Read More >>"> HABLUR (HABLUR (4)) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - HABLUR
MENU
About Us  

Manusia hanya akan; mendengar apa yang dia ingin dengar, melihat apa yang dia ingin lihat, menilai apa yang dia ingin nilai.

Sebenarnya Ruby tidak terpikir untuk 'mengancam' Rimba. Ia hanya berpikir bagaimana cara membungkam mulut ramah orang yang duduk tepat di belakangnya. Bayangkan saja, ini masih semester satu, masih panjang jalan menuju kenaikan ke kelas 12. Kalau dirongrong terus, bakalan nggak nyaman juga.

Kebetulan sebelum keluar ancaman itu, Ruby dari baca-baca laman Twitter. Sebagai penyuka bacaan, ia lebih nyaman di burung biru tersebut. Meski banyak medsos lain yang booming, yang bisa kirim kabar melalui video atau foto ditambah stiker-stiker lucu, Ruby tetap nyaman di antara deretan kata. Namanya juga kenyamanan, mana bisa dipaksakan?

Di Twitter, memang beredar pembahasan tentang ancaman body shaming. Ngerti sajalah ya, dengan bertambah canggihnya teknologi, bertambah keren aplikasi, bertambah banyak orang menampilkan diri.

Tetapi juga, bertambah banyak jempol nyinyir dimana tangan lebih dahulu jalan daripada isi kepala. Jadi, dengan luwesnya seseorang bisa menghujat siapa pun. Kenal atau nggak kenal.

Ruby bukannya orang yang tidak suka bercanda. Dia suka. Dia bahkan mudah sekali tertawa membaca kerecehan di Twitter. Di rumah, kalau Papa pulang, mereka suka berbicara berdua layaknya teman dekat. Sesekali mengejek hingga terbahak, tapi bukan fisik. Dari kecil, ia diajarkan menghargai banyak hal, mulai dari alam, agama, keadaan ekonomi seseorang juga fisik orang lain.

Body shaming lebih ke perkataan sindiran fisik yang akhirnya melukai seseorang. Yah, salah satunya kayak Rimba melabelinya 'maneken hidup'. Itu sudah body shaming.

Perkataan hitam, jelek, gendut, kurus, alis kayak ulat bulu, mata kayak jengkol, lubang hidung kayak sumur atau apalah. Belum lagi yang dihaluskan kayak maneken hidup, tengkorak jalan, papan gilasan, truk tronton, tong sampah, kulkas dua pintu dan sebagainya yang mengarah kepada mengejek fisik seseorang, termasuk ke dalam klasifikasi body shaming.

Bukan Ruby tidak ngerti, bahwa ada atau tidak ada kampanye itu, seseorang harus tetap bisa menghargai diri sendiri tinggi-tinggi dahulu. Harus bisa kebal dahulu. Kuat mental dan mandiri, jadi tahan di-bully. Tapi, pelaku body shaming kayak Rimba perlu diingatkan.

Untungnya yang di-bully Ruby. Membal saja sama ucapan itu. Tapi di luar sana, banyak orang yang terpuruk hanya karena sebuah kata atau kalimat yang mematahkan perjuangannya. Memangnya siapa sih yang tidak mau sempurna? Hampir semua cewek mengidamkan body goals seperti Barbie. Yang kecantikannya seperti penjabaran buku Primbon; alis berbaris seperti semut beriring, gigi rapi seperti biji mentimun, dagu bak lebah menggantung. Belum lagi betis seindah bunting padi, dan wajah semulus porselen serta badan seperti gitar spanyol.

Apalagi kalau si empunya body goals itu punya brain dan behavior dalam dirinya. Silakeun jalan di karpet merah pemilihan putri-putrian. Yang lain cuma bisa ngumpet di balik bantal sambil menatap iri saja.

Akan tetapi, memangnya setiap orang beruntung memiliki kecantikan sesempurna itu? Kan enggak.

Ruby yakin banyak kaumnya yang berusaha keras untuk menjadi putih, cantik, bagus, bersinar. Termasuk menghindari pelajaran olahraga atau upacara. Ada juga yang menghindari makan gorengan agar tidak jerawatan. Bahkan sebisa mungkin mengurangi makan malam untuk mengurangi berat badan. Ada yang berupaya memasang behel supaya giginya rapi.

Ketika perjuangan susah payahnya berujung ejekan. Rasanya tentu sakit meski tidak berdarah. Down pasti! Bahkan kabarnya ada yang kebanyakan diejek sampai depresi dan bunuh diri.

