“Pukul 20:13 p.m. tercatat sebuah kematian yang diduga sebagai pembunuhan terencana. Korban merupakan seorang pemain opera, Dowra Walces, usia 27 tahun dan lajang. Tersangka yang diduga merupakan salah satu pemain opera yang pernah dekat dengan sang korban, yaitu Helena Windsor Saner, usia 25 tahun. Kasus diduga karena motif tersembunyi dan dendam masa lalu.” Seorang reporter mengambil semua keberanian yang dimilikinya untuk menyiarkan dan memberitahu sebuah berita menggemparkan dari TKP berlangsung. Dimana, dari layar menyala itu, orang-orang dapat melihat betapa berantakannya keadaan disana, dimana terlihat dan terdengar sirene dari mobil polisi dan ambulans yang saling bersahutan.
Beberapa waktu sebelumnya...
Dengan lantunan musik, pemain wanita itu menggerakkan tubuhnya dengan penuh perasaan dan sangat indah, jenis suara sopranonya begitu merdu dan tak memaksa, fokus cahaya panggung ada padanya. Ia menggunakan jubah merah kebesaran, namun indah dengan topeng perak yang menutupi bagian atas wajahnya, menjadikannya karakter yang penuh misteri. Suaranya begitu membuat para pendengar masuk ke dalam emosinya, tubuhnya yang terus menari dengan licah, serta aura yang ia keluarkan benar-benar membiarkan orang-orang merasakan perasaan yang ia rasakan. Itulah ia, yang dikenal Sang Ratu Opera, Helena Windsor Saner. Di panggung malam ini, ia adalah bintang utama opera.
Panggung akan memasuki bagian kedua, di mana pemain utama wanita akan bermain dengan pemeran wanita kedua. Peti itu sampai di tengah panggung dan pemain utama wanita menunggu kemunculan lawan mainnya. Menurut naskah, pemeran wanita kedua akan muncul pada saat pemain utama wanita itu akan menghabiskan dialognya. Namun, bahkan pada saat ia menyelesaikan dialognya dan diam menanti-nanti, tidak ada tanda-tanda kemunculan. Itu membuat orang bertanya-tanya dan suasana di atas panggung menjadi hening dan sepi.
orang-orang yang mulai merasa ada yang tak benar dan pemain utama wanita itu mencoba untuk memanggil lawan mainnya, tapi sama, itu adalah sebuah kebisuan dari dalam peti itu. Kebisuan itu hanya menjadi sebuah ketegangan dan kecemasan semakin berlalunya waktu, pemain utama wanita itu memberanikan dirinya untuk membuka peti itu dan menemukan tubuh lawan mainnya yang sudah tak bernyawa dalam keadaan tubuh yang tak utuh.
“KYAAA!!! Ada mayat!! Ada yang meninggal!!! Pembunuhan!!!” Lantas saja, semua orang berlarian sembarang arah dengan wajah panik dan pucat saat mereka mencoba menyelematkan diri mereka sendiri, juga ada beberapa dari wanita muda yang tak tahan melihat kekejaman di depannya menjadi mual bahkan tak sadarkan diri.
---
Departemen Kepolisian setempat...
Di sebuah ruangan berukuran sedang dengan pencahayaan minim, perempuan yang diduga sebagai tersangka itu duduk berseberangan dengan polisi paruh baya yang memiliki wajah sangar dan tegas. Kejadian itu belum berlangsung begitu lama dan ia segera dibawa ke ruangan ini, tak memberinya waktu untuk merubah penampilannya yang masih memakai pakaian panggung. Wajahnya terlihat kelelahan, tapi sama sekali tak ada tanda-tanda ketakutan ataupun penyesalan.
Polisi tua itu mengernyitkan alisnya dengan sangar, berbicara kasar, “Aku pikir kau juga ingin pulang secepatnya. Jadi, bekerjasamalah dengan pihak kepolisian dan mengatakan yang sejujur-jujurnya! Mengerti?”
Helena tak takut dengan polisi dihadapannya, “...saya juga pikir anda tidak tuli karena saya sudah mengatakan kebenaran ke sekian kalinya dan rela bekerjasama dengan anda. Jadi, menurut anda, ini adalah saya yang tak mau bekerjasama atau sebaliknya pihak kepolisian?”
Sang Ratu Opera ini memiliki penampilan yang luar biasa dan bakat berharga, tapi untuk kepribadiannya sedikit kurang, karena ia dikenal sebagai orang yang mudah marah dan tersinggung. Tapi hal baiknya, ia merupakan orang yang berterus terang dan apa adanya.
“Kami meminta untuk bekerjasama, jadi bisakah kau mengatakan hal yang benar-benar merupakan kebenaran dan menjadi tidak berbelit-belit?!”
Helena menaikkan sebelah alisnya, “Memintaku untuk mengatakan kebenaran atau memaksaku mengakui hal yang bukan merupakan hal yang kulakukan, begitu??”
---
Waktu berlalu dan pihak kepolisian maupun Helena tak menemui jalan keluar. Mereka tak bisa menahannya dan harus membebaskannya sementara karena bukti tidak memadai dan informasi yang dimiliki kurang. Keadaan di departemen kepolisian suram, begitupun Helena. Polisi menjadi suram karena mereka bingung harus memulai darimana kasus tersebut, dan Helena mejadi suram karena kelelahan dan ketidakadilan yang telah ia derita membuatnya kesal karena waktu tidurnya pun menjadi berkurang.
Saat ini, suara pemuda riang terdengar, “Apakah kalian menemukan sesuatu? Atau membutuhkan bantuan?”
