Read More >>"> The Savior (empat) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Savior
MENU
About Us  

"Tifanny?” 

Beberapa kali suara itu mengusik ketenangan ruang kelas yang dihangatkan dengan suara musik Mozart dengan pengeras suara dari atap kelas. 

Hampir seluruhnya merasa kesal dengan kegaduhan Robi dan menatap laki-laki dengan rambut klimis disisir ke belakang.

Semuanya bergumam masing-masing memaki ketua kelas yang merusak suasana paling sempurna untuk memasukan banyak ilmu pengetahuan ke dalam otak. Sebagian lainnya memaki betapa keras kepalanya anak perempuan satu ini—Tifanny Amalia Deilo. 

Dia bahkan tidak akan menoleh dan tidak akan mendengarkan siapa pun yang memanggilnya dengan nama Tifanny.

Sudah ribuan kali anak perempuan itu memperingatkan semua orang untuk memanggilnya Fania, alih-alih Tifanny. Bukankah Robi terlalu menjengkelkan karena tidak pernah memperhatikan peringatan yang selalu diteriakannya. Begitulah seluruh kelas ini mengeluhkan keributan pagi ini.

“Hei, Tifanny. Aku memanggilmu,” Robi terdengar kesal sembari berkacak pinggang di depan meja perempuan berambut lurus digerai sebahu dengan poni yang dijepit ke atas.

“Memangnya namamu bukan Tifanny sampai memaksa semua orang memanggilmu Fania?”

“Wuuaah, lihatlah ketua kelas kita. Betapa bijaksananya dia.”

Fania melipat kedua tangannya di dada sembari bersandar dengan santai di bangku merahnya yang empuk.

“Sudahlah. Jadi, mana gambaran-gambaranmu?”

“Apa? Gambaran apa?” Fania hanya memandang remeh ke arah tangan Robi yang sudah menengadah di depan wajahnya. 

Tentu saja, Fania sangat tahu gambaran yang Robi maksud pasti gambaran Nila—hanya dia yang melakukan kegiatan tak berfaedah. Tapi baginya, Cassandra yang menonjol dalam hal memasak itu cukup mengesankan dan ada manfaatnya.

“Kumpulan gambar sketsa wajah milikmu. Bukankah sudah kubilang kita akan memakainya untuk acara festival.”

“Apa?!” Fania memekik.

Sempurna! Kelas ini kehilangan golden time untuk memasukan segala ilmu pengetahuan ke dalam otak karena perkelahian Robi dan Fania.

Selama 30 menit sebelum jam masuk sekolah, suara musik klasik akan diputar serentak lewat pengeras suara di masing-masing kelas agar murid lebih rileks dan mudah untuk memasukan berbagai ilmu ke dalam otak mereka. Percaya atau tidak, itu adalah gagasan besar dari Fania.

Kegiatan seperti ini dimulai sejak Fania mengajukan ide dan disetujui oleh seluruh siswa dan guru saat kelas 1 dulu. Artinya, mereka sudah melakukan hal seperti ini selama 3 tahun setiap pagi selama 6 hari berturut-turut. 

“Acara festival kita yang terakhir ini, kita melakukan sebuah pameran gambar sketsa?” Fania mengkonfirmasi ulang mengenai apa yang ia tangkap dari perkataan Robi tadi.

“Ya.”

“Apa kepintaranmu hanya sebatas karena otakmu bisa mengkopi apa yang kau baca?” Fania memulai debatnya sepagi ini. 

Seketika, kelas ini menjadi tidak tertarik untuk belajar, melainkan menyaksikan perdebatan yang baru saja memanas. Waah, Fania memang memiliki mulut yang berbisa.

Entah, kelas ini sedang memuji atau memaki Fania.

Serempak, untuk pertama kalinya mereka menutup bukunya dan fokus menonton drama pagi dari bangku masing-masing.

“Tidak ada ide yang bagus? Festival terakhir kemarin saja sudah cukup buruk, lalu kamu pikir festival kali ini akan boom! Mengesankan? Begitu? Menurutmu, itu adalah ide paling keren?”