Ibarat pencegahan. Yang dia lakukan adalah pencegahan dari dalam dan dari luar. Menguatkan diri sendiri sekaligus membungkam mulut yang pedasnya setara tingkatan cabe bubuk instan level teratas. Iya, sebut saja Boncabe -memang merek sebenarnya.

Ruby melirik gerak Rimba dari ekor matanya. Pemuda itu heboh sekali bersama kelompoknya. Melempar-lempar akar yang dibawa untuk diteliti. Setiap kelompok memang diminta membawa preparat awetan pada akar dan batang yang mewakili golongan monokotil dan dikotil.

Bukan, bukan maksud Ruby mencuri pandang. Hanya saja, kebetulan, kelompok Rimba ada di depannya. Ya kelihatan dong. Apalagi mereka pakai aksi-aksi norak melempar akar. Gimana kalau nyasar ke--

Tuk!

Sebuah akar mampir ke muka Ruby. Ia menegakkan kepala. Memandang dingin kelompok di depannya. Keriuhan gerombolan cowok yang biasa menjadi penghuni belakang kelas, menjadi reda.

Ruby mengambil akar yang bertamu di mukanya. Dimasukan ke dalam plastik klip dan tidak dikembalikan. Biar saja kelompok itu kehilangan satu jenis golongan akar yang mau diteliti. Siapa suruh kelakuan seperti bocah TK? Belum puas TK mungkin? Atau sekali sekolah langsung SMA?

"Liv, minta akarnya, Liv." Untung terlihat memamerkan gigi. Raut Ruby yang tidak bersahabat menggetarkannya. Membuat Untung merasa mengecil, lemah dan miskin layaknya buruh kasar di hadapan Tuan Tanah.

Sobat Misqueen! Tolong bantu Untung. Tolong Retweet kalimat Untung. Please do magical!

Ruby memasang muka kaku, sekaku tiang jembatan. Sedikit pun ia tidak tersenyum. Percuma saja tersenyum kepada orang seperti mereka. Kalau kata warganet, sungguh itu pekerjaan yang unfaedah sekali.

Melihat Ruby cuek, Untung berbisik kepada Rimba. Pemuda itu hanya melirik Ruby sedikit dengan mata tajamnya lalu ikutan cuek.

Biar saja! Selama ini Ruby diam bukan karena takut. Bukan. Miris sekali melihat orang yang didiamkan, eh malah menjadi-jadi. Seolah-olah yang diam ini tidak bisa apa-apa. Padahal, kadang, orang yang diam bukan karena nggak bisa apa-apa. Tapi memang nggak mau melakukan apa-apa. Sayangnya, tidak semua paham. Termasuk si Belantara Rimba itu.

Jika kemarin Ruby membuka suara, karena ia muak. Ia lantas menyadari bahwa diamnya selama ini ternyata salah. Kalau dia berdiam diri terus, apa bedanya dia dengan golongan munafikin yang lain?

Iya, sebab diam adalah pengkhianatan. Ruby sudah putuskan, ia tidak akan tinggal diam.

Ruby memandang punggung Rimba, mengingat kemarin. Ketika diancamnya, pemuda itu tercenung dan langsung beranjak. Ternyata, ucapan dia menohok juga. Kerja yang bagus, Ruby!

Bu Hartini tergopoh masuk ke Laboratorium Biologi. Hari ini mereka akan meneliti struktur jaringan tumbuhan. Wali kelas mereka berdiri di depan, menghadap ke kelompok murid yang sudah dibagi.

Ia menitahkan setiap perwakilan kelompok bergilir mengambil mikroskop. Diajarkannya cara menyiapkan perkakas optik tersebut. Setiap kelompok dipandu untuk mengamati ciri dan struktur serta letak masing-masing jaringan yang menyusun akar, dan batang dari preparat awetan yang dibawa.

Bergantian, Ruby dan teman-teman sekelompoknya mengamati gambar yang terlihat dari mikroskop. Menggunakan perbesaran objektif empat kali untuk melihat preparat secara keseluruhan. Lalu mengganti dengan pembesaran sepuluh kali untuk mengamati lebih jelas.

Setelah itu mereka akan menggambar kedua jaringan tersebut secara keseluruhan dan menyebutkan bagian-bagiannya. Murid memang diminta membandingkan hasil pengamatan dengan referensi.

Kelompok Rimba mulai bising. Semua bahan sudah diteliti kecuali akar yang disita Ruby. Mereka menyikut Rimba agar pemuda itu turun tangan, mengambil kembali akar yang hilang.

Pada dasarnya memang Rimba adalah pengayom. Meski menolak, akhirnya ia ambil bagian. Bagaