Read More >>"> Aditya (2. Ayunda Wulandari) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aditya
MENU
About Us  

"Mampir yuk!" ajak Wulan pada Candra saat motor mereka mulai memasuki wilayah pusat kota. Deretan toko dan kedai kopi biasa untuk tempat nongkrong anak muda berjejer di sana.

Telinga Candra yang tertutup helm mungkin tak mendengar ajakan dari adik kembarnya itu hingga Wulan terpaksa mengulang kalimatnya.

"Mas, mampir yuk!"
"Mas?"
"Candra woi! Budeg ya!"

"Sekali lagi kamu manggil kaya gitu aku pastikan uang jajanmu Bunda potong seminggu."

"Makanya ayo mampir.." rengek Wulan sekali lagi. Candra yang kurang paham dengan apa yang Wulan mau hanya menepikan motornya di depan toko kelontong.

"Lho, kok toko kelontong sih?”
" Aku ngga tahu kamu mau apa." jawab Candra jujur. Memang benar ia memberhentikan motornya daripada nantinya Wulan akan berteriak dan tentu saja bisa mengundang perhatian pengguna jalan yang lain.

"Ke mall depan itu lho."
"Bunda udah pulang. Katanya makan di rumah aja."
"Siapa juga yang mau makan? Mau beli something, lah."

Candra mendecak, untung saja hari ini belum ada tugas yang diberikan guru untuk kelasnya.

"Yuk! Choco cone nanti jangan lupa ya!"

Wulan mendecih tapi tak lama kemudian ia segera naik ke motor matic putih itu. "Tarik maang!!" seru Candra yang dihadiahi sebuah jitakan keras pada helm oleh Wulan.

Kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai membuat Candra leluasa melajukan motornya. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengenal mereka akan menganggap keduanya seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. 

Lihat saja cara Wulan memeluk pinggang Candra tanpa jarak, pasti akan mengundang banyak cibiran jika keduanya bukanlah sepasang kembar.

"Jangan cepet-cepet ih!" ujar Wulan saat tahu jarum di speedometer motor menunjuk angka 80.

"Biar Bunda ngga curiga!!" teriak Candra saat menyelip satu mobil box di dekat lampu merah. Sontak saja pengendara mobil box itu mengklakson kedua remaja yang masih memakai seragam putih abu-abu itu.

"Gila kamu ya!!"

Wulan masih menormalkan detak jantungnya saat motor Candra berhenti tepat di depan salah satu pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Tak biasanya Candra akan mengebut sampai beberapa kali ia memejamkan mata karena tak kuat melihat motor Candra akan menabrak sesuatu yang di selipnya.

"Udah sana, daripada Bunda marah kita mampir."

Wulan mengangguk, tanpa kata meninggalkan Candra yang memarkirkan motornya. "Aku ngga di ajak?" Wulan membalikkan badannya, 
"emang mau?"
"Ngga."

Lagi-lagi Wulan mencibir kakaknya itu. Si cunguk Candra mana mau diajak jalan ke mall masih memakai seragam putih abu-abu? Dirayu pakai choco cone ditambah Roti'O pun sepertinya tidak mengubah pendiriannya. Takut wibawanya hilang, katanya.

Kurang nyambung memang. Tapi begitulah sikapnya sejak menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Jaim.

πŸ‚

Wulan menyeruak ke dalam salah satu gerai khusus coklat di mall itu. Senyumnya melebar seiring netranya melihat tulisan diskon up to 20% pada coklat keluaran terbaru. Padahal valentine masih lama, kok udah main diskon aja ya?

Salah satu pelayan di kedai itu melihat Wulan melihat-lihat coklat batangan di rak jadi menghampirinya.

"Silahkan kak, coklat batangnya baru aja dateng dari suplier,"
Wulan mengangguk-anggukkan kepala, matanya masih sibuk memilih coklat yang setahunya masih satu perusahaan dengan gerai ini.
"Kalau yang ini lagi ada promo dari kami, coklat keluaran terbaru dengan campuran kopi makanya diskon up to 20% kak"
"Kopi?" tanya Wulan memastikan. Pasalnya baru kali ini dia menemukan coklat batangan rasa kopi. Kalau es krim mungkin ia dan Candra sudah pernah mencicipinya. Masalahnya ini coklat batangan, gimana rasanya?

