. “Fik, Ed tuh!” mata Afika mengarah pada cowok yang baru saja memasuki kelasnya. Banyak dari teman-teman di kelas yang mengucapkan selamat atas jadiannya dengan Afika. Edelweis menyapa Miwon sebentar, lalu mendatangi Afika.
“Fik, kamu mau pergi nonton di XXI nggak?”
Afika mengangguk, “Kapan?”
“Nanti jam tiga sore aku jemput ya,” Afika mengangguk lagi. Setelah itu, bel masuk berbunyi. Edelweis pamit utuk kembali di kelas.
“Kamu kok kayaknya nggak senang diajak Ed pergi nonton?” tanya Hami dengan nada hati-hati. Afika menggeleng sambil tersenyum.
“Aku senang kok. Sangat senang.”
Terdengar suara terbahak-bahak. Hami dan Afika melihat ke arah pasangan baru di kelas yang masih tertawa sambil sesekali bercerita lagi.
“Aku rasa mereka tidak cocok menjadi pasangan,” ucap Hami sambil menaikkan kacamatanya. Afika menggeleng tidak setuju.
“Mereka memiliki kepribadian yang sama. Aku yakin mereka akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.”
Hami melihat Afika yang mengatakannya dengan wajah tertunduk. Dia merasa jika ada yang aneh dari ketiga temannya. Hami selalu merasa sebagai penulis komik manga selalu mengetahui semua adegan nyata di sekitarnya. Namun saat ini Hami merasa seakan-akan merasa buta dengan fenomena yang dihadapi oleh ketiga temannya itu. Dia merasakan kejanggalan karena sangat sulit untuk terlibat dan mengetahui yang sebenarnya. Melihat wajah Afika yang bertambah suram, membuat dia hanya berharap jika Afika akan menceritakan isi hatinya sehingga Hami dapat membantunya.
☻☺☻
Banyak orang yang keluar dari ruangan bioskop. Diantara kerumunan itu ada Edelweis dan Afika. Mereka baru saja menonton film horor. Edelweis menghisap cola terakhirnya dan membuangnya ke tempat sampah. Sementara itu Afika masih memegang popcorn yang masih tersisa banyak. Tangannya sedikit gemetar. Pandangannya kosong ke depan. Melihat hal itu, Edelwei tertawa kecil.
“Kamu masih takut?” Afika mengangguk lemah.
“Setan twitter tadi serem banget. Untung aku belum mendaftar di jejaring sosial manapun. Kalau nggak, pasti aku udah dibawa kabur sama setan situ,” Afika mengucapkannya secara perlahan. Aura berwarna hitam dari dalam tubuhnya mulai menyeruak. Orang-orang yang berpapasan dengannya menjadi ketakutan menghindarinya. Edelweis tertawa lagi. Dia mengusap-usap kepala Afika.
“Jangan khawatir. Setan kayak gitu cuma ada di film kok,” Afika menatapnya dengan bibir menukik ke bawah, hampir menangis. Seakan-akan dia sedang mengatakan ‘benarkah?’ di dalam hatinya. “Buktinya aku yang punya sejumlah jejaring sosial masih ada disini kok.”
Aura hitam cewek itu mulai hilang sedikit demi sedikit. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. ‘Aku tidak tahu harus berbuuat apa kalau Edelweis tiba-tiba menghilang. Hah! Jangan-janga raganya tetap ada, tetapi ruh nya akan segera hilang!’ aura hitamnya kembali keluar. Semakin besar. Edelweis mengibaskan aura jelek yang keluar pada tubuh pacarnya. Edelweis menyentuh pundak Afika perlahan.
“Jangan takut, Fik. Ini salahku karena sudah mengajakmu nonton film horor,” Afika menggeleng dengan cepat.
“Nggak kok. Ini bukan salahmu. Aku saja yang menanggapinya berlebihan. Setan yang lagi goyang salto, lalu menggelinding sampai bawah tangga, akh!” Afika menutupi wajah dengan kedua tangannya. Edelweis tertawa lagi.
“Kamu memang berlebihan,” kaanya sambil tertawa. Edelweis mengusap kepala Afika lagi. Setelah itu, Edelweis menggandeng tangannya. Afika sendiri memegang kepalanya dengan tangan kirinya. ‘Dia mengusap kepalaku dengan lembut. Rasanya sebentar lagi akan terbang ke langit ketujuh nih,’ dia memejamkan mata sambil tersenyum.
