Read More >>"> Aria's Faraway Neverland (6. Fake Existence (Part 2)) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aria's Faraway Neverland
MENU
About Us  

“…Kenapa aku ada disini?”

Masih ada tersisa waktu 10 menit sebelum kelas dimulai kembali. Aku belum sempat memakan bekalku yang dibuatkan oleh ibu tiriku sebelum dia pergi. Namun, seseorang yang bernama Emma ini tiba-tiba mengajakku ke atap sekolah tanpa alasan yang jelas.

Awalnya aku menolak, tetapi dia memaksa. Alasan aku menolaknya adalah karena atap sekolah merupakan area yang dilarang oleh pihak sekolah. Tentu saja akan berbahaya jika anak-anak bermain di tempat seperti ini. Jadi, pintu menuju atap dikunci. Anehnya, Emma memiliki kunci untuk mengaksesnya.

“Ahh! Segarnya!” seru Emma yang mengambil nafas dalam-dalam. Senyumnya sangat lebar menunjukkan kepuasannya untuk berada disini. Dari reaksinya, bukan pertama kalinya dia kesini.

Aku hanya duduk di dekat pintu sambil membuka bekalku, sedangkan Emma berjalan-jalan menikmati udara terbuka.

“Kamu benar-benar menyukai tempat ini ya, Emma.” Ucapku sambil memakan bekalku.

“Yep.” Balasnya.

Anak ini benar-benar menakjubkan. Setiap tindakan dan ucapannya entah mengapa membuatku jengkel. Dia mengajakku ke tempat yang dilarang ini dan sekarang dia hanya berjalan memutar saja. Di sini tidak ada tempat teduh, sehingga tidak nyaman bagiku untuk makan di tempat seperti ini. Anak ini telah mengganggu waktu istirahatku.

“Jadi, kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?” tanyaku.

“Karena ibuku meyuruhku.” Jawabnya yang sambil berjalan memutar tanpa memandangku.

“Ibumu?”

“Yep. Kata ibu kamu membutuhkan seorang teman, makanya aku mengajakmu kesini.”

“Ibumu? Ibumu mengenalku?” tanyaku kebingungan karena aku tidak pernah berkenalan dengan ibu dari teman-teman sekelasku.

“Tentu saja. Ibuku adalah guru kita berdua. Namanya adalah Bu Mary.” Jelasnya.

Tunggu dulu…

Aku memang kurang pandai mengingat nama, tapi aku masih mengingat nama itu samar-samar.

“Dia…”

Di saat aku masih berusaha mengingatnya, Emma menambahkan, “Ibuku peduli denganmu. Katanya dia beberapa kali memanggilmu ke ruang guru untuk menanyai kabarmu.”

OH!

Kabut yang di otakku seketika bersih. Memang hanya ada satu guru yang beberapa kali memanggilku ke kelas. Akan tetapi..

“EH!?”

“Ah, akhirnya kamu ingat.”

Aku tidak mengira bahwa dia sudah mempunyai seorang anak perempuan. Dilihat dari wajah dan tubuhnya, kukira dia masih muda dan perawan. Ah…ternyata dia awet muda.

Emma sempat bertanya kenapa aku sangat terkejut, dan aku juga sedikit bingung untuk menjelaskannya.

“Umm..ibumu masih terlihat sangat muda, jadi kukira dia masih belum menikah…”

Aku berusaha sedikit jujur, tetapi aku tidak yakin bahwa anak seumuranku lainnya paham dengan hal seperti ini.

Ekspresi kebingungan terpajang di muka Emma, tetapi dia memutuskan untuk tidak menggalinya lebih lanjut.

“ ‘Ada beberapa hal yang tidak perlu kamu pahami’. Aku pernah diberitahu oleh mentorku seperti itu.” Ucapnya tanpa konteks. Namun, entah kenapa melalui ucapan yang singkat itu, aku dapat sedikit memahami Emma.

Dia, pada dasarnya, adalah seorang anak kecil. Namun, dia diberkahi dengan kecerdasan yang di atas rata-rata. Sejak dia membawaku tempat ini, dia sedikit kehilangan arah atas apa yang dia lakukan. Dia bilang bahwa dia mengajakku ke tempat ini karena ibunya menyuruhnya. Akan tetapi, perintah ibunya bukanlah untuk membawaku ke atap sekolah, melainkan adalah untuk menemaniku. Dengan kata lain, tempat yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh siapapun ini, adalah tempat “bermain”-nya.

Dia kesepian, begitulah pikirku.

Dia hanya menuruti perintah ibunya. Sejak kesini, dia hanya berputar-putar saja. Aku menghargai usahanya untuk “menemani”-ku, tetapi maupun aku dan dia tidak tahu harus apa. Jika ini diteruskan, maka keadaan jadi canggung.

Ini buruk.

Aku tidak memiliki topik pembicaraan yang menyenangkan. Aku tidak tahu hal-hal yang sedang ramai di kalangan anak-anak. Jujur saja, aku hanya ingin memakan bekalku dengan tenang, tetapi aku harus mencobanya.

