Read More >>"> IMPIANKU (Episode 1 Bagian 2) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - IMPIANKU
MENU
About Us  

       Dreettt! Dreettt!

      Terasa getaran ponsel di saku, menyadarkan lamunanku pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Perlahan, kuambil ponsel dari celana jin. Sebaris nama tertera di dalamnya. Panji. Seorang pemuda asal Jakarta, berusia dua puluh empat tahun—sebaya denganku. Tubuh tinggi tegap kulit putih sedikit kusam—mungkin karena sering terkena sinar matahari, yang selalu mendukung setiap langkahku di kampus—bisa dibilang sahabat dekat. Hanya ia yang selalu menyertaiku di saat tersulit sekali pun, pasca perceraian ibu dan ayah.

      “Hai, Sat. Lu lagi di mana?” Isi pesan dari Panji. “Ada kabar terbaru di kampus, nih. Ane rasa, lu pasti suka.” Lanjutan pesan yang dikirim berikutnya.

     Tanpa pikir panjang, langsung membalasnya, “Aku lagi di Cirebon dulu, Ji. Sudah seminggu di sini.” Kutekan tombol kirim, kemudian lanjut mengetik pesan kedua. “Ada kabar apa dari kampus? Insya Allah lusa, baru balik ke Jakarta.” Kembali kutekan tombol kirim, dan menunggu balasan.

     Tidak berapa lama, terdengar balasan pesan di ponsel. “Ada acara apa di Cirebon, Sat? Ane kira, lu lagi di Bogor ke rumahnya Adi.” Setelah cukup lama, kemudian masuk kembali pesan berikutnya, “Begini. Tadi pagi pas ane ke kampus, ketemu sama Pak Agus dosen pembimbing kita. Beliau meminta sebuah program terbaru untuk aplikasi internet, yang bisa berfungsi sebagai sistem layanan online. Beliau mempercayakan ke kita, sebagai tesis tambahan nilai skripsi sebelum wisuda nanti. Gimana, bisa kagak lu, Sat?”

    Sejenak berpikir, kemudian membalas pesan dari Panji. “Insya Allah lusa aku balik ke Jakarta, langsung kita bikin programnya, Ji. Masih ada yang mesti aku bereskan dulu di sini, mengenai masalahku dengan keluarga.” Kutekan tombol kirim, berharap Panji mengerti.

    “Oke, Sat. Ane tunggu kedatangan, lu. Ouh iya ... salam buat ibu ama Rianti, ya? Ane turut prihatin ama masalah keluarga lu, Sat. Semoga kalian diberi ketabahan jalani semuanya.” Isi pesan Panji, setelah agak lama menunggu.

    Mungkin hanya Panji yang saat ini bisa mengerti keadaan keluargaku. Sebab ia orang terdekat di saat kami masih utuh, dulu. Tidak jarang ia menginap di rumah, sebelum petaka terjadi. Hingga segala apa yang dimiliki di Jakarta, terampas oleh gundiknya Dani Sunjaya.

    Entah kenapa, begitu bencinya aku terhadap pasangan tersebut. Rumah, mobil dan segala kekayaannya di Jakarta semua diminta oleh si ‘selir’. Membuat kami harus terpaksa pulang ke kampung asal ibu.

    “Kamu yang sabar ya, Nak. Ini hanya sebuah ujian dari Allah untuk umat-Nya. Ibu yakin, akan ada hal besar yang akan kamu dapatkan di balik peristiwa ini.” Itulah kata-kata ibu yang selalu menguatkanku, di saat kesulitan antara lanjut kuliah atau berhenti.

    “Insya Allah, Satria siap hadapi sekeras apa pun hidup ini, Bu. Asal ada Ibu dan Rianti bersama, sudah cukup membuat Satria bahagia.” Aku hanya bisa menatap sendu wajah ibu, jika sudah berbicara tentang nasib kami ini. Meski di hati ada rasa kecewa, namun apa mau dikata. Itu sudah menjadi keputusan dari seorang kepala keluarga, yang lari dari tanggung jawabnya.

    Di sebuah rumah sederhana yang terletak di wilayah Cirebon Timur, sekitar satu jam dari terminal bus Harjamukti kota Cirebon—arah Jawa Tengah. Ukiran dinding yang terbuat dari kayu jati, layaknya bangunan tempo dulu. Menambah suasana unik, dengan ukiran di setiap sudut tiang penyangga rumah.