Polisi menatap kearah sumber suara dan menemukan tiga sosok yang berjalan menghampiri mereka, itu adalah dua orang pemuda dan seorang perempuan dengan pakaian rapi dan terlihat seperti seragam resmi.
Melihat kedatangan mereka, suasana hati suram para polisi hilang digantikan dengan sebuah harapan. Itu bukan malaikat atau pahlawan, ketiga remaja itu merupakan detektif dan senjata rahasia kepolisian pusat. Banyak kasus yang sulit dan rumit telah dipecahkan oleh mereka, bahkan kasus yang dianggap sangat berbahaya dapat diatasi dengan mudah oleh mereka bertiga.
Polisi tua itu yang berbicara, “Ada kasus terbaru yang diduga sebagai pembunuhan terencana dan tersangka merupakan Sang Ratu Opera. Kami sud-”
Pemuda yang memiliki suara riang itu segera memotong dengan nyaring, “Apa yang kau maksudkan dengan Ratu Opera kesayanganku menjadi tersangka?!!” Ia bernama lengkap Alfarenze De Baruch, yang dikenal sebagai Tuan Muda dari Baruch, dan terkenal menyukai dan mengidolakan Sang Ratu Opera hingga mati.
“Itu...karena hanya dirinya yang saat ini memiliki hubungan dekat dengan korban dan bahkan memiliki sedikit dendam masa lalu...jadi..-” Lagi-lagi perkataannya terpotong oleh
“Itu tidak mungkin!! Helena-ku itu memang memiliki kepribadian kurang, tapi ia tak pernah memiliki pikiran untuk membunuh dan melakukan kejahatan seperti membunuh hanya karena dendam masa lalu!!” Ia dengan panik membela idola kesayangannya itu. Renze panggilannya.
Polisi tua itu terdiam. Perempuan seumuran di sampingnya batuk kecil lalu berbicara, “Jaga sikapmu. Bahkan jika kesayanganmu tak bersalah, kita harus benar-benar menyelidiki ini hingga tuntas, tidak bisa terbawa perasaan sedikitpun.” Ucapnya dengan wajah sinis. Ia sendiri memiliki identitas Stolena Anhara Luai, dengan julukan Si Keadilan dari Kepolisian Pusat, dipanggil dengan Lena.
Renze mendengar itu dan menjadi cemberut, lalu mengalihkan fokusnya pada pemuda yang sedaritadi diam mendengarkan, “Ketua Robin, bagaimana menurutmu?”
Ia yang dipanggil Robin itu menjawab, “Lakukan sesukamu.” Jawaban singkatnya senada dengan wajah tanpa ekspresinya. Yang memiliki kepribadian dingin dan tertutup, membenci para penjilat dan keributan, dengan julukan Sang Penguasa Nada, siapa lagi kalau bukan Robin De Victor, yang memiliki identitas lain sebagai komposer jenius muda?
Mendengar itu, Renze segera menuju salah satu mesin telegraf, “Kau benar-benar tak mempermainkanku, kan ketua?” Tanyanya untuk memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi adalah kebenaran. Robin mengangguk pelan dan Renze segera mengirimkan pesan lewat telegraf kepada Helena. Lena penasaran apa yang ditulis oleh Renze, dan tersedak ketika membaca bagian kalimat akhir yang isinya ‘Untuk Ratu Opera Tersayang, dari Pengagum Setiamu’
Ia segera menyambar kerah Renze, “Kau menjijikan! Kata-kata macam apa itu?! Pah, cepat ganti itu!”
Renze pucat, namun tangannya sudah bergerak dan mengirimkan pesan itu, “Maaf, Lena. Tanganku tidak mau menurut dan nasi sudah menjadi bubur...”
---
Bangunan yang tinggi, megah, dan menara dengan ujung yang lancip. Dekorasi pada tampilan façade dibuat dengan sangat detail. Karakteristik ini sangat bertolak belakang dengan gaya arsitektur Romanesque yang datar dan bangunan yang tidak terlalu tinggi. penyangga struktur bangunan yang juga terlihat sangat dekoratif dengan desainnya yang memberikan efek kemegahan.
Di suatu ruangan yang megah dan luas itu, Helena duduk diam. Suasana hening dan pencahayaan yang redup membuat dirinya seakan-akan tertelan dan menyatu dengan kegelapan itu sendiri. Ia hanya mendengar suara nafas dan detak jantungnya sendiri, di tangan kanannya memegang selembaran kertas, itu adalah pesan dari Renze.
Keheningan itu terus berlanjut, namun itu tak bertahan lama ketika langkah kaki yang terburu-buru mendekati posisi Helena sekarang. Diperhatikan lebih lanjut, itu adalah seorang bocah lelaki cantik dengan pakaian rapinya yang memeluk kaki Helena dengan mata berbinar-binar.
“Mama pulang!” Itu adalah bocah dengan penampilan sekitar usia 5 tahun, dengan penampilan luar biasa. Rambut hitam, sepasang mata hijau, hidung mancung yang ramping, dan bibir bulat yang manis.
Helena yang awalnya tampak melamun, perlahan senyum mulai muncul pada wajah cantiknya itu ketika mendapati kehadiran putra kesayangannya. Ia memangku putranya itu di pahanya, “Ya, mama disini. Mama kira kau sudah tidur, pahlawan kecilku~” Helena menatap sayang pada putranya itu.
