Read More >>"> LEAD TO YOU (Lead To You - Part 15) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - LEAD TO YOU
MENU
About Us  

LEAD TO YOU – PART 15

*****

 

Aku terpaksa ikut masuk ke dalam ruang meeting, dan aku duduk bersama Lidya pada barisan belakang. Hadir dalam ruangan rekan bisnis Alghaz yang tadi dikenalkan padaku bernama Adam, dia tinggal di Amsterdam sudah puluhan tahun. Kemudian ada beberapa investor yang akan menjadi partner kerja mereka dalam hal pendanaan proyek yang akan mereka kerjakan. Masih menunggu satu orang lagi yang hadir, katanya merupakan calon investor dari Indonesia. Proyek pembangunan kota kecil yang diimpikan Alghaz dan Adam ini sudah menjadi rencana sejak lama, dan baru akan terealisasi sekarang. Bisnis Property yang dibangun keluarga Alghaz berkembang dan ia berniat untuk membangun sebuah kota kecil di negeri ini. Karena di negeri inilah dulu ayah dan ibunya bertemu dan menikah, kira-kira begitulah yang aku tangkap dari cerita Alghaz.

Tidak berapa lama kemudian, datang seorang pria dengan kaca mata hitamnya yang pekat. Jantungku berdegup dengan sangat kencang ketika mengenali pria tersebut. Tapi Alghaz dan rekannya yang lain menyambut hangat kedatangan pria itu.

“Maafkan kacamata saya, mata saya sedang kurang sehat” dalihnya.

“Tidak masalah Mr. Jonathan” sahut Adam, rekan Alghaz.

Dan yang lain bersamaan mengatakan tidak masalah kemudian mempersilakan pria itu untuk duduk. Aku menduga pria itu tahu kehadiranku di ruangan ini, karena sekilas tadi aku merasa ia melihat ke arahku. Kenapa Max bisa mengenal Alghaz dan rekan kerjanya dan terlibat dalam bisnis Alghaz? Ya Allah tidak mungkin Max merencanakan untuk membalaskan dendamnya lewat Alghaz, kan? Apa dia berniat menghancurkan bisnis yang sudah Alghaz bangun selama ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang, haruskah aku katakan pada suamiku bahwa rekan kerjanya adalah orang yang tadi sempat membuatku ketakutan setengah mati?

Aku menahan diri untuk tidak panik atau keluar dari ruangan ini tiba-tiba. Tapi Lidya melihat ke arahku yang gelisah. “Ada apa Mrs. Devran?” tanyanya.

“Lidya, aku rasa aku mau ke toilet sekarang”

Mata Lidya melebar, “Tapi Mrs. meeting-nya akan segera dimulai”

“Aku sendiri saja, tidak apa...” sahutku dan segera berdiri meninggalkan ruangan.

Alghaz terlihat panik melihatku keluar ruangan, sekilas aku juga melihat Max memperhatikan langkahku tadi. Ia menggunakan nama Jonathan sehingga Alghaz tidak mungkin menyangka kalau dia adalah Max yang kuceritakan. Tapi bagaimana mereka bisa berkenalan?

Aku bisa bernapas lega ketika sudah berada di luar ruangan. Kutarik napas dalam-dalam, mengulangnya lagi dan lagi, sampai aku merasa tenang. Sekarang apa langkah yang harus aku ambil? Aku berjalan mondar-mandir di luar ruangan itu dengan resah. Karena proyek ini tidak hanya melibatkan Alghaz sendiri, tapi juga banyak orang.

“Gadis?” suara itu mengejutkanku.

Aku menoleh ke arah suaranya, “Al?” kenapa suamiku malah keluar, “kenapa kamu di sini?”

“Dan sedang apa kamu di sini?” dia balik bertanya.

Aku menggeleng dengan panik, “Aku---aku mau ke toilet” tapi Alghaz menahanku.

“Gadis? Ada apa?” tanyanya lagi.

Ya Allah, aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau pria yang baru datang tadi adalah Max, kan? “Aku sakit perut...” hanya ini yang terlintas di benakku.

“Sakit perut? Apa aku perlu mengantarmu ke dokter?”

“Alghaz, kamu masuk saja, selesaikan meeting-nya. Aku yakin aku akan baik-baik saja” sahutku sambil mendorongnya kembali masuk ke dalam.

“Aku akan minta Lidya menemanimu ya” katanya sambil berjalan masuk ke dalam. Aku mengangguk sambil tersenyum dibuat-buat.

            Lidya menghampiriku, “Kata Mr. Devran, kita bisa kembali ke kamar kalau Anda lebih nyaman di sana Mrs.

            “Lidya, panggil aku Gadis saja. Aku rasa seharusnya aku yang lebih hormat memanggilmu”

            Lidya menggeleng, “Tidak mungkin saya panggil Anda dengan sebutan Gadis saja Mrs. Itu akan terdengar sangat tidak sopan”

            “Kalau begitu, saat tidak ada siapa-siapa panggil aku dengan Gadis saja, oke?”

Lidya mengangguk pada akhirnya, “Baiklah”

Sepertinya Lidya bisa kupercaya untuk kuceritakan perihal Max, “Lidya---ada yang mau kusampaikan padamu”

“Apa itu?”

Aku menariknya menjauh dari para bodyguard yang berjaga-jaga di luar ruangan meeting.

“Kau tahu kan, peristiwa tadi pagi di toilet restoran?”

“Pria yang mengganggumu?”

Aku mengangguk, “Pria itu ada di dalam sekarang”

Mata Lidya melebar dengan mulut terbuka, “Apa? Anda serius?”

Aku mengangguk.

“Ya Tuhan, bagaimana bisa pria itu menganggu istri dari rekan kerjanya sendiri?” ujar Lidya dengan ekspresi cemas, “Anda benar-benar yakin, kalau pria di dalam itu adalah orang yang sama dengan yang mengganggu Anda tadi pagi Mrs. Devran?”

“Gadis, Lidya...”

“Iya, Gadis, maaf”

“Aku yakin” aku menelan ludahku sebentar, “karena dia juga pria yang hampir memperkosaku beberapa bulan lalu”

Lidya makin syok mendengar penjelasanku, “Apa?! Ya Tuhan! Ini tidak bisa dibiarkan. Mr. Devran harus tahu bahwa pria itu penjahat. Anda harus mengatakan padanya”

“Begitukah? Tidakkah itu akan mempengaruhi bisnisnya nanti? Kalau Max tidak jadi berinvestasi di proyek Alghaz, apakah proyek itu akan tetap berjalan?”

“Tentu saja! Kehilangan satu orang investor saja tidak akan mempengaruhi banyak, kurasa...” nada kalimat akhir Lidya terkesan tidak yakin.

“Kau terdengar tidak meyakinkan, Lid”

“Ya, aku memang tidak terlalu yakin. Tapi aku yakin, Mr. Devran tidak akan mau bekerja sama dengan pria semacam itu, Gadis. Setidaknya kita bisa konsultasikan ini pada Omar lebih dulu, bukan begitu?” Lidya mengeluarkan ponselnya dan mengirim teks, mungkin pada Omar.

Pintu ruangan meeting terbuka, dan pria bernama Jonathan itu keluar. Ia membuka kacamatanya dan menghampiriku dan Lidya. “Hallo lagi, Gadis” sapanya dengan suara berat yang tidak enak didengar. Satu matanya rusak dan cukup mengerikan untuk dilihat. “Apa yang kau lihat, huh?” Max menunjuk matanya yang rusak dengan jarinya, “hasil karyamu yang tidak akan bisa kulupakan...” katanya.

Lidya mendekatkan dirinya padaku dan mendapatkan tatapan tajam dari Max. “Apa kalian bermaksud membongkar kedokku? Kalau sampai Devran tahu siapa aku, bersiap-siap saja kau jadi yatim piatu, Gadis sayang...” ancamnya menyeramkan.

Mataku dan Lidya sama-sama melebar, saat itulah Omar keluar. “Mr. Jonathan? Apa yang Anda lakukan di sini?”

“Oh, saya sedang bertanya toilet ada di mana, bukan begitu Mrs. Devran?” ujarnya sambil memakai lagi kacamatanya.

Aku mengangguk, berusaha biasa saja. Kemudian Max pergi dari hadapan kami.