“Hei!” Tito beranjak dari bangkunya.

“Maaf mengganggu perdebatan kalian,” ucapnya menghampiri meja Fania. “Maksudmu, festival yang kubuat kemarin tidak ada bagusnya?”

Fania menatap Tito dari bangkunya, masih dengan sangat santainya.

“Ya. Jeleeeek banget! Saking jeleknya, semua teman-teman di kelas tidak ada yang ingin berpartisipasi.” 

Tepat sekali! Memang benar.

Waktu itu tidak ada yang setuju dan bersedia berpartisipasi dalam persiapan dan pengadaan stand kelas. Namun, berkata seperti itu pada ketua penanggungjawab secara langsung dengan lantang dan kasar, hanya Fania yang bisa. Benar-benar perempuan ular dengan mulut penuh bisa.

“Baiklah. Lalu ide bagus apa yang tercipta dari otak sempurnamu itu, Nona Ular?” Robi terdengar menyerah. 

“Menciptakan alam semesta! Suasana luar angkasa. Kita buat matahari, Merkurius, Venus, Bumi. Suasana gelap seperti di luar angkasa. Kita beri pengunjung sensasi yang berbeda. Rangsang seluruh indra mereka, akan lebih menarik daripada pengunjung hanya menonton sesuatu yang dipajang dengan tulisan keterangan tentang benda pajangan itu. Kalau hanya menunjukkan pameran, mereka hanya melihat, membaca keterangannya, lalu memikirkan filosifinya. Bukankah kegiatan seperti itu sudah setiap hari dilakukan di kelas?”

“Aku setuju!” Amadeo—anak pindahan kelas IPS H sejak awal kelas 2 itu angkat bicara dari bangkunya sembari merapikan model rambut mangkuknya yang termasuk dalam kategori ‘tidak rapi’ bagi murid-murid kelas IPA.

Fania semakin tinggi mengangkat dagunya. Terpintas, golden time yang sudah hancur dan tidak lagi menggugah selera teman-temannya untuk belajar itu, akan lebih bermanfaat jika ia gunakan untuk melakukan voting.

Anak perempuan itu menyingkirkan dua lelaki yang mengeroyok bangkunya dari jalannya.

Ia beranjak ke papan tulis putih di depan sana. Menulis idenya dan ide Robi untuk festival akhir tahun ini.

Panggung semesta dan pameran gambar sketsa. 

Tak perlu suasana riuh dan waktu yang lama untuk melakukan voting. Fania menang telak dengan ide Robi yang tidak ada satu pun pendukung.

***

Ah, itu dia! Satu-satunya murid IPA yang penampilannya lebih rapi daripada rambutnya.

Di tengah arus, kedua mata mereka sempat bertemu.

Amadeo sedikit gugup menghampiri Mikael. Ia mengikuti langkah teman lawasnya itu ke dekat patung pendiri sekolah ini yang ada di tengah-tengah lobi.

Amadeo mengulurkan tangannya, mencoba memperbaiki hubungannya dengan teman lawasnya saat di kelas IPS dulu. Namun Mikael hanya menatap tangan Amadeo tanpa menyambutnya.

Dendam? Benci? Sombong? Belagu?

Bukan

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar ingin menyambut tangan Amadeo, hanya saja Mikael tak ingin terbebani dengan melihat masa lalu yang paling mempengaruhi kehidupan Amadeo sekarang. Ia tak mengatakan apapun saat Amadeo menarik tangannya kembali dan merasa kecewa.

“Di kelasmu ada yang bernama Fania?” Mikael langsung pada inti.

“Tifanny Amalia?” Amadeo memastikan ulang bahwa Mikael tidak salah orang.

Jelas, ia mendapat anggukan dari Mikael.

“Ah,” ia lekas mengedarkan pandangan ke arah pintu timur hingga pintu utama lobi.

“Itu dia! Yang rambutnya lurus sebahu, yang tasnya digendong sebelah di bahu kanan, yang jalannya paling tegap lurus.” 

Amadeo menunjuk ke arah Fania yang hampir melewati pintu utama lobi. 