"Yang ini dua ya mba, terus sama coklat almond deh.." Wulan berhenti mengambil jeda untuk memikirkan jumlah coklat almond yang akan dia beli. "Lima." putusnya.

Sang pelayan mengangguk mantap dan segera membawa coklat yang dipilih Wulan untuk dibungkus.

"Buket, kak?"
"Ngga, bungkus biasa aja."
Pelayan itu berjalan kembali. Wulan mengeluarkan ponselnya, tampak foto pemuda yang akan ia beri coklat itu. Tiba-tiba saja ia teringat dengan pesanan Candra.

"Mba, choco cone satu, ya?"
"Siap kak!"

Wulan pun memilih duduk di kursi yang sudah disediakan tanpa peduli ada sepasang kekasih sedang memilih kue coklat. Hanya saja telinganya masih bisa mendengar jelas obrolan keduanya.

"Ini anniv kita yang pertama lho sayang. Harus yang spesial gitu." ujar si cewek masih memakai seragam putih abu-abu sama dengannya, yang membuat berbeda hanya badge logo sekolah menandakan si cewek tidak satu sekolah dengannya.
"Anniv? Ini baru satu bulan, sayang. Kita beli yang ini aja ya? Khusus buat kita berdua." 

Mau tak mau Wulan mendongakkan kepalanya dari ponsel lalu memandang sepasang kekasih itu sambil menahan tawanya. Satu bulan sama dengan anniv pertama?

Alay!

Kemudian Wulan hanya geleng-geleng kepala tanpa tahu si cewek melirik sinis padanya. Kalaupun tahu ia juga tak mau berurusan dengan cewek itu.

Buang waktu!

Wulan tersenyum, menatap mata seseorang yang ada di galeri ponselnya tanpa sadar ada orang aneh yang tiba-tiba menghampirinya.

"Ayunda?"

πŸ‚

"Bentar, bro. Ada bisnis bentar," ujar Aditya pada Miko dan Bobi saat keduanya masih berada di McD untuk makan siang yang tertunda. Dirinya langsung meninggalkan keduanya yang masih sibuk mengunyah chicken yang ditraktir olehnya.

"Si Adit mau kemana?" tanya Bobi pada Miko sambil melihat Aditya sedikit berlari menuju gerai coklat di samping eskalator.

"Tahu, biasanya kan dia modusin cewek." kata Miko dengan mulut penuh nasi dan daging ayam sedang kulitnya ia sisihkan untuk ia makan di akhir nanti.

Keduanya tampak acuh kembali dengan Aditya yang berjalan mendekat ke gerai coklat walau diam-diam Bobi mengembuskan napas panjang tanpa Miko sadari.

"Ayunda?"

Wulan mendongak, tahu-tahu sudah melihat Aditya dengan senyum lebar berdiri persis di depannya.

"Aditya Anarghya, udah lupa?"

Wulan mengerjap. Bumi sesempit daun kelor ya?

"Kayaknya kita emang jodoh deh ketemu di sini. Kamu beli apa?" tanya Aditya yang hanya di balas dengusan dari Wulan. Dia sedang berada di gerai coklat, harusnya si aneh ini tidak bertanya Wulan beli apa kan?

Tidak mungkin dia membeli baju di gerai coklat.

"Kok sendiri? Mau saya temani ngga?"
"Ngga usah."
"Tapi saya mau temani kamu,"
"Apa sih?"

Wulan mendecak, tiba-tiba ia menganggap pelayan di gerai coklat ini bekerja dengan lambat. Atau waktunya melambat otomatis saat ia dekat dengan si aneh Aditya?

Entahlah. Tapi kedatangan Candra di lantai dua mall itu seolah menjadi malaikat berjubah putih bagi Wulan, padahal Candra hanya memakai kemeja putih khas anak SMA pada umumnya.