Kenapa Allah membuat takdirku seperti ini, tidak bisakah aku lepas dari Max? Dan apa maksudnya kalau ia bisa menjadikanku yatim piatu? Apa ayah berada dalam ancamannya karena aku sudah melarikan diri darinya? Ya Rabb, lindungi ayahku, karena biar bagaimanapun dia adalah ayah kandungku. Mataku berkaca-kaca dengan sendirinya mengingat ayahku dan sikap terakhirnya. Lidya memelukku,, sedangkan Omar melihat kami dengan bingung.

“Ada apa sebenarnya?” tanyanya ditujukan pada Lidya.

“Mrs. Devran merasa tidak enak badan. Apa sebaiknya kami kembali ke kamar saja?” tanya Lidya.

Omar mengangguk, “Aku akan katakan pada Alghaz nanti” ujar Omar, dan ia memanggil salah satu bodyguard yang berjaga untuk mengantar kami berdua ke kamar dan berjaga di sana.

*****

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (2)
  • Dreamon31

    @yurriansan terima kasih ya, oke aku mampir

    Comment on chapter Lead To You - Part 2
  • yurriansan

    Aku baru baca chapter 1, seru ceritanya. suka juga dengan gayamu bercrta.

    oh ya mmpir jg ya f crtaku. aku tggu kritik dan sarannya.
    judulnya : When He Gone
    trims

    Comment on chapter Lead To You - Part 1
Similar Tags
Pasha
9      5     0     
Romance
Akankah ada asa yang tersisa? Apakah semuanya akan membaik?
My Sunset
62      25     0     
Romance
You are my sunset.
Rain, Coffee, and You
311      246     3     
Short Story
“Kakak sih enak, sudah dewasa, bebas mau melakukan apa saja.” Benarkah? Alih-alih merasa bebas, Karina Juniar justru merasa dikenalkan pada tanggung jawab atas segala tindakannya. Ia juga mulai memikirkan masalah-masalah yang dulunya hanya diketahui para orangtua. Dan ketika semuanya terasa berat ia pikul sendiri, hal terkecil yang ia inginkan hanyalah seseorang yang hadir dan menanyaka...
Konstelasi
20      11     0     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
Renata Keyla
56      30     0     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...
Reminisensi Senja Milik Aziza
15      11     0     
Romance
Ketika cinta yang diharapkan Aziza datang menyapa, ternyata bukan hanya bahagia saja yang mengiringinya. Melainkan ada sedih di baliknya, air mata di sela tawanya. Lantas, berada di antara dua rasa itu, akankah Aziza bertahan menikmati cintanya di penghujung senja? Atau memutuskan untuk mencari cinta di senja yang lainnya?
Nona Tak Terlihat
4      4     0     
Short Story
Ada seorang gadis yang selalu sendiri, tak ada teman disampingnya. Keberadaannya tak pernah dihiraukan oleh sekitar. Ia terus menyembunyikan diri dalam keramaian. Usahanya berkali-kali mendekati temannya namun sebanyak itu pula ia gagal. Kesepian dan ksedihan selalu menyelimuti hari-harinya. Nona tak terlihat, itulah sebutan yang melekat untuknya. Dan tak ada satupun yang memahami keinginan dan k...
"Mereka" adalah Sebelah Sayap
1      1     0     
Short Story
Cinta adalah bahasan yang sangat luas dan kompleks, apakah itu pula yang menyebabkan sangat sulit untuk menemukanmu ? Tidak kah sekali saja kau berpihak kepadaku ?
Awal Akhir
4      4     0     
Short Story
Tentang pilihan, antara meninggalkan cinta selamanya, atau meninggalkan untuk kembali pada cinta.
Ich Liebe Dich
180      29     0     
Romance
Kevin adalah pengembara yang tersesat di gurun. Sedangkan Sofi adalah bidadari yang menghamburkan percikan air padanya. Tak ada yang membuat Kevin merasa lebih hidup daripada pertemuannya dengan Sofi. Getaran yang dia rasakan ketika menatap iris mata Sofi berbeda dengan getaran yang dulu dia rasakan dengan cinta pertamanya. Namun, segalanya berubah dalam sekejap. Kegersangan melanda Kevin lag...