Status murid baru!
Akhirnya aku kembali di kota kelahiran. Oh yeah, enam tahun yang lalu aku terpaksa harus pindah ke Kalimantan Selatan bersama ayah karena tuntutan pekerjaannya sebagai pegawai BUMN di salah satu perusahaan penyaluran pupuk ternama. Sekarang aku berdiri di depan sekolah swasta yang akan menjadi tempat belajarku yang baru, SMA Hijau Surabaya. Aku sengaja memilih tempat ini agar aku bisa sering bertemu dengannya. Walaupun aku tahu jika dia lebih cerdas daripadaku. Tapi setidaknya aku masih bisa melakukan apa yang harus aku lakukan padanya. Mungkin ini yang dinamakan sebagai penebusan dosa.
Penebusan dosa yang sebenarnya tidak pernah aku lakukan. Aku ingin dirinya sadar jika orang yang selama ini dia benci, sudah tidak sekasar dulu. Untung saja teman-teman Sekolah Dasar dulu mengetahui dimana kamu bersekolah. Jadi aku tidak terlalu bersusah payah menemukanmu. Sekarang aku tinggal mencari ruangan kelas dan memelukmu. Come on, aku sudah siap untuk melangkah lebih jauh lagi. Aku nggak akan gugup. Fhuh!
“Apa perlu mamang antar den?” kepala mang Budi melongok dari kaca mobil. Aih, mang Budi ini memang selalu mengkhawatirkanku. Mang Budi adalah sopir pribadi ayah yang sudah mengabdi selama sepuluh tahun. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Mang Budi juga mengikuti kepindahan aku dan ayah. Sayangnya lelaki berkepala lima itu belum menikah sampai sekarang. Pernah acapkali bertanya pada beliau alasan belum menikah dan mang Budi hanya tersenyum. Namun beliau tidak pernah tersinggung dengan perkataanku. Terlebih lagi, aku sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Ya, mang Budi yang penyabar sekaligus sebagai ayah kedua bagiku.
“Nggak usah, mang. Miwon kan udah gede. Lagipula aku kan anak yang pemberani, gentle, dan cakep lagi! Nggak lama lagi pasti aku punya banyak teman! Yosh!” sahutku dengan wajah riang. Wajah ciri khas yang selalu kuperlihatkan, salah satu alisku yang terangkat sembari memiringkan sudut bibir, dan tidak lupa meletakkan satu tangan di pinggang dan satu lagi di belakang kepala. Oh yeah, segalanya sudah perfect! Mang Budi tampak yakin dengan senyuman diwajahnya. Beliau mengangguk dan kembali menutup kaca mobil. Tak lama mobil avanza hitam yang dikendarainya berlalu. Kulambaikan tangan padanya. Fhuh, kegugupanku sudah agak hilang. Sekarang aku yakin dapat masuk ke dalam sekolah asing itu. ‘Miwon, SPIRIT!’ jeritku berkobar dalam hati.
☺☻☺
“Mar, boleh pinjem catetanmu tadi?” kucolek bahu Mari pelan. ‘Ugh, semoga dia gak takut sama aku lagi,’ Mari, teman sekelasku berbalik dan wajahnya terpaku sesaat. Ketiga temannya yang sebelumnya tertawa mendadak menjadi tegang. Dadaku berdegup kencang. Teringat saat pertama kali aku masuk di kelas ini. Waktu itu aku ingin sekali berkenalan dengan anak lain. Berusaha untuk membangkitkan kepercayaan diriku kembali. Tetapi pada saat aku mencolek bahu Mari, dia... malah teriak.
“Oh, catetan sosio? Nih,” ujarnya agak santai ketika memberikan bukunya padaku. Tetapi dia malah berbicara dengan arah mata ke bawah. Aku yakin dia masih takut padaku.
“Kamu... sekarang gak takut lagi ya sama aku,” pujiku berusaha membuka pembicaraan. Mari dan ketiga temannya masih terpaku ke bawah. Kulihat kedua kaki mereka setengah menggigil. “Kenapa kalian melihat ke bawah?” tanyaku lagi. Mari mengangkat kepalanya seraya mengernyitkan alis.