Hanya terlihat punggung. Tentu saja, Mikael tidak terlalu mengenali wajahnya.

“Bisa kamu temukan kami?”

“Kenapa?” Amadeo menatap Mikael heran.

“Kamu tertarik?” Ia hampir memekik terkejut sembari menutupi mulutnya yang menganga dengan mata yang melotot.

“Bukankah seharusnya anak IPS tidak pacaran dengan...”

“Tidak!” Mikael memotong kata-kata Amadeo. Ia menatap wajah teman lawasnya itu. Sekilas, penampilan Amadeo memang jauh dari kesan maskulin dan lebih menonjol pada feminime. Tapi Mikael mengabaikannya.

“Oh.”

“Artinya?” Mikael bertanya ulang pada Amadeo.

Amadeo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Entahlah. Aku tidak yakin,” jawabnya gusar.

Namun kemudian merasa segan setelah melihat tatapan Mikael yang tidak menanggapi kata-katanya barusan.

“AH, Fania itu punya mulut berbisa. Aku berusaha keras agar tidak terlibat masalah dengannya. Kalau kamu mau, aku bisa membantu pertemuan yang kesannya seperti tidak sengaja. Hanya membuat kalian pada satu situasi yang memungkinkan untuk bicara. Hanya sejauh itu aku bisa membantumu.”

Mikael menatap Amadeo. Kelihatannya memang begitu, sepertinya ia memang masih naif. Tapi Mikael tetap menyetujuinya. 


Rencananya, Mikael akan mengajukan permintaan untuk melakukan UAS susulan di perpustakaan kelas IPA dengan alasan jika dilakukan di perpustakaan kelas IPS, ia tidak bisa konsentrasi dan menurunkan tingkat fokusnya dalam mengerjakan.

Jika Pak Toni menolak dengan alasan perpustakaan kelas IPA selalu penuh, ia bisa mengelak dengan alasan perpustakaan kelas IPS lebih ramai seperti pasar, tidak seperti perpustakaan kelas IPA yang tetap tenang walaupun banyak pengunjung.

Setelah mendapat persetujuan Pak Toni untuk UAS susulan di perpustakaan gedung IPA, Mikael akan menyusul Amadeo yang sudah mengawasi posisi Fania.

Amadeo sudah menjelaskan pada Mikael bahwa anak kelas IPA tidak terlalu saling mengenal satu sama lain. Jadi, jika Mikael menutupi bedge kelas IPS di seragamnya, maka Fania akan mengira kalau Mikael murid IPA dari kelas lain.

Amadeo juga memperingatkan Mikael agar jangan terlalu ingin tahu dan berspekulasi untuk melanggar sarannya, seperti menunjukkan bedge kelas IPS pada Fania. Ia berani bersumpah, Fania akan langsung ‘menggigit’ Mikael dan menyebarkan bisanya ke aliran darahnya sampai Mikael mati hanya dalam hitungan detik.


“Tapi, sebenarnya dia anak yang moody. Hanya saja, dia lebih sering bad mood dibanding good mood. Jadi, anggap saja dia itu penjahat, jika kebetulan dia bersikap baik... anggap saja itu adalah hari keberuntunganmu,” terang Amadeo.

Mikael sedikit terkejut mendengar cerita Amadeo tentang Fania. Bukan masalah jika anak perempuan itu memiliki reputasi seperti itu. Hanya saja, ia tak habis pikir bagaimana Samuel menghadapi, menemukan, dan mendapatkan pacar yang seperti itu?

Pantas saja jika Samuel merasa tertekan dengan keadaannya, seperti kata Samuel saat itu, ‘aku sendiri masih tidak yakin akan bertahan lama. Dia sedikit aneh, sulit kuhubungi. Dia sudah memperingatkanku tentang itu, tapi tetap saja aku...’

