Read More >>"> Karma (05.) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Karma
MENU
About Us  

"Win, apa-apaan kau?! Turunkan pisau itu!" Seru Lisa.

Windy tersenyum, menikmati bayangan ketakutan di bola mata Lisa yang membelalak melihat pisau sashimi yang teracung di depannya. Ujung pisau mengilat memantulkan cahaya lampu dapur. Lisa dengan susah payah berusaha menelan gumpalan kepanikan yang melandanya.

"Win ... taruh pisau itu di tempatnya lagi, please!" Bujuknya, mencoba menenangkan. "Mungkin kau perlu meminum obatmu dulu?"

"Kau juga berpikir aku sudah gila? Apakah Tony juga mengatakan padamu bahwa istrinya gila?!" Urat-urat matanya memerah menahan amarah. Windy tidak dapat melihat dengan fokus, ia dapat merasakan bola matanya bergerak-gerak gelisah dalam ceruknya. Rasanya ia mulai kehilangan dirinya.

Windy maju selangkah, tubuhnya bergoyang tidak stabil seperti berada dalam kendaraan yang bergerak. Kemudian ia maju selangkah lagi, memaksa Lisa mundur ke sudut meja dapurnya sambil menikmati darah yang mengering dari paras cantik di depannya.

"Kau mau lari ya? Mau lari kemana dengan perut sebesar itu?" Tawa Windy berderai.

Lisa menggeram dan mengambil kesempatan melarikan diri dari Windy ketika dilihatnya wanita itu tertawa terbahak-bahak sambil menengadah. Tetapi tangan Windy mengayun cepat, menebas secara asal bagian tubuh apapun yang barusan lewat didepannya.

Bunyi irisan daging terdengar di telinganya, kemudian terkesima ia melihat muncratan darah yang melayang perlahan di depan matanya, menempel pada kabinet dapur dan menodai granito di bawahnya yang berwarna krem. Terdengar bunyi berdebum beberapa meter di depannya dan Windy kembali terkekeh geli.

Suara lirih yang menahan sakit menarik perhatiannya. Mengetahui buruannya sudah terluka, Windy berjalan perlahan ke balik dapur yang menuju ruang makan. Dilihatnya Lisa tergeletak di sana--di atas karpet berbulu tebal--wanita itu terisak sambil memengangi perutnya yang sakit sekali sekarang. Ketika wanita itu membalikkan tubuhnya, daging sepanjang dada dan lengannya terbelah membuka.

Dengan segera dilepasnya pisau itu ke lantai dan menghampiri Lisa yang sudah tidak mampu lagi bergerak. "Oh, Lisa! Tanganmu!!! Kau berdarah! Oh, Tuhan ...." Wajah Windy menggambarkan pukulan rasa panik yang melandanya tiba-tiba, seakan-akan bukan dia pelakunya.

Keringat dingin bercucuran dari wajah cantik di depannya. Dengan sisa teanganya, Lisa mencengkram baju Windy pada bagian lehernya, mendekatkannya ke wajahnya untuk berbisik, "Windy, kumohon ... demi bayiku, lepaskan aku. Aku tidak akan melapor, aku bersumpah!" Teriak Lisa, kemudian tangisnya pecah. Darah tidak lagi menetes, namun mengalir deras dan bau anyir mulai mewarnai udara dalam ruangan.

"Bayi? Oh, bayi itu," Windy memiringkan kepalanya, mengingat-ingat apa yang sudah dikatakan Tony padanya. Dan ketika ia sudah merasa ingatannya benar, Windy tersenyum lembut.

"Kau tau, Tony mengatakan untuk menanyakan apakah bayi itu bisa diadopsi? Kurasa sekarang kau tidak akan keberatan bukan?" Senyumnya berubah menjadi seringai jahat yang mengancam. Windy merangkak perlahan meninggalkan Lisa ke arah pisau itu berada.

"Tidak!!! Tidak, jangan!!! Kumohon, Win, suamiku ...." Penjelasan Lisa tidak pernah selesai terucap dari mulutnya, ketika urat lehernya putus ditebas pisau setipis kertas.