“Ehh.. ohh ini tadi ada cicak yang kayaknya hampir mati di lantai. Tapi.. nggak... jadi mati! Ya udah yaa kita mau ke kantin dulu,” sontak Mari menjerit dengan ketiga temannya yang lain dan berlari keluar kelas dengan kedua tangan di atas. Kelas jadi sepi senyap. Hanya aku dan kelas yang kosong. Bukan. Hanya aku, penunggu kelas, dan kelas yang kosong. Seharusnya aku sadar kalau aku nggak bakalan bisa berbaur dengan orang lain, bahkan teman-teman sekelas saja takut padaku. Kuputuskan untuk duduk di bangku, menunggu Timmy dan Hami yang masih di ruang guru. ‘Enaknya ngapain ya? Uhm, merobek kertas dan menulis sesuatu. Ide bagus, Fika.’
Afika Kalea Meraldi. Gadis berumur 16 tahun yang duduk di bangku XIIPS1. Bangku yang aku duduki sekarang adalah bangku aku sendiri. Bangku paling pojok. Aku bukan gadis yang keren. Aku gadis penyendiri dengan dua teman yang selalu disampingku. Hami, temanku yang paling setia. Sudah 5 tahun kami berteman dan berada di sekolah yang sama. Baru kali ini dia bisa satu kelas denganku. Sepertinya dia memang ditakdirkan selalu ada untukku. Timmy, temanku yang selalu ceria, manja dan tukang merajuk. Sudah 4 tahun selalu mendapatkan undian satu kelas dengannya. Sedangkan aku... postur tubuhku tidak terlalu tinggi tapi mama bilang tubuhku kecil dan agak ideal seperti Timmy. Bahkan aku sangat optimis jika modelling bukan keahlianku.
Rambut yang selalu kubiarkan tergerai panjang sampai menutupi wajah. Malahan ingin kututupi semua wajah, terutama bagian mata. Semua orang takut dengan postur wajahku. Mereka kira pada saat aku memandang wajah mereka, diriku sedang menunjukkan ekspresi marah. Mungkin lebih condong terlihat dari alisku yang sedikit menukik. Ekspresi mata yang menyipit. Kantung mata yang agak lebar. Hidung mancung yang agak besar mencuat ke atas, sampai-sampai aku merasa hidung mancung bukan selalu dianggap sebagai kelebihan. Aku merasa seperti pinokio. Ditambah bibir aku yang agak tebel kayak bibirnya bebek. Aku merasa sangat buruk rupa. Tapi mungkin kulit putihku yang jadi nilai plus sendiri buatku. Kulit keturunan ayah memang rada tionghoa.
Paper, kalo aku melihat siapa saja di sekitarku, orang-orang pada lari kayak kebelet pipis. Mereka selalu terkejut dan berlari ketakutan. You know, paper? Orang-orang gila tuh pada manggil aku Sadako nyasar gitu. Ada yang pernah juga teriak dan nodong pake pulpen sama bilang, ‘jangan bunuh saya!’ Aku rasa semua orang udah kena sindrom alay yang kini mulai menyebar. Aku capek diginiin terus. Aku itu manusia, bukan setan. Aku gak merasa diriku kayak setan. Dari mana coba??? Hanya Hami dan Timmy yang nggak takut sama aku. Eeh, Ed juga. Dia... hehehee... dia nggak takut kok. Aku cukup seneng kok. Oh ya, Aku hobi melukis. Menggambar. Mencoret apa saja. Nah, sekarang aku mau membuat gambar postur wajah aku sendiri.
Belum sempat menggambar, ketukan pintu kelas membuatku tersadar. Kertas tadi langsung kuremas dan kumasukkan saku. Sesosok cowok yang menurutku agak cakep dengan senyum tipis diwajahnya sedang berdiri diambang pintu. Kemudian berjalan mendekat dan menunduk. Lalu menyentuh sehelai rambutku. Wajahku hanya tercenung. Bingung harus memberikan reaksi apa. Dia nggak berpikir aku makhluk dunia lain juga kan?