Pria kecil itu menggembungkan pipinya dan terlihat sangat imut, “Uh, Sammy merindukan mama... karena biasanya sebelum Sammy tidur, mama akan menemani Sammy dan menceritakan cerita pengantar tidur!”
“Apa? Jadi, Sammy hanya berniat untuk mengeluh pada mama... padahal tubuh mama sangat sakit, ah... Sammy jahat sekali~” Goda Helena dengan ekspresi menyakitkan.
Pria kecil itu segera khawatir dan memeluk Helena erat, “Uh, maafkan Sammy! Mama harus sembuh...” Air mata memenuhi sepasang mata murni dan polos itu.
Helena tertawa kecil sembari mengusap air mata putranya, “Mama hanya bercanda, mama baik-baik saja. Sudah sangat malam, mama akan mengantarmu ke kamar, membacakan kisah pengantar tidur dan menemanimu tidur.”
---
Hari yang dijanjikan telah tiba, Robin, Renze, Lena, dan beberapa anggota polisi sudah menunggu di ruang introgasi. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, Helena tiba dengan pakaian santainya dan sekarang duduk berhadapan dengan Renze dan Lena. Anggota polisi yang lain dan Robin berdiri di luar dan memperhatikan semua proses pada layar khusus.
Itu adalah Lena yang membuka pembicaraan terlebih dahulu, “Izinkan kami memperkenalkan diri, nama saya Stolena Anhara Luai dan pria di sebelah saya bernama Alfarenze De Baruch. Kami berdua merupakan detektif dari kepolisian pusat. Undangan kami kepada anda untuk hadir di sini adalah hal yang penting dan mengharapkan kerja sama penuh di antara kedua belah pihak.” Suaranya stabil dengan wajah kaku dan terlihat tegas.
Helena menatap mereka yang berada dihadapannya dan perlahan berkata, “Santai saja. Saya akan bekerja sama jika pihak seberang juga bekerja sama. Lagipula, kita semua adalah teman lama.”
Itu kebenaran. Tepatnya sebelum kejadian 7 tahun yang lalu, mereka adalah kawan, bahkan jika mereka bukan orang terdekat, satu sama lain dapat mengenali, bahkan sesekali akan bersapa. Itu tepat pada sekolah menengah tinggi, dimana saat itu sekolah khusus seni dan sekolah kemiliteran bersebelahan, sehingga bukanlah hal yang mustahil untuk memiliki beberapa hubungan erat.
Robin dan Renze yang berasal dari sekolah seni dan Lena dari sekolah kemiliteran memiliki persahabatan yang erat satu sama lain. Helena memiliki teman mainnya sendiri. Lalu bagaimana mereka dapat saling mengenal? Itu bukanlah hal yang luar biasa. Teman Helena, yang bernama Shailene, merupakan kekasih dari Sang Penguasa Nada, Robin.
Mereka terpisah karena kejadian 7 tahun yang lalu itu. Bahkan kehidupan pasangan Shailene-Robin tak bisa bertahan. Dimana Shailene sekarang keberadaannya tidak diketahui dan menjadi buronan.
Lena menatap penuh makna pada Helena. Dan Renze mulai berbicara, “Helena, kau diduga menjadi tersangka. Bagaimana perasaanmu?”
“Itu mengejutkan. Itu saja.”
“Sebenarnya, tujuan kami di sini adalah meminta bantuan padamu. Kebenarannya, kasus kematian seperti ini bukanlah yang pertama kali. Sebagian besar kasus seperti ini dirahasiakan dari mata publik untuk menciptakan ketenangan. Kau pasti bertanya-tanya mengapa kami menyimpulkan bahwa kasus milikmu kali ini sama dengan kasus yang kami maksud, benar? Aku akan memberitahumu, kesamaan dari kasus ini berupa kematian tragis dimana tubuh korban tidak berbentuk utuh dan memiliki pesan tersembunyi yang diselipkan yang masih menjadi misteri...” Sembari menjelaskan, Renze menaruh beberapa bukti berupa kertas yang berisi pesan tersembunyi yang dimaksud, totalnya berjumlah 5 lembar. “Jika boleh meminta pendapat darimu atas bukti ini? Adakah benar-benar pesan tersembunyi yang dimaksud? Dan bisa menyimpulkan siapa pelakunya kira-kira?” Akhir Renze dengan ekspresi serius dan menatap Helena dengan tajam.
Dengan bosan menatap kertas-kertas itu, “...Mengapa harus meminta pendapatku? Aku hanyalah pemain opera dan tak secerdas kalian. Dan bukan-..” Tangannya yang memegang kertas itu dan matanya yang menatap bosan itu menjadi membeku, seperti telah menyadari sesuatu. Pada surat pertama, hanya sebuah kata-kata acak yang dibuat berantakan, namun jika seseorang teliti dan membacanya secara vertikal, seseorang akan menemukan kalimat tersusun.
Sudah banyak tahun berlalu,
Usia telah menjadi semakin tua,
Tapi keinginan masih membara,
Mau bermain sebuah permainan?
“Apa-apaan ini..??” Dengan wajah pucat ia memeriksa isi surat kedua, itu sama dengan kata-kata yang acak dan berantakan, tapi akan menjadi kalimat tersusun ketika membacanya secara diagonal ke kanan.
Membosankan,
Seseorang telah mengajukan permainan,
Tapi tak ada yang menanggapi,
Aku hanya akan melanjutkan hingga kalian menerima
Begitupun surat ke tiga, namun hanya ada satu baris vertikal yang dapat membentuk sebuah kalimat. Itu terlihat rancu, namun jika menggabungkannya dengan kalimat tersembunyi dari surat ke empat dan ke lima itu menjadi kalimat berhubungan.