    Pohon mangga rindang di depan rumah, sangat nyaman jika berada di teras, meski hanya sekedar duduk menikmati bentangan sawah dan ladang. Gunung Ciremai yang berdiri kokoh, sangatlah indah menikmatinya jika senja mulai bergulir.

    Di sana, di rumah tua itu tempat aku dilahirkan dua puluh tiga tahun silam. Namun semua keceriaan, kini hilang setelah perginya Dani Sunjaya karena ego dan ambisi yang membuat dirinya dimabuk dunia.

    “Satria, kamu udah makan, Nak?” Sapaan ibu dari dalam rumah, membuyarkan kembali lamunanku terhadap peristiwa pedih itu.

    “Ee ... i—iya. Be—belum, Bu. Nanti Satria makan. Ibu sama Rianti gimana, udah makan?” balasku sedikit tergagap.

    “Kamu kenapa, Nak? Masih memikirkan kejadian di Jakarta kemarin?” Kata-kata ibu terdengar parau. Mungkin karena terlalu banyak menangis, sehingga sedikit terganggu pada pita suaranya. Wanita tangguh dan super tabah, di usianya yang kini menginjak empat puluh enam tahun. Terlihat jelas di guratan wajah yang mulai menua. Harus rela dikhianati oleh ambisi suaminya sendiri.

    “Enggak juga, Bu. Tadi Panji kasih kabar dari Jakarta, kalau ada tugas dari dosen pembimbing. Kayaknya Satria harus balik lagi ke sana, buat lanjut kuliah. Ibu sama Rianti baik-baik saja, kan? Kalau seandainya Satria ke sana lagi?”

    “Siapa? Panji?!” tanya ibu sedikit terkejut.

    Raut wajah ibu, seolah menampakkan ketidak sukaan terhadap Panji. Padahal sewaktu masih di Jakarta, ia suka berbincang dengan sahabatku itu. Meski tidak terlalu dekat juga, berbeda dengan Rianti jika sedang bermain dengannya.

    Memang awal kedekatanku dengan Panji tidak disukai oleh ibu, dan entah alasan apa hingga saat ini masih belum terjawab. Hanya kematangan berpikir dan cara menutupi ketidaksukaannya sangat rapi, sehingga sulit kuketahui. Entahlah, hanya isi hatinya yang tahu, sementara aku hanya bisa manut dengan segala kata-katanya.

    “Iya ..., Panji. Yang sering main ke rumah, sewaktu masih di Jakarta dulu, Bu. Masih ingat, kan? Nampaknya, Ibu masih enggak menyukainya, ya?” tanyaku seraya mengerutkan dahi, “dari semenjak ia sering main ke rumah, ada hal yang Ibu sembunyikan tentang Panji. Ada apa, Bu?” sambungku masih sedikit terheran.

    “Ouh .... Ah—enggak, enggak apa-apa, Nak. Mmm ... perasaanmu saja, mungkin.” Terlihat ibu menutupi, kemudian mengalihkan pembicaraan tentang hal yang ingin kuketahui mengenai sahabatku itu. Namun, langsung ditepisnya dengan seutas senyum. Ini yang berat untukku terus bertanya hal yang menurutnya tidak perlu diperbesarkan, jika sudah harus terkunci dalam hati dan pikirannya.

    “Bener, Bu? Enggak ada yang disembunyikan dari Satria, tentang Panji?” desakku, berharap Ibu membuka perihal kawanku itu.

    “Enggak apa-apa, Nak. Biar di sini ibu sama Rianti, kamu fokus saja sama kuliahmu. Di sini masih banyak yang mesti diperbuat, kok. Ladang peninggalan kakek masih ada untuk digarap. Jadi jangan khawatirkan kami, banyak sanak saudara juga yang bantu di sini. Jaga dirimu baik-baik, ya?” Keteguhan ibu membuatku kembali yakin, akan ada secercah harapan setelah badai mengguncang keluarga. Kembali membuyarkan ribuan pertanyaan yang masih misterius, tersimpan dalam benak ibu tentang sahabatku itu.

    “Baiklah, Bu. Insya Allah lusa, Satria kembali ke Jakarta. Masih banyak yang mesti dilakukan, dan akan Satria tunjukkan sama ayah bahwa tanpa dia, kita masih bisa hidup!” lirihku bersemangat, meski nanti harus rela tidur di rumah kontrakan tidak seperti rumah mewah kami dulu yang telah hilang dirampas wanita ‘sundal’.

    “Kak Satria, entar malam ada acara pasar malam di alun-alun kecamatan. Rianti boleh lihat, Kak?” Tiba-tiba Rianti muncul dari dalam rumah dengan mengenakan baju renda berwarna biru, serta rambut dikuncir kuda seraya mengajakku bermain ke acara Festival Jajanan Malam atau sering disebut Pasar Malam oleh warga sekitar.

    Sebuah acara festival yang sering diadakan setiap satu tahun sekali, dan itu merupakan salah satu budaya di daerahku, jika musim tebang tebu tiba. Biasanya diawali dengan ramainya berdiri tenda-tenda jajanan, seperti martabak manis dan telur, tahu petis, salak pondoh serta berbagai variasi jajanan lainnya sebelum malam puncak.

    Wahana mainan seperti kincir-kinciran, kuda putar, ombak banyu, bahkan kereta wisata layaknya tempat rekreasi di Jakarta bernama Dufan. Sedangkan jika pas malam puncak acara, suka diadakan pagelaran seni budaya wayang golek atau wayang kulit. Panggung hiburan, arak-arakkan ‘pengantin tebu’ yang siap panen dan diakhiri giling tebu di pabrik gula dekat kecamatan.

    “Rianti pengen main ke pasar malam? Nanti kakak antar sama ibu ke sana, ya? Sekarang udah mandi, belum?” balasku penuh perhatian, bermaksud menghibur hati Rianti agar tidak terlalu memikirkan masalah keluarga.

    “Udah, Kak. Tadi sekalian salat ashar sama ibu. Rianti main dulu ke depan ya, Kak. Punya teman baru di sini, hehehe ....” Melihat kondisi Rianti yang sudah mulai sedikit melupakan peristiwa berpisahnya orang tua, membuatku senang. Bagaimana tidak? Pasca perceraian, Rianti sering murung dan bahkan suka mengigau jika tidur malam. Kalau sudah begitu, ibu hanya bisa menangis sambil memeluknya.

    Kini, meski tanpa kehadiran kepala keluarga. Aku coba menunjukkan, bahwa kami masih bisa merasakan bahagia, dan itu merupakan impianku saat ini. Demi ibu dan Rianti.

    Sehari sebelum kembali ke Jakarta. Aku mencoba menghibur Rianti yang sudah sedikit melupakan kejadian ayah dan ibu berpisah, dengan mengajaknya main ke festival pasar malam. Bermain semau hatinya, dan menikmati segala aneka hiburan malam itu bersama ibu. Hingga hatinya merasa puas, kemudian lelap tertidur dikelonan ibu.

    “Kakak akan berusaha membahagiakanmu, Dek. Ini janji kakak, sampai kamu jadi anak sukses kelak,” gumamku dalam hati, melihat rona wajah Rianti yang masih sangat belia dalam dekapan ibu malam itu.

    Kesokan harinya, aku antar Rianti untuk mendaftar sekolah, memperkenalkan ke beberapa guru dan tetangga—meski tidak sedikit yang mencibir keadaan kami, sebab masih terasa asing olehnya yang baru menginjak sekolah dasar di kampung terpencil kota Cirebon.

    “Apa salah, jika seorang anak yang enggak punya ayah bersekolah di sini?! Itu kan, hak setiap warga negara untuk menuntut ilmu?! Kenapa harus dibedakan?!” bantahku saat mendaftarkan Rianti sekolah, karena mendengar beberapa cibiran dari tetangga.

    “Enggak salah, Nak Satria. Biasa kalau di kampung, ada hal yang ganjil saja pasti jadi ramai. Harap bisa memakluminya, ya?” balas seorang guru menengahi keributan kecil antara aku dengan salah satu wali murid, yang gayanya seolah hanya orang mampu saja yang boleh menuntut ilmu.

    “Bagiku itu hal biasa, Bu. Tapi jangan di hadapan Rianti, yang masih belum ngerti apa-apa tentang kehidupan!” sergahku dengan hati dongkol, meski akhirnya mereka meminta maaf atas ucapannya.

    Yah ... begitulah warna kehidupan di desa terpencil. Bisa dibilang, banyak orang yang kampungan. Sedikit memiliki harta, lagaknya seolah dunia milik sendiri.

    Lambat laun, rona di wajah Rianti kembali menampakkan senyum bahagia. Itulah kebahagiaan terakhir aku rasakan bersama keluarga kecil, sebelum petualangan yang akan merubah dunia kami kelak di kemudian hari. Biarlah, kucoba hadapi kerasnya hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Asal ibu dan adikku bahagia. Itu yang menjadi tekadku, sebelum meninggalkan kampung halaman.

                                                                                                              *****

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • Kang_Isa

    @Ardhio_Prantoko Wih ... terima kasih, Mas Dhim. Alhamdulillah karya ini sudah terbit, tinggal nunggu lounching saja, nih. Hehehe

    Comment on chapter Info Novel IMPIANKU
  • Ardhio_Prantoko

    Bahasanya ringan. Bobot ceritanya saya dapat. Suka sama yang ini.

    Comment on chapter Info Novel IMPIANKU
  • Kang_Isa

    @SusanSwansh Iya, aku ubah sedikit di bagian prolog sama epilognya, biar beda dikit hehehehe :D

    Comment on chapter Sinopsis
  • SusanSwansh

    Kak ini yg my dream kan ya Kak? Apa baru lagi?

    Comment on chapter Sinopsis
  • Kang_Isa

    @Neofelisdiardi Terima kasih ulasannya, Kak. Semoga suka, dan terima kasih sudah mampir, ya. Selamat mengikuti ceritanya, dan sukses selalu. :)

    Comment on chapter Sinopsis
  • Kang_Isa

    @Neofelisdiardi Terima kasih ulasannya, Kak. Semoga suka, dan terima kasih sudah mampir, ya. Selamat mengikuti ceritanya, dan sukses selalu. :)

    Comment on chapter Sinopsis
  • Neofelisdiardi

    Konsepnya bagus dan serius. Penulisnya paham tentang dunia siber dan Malaysia

    Comment on chapter Sinopsis
Similar Tags
LINN
423      203     0     
Romance
“Mungkin benar adanya kita disatukan oleh emosi, senjata dan darah. Tapi karena itulah aku sadar jika aku benar-benar mencintaimu? Aku tidak menyesakarena kita harus dipertemukan tapi aku menyesal kenapa kita pernah besama. Meski begitu, kenangan itu menjadi senjata ampuh untuk banggkit” Sara menyakinkan hatinya. Sara merasa terpuruk karena Adrin harus memilih Tahtanya. Padahal ia rela unt...
Secret Elegi
107      67     0     
Fan Fiction
Mereka tidak pernah menginginkan ikatan itu, namun kesepakatan diantar dua keluarga membuat keduanya mau tidak mau harus menjalaninya. Aiden berpikir mungkin perjodohan ini merupakan kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Menggunakan identitasnya sebagai tunangan untuk memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat hancur. Tapi Eun Ji bukanlah gadis 5 tahun yang l...
Perfect Love INTROVERT
268      163     0     
Fan Fiction
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
SERENA (Terbit)
360      217     0     
Inspirational
Lahir dalam sebuah keluarga kaya raya tidak menjamin kebahagiaan. Hidup dalam lika-liku perebutan kekuasaan tidak selalu menyenangkan. Tuntutan untuk menjadi sosok sempurna luar dalam adalah suatu keharusan. Namun, ketika kau tak diinginkan. Segala kemewahan akan menghilang. Yang menunggu hanyalah penderitaan yang datang menghadang. Akankah serena bisa memutar roda kehidupan untuk beranjak keatas...
Rose The Valiant
137      89     0     
Mystery
Semua tidak baik-baik saja saat aku menemukan sejarah yang tidak ditulis.
Aldi. Tujuh Belas. Sasha.
16      16     0     
Short Story
Cinta tak mengenal ruang dan waktu. Itulah yang terjadi kepada Aldi dan Sasha. Mereka yang berbeda alam terikat cinta hingga membuatnya tak ingin saling melepaskan.
WINGS "You Never Walk Alone"
10      10     0     
Fan Fiction
Vi, pria dingin dengan sikap acuhnya dan dingin membuat siapapun tidak mau berurusan dengan dirinya. Pria itu begitu teguh pada pendiriannya dan tidak mudah goyah. Ia didik begitu keras oleh Ayahnya. Hingga ia bertemu dengan gadis bernama Rua yang memiliki sikap konyol dan selalu membuatnya kesal. Dibalik sikap konyol Rua ternyata gadis itu menyimpan penderitaan yang sama dengan Vi. Mereka butuh ...
Khayalan dengan Oppa Korea
5      5     0     
Short Story
Khalayan gadis 23 tahun bersama oppa-oppa impiannya
A D I E U
61      52     0     
Romance
Kehilangan. Aku selalu saja terjebak masa lalu yang memuakkan. Perpisahan. Aku selalu saja menjadi korban dari permainan cinta. Hingga akhirnya selamat tinggal menjadi kata tersisa. Aku memutuskan untuk mematikan rasa.