“Lho, kakak! Kok kita bisa ketemu disini ya?” Afika mengenal suara itu. Dia segera membuka matanya. Dia melihat pasangan baru di kelasnya sedang bergandengan tangan.
“Iya, kebetulan banget. Kami baru saja nonton film horor,” ucap Edelweis sembari tersenyum. Setelah melihat kakaknya, Miwon mengalihka pandangannya ke Afika.
“Ceritanya serem nggak, Fik?” tanyanya. Afika mengangguk cepat dan sangat yakin. “Serem banget,” tambahnya. Miwon langsung tertawa.
“Padahal selama ini orang-orang juga takut padamu. Aku nggak menyangka kalau kamu malah takut hanya dengan nonton film horor.”
‘Grrrr,’ Afika mengetatkan giginya dan menunjukkan genggaman tangannya ke arah Miwon. “Ndelek molo yo (cari gara-gara ya)??!” melihat Afika yang sedikit jengkel, membuat ketiga temannya tertawa.
“Kalau ceritanya seseram itu, aku jadi ingin nonton deh!” seru Timmy. “Oppa, kita nonton yuk!” pintanya sambil menarik-narik jaket yang dikennakan Miwon. ‘Aih, manjanya,’ pikir Afika.
“Kalian mau kemana” tanya Miwon, tidak menghiraukan tarikan cewek disebelahnya. Edelweis dan Afika saling memandang. Mereka belum merencanakan kemana sehabis nonton. Mereka berpikir cukup lama.
“Kalau main di Playzone?”
“Gimana kalau Playzone?” keduanya mengatakan hal yang sama. Hal itu membuat wajah merekamemerah satu sama lain. “Oke, kita ke Playzone ya,” kata Edelweis kemudian.
“Aku ikut!” seru Miwon tiba-tiba. Afika dan Edelweis langsung melihatnya. “Maksudku kami juga berniat kesana. Iya kan, Tim?” cewek yang ditanya malah menggembungkan kedua pipinya.
“Padahal aku pengen nonton.”
“Nanti saja. Setelah kita main, baru kita nonton. Nanti aku belikan popcorn ukuran jumbo deh!” bujuk Miwon. Akhirnya Timmy mengikuti kemauan pacarnya. Edelweis dan Afika berjalan duluan. Miwon dan Timmy berjalan di belakang mereka. Sebentar-sebentar mata Miwon melirik Afika yang menawarkan popcorn kepada Edelweis beberapa kali. Setelah sampai di Playzone, Edelweis dan Miwon pergi membeli koin. Sedangkan Timmy dan Afika duduk menunggu. Afika menawarkan popcornnya kepada teman yang duduk disebelahnya.
“Terima kasih, Fik,” Timmy memakan popcorn pemberian Afika. Setelah popcornnya habis tidak tersisa, Afika segera memasukkannya di tong sampah yang tidak jauh darinya. Edelweis dan Miwon kembali dengan banyak koin yang terbungkus di plastik berlabelkan Playzone.
“Afika, kita bermain apa dulu nih?” tanya Edelweis. Afika meelihat zona permainan di sekeliling. “Lho, dimana mereka berdua?” Afika melihat Edelweis yang kebingungan. Afika menengok disebelahnya. Timmy menghilang. Begitu pula dengan Miwon. “Ah, itu mereka!” Edelweis menujuk dua orang yang sedang sibuk memasukkkan koin keberuntungan. Sesekali mereka berteriak kegirangan saat koin yang dimasukkan memasuki lubang berputar bertuliskan ‘bingo’! Banyak tiket yang kelua dan sangat panjang.
“Aku.. ingin bermain itu,” Afika menunjuk kepala badut yang bergerak kanan-kiri.
“Oke! Ayo, kita bersenang-senang juga!” Edelweis sangat bersemangat. Dia menyingsingkan lengan kaosnya. Afika dan Edelweis bermain dengan gembira. Mereka bersama-sama memasukkan bola yang keluar dan memasukkannya di mulut badut, lalu bermain bom-bom car, mobil balap, dan lainnya. Banyak permainan yang mereka coba.
“Ayo, Fik! Kamu pasti bisa!” seru Edelweis mencoba menyemangati Afika yang masih ragu untuk memasukkan bola basket di dalam ring. Tangan Afika agak gemetaran. Waktu terus berjalan. Akhirnya dia melempar bola dengan mata tertutup. Dia memuka mata kemali. Bolanya tidak sampai masuk ke dalam ring. Wajahnya berubah jadi muran seketika. Edelweis mengambil bola basket terakhir dan menyerahkannya pada Afika. “Tenang saja. Ini hanya permainan. Kamu tidak harus memaainkannya dengan serius,” Afika tersenyum mendengar perkataan Edelweis. Afika mengambil bola dari tangan Edelweis. Dia berusaha untuk memasukkannya di dalam ring lagi. Tiba-tiba ada yang menyentuh kedua tangannya dari belakang. Afika merasa jika Edelweis akan membantunya memasukkan bola.
“Pandangan fokus ke depan. Pusatkan bola dengan ring di depan. Tekuk lututmu sedikit ke bawah, dan loncat.. lemparkan!” Afika mengikuti sesuai instruksi cowok dibelakangnya. Bola yang dia lemparkan masuk ke dalam ring. Afika sangat senang sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia berbalik hendak mengucapkan terima kasih. Namun ternyata cowok di belakangnya bukan Ed, melainkan Miwon!
“Kamu hebat, Fik!” ujar Miwon sambil mengangkat tangan kanannya. Afika mengangkat tangannya agak ragu. Kemudian tangan mereka high five bersama. “Yeah!”
“Kamu berhasil, Fik!” kata Edelweis sembari menepuk punggung Afika.
“Hey, Fik! Ayo kita bertanding untuk mengambil boneka capit yuk!” Timmy segera menggandeng tangan Afika. Edelweis dan Miwon meengikuti mereka dari belakang. Afika dan Timmy saling berlomba untuk mengangkat boneka dan memasukkannya ke dalam lubang. Namun keduanya berkali-kali gagal mendapatkan boneka. Afika mendapatkan keseempatan yang lebih besar untuk mendapatkan boneka pinky pig yang baru saja dijatuhkan oleh Timmy tepat di pinggir lubang. Afika hendak memasukkan koin.
“Fik, aku pergi ke toilet dulu ya,” kata Edelweis. Afika mengangguk.
“Aku juga mau ke toilet,” sahut Timmy cepat. Akhirnya mereka berjalan bersama ke toilet. Afika mulai memasukkan koin. Wajah Miwon merapat ke arah kaca boneka capit.
“Aku rasa kamu memiliki peluang yang besar nih!” katanya sambil tersenyum. Afika hanya menganggukkan kepala. Gadis itu mencoba untuk memegang kendali capit perlahan. “Sini aku bantu!” Miwon segera memegang tangan Afika dan mengendalikan capit itu bersama-sama. Setelah capit itu tepat berada di posisi atas boneka pinky pig, Miwon langsung menekan tombol. Bersamaan dengan itu, capitnya mulai bergerak ke bawah dan berhasil mengangkat boneka itu. Afika dan Miwon meloncat kegirangan. Boneka itu masuk ke dalam lubang. Miwon mengambil boneka itu dan memberikannya pada Afika. Gadis itu menerimanya dengan hati bergetar. Dia menatap boneka pinky pig yang memiliki pita di lehernya dengan mata terpana.
“Terima kasih,” ucapnya kemudian. Mata Miwon tidak lepas melihat Afika yang sedang tersenyum mengamati boneka yang dipegangnya. Tak lama kemudian, Edelweis dan Timmy datang menghampirinya.
“Wah, kamu berhasil mendapatkannya! Kamu hebat, Fik!” puji Timmy dengan mata berbinar-binar. “Oppa, ayo kita foto box berdua yuk!” pintanya.
“Ayo kita berfoto berempat! Pasti seru!” kata Miwon bersemangat.
“Wah, itu ide yang bagus! Ayo kita kesana, Fik!” Timmy ikut-ikutan bersemangat. Dia menggandeng tangan Afika begitu saja. Mereka berdua berlari-lari kecil menuju foto box.
“Kalian memang pasangan yang serasi ya. Kalian selalu heboh dimanapun kalian berada,” ucap Edelweis sambil tersenyum.
“Pasangan yang serasi tidak harus diukur karena kepribadian yang sama kan, kak,” Edelweis melihat Miwon yang berjalan mendahuluinya. ‘Kenapa dia terlihat tidak senang? Apakah aku mengatakan hal yang salah?’ pikirnya agak bingung.
☻☺☻