Kalian petugas keamanan selalu serius dan membosankan.
Jadi, mungkin aku harus menyapa dan mengajak teman lamaku,
Bagaimana kabarmu sekarang, Ratu Opera palsu?
Kalimat terakhir praktis membuat Helena pucat pasi dan bergumam, “Hanya...apa yang diinginkannya sekarang...?”
“...” Bisu Lena, Renze, dan Robin serta polisi yang melihat reaksinya itu.
Menatap keduanya, Helena menggertakan giginya, “Kalian sengaja, kan? Kalian sejak awal sudah tahu maksud pesan ini. Karena empat pesan yang kalian terima masih bersifat misteri, kalian tak berani bertindak gegabah. Itu adalah pesan terakhir yang kalian lihat sebagai pencerahan...” Ucapnya kesal. “...kalian merasa kalian sudah maju selangkah karena telah menemukan kaitannya dengan diriku. Maka dari itu kalian sengaja menginterogasiku secara pribadi dan memperkirakan bahwa aku akan menyangkut masa lalu, dan memperlihatkan bukti penting pada tersangka sepertiku. Biar kuberitahu, langkah kalian sia-sia. Tadi kau bertanya apakah aku memiliki pikiran siapa pelaku di balik semua ini? Tidaklah berguna jika kalian mengatasi dia dengan langkah biasa, ia tidak akan sadar bahkan sampai kematian mengetuk hidupnya.”
Ia bisa bekerjasama, tapi ia benci diperdayakan.
Melihat keadaan menjadi canggung, Robin yang sedaritadi diam mendengarkan melangkah masuk dan menghampiri mereka. “...maka dari itu, niat kami adalah mengharapkan pertolonganmu. Tidak ada yang lebih mengenal pelaku daripada dirimu. Jadi kami-”
Helena dengan ganas memotong, “Apa kau masih dendam karena kejadian itu?! Jika saja kau bisa menjaga kesayanganmu dengan baik saat itu, mungkin aku tak akan bisa melakukan hal semurah itu, benar?”
Mendengar itu, ekspresi Robin retak, “Jangan pikir hanya karena aku membutuhkan pertolongan darimu, kau bisa merendahkanku seenaknya.”
Ada masa lalu buruk di antara mereka berdua. Hubungan Robin dan Shailene terpaksa berakhir karena Helena.
“Oh, jadi aku harus menerima dan mempertaruhkan nyawaku sedangkan kalian dengan aman bersembunyi? Pah! tidakkah kalian menyadari bahwa kalian sangat munafik? Aku mungkin bersikap keterlaluan di masa lalu, tapi lalu apa, itu sudah terjadi-”
“Bagus, kau terlalu mendalami peranmu, bukan?” Robin menyipitkan matanya berbahaya.
Helena tersentak dan menjadi bisu. Renze dan Lena yang mendengarkan dari samping hanya bisa memiliki sebuah tanda tanya besar di kepala mereka. Helena tenang saat mencoba mengatur posisi duduknya dan dengan nada lemah berkata, “Aku sudah berjanji untuk tak mengganggu urusannya.”
Lena segera menyalak, “Tapi kehidupan banyak orang dipertaruhkan. Kau memiliki hati yang kejam.”
“Aku menyayangi nyawa kecilku. Aku tidak sepertimu yang berani bertaruh dengan nyawa. Aku takut darah, tolong jangan memojokkanku. Putraku masih kecil, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja.” Perasaan sakit dan tak berdaya memenuhi suaranya.
Tapi, Robin bersuara, “Tidakkah kau menyadari pesan terakhir untukmu? Tidakkah kau berpikir bahwa bisa saja kehidupan putramu berbahaya jika kau tak bergerak? Apakah air memenuhi kepalamu membuatmu bersikap tidak seperti biasanya?”
Helena mulai menangis terluka, “...masa lalu hanyalah kenangan. Berpikir bahwa seseorang berharap bahwa kejadian itu tidak pernah terjadi dan tak bisa berpikir bahwa hubungan dengan yang lain tidak akan menjadi seburuk ini...”
Kejadian 7 tahun yang lalu itu menjadi pukulan besar bagi beberapa orang, terutama bagi dirinya dan Robin. Tidak pernah terbayangkan bahwa Shailene, gadis rapuh dan lembut itu membantai nyawa seluruh teman sekelasnya, hanya menyisakan Helena dan Andres.
Mendengar itu, suasana menjadi hening.
“...tapi, aku khawatir ketika memikirkan keadaan putraku...” Helena mengusap air matanya.
“Mengapa tidak meminta bantuan padanya?”
Helena kembali emosi saat menarik kerah Robin, “Kau pendendam. Tidakkah cukup sudah membuatku terikut ke dalam? Apa kau ingin dirinya juga?!”
Menyeringai kejam, “Akankah ada pilihan lain?”
*)flashback
Perempuan itu menangis diam-diam dengan penampilan kotor dan berantakan. Wajahnya terluka, rambutnya berantakan, bajunya kotor, sepatunya hilang entah kemana, siapapun yang melihat akan merasa kasihan, tapi sayang tidak ada yang melihat sekarang karena ia berada di tengah sepi sendirian.
Tapi ia tak tahu, ada seorang pemuda yang dari awal menyaksikan kejadian di atas pohon dengan wajah malas. Hanya melihat gadis yang sekarang terlihat kesulitan untuk berdiri, “...Mengapa kau tak melawan, nona?” Itu adalah Robin, saat usianya 19 tahun.