“M-mentor? Kamu punya seorang mentor?” tanyaku. Aku mendengar bahwa dia mengutip perkataan mentornya, dan aku memutuskan untuk menjadikan itu sebagai topik pembicaraan.

“Yep. Dia mengajariku berbagai hal walaupun aku tidak memahami sepenuhnya. Perkataan-perkataan mentorku jauh lebih sulit dipahami daripada fisika!” jawabnya dengan nada sedikit jengkel.

…Ha?

Kenapa dia tiba-tiba menyinggung fisika? Aku hanya tahu sedikit tentang fisika, kalau tidak salah hal itu mulai dipelajari pada saat SMP. Jangan-jangan, apakah dia sudah memahami fisika pada jenjang itu, dan mungkin pada jenjang yang lebih tinggi?

Sudah terlihat kalau Emma mengagumi mentornya walaupun dia juga jengkel di saat yang sama. Padahal hanya kusinggung sedikit tentang mentornya, dia langsung bercerita lebih banyak.

Mentornya adalah seorang gadis berumur 11 tahun. Dari ceritanya, “mentor”-nya itu hanyalah sosok seorang kakak baginya, tetapi Emma menyebutnya dengan sebutan yang aneh. Mentornya terkadang mengunjungi Emma dan mengajaknya bermain. Mengagumkannya, mentornya bisa dibilang cukup bijak untuk anak seumurannya. Salah satu perkataannya sudah disebutkan oleh Emma, yaitu “Ada beberapa hal yang tidak perlu kamu pahami”.

Emma bercerita sambil berjalan berputar tanpa melihatku. Aku hanya mendengarkannya sambil menghabiskan bekalku. Karena Emma yang bercerita terus menerus tanpa berhenti, aku dapat menghabiskan bekalku tepat 2 menit sebelum kelas masuk lagi.

“Kamu punya mentor yang baik sekali ya, Emma.” Responsku sambil menutup bekalku dan berdiri.

Satu hal yang kupastikan benar adalah, Emma benar-benar seorang anak kecil. Kesan pertamaku terhadapnya adalah dia memiliki kemampuan bersosial seperti orang dewasa, tetapi aku yakin itu adalah suruhan dari ibunya atau saran dari mentornya. Dia tidak memahami maksudnya, tetapi dia tetap melakukannya.

Setelah kupuji mentornya, Emma menjawab, “Yep. Dia baik sekaligus menjengkelkan. Dia juga bilang bahwa selalu murung itu tidak bagus, lo.”

Aku sedikit tertawa mendengarnya. Perkataannya barusan itu tulus dari hatinya sendiri. Dia melihatku hampir setiap hari murung dan menasihatiku untuk tidak murung. Hal itu sedikit lucu bagiku.

Emma melanjutkan, “Mentorku berkata bahwa hanya kita sendiri yang dapat membuat kita bahagia. Dengan kebahagiaan itu, dunia di sekitar kita akan menjadi lebih indah.”

Dari sekian banyak ceritanya tentang mentornya itu, hal yang barusan dia katakan itu benar-benar menarik perhatianku. Bukan karena aku merasa tersentuh karenanya, melainkan karena perkataan itu mengingatkanku pada sesuatu.

Emma menghentikan langkahnya, lalu memandangi langit biru diatas.

“…Terlalu banyak biru.” Komentarnya.

“Kamu tidak menyukai langit?” tanyaku.

“Yep, karena langit membuatku iri. Warna favoritku adalah biru. Melihat langit yang sangat luas dan berwarna biru membuatku sangat iri. Aku disarankan mentorku untuk ke atap sekolah ini dan sesekali memandangi langit dengan jelas.” Jawabnya.

Dia menurunkan pandangannya, dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.

“Ayo kita kembali ke kelas, Aria.” Ajaknya sambil membuka pintu perlahan.

“Tunggu dulu.”

“Hm?”

Masih ada perasaan yang mengganjal di hatiku mengenai perkataan mentornya itu. Oleh karena itu, aku bertanya kepada Emma, “Perkataan mentormu, ‘Dengan kebahagiaan itu, dunia di sekitar kita akan menjadi lebih indah’, apa maksudnya?”

“Bukankah sudah jelas?”

Entah kenapa…entah kenapa aku sedikit takut untuk mendengar jawabannya. Tanpa sadar, aku melangkahkan kakiku mundur saat Emma hendak menjawabnya.

Emma berkata, “Keadaan di sekitar kita dipengaruhi oleh diri kita sendiri,”

Aku melangkahkan satu kaki ke belakang…

Emma melanjutkan, “Oleh karena itulah…”

Aku menggigit bibirku karena takut untuk mendengarnya.

“Kita adalah Tuhan bagi diri kita sendiri.”

Sesaat setelah Emma menyelesaikan perkataannya, penglihatanku mulai kabur dan aku mulai melihat banyak cahaya hijau di sekitarku.

Ini…

Ini adalah cahaya-cahaya sama seperti kulihat bersama Peter. Ini adalah jiwa orang-orang yang telah meninggal. Kenapa tiba-tiba aku melihatnya di saat seperti ini?

Di saat yang sama, kesedihan yang besar serta amarah tiba-tiba merasuki diriku. Penglihatanku makin kabur dan cahaya hijau yang disekitarku makin terlihat jelas.

Perasaan apa ini…?

Hanya kepedihan hebat yang kurasakan sekarang. Aku merasa seperti beribu-ribu tahun kesedihan berkumpul menjadi satu di dalam diriku. Perasaan ini…sangat tidak enak.

Tidak lama kemudian, suara tangisan terdengar di dalam kepalaku. Suara tangisan tersebut berasal dari seorang perempuan. Juga terdengar suara samar permintaan tolong darinya. Permintaan tolongnya yang sangat terdengar putus asa itu juga membuatku iba kepadanya. Namun, semua yang kudengar itu berasal dari kepalaku.

Kesedihan yang kurasakan itu juga terus bertambah hingga aku tidak dapat menahannya. Hanya ada satu hal yang kupikirkan sekarang, yaitu bahwa aku ingin keluar dari semua ini.

“Aria?”

Panggilan dari Emma membuatku terbangun dari mimpi buruk itu. Aku sudah tidak mendengar suara lagi dan tidak melihat cahaya hijau lagi. Namun, kesedihan yang merasuki diriku masih membekas sehingga air mata pun tak tertahankan.

Aku menangis.

 

Author's Note:

Saran dan Kritik sangat dihargai. Jika ada typo boleh juga komentar agar saya perbaiki.

Also ini juga chapter yang paling low-effort. Kalau misal ada yang tidak konsisten tolong beritahu wkwk.

Fake Existence (2/2)

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Goddess of War: Inilah kekuatan cinta yang sesungguhnya!
194      123     0     
Fantasy
Kazuki Hikaru tak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat ini, tepatnya 1 bulan setelah sekembalinya dari liburan menyendiri, karena beberapa alasan tertentu. Sepucuk surat berwarna pink ditinggalkan di depan apartemennya, tidak terlihat adanya perangko atau nama pengirim surat tersebut. Benar sekali. Ini bukanlah surat biasa, melainkan sebuah surat yang tidak biasa. Awalnya memang H...
From Ace Heart Soul
12      11     0     
Short Story
Ace sudah memperkirakan hal apa yang akan dikatakan oleh Gilang, sahabat masa kecilnya. Bahkan, ia sampai rela memesan ojek online untuk memenuhi panggilan cowok itu. Namun, ketika Ace semakin tinggi di puncak harapan, kalimat akhir dari Gilang sukses membuatnya terkejut bukan main.
Rindu Yang Tak Berujung
319      242     7     
Short Story
Ketika rindu ini tak bisa dibendung lagi, aku hanya mampu memandang wajah teduh milikmu melalui selembar foto yang diabadikan sesaat sebelum engkau pergi. Selamanya, rindu ini hanya untukmu, Suamiku.
FORGIVE
47      36     0     
Fantasy
Farrel hidup dalam kekecewaan pada dirinya. Ia telah kehilangan satu per satu orang yang berharga dalam hidupnya karena keegoisannya di masa lalu. Melalui sebuah harapan yang Farrel tuliskan, ia kembali menyusuri masa lalunya, lima tahun yang lalu, dan kisah pencarian jati diri seorang Farrel pun di mulai.
Sang Musisi
9      9     0     
Short Story
Ini Sekilas Tentang kisah Sang Musisi yang nyaris membuat kehidupan ku berubah :')
Marry Me
12      12     0     
Short Story
Sembilan tahun Cecil mencintai Prasta dalam diam. Bagaikan mimpi, hari ini Prasta berlutut di hadapannya untuk melamar ….
Dialog Hujan
341      272     3     
Short Story
Tak peduli orang-orang di sekitarku merutuki kedatanganmu, aku akan tetap tersenyum malu-malu. Karena kau datang untuk menemaniku, untuk menenangkanku, untuk menyejukkanku. Aku selalu bersyukur akan kedatanganmu, karena kau akan selalu memelukku di dalam sepiku, karena kau selalu bernyanyi indah bersama rumput-rumput yang basah untukku, karena kau selalu menyebunyikan tangisku di balik basahmu.
Story of time
96      69     0     
Romance
kau dan semua omong kosong tentang cinta adalah alasan untuk ku bertahan. . untuk semua hal yang pernah kita lakukan bersama, aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah. . .
Altitude : 2.958 AMSL
9      9     0     
Short Story
Seseorang pernah berkata padanya bahwa ketinggian adalah tempat terbaik untuk jatuh cinta. Namun, berhati-hatilah. Ketinggian juga suka bercanda.
Until The Last Second Before Your Death
291      231     4     
Short Story
“Nia, meskipun kau tidak mengatakannya, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Karena bagiku, meninggalkanmu hanya akan membuatku menyesal nantinya, dan aku tidak ingin membawa penyesalan itu hingga sepuluh tahun mendatang, bahkan hingga detik terakhir sebelum kematianku tiba.”