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (8)
  • innos

    @yurriansan uh she up..nanti ku baca

    Comment on chapter satu
  • yurriansan

    @innos wkwkwk, mesti fokus bget bcanya.

    btw, klo brkenan, mnpur juga k story ku. ceritanya gk gmn2, cm crita biasa. ala khdupan shri2.
    mudah2an dsambangi. xixixi

    Comment on chapter satu
  • innos

    @yurriansan yalord..aku merasa gagal πŸ˜‚πŸ˜‚

    Comment on chapter satu
  • yurriansan

    @innos iyaaa. abis dr bca awal nsh nbak, ni cwok ap cwek. Chptr 3, bkin pkiranku mgrah ksn

    Comment on chapter tiga
  • innos

    @yurriansan km kira dia suka sama Samuel ya πŸ˜‚

    Comment on chapter tiga
  • yurriansan

    @innos oh iya ya? aku kyanya kurg mndlami pas bca. abis pad skin yg marah sma samuel, kukira lg cmburu gtu.

    Comment on chapter tiga
  • innos

    @yurriansan Mikael emang cowok, neng..bagian mana yg bikin jadi keliatan cewek?πŸ€”

    Comment on chapter tiga
  • yurriansan

    Awal baca, serius aku kira itu mikael cwok. Mkin k blkgang, trnyta cwek.

    Comment on chapter tiga
Similar Tags
Old day
5      5     0     
Short Story
Ini adalah hari ketika Keenan merindukan seorang Rindu. Dan Rindu tak mampu membalasnya. Rindu hanya terdiam, sementara Keenan tak henti memanggil nama Rindu. Rindu membungkam, sementara Keenan terus memaksa Rindu menjawabnya. Ini bukan kemarin, ini hari baru. Dan ini bukan,Dulu.
Aku Sakit
45      12     0     
Romance
Siapa sangka, Bella Natalia, cewek remaja introvert dan tidak memiliki banyak teman di sekolah mendadak populer setelah mengikuti audisi menyanyi di sekolahnya. Bahkah, seorang Dani Christian, cowok terpopuler di Bernadette tertarik pada Bella. Namun, bagaimana dengan Vanessa, sahabat terbaik Bella yang lebih dulu naksir cowok itu? Bella tidak ingin kehilangan sahabat terbaik, tapi dia sendiri...
A Slice of Love
4      4     0     
Romance
Kanaya.Pelayan cafe yang lihai dalam membuat cake,dengan kesederhanaannya berhasil merebut hati seorang pelanggan kue.Banyu Pradipta,seorang yang entah bagaimana bisa memiliki rasa pada gadis itu.
Reaksi Kimia (update)
49      20     0     
Romance
》Ketika Kesempurnaan Mengaggumi Kesederhanaanγ€Š "Dua orang bersama itu seperti reaksi kimia. Jika kamu menggabungkan dua hal yang identik, tidak ada reaksi kimia yang di lihat. Lain halnya dengan dua hal yang berbeda disatukan, pasti dapat menghasilkan percikan yang tidak terduga" ~Alvaro Marcello Anindito~
Crystal Dimension
5      5     0     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
Sacrifice
65      21     0     
Romance
Natasya, "Kamu kehilangannya karena itu memang sudah waktunya kamu mendapatkan yang lebih darinya." Alesa, "Lalu, apakah kau akan mendapatkan yang lebih dariku saat kau kehilanganku?"
The Bet
199      44     0     
Romance
Di cerita ini kalian akan bertemu dengan Aldrian Aram Calton, laki-laki yang biasa dipanggil Aram. Seperti cerita klise pada umumnya, Aram adalah laki-laki yang diidamkan satu sekolah. Tampan? Tidak perlu ditanya. Lalu kalau biasanya laki-laki yang tampan tidak pintar, berbeda dengan Aram, dia pintar. Kaya? Klise, Aram terlahir di keluarga yang kaya, bahkan tempatnya bersekolah saat ini adalah mi...
Two Good Men
4      4     0     
Romance
What is defined as a good men? Is it their past or present doings? Dean Oliver is a man with clouded past, hoping for a new life ahead. But can he find peace and happiness before his past catches him?
Seseorang Bernama Bintang Itu
294      221     5     
Short Story
Ketika cinta tak melulu berbicara tentang sepasang manusia, akankah ada rasa yang disesalkan?
Renata Keyla
55      29     0     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...