Gadis itu mencari-cari keberadaan suara itu, namun tidak kunjung menemukan. Robin kembali berbicara, “Di atas pohon di belakangmu.” Gadis itu lain tidak lain adalah Shailene, yang berusia 16 tahun. Melihat ada orang, ia berbalik untuk berhadapan dengan Robin.
“Siapa namamu?”
“Shailene...”
“Mulai hari ini, kau akan menjadi orangku dan aku akan melindungimu dari mereka yang mengganggumu.”
Itu adalah pertemuan yang biasa-biasa saja, tapi sampai sekarang, Robin tidak bisa melupakan pertemuan pertamanya dengan cinta pertamanya. Siapa yang tahu, ketika ia sadar, semua hanyalah masa lalu...
---
‘Klang’ suara khas pintu terbuka bar itu memenuhi ruangan. Itu adalah ruangan yang cukup luas dan bernuansa klasik-romantis, namun tidak ada tanda-tanda pelanggan. Hanya ada pemuda gagah yang sibuk membersihkan meja bar. Mendengar pintu terbuka, ia mengalihkan fokusnya dan terkejut, “Shailene, kau datang.”
Gadis itu menghampiri pria berambut merah kecoklatan dan bermata hijau, yang dikenal dengan nama Andres Uscillian Mian, dan berbicara, “Kau pasti telah mengetahui apa yang telah terjadi..” Nadanya terdengar melankolis.
“...Aku tahu.” Ucapnya sembari menuangkan segelas jus pada Shailene.
“...jika kami berdua berada di sisi yang berbeda. Maukah kamu mendukungku atau Helena?” Andres membisu, membuat Shailene diam-diam kecewa, “Salahku menanyakan pertanyaan seperti itu. Tak seharusnya mempertanyaka-”
“Kali ini dan selamanya, aku hanya akan berada di sisimu, Shailene. Helena adalah cinta pertamaku, tapi hanya itu, hanya ada di masa lalu, sejak kejadian itu, rasa itu tak lagi sama.” Andres segera memotong dan membuat mata Shailene bergetar karena bahagia. “Aku hanya ingin hidup bersamamu, Shailene.”
“Aku kira kau membenciku, Mian...”
“Dulu aku melihat bayangan lemahku pada dirimu, itu secara tak sadar membuatku menghindar...” Ucap Andres mengatakan alasannya dengan penyesalan.
“...itu salahku karena membuatmu sulit dan berada di antara kalian berdua dengan tak tahu malu...” Sesal Shailene berwajah masam. “Bisakah aku memelukmu sebentar saja?” Pintanya berharap besar.
Andres membawa Shailene kepelukannya dan berkata, “Aku akan berada dipihakmu. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita begitu dalam.” Ia mengecup lembut kening Shailene.
“Terimakasih, Mian...pulanglah ke rumah, kami merindukanmu.”
Beberapa waktu kemudian...
‘Klang’ suara pintu terbuka terdengar kembali. Andres yang kini sendirian dan terlihat duduk di bawah lampu remang menatap seseorang yang datang, “Itu anda, Helena.” Nadanya terdengar sedikit terasing.
“Andres, lama tak bertemu.”
Andres Usciallin Mian, dikenal dengan prestasinya dalam membuat bom dan menciptakan ranjau mematikan. Dengan reputasi tinggi di pemerintahan, setelah kejadian 7 tahun yang lalu, ia mengasingkan diri dan membuka bar dan menjadi bartender di sana.
---
Helena menatap bosan pada tiga orang dihadapannya, “Kapan kalian akan membiarkanku pulang? Hampir larut malam. Sudah kukatakan aku akan bekerjasama dengan kalian. Tapi jangan terlalu berharap padaku, aku tak tahu apakah aku dapat meminta Mian untuk membantuku. Bagaimanapun kami sudah lama terpisah...”
“Seberapa lama?” Tanya Lena dengan wajah remeh.
“2 tahun...” Jawab Helena dengan wajah rindu yang entah mengapa membuat Robin mengernyitkan dahinya tak suka. “Mengungkit itu, aku jadi semakin merindukannya. Aaah!! Aku hanya ingin pulang dan melihat putraku!!” Keluhnya kekanak-kanakkan.
“Hah...” Bahkan Renze yang dikenal mengagumi Helena hingga mati hanya bisa menggelengkan kepalanya tak berdaya. Tapi kalimat selanjutnya membuat Lena yang berada di sampingnya ingin muntah, “Imut sekali..”
---
Karena keributan yang dibuatnya, Robin dengan kesal membiarkannya pulang dan membuat hati Helena berbunga-bunga. Setelah sampai ke rumahnya, “Pahlawan kecilku, mama pulang~!!”
Biasanya putranya, Samuel akan segera menyambut kepulangannya. Tapi hari ini berbeda, ia sudah berteriak begitu keras, namun belum dapat melihat batang hidung putranya. Ia segera masuk ke dalam dan menemukan bahwa putranya sedang sibuk menyusun potongan puzzle dan bahkan tak memperhatikan kedatangannya.
Dan lagi, ada satu kehadiran yang membuat Helena bahagia bukan main. “Mian!! Kau pulang, kami sangat merindukanmu!!” Ia segera bergegas kepelukan Andres dan bersikap manja.
Baru saat ini, Samuel sadar akan kedatangan Helena, “Mama pulang! Sammy juga ingin dipeluk!” Andres yang mendengar itu tersenyum tipis dan membawa pria kecil itu di antara mereka berdua. “Ayah, Sammy ingin memberikan sesuatu.” Ucapnya malu-malu.