"Kenapa lama?" tanya Candra langsung saat Wulan sudah memasang wajah sedikit memelas.

"Ini kak, totalnya seratus empat puluh lima ribu. Nota ada di dalam bungkusan." Wulan pun langsung mengeluarkan selembar uang ratusan dan selembar uang lecahan lima puluh ribuan dari dalam saku kemejanya tanpa menjawab pertanyaan dari kakaknya. Candra mendelik seketika. 

"Bunda tahu ini?" Wulan menggeleng dengan senyum di wajahnya yang nampak tak berdosa itu.
"Jangan bilang Bunda, ya? Choco cone-nya udah ready kok."

"Pulang."
Candra langsung berjalan meninggalkan Wulan yang masih menunggu uang kembalian.

"Makasih mba"
"Sama-sama. Sering-sering mampir ya kak.." ucap pelayan itu sebab tak biasanya anak SMA membeli coklat sebanyak itu jika bukan hari valentine.

Wulan mengayunkan kakinya cepat. Candra sudah pasti marah sekarang.

Aditya tersenyum samar, lalu memanggil pelayan yang melayani Wulan tadi.

"Dia tadi beli apa aja?"

πŸ‚

"Sejak kapan doyan manis?" Bobi langsung menegak saat melihat Aditya kembali ke McD sambil membawa satu goodie bag berisi coklat beragam varian rasa.

"Sejak hari ini, mungkin." jawabnya jutek. Aditya duduk dan kembali memakan makan siangnya yang sempat tertunda karena melihat Ayunda-nya.

"Cewekmu suka coklat?" tanya Miko. Aditya diam, menyelesaikan kunyahannya. Sedang Bobi kembali fokus dengan Mobile Legends diponsel miliknya.

"Belum jadi pacar." jawabnya enteng dan meminum air bening yang habis dalam sekali tandas. Dan jawabannya membuat Bobi mengerutkan keningnya.

"Ayunda Wulandari, kalian pasti tahu kan?" tanya Aditya. Keduanya mengangguk kompak. "Adiknya Candra."

Aditya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kalian tahu kan seorang Aditya ngga akan nraktir kalian tanpa alasan bahkan setelah menunggu kalian nyolong pulpen di kolong meja kelas sebelah sekian lama?"

Keduanya mengangguk kembali dengan mulut terkunci rapat menunggu kalimat lanjutan dari Aditya.

"Kalian sekelas sama Ayunda, pasti punya info tentang dia."
Miko mengangguk kembali, dia menyadari bahwa dia adalah gudangnya informasi SMAN Insan Cendekia. Ikan koi Pak Diman guru BK mati saja dia tahu, apalagi info tentang Ayunda Wulandari, kembaran si waketos itu.

"Kenapa?"
"Minta nomor WA." jawab Aditya membuat keduanya mendelik sempurna.

"Tumben, biasanya minta sendiri ke cewek-cewek."
"Yakin mau modusin dia? Judesnya minta ampun, Dit. Mending jangan daripada si Candra nanti ikut maju."

Aditya tersenyum miring, kedua sahabatnya masih saja meragukan kemampuannya.

"Ngga lah, kalaupun aku ada nomornya juga ngga bakal aku kasih. Takut taringnya keluar." ujar Bobi. Miko mensetujui.
"Makanya dia jadi bendahara kelas, cowok kelas aja kelihatannya deket sama dia mengkered. Serem pokoknya" tambah Miko, si ketua kelas XI MIPA 4.

Aditya terdiam, kedua sahabatnya sedang tidak berpihak dengannya. Bobi menegak, menatap mata kenari bermanik coklat terang Aditya,

"Gimana ceritanya kamu naksir Wulan?"

πŸ‚πŸ‚πŸ‚

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • yurriansan

    @AriSetya006 sip.. semangat ya..
    ceritmau menarik, mmpir juga k story Guruku "Bagus" ya...

    Comment on chapter 1. Aditya Anarghya
  • AriSetya006

    @yurriansan Wah makasih sarannyaπŸ˜‡πŸ˜‡ Insyaalloh nnti saya revisi

    Comment on chapter 1. Aditya Anarghya
  • yurriansan

    kocak juga nih Aditya tengil banget.
    Oh iya aku mau nanya itu SMA n maksudnya SMA Negeri ya biasanya kalau SMA Negeri pakai angka kan? kalau mau pakai nama kayaknya N dihapus aja deh. sama kalau aku boleh saran mungkin perlu diperhatikan lagi penyebutan nama atau gelar itu biasanya pake huruf besar.

    kamu juga boleh loh kasih saran ke ceritaku kebetulan baru rilis. judulnya Guruku "Bagus" mohon kritik dan sarannya juga ya trims...

    Comment on chapter 1. Aditya Anarghya
Similar Tags
Haruskah Ada Segitiga?
11      11     0     
Short Story
\"Harusnya gue nggak boleh suka sama lo, karena sahabat gue suka sama lo. Bagaimana bisa gue menyukai cewek yang disukai sahabat gue? Gue memang bodoh.” ~Setya~
SURAT CINTA KASIH
374      306     6     
Short Story
Kisah ini menceritakan bahwa hak kita adalah mencintai, bukan memiliki
Love Rain
544      291     0     
Romance
Selama menjadi karyawati di toko CD sekitar Myeong-dong, hanya ada satu hal yang tak Han Yuna suka: bila sedang hujan. Berkat hujan, pekerjaannya yang bisa dilakukan hanya sekejap saja, dapat menjadi berkali-kali lipat. Seperti menyusun kembali CD yang telah diletak ke sembarang tempat oleh para pengunjung dadakan, atau mengepel lantai setiap kali jejak basah itu muncul dalam waktu berdekatan. ...
Behind The Scene
49      40     1     
Romance
Hidup dengan kecantikan dan popularitas tak membuat Han Bora bahagia begitu saja. Bagaimana pun juga dia tetap harus menghadapi kejamnya dunia hiburan. Gosip tidak sedap mengalir deras bagai hujan, membuatnya tebal mata dan telinga. Belum lagi, permasalahannya selama hampir 6 tahun belum juga terselesaikan hingga kini dan terus menghantui malamnya.
Petrichor
206      109     0     
Romance
Candramawa takdir membuat Rebecca terbangun dari komanya selama dua tahun dan kini ia terlibat skandal dengan seorang artis yang tengah berada pada pupularitasnya. Sebenarnya apa alasan candramawa takdir untuk mempertemukan mereka? Benarkah mereka pernah terlibat dimasa lalu? Dan sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu?
My Daily Activities
14      14     0     
Short Story
Aku yakin bahwa setiap orang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan asal ia berdo\'a dan berusaha.
Miss Gossip
78      54     0     
Romance
Demi what?! Mikana si "Miss Gossip" mau tobat. Sayang, di tengah perjuangannya jadi cewek bener, dia enggak sengaja dengar kalau Nicho--vokalis band sekolah yang tercipta dari salju kutub utara sekaligus cowok paling cakep, tajir, famous, dan songong se-Jekardah Raya--lagi naksir cewek. Ini hot news bangeddd. Mikana bisa manfaatin gosip ini buat naikin pamor eskul Mading yang 'dig...
Bismillah.. Ta\'aruf
16      16     0     
Short Story
Hidup tanpa pacaran.. sepenggal kalimat yang menggetarkan nurani dan menyadarkan rasa yang terbelenggu dalam satu alasan cinta yang tidak pasti.. Ta\'aruf solusi yang dia tawarkan untuk menyatukan dua hati yang dimabuk sayang demi mewujudkan ikatan halal demi meraih surga-Nya.
Alex : He's Mine
97      67     0     
Romance
Kisah pemuda tampan, cerdas, goodboy, disiplin bertemu dengan adik kelas, tepatnya siswi baru yang pecicilan, manja, pemaksa, cerdas, dan cantik.
Let Me Go
315      257     4     
Short Story