“Udah Miwon duga, dirimu bukan hantu!” serunya kemudian. Kusingkirkan tangannya dengan cepat. Wajahku langsung mengkerut. Aku nggak kaget kalau cowok itu juga berpikir hal yang sama. Dia nggak ada bedanya dengan orang-orang.
“Resek lo,” sungutku kesal. Cowok itu malah tertawa terbahak-bahak. Seingatku semua orang selalu grogi dengan kehadiranku. Kepala Sekolah, guru-guru, tukang kebon sekolah, bahkan teman-teman disekitarku. Tapi kok cowok ini malah tertawa? Kayaknya aku belum pernah melihat wajahnya di kelas ini. Apa aku yang terlalu kuper ya, sampai-sampai nggak kenal sama teman sekelas sendiri. Apa mungkin dia dari kelas lain?
“Kamu pasti mikir kalo saya dari kelas lain. Miwon tahu apa yang kamu pikirin.”
Cerdas! Kok dia bisa tahu apa yang membuatku gelisah. Apa dia paranormal? Jangan-jangan dia tahu lagi kalau aku sempat mikir kalau dia rada cakep! “Udah jangan bengong terus karena tahu kalo Miwon cakep. Semua orang juga mikir kayak gitu. Jadi pengen malu!” ujarnya lagi seraya menyisir rambut ikalnya dengan tangan. Iih, cakep sih cakep. Tapi narsisnya amit-amit. Jadi ilfill deh! Kayaknya bukan dia yang takut sama aku, tapi malah aku yang takut sama dia sekarang.
“Udah deh saya ngerti kalo... dirimu itu salah satu fans Timmy kan? Tapi dia gak ada disini. Dia ada di...,”
“Lha, Timmy itu siapa?” tanyanya bingung.
“Lho, kamu kesini mau cari Timmy kan?”
“Tim....,”
“Dia gak ada.”
“Tapi...,”
Tapi apa... apa... apa lagi????” kataku sewot. Gila nih anak. Bikin aku badmood deh!
“Tapi Miwon kesini bukan cari Timmy shaun the sheep. Saya murid baru disini.”
“Ha. Ha. Ha. Memang semua bilang dia kayak anak domb... eeh, apa?”
“Apa? Saya? Mu-rid-ba-ru-di-si-ni...,” ulangnya lagi dengan mengeja per kata. ‘Seeerrrrr,’ Jantungku langsung naik-turun. Duh, malu banget! Rasanya mau mati!
“Tuh, liat muka kamu jadi merah kayak tomat! Hahahaa... dont be shy, baby,” mataku langsung melotot ketika cowok itu merangkul pundakku. Ini orang kok sukanya megang-megang. Aku pukul saja tuh tangan jahilnya.
“Auuuch...,”
“Makanya jangan pegang-pegang!” bentakku kesal. Cowok itu malah tertawa hebat.
“Afika, siapa dia?” kudengar suara Hami dari belakang. Aku langsung berbalik. Wajah Timmy tampak senang. Sudah jelas dia mengira mendapatkan fans baru. Cakep lagi. Huush. Stop bilang dia cakep. Cowok freak bin narsis lebih cocok buat dia.
“Dia....,”
“Hai. Nama saya Miwon. Saya murid pindahan dari Kalsel. Met kenal ya, baby,” kulihat cowok itu berusaha tampil keren di depan kedua sahabatku. Tentu saja Timmy terpesona ketika melihat tangan cowok itu mengangkat dagu seraya memonyongkan bibir. Lalu Hami? Yup, dia tidak merasakan sensasi apapun. Seperti biasa, gadis itu hanya mengerutkan kening dan mengangkat kacamata tebalnya agar dapat melihat lebih jelas siapa orang yang berada dihadapannya.
☺☻☺