Mati kau jalang!!! ... Oh, bayiku.

Windy berkutat lagi dengan pisaunya, menorehkan ujung tajam itu ke daging perut Lisa yang menggunduk tempat dimana jabang bayi berada. Bak seorang dokter, ia mengorek keluar isi perut Lisa berikut janinnya yang belum sempurna.

Diangkatnya rahim yang membungkus janin itu dan dengan satu gerakan ringan tali pusar janin itu dipotong untuk memisahkan dari induknya. Terkejut dengan pancuran darah segar yang keluar dari saluran sebesar ibu jari, Windy dengan refleks melemparkan benda itu ke lantai. Kemudian ia terkesiap, darahnya seakan ikut tercurah keluar.

"Oh, tidak ... bayiku mati. Bayiku mati!"

Ia merangkak cepat, menghampiri onggokan daging yang bersimbah darah beberapa meter di depannya dan tidak tau bagaimana ia harus menyentuhnya. Hatinya terkoyak melihat jabang bayi yang tidak lagi memiliki rupa, tangisnya pecah dan segera berubah menjadi raungan.

Ia harus pergi dari sini. Tony akan sangat marah dan pasti akan menceraikannya, jika ia mengetahui bayi itu sudah mati. Kembali Windy menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya kedepan kebelakang.

Ketika tangisnya mereda, Windy memutuskan untuk pulang ke apartmentnya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
Similar Tags
Slash of Life
224      137     0     
Action
Ken si preman insyaf, Dio si skeptis, dan Nadia "princess" terpaksa bergabung dalam satu kelompok karena program keakraban dari wali kelas mereka. Situasi tiba-tiba jadi runyam saat Ken diserang geng sepulang sekolah, kakak Dio pulang ke tanah air walau bukan musim liburan, dan nenek Nadia terjebak dalam insiden percobaan pembunuhan. Kebetulan? Sepertinya tidak.
Snow
122      81     0     
Romance
Kenangan itu tidak akan pernah terlupakan
With You
223      78     0     
Fan Fiction
Kesan pertama yang dapat diambil dari seorang Jevano ketika pertama kali bertemu adalah laki-laki berparas tampan dengan aura dingin dan berwawasan luas, tapi sayangnya Jevano tidak peka. Tampannya Jevano itu lengkap, manis, ganteng, cool, dan ga bikin bosen. Bahkan kalau dilihat terus-terusan bikin tambah sayang. Bahkan perempuan seperti Karina yang tidak pernah tertarik dengan laki-laki sebelum...
Pahitnya Beda Faith
17      15     0     
Short Story
Aku belum pernah jatuh cinta. Lalu, aku berdo\'a. Kemudian do\'aku dijawab. Namun, kami beda keyakinan. Apa yang harus aku lakukan?
Neverends Story
120      77     0     
Fantasy
Waktu, Takdir, Masa depan apa yang dapat di ubah Tidak ada Melainkan hanya kepedihan yang di rasakan Tapi Harapan selalu menemani perjalananmu
Get Your Dream !
11      11     0     
Short Story
It's my dream !! so, i should get it !!
Garden
130      96     0     
Fantasy
Suatu hari dimanapun kamu berada,selama kita menatap langit yang sama. Bolehkah aku merindukanmu?
PENCURI
14      14     0     
Short Story
Cerita saat pencuri datang ke rumahmu..
Help Me to Run Away
65      60     0     
Romance
Tisya lelah dengan kehidupan ini. Dia merasa sangat tertekan. Usianya masih muda, tapi dia sudah dihadapi dengan caci maki yang menggelitik psikologisnya. Bila saat ini ditanya, siapakah orang yang sangat dibencinya? Tisya pasti akan menjawab dengan lantang, Mama. Kalau ditanya lagi, profesi apa yang paling tidak ingin dilakukannya? Tisya akan berteriak dengan keras, Jadi artis. Dan bila diberi k...
Kamu, Laut, dan Mencoba untuk Melupakannya
9      9     0     
Short Story
Tentang kamu yang sedang galau karena dia.