“Apakah itu? Biarkan ayah melihatnya.”
Mengeluarkan boneka kecil yang terbuat dari kayu, “Lihat ini, ayah! Apakah bagus?”
Keterkejutan melintasi matanya, “Siapa yang mengajarimu, Samuel?” Tanya Andres.
“Itu, Sammy melihat benda seperti itu di meja kerja ayah!”
Helena segera menegur, “Oh, ternyata Sammy diam-diam menyelinap ke ruang kerja ayah??” Dengan wajah sangar.
“Uh..” Samuel menjadi malu dan diam karena takut.
“Tapi, aku tak menyangka bahwa bakatmu akan diturunkan padanya, Mian.”
Andres tersenyum, “Yah, bagaimanapun ia adalah darah dagingku. Sepertinya kenakalannya menurun darimu..” Godanya sembari mengecup singkat bibir Helena.
Wajah Helena memerah, “Kenakalan apa? Itu imut! Dan jangan sembarangan menciumku di depan putra kita.”
Andres tersenyum nakal, “Biarkan putra kita tahu kalau karena kitalah dirinya tercipta...” Samuel menjadi malu melihat kemesraan orang tuanya.
Paginya...
Merapikan seragam Samuel, Helena tersenyum, “Pahlawan kecil mama sangat tampan~” Pujinya membuat Samuel merona bahagia.
“Belajarlah yang rajin dan bertemanlah dengan semua, Samuel.”
Samuel mengangguk, “Sammy akan menjadi kebanggan mama dan ayah!” Ucapnya sembari berpamitan karena sudah waktunya ia berangkat atau akan terlambat. Namun, Samuel tak lupa memberi ciuman singkat pada pipi Helena dan Andres yang sedari tadi diam.
---
“Tadaa~!” Helena membawa Andres memasuki markas detektif kepolisian pusat dan menemui kelompok Robin.
Robin terkejut tak percaya, “Kau benar-benar dapat membawanya?” Dan samar-samar seseorang dapat mendengar ketidakpuasan dari suaranya.
“Mian benar-benar ingin membantuku.” Bahagia Helena hanya membuat Robin kesal.
Renze mendekati pasangan dan berkata, “Aku sama sekali tak berharap bahwa ia akan setuju. Lagipula...” Ia memilih untuk tak melanjutkan pembicaraannya karena melihat wajah Robin yang sudah terlihat sangat buruk.
Lagipula, hubungan di antara kawanan bertiga dan Robin terlalu rumit dan sangat tabu.
“Huh, siapakah yang hadir? Begitu tak tahu malu dan memiliki keberuntungan yang bagus.” Sindir Robin sinis, tapi Andres hanya diam dengan wajah dinginnya.
Itu adalah Helena yang menyalak, “Huh, siapakah ini? Yang begitu tak tahu diuntung dan memiliki omongan begitu besar.” Membuat Robin terdiam dengan wajah dendam.
“Sampai kapan kau terlus mendalami peranmu?” Balas Robin sengit. “Tidakkah kau kesal karena wajahmu dan Shailene begitu mirip dan bahkan orang sering tertukar? Di sisi lain ada Helena yang penuh kegemilangan, di sisi lain ada Shailene yang ditakuti.”
“...Asalkan hidupku tenang, tidak ada masalah dengan itu.” Sembari minum dengan santai.
Sejenak suasana bertahan dengan sengit. Tapi itu terpecah karena teriakan Lena, “Ah! Shailene kembali bergerak! Dia meracuni beberapa murid sekolah dasar!!” Mendengar itu, semua mengalihkan fokus pada layar dan Helena serta Andres menjadi pucat karena seragam sekolah itu sama dengan milik Samuel!
Layar itu memuat wajah cantik dan haus darah seorang perempuan serba hitam dan memiliki wajah serupa dengan Helena. Di tangannya ada seorang bocah yang tak sadarkan diri. “Aku menanti kedatanganmu atau anak ini...kau pasti tahu jawabannya, Shailene.”
Alur kejadian ini berubah terlalu cepat.
“Bukankah dia Shailene? Siapa yang ia maksud?” Sembari berkata, Lena melirik Helena yang sekarang menghancurkan cangkir yang berada di tangannya.
Tatapan yang dimilikinya membuat seseorang kedinginan, “Helena...akan kupastikan kau telah mengganggu orang yang salah!” Tak membuang waktu, ia segera bergegas dengan Andres dibelakangnya.
“Apa yang sebenarnya telah berlaku?”
Robin hanya membisu dengan wajah misterius.
*)Flashback
“Ah! Kenapa bisa begini?!” Tangis Shailene melihat dirinya yang hanya ditutupi sehelai selimut. Menatap Andres yang membisu, “Mian, ini salahku...hiks...maaf, aku tak tahu bagaimana ini terjadi... aku telah...telah merusak hubungan kalian...”
“Apakah kau menerima minuman dari Helena?” Ia kemudian melanjutkan, “Ini bukan salahmu. Ini adalah salahku yang terlalu mabuk.”
“Uh-huh, dan aku merasa tak sadarkan diri... Mian, aku..”
“Ini bukan salahmu, aku akan bertanggung-jawab.”
“Tidak perlu, anggap saja bahwa ini tak pernah terjadi, tidak perlu merasa bersalah...” Ia segera pergi dengan punggung menyedihkan.
===
Helena memeluk Shailene dengan wajah menyesal, “Shailene, maafkan aku, kumohon! Aku benar-benar menyesal dan tak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini..”
Shailene dengan lemah berkata, “Sudahlah, aku baik-baik saja. Bagaimanapun ini sudah terjadi...”
“Terimakasih karena telah memaafkanku, Shailene!!” Selesai, Helena segera pergi tanpa sepatah kata lagi.
Ekspresi kepahitan muncul di wajah pucatnya dan tak bisa menghentikkan air mata untuk mengalir. Andres yang sedaritadi diam mengawasi perlahan menghampiri dan bermaksud untuk menyapa Shailene, “Shailene, ka-” Tapi, tubuh rapuh gadis itu seketika tumbang.
Rumah sakit...
“Bagaimana kondisinya, dokter?” Tanya Andres dengan cemas menuntun Shailene untuk duduk.
Dengan senyum senang, “Selamat istri tuan sedang mengandung! Tuan akan menjadi seorang ayah!” Tapi, dokter itu menemukan bahwa Shailene menjadi pucat.
Andres melihat reaksinya dan segera berkata, “Ini kabar membahagiakan, hanya istri terlalu khawatir tentang calon bayi kami...” Perkataannya membuat Shailene menatapnya.
“...jadi, apa aku harus mempertahankannya atau mengugurkannya?”
“...aku harus menyusahkanmu untuk mempertahankannya, bagaimanapun ia tetap darah daging kita..”
Perempuan dihadapannya ini, ia berjanji dengan hidupnya untuk tak membuatnya terluka untuk kedua kalinya.
===
“Victor, aku...kita tak bisa bersama...aku bukanlah perempuan baik...aku..”
Robin mengernyitkan dahinya, “Apa kau sakit? Jangan mengigau.”
“...kita hanya akan berakhir sampai sini...tak bisa bersamamu lagi...” Tangis Shailene gemetar. “Aku..aku sudah tidak suci lagi...”
Serasa dunianya hancur, Robin mengguncang-guncangkan tubuh Shailene dengan keras, “Siapa yang melakukan ini padamu?! Apakah Helena?! Katakan!!!” Shailene hanya diam pada penderitaannya. “Jangan tinggalkan aku, oke? Aku akan menerimamu apa adanya...”
“Tidak bisa, aku hamil...”
===
Helena membenci karena bahkan dengan berakhirnya hubungan Shailene-Robin, Sahilene masih bisa mendapat perhatian dari Andres.
“Andres, kakiku terkilir...temani aku ke rumah sakit...” Ucapnya dengan wajah kesakitan. “Shailene, bisakah aku menyusahkanmu untuk pulang sendirian?” Lanjutnya beralih kepada Shailene.
Hari ini harusnya menjadi hari bahagia Shailene, tapi Helena datang dan ingin merusaknya begitu saja. Shailene hanya dapat menahan perasaan sesak. “...Yah, Hel-”
“...Maaf, aku tak bisa menemanimu, aku sudah berjanji bersama Shailene. Aku akan memanggilkan jasa angkutan untukmu.”
“Mian...”
Dulu, ia tak pernah memperhatikan Shailene. Saat ia sadar, ia bukanlah seseorang lemah yang dipikirkan, ia hanya seseorang yang rela terluka untuk orang penting baginya. Ia tahu bahwa tak mungkin kembali pada masa lalu untuk melindunginya, setidaknya untuk masa sekarang, ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengannya seorang.
“..Aku sudah memberitahukan semuanya pada keluargaku. Dan mereka menginginkan pernikahan diadakan secepatnya. Orangtuaku puas dengan dirimu, Shailene...”
---
Dengan gaun merah darahnya, “...Kembalikan putraku.” Di hadapannya adalah perempuan bergaun hitam sama cantiknya dengannya.
“Bocah ini putramu? Jangan bercanda, Shailene. Aku kira aku sudah membuatmu keguguran saat itu.”
Tujuh tahun lalu, Helena sebenarnya pergi dengan membawa identitas Shailene sebagai pembunuh, berharap bahwa citra malaikat Shailene hancur. Dan itu harus membuat Shailene yang kehilangan identitasnya terpaksa dan menggunakan identitas Helena. Helena harus mengakui bahwa jika Shailene dikatakan sebagai orang jahat, tidak akan ada orang baik di dunia ini. Sebesar itulah kebaikannya, sehingga tidak berlebihan mengatakan bahwa ia bak malaikat.
Helena dengan tertawa jahat, “Tapi, kurasa bagaimanapun kau monster yang mencoba hidup seperti manusia, Shailene...”
“...Dalam tahun hidupku, aku tidak beruntung telah menabrak manusia berhati monster, Helena...”
Bermaksud memanas-manasi, “Baik, itu pujian~” Helena adalah pembicara yang fasih, berbeda dengan Shailene yang berterus-terang.
“...tiga hari...aku akan menunggumu di panggung mati dan hidup. Aku akan menganggap ini sebagai panggung terakhirku...”
Geli memenuhi matanya, “Menantangku? Menarik! Kuterima! Nyawaku menjadi taruhan!” Lalu ia melemparkan Samuel yang pingsan dengan sembarangan, namun Andres segera bergegas menyelamatkan putranya. Tak mengatakan apapun lagi, Helena dengan girang pergi.
Dalam keheningan memeluk putranya, tapi tiba-tiba berkata, “...aku akan membawa Sammy pada keluargaku, Mian...” lalu melanjutkan, “...aku akan tiba saat yang telah dijanjikan...”
“Apakah baik-baik saja?” Shailene membisu.
Samuel Usciallin Mian, sebenarnya hampir berusia 7 tahun, tapi saat usianya 5 tahun, pertumbuhannya berhenti dan menjadikan Shailene terus menyalahkan dirinya. Sejak kejadian itu, Shailene tak pernah membiarkan Samuel terluka bahkan sebuah lecet.
---
Hari cepat berlalu dan waktu perjanjian tiba. Panggung ditata dengan seperti biasanya, namun banyak polisi yang menjaga di beberapa tempat lingkungan sekitar dan beberapa pasukan elite yang bersembunyi. Bagaimanapun, itu adalah pembunuh yang meneror kehidupan orang banyak, yang lain tidak bisa meremehkan hanya karena ia seorang diri.
Di belakang panggung, Robin, Andres, dan Shailene menyatu dengan keheningan. Andres yang sibuk merangkai rambut Shailene, dan Robin yang hanya menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan pandangan menuju luar.
“Tidakkah kau berniat menghentikan atau kau hanya berniat melihat kematian salah satu dari mereka?” Pertanyaan itu diarahkan pada Andres.
Andres dengan perlahan berkata, “...Aku hanya akan menuruti semua keinginan, Shailene.”
“Begitu menyebalkan.” Kesal Robin.
Namun hanya keheningan selanjutnya.
---
Di panggung yang sama, mereka berdiri berhadapan. Yang satu hitam dan satunya merah, satunya bagaikan iblis gila dan yang lain bagai malaikat yang turun karena kesalahan yang dibuatnya. Helena membawa pedang di tangannya sedangkan Shailene tak bersenjata.
“Apakah kau meremehkanku atau terlalu menganggap dirimu tinggi? Ambil senjatamu.”
“...ada padaku.” Jawab Shailene singkat.
“Huh, kau terlalu berlagak. Opera yang kau sayangi itu hanyalah sampah.”
“Maka kau juga sampah.” Balas Shailene menusuk. “Kau terlalu omong besar, kukira kau benar-benar memiliki kemampuan, ternyata-”
‘Jraash’ Helena menebas bahu Shailene dengan amarahnya.
Ada satu kesamaan dari Helena yang asli dan yang diperankan oleh Shailene, itu adalah temperamen tidak tenang Helena.
Shailene hanya diam saat bahunya terluka dan Helena sama sekali tak berhenti untuk melukai dirinya, “Apakah kau sekarang sangat ketakutan hingga tak bisa bergerak?” Ekspresi gila terlukis di wajahnya.
“Kau sangat menyedihkan, Helena...” Melihat wajah kasihan itu membuat Helena marah dan menusuk jantung Shailene.
Tapi, tentu saja, itu meleset, “...kau bahkan tak berani mengambil nyawaku...”
Menggertakan giginya, “...bukankah kau juga sama? Kau bahkan tak berani melukaiku sedikitpun.”
“Mengapa tidak berpikir kembali setelah ini?” Bersamaan dengan itu, Shailene menembakkan peluru tepat di perutnya, membuat Helena terjungkal ke belakang kesakitan.
Mengarahkan pistol pada kepala Helena, tak peduli dengan luka di dadanya, membuat Helena menjadi pucat, “Kau benar-benar berniat membunuhku?!” Saat ini ia merasakan yang namanya ketakutan akan kematian.
“Mengapa tidak? Kau bisa meracuni putraku saat itu, jadi mengapa aku tak berani membunuhmu saat ini? Akan kubuat kau merasakan penyesalan karena telah mengganggu seseorang yang tak seharusnya kau ganggu!” Tak menunggu lebih lama lagi, Ia menembakkan peluru pada jantung dan kepala Helena tanpa berkedip. Bahkan, Helena tak bisa menutup matanya karena penyesalan yang dalam.
Dia mati begitu saja.
Tapi, sebenarnya ia tak seberani itu. Tangan yang memegang pistol itu gemetaran hebat dan mencoba menenangkan dirinya sendiri, “...Tenanglah, tidak apa, kau tidak memiliki pilihan lain atau kau tidak bisa hidup tenang sekarang...” Namun, air matanya mengkhianatinya. Ia hanya menangis dalam keheningan.
Semua sudah berakhir sekarang.
---
Samuel telah kembali pada keadaan semula karena tangan dari keluarga raja mafia, keluarga misterius Shailene, keluarga Charlton. Bahkan pertumbuhannya berkembang seperti anak normal lainnya, membuat Shailene sangat bahagia. Luka yang ditimbulkan oleh Helena membuat jantungnya terluka, namun itu baik-baik saja sekarang.
Kehidupan kembali seperti biasa. Hanya Renze yang menangis karena Shailene memilih untuk berhenti untuk bermain opera. Dan Lena yang seperti biasa melanjutkan hidupnya dengan keadilan tinggi. Serta Robin yang setia menjadi serigala penyendiri. Orang-orang juga hidup dengan riang tanpa mimpi buruk di hati mereka.
---
Andres sesekali menatap pintu tertutup itu dan terlihat tak tenang. Di sampingnya, ada Samuel yang sudah berumur 10 tahun yang sekarang duduk tenang dengan wajah khawatir. Sudah hampir 3 jam mereka menunggu. Semakin waktu berjalan, wajah mereka menjadi buruk. Tapi takdir tak mempermainkan mereka, dokter dan para perawat telah keluar.
“Bagaimana keadaan istri saya, dokter?”
“Selamat tuan! Istri anda melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat dan cantik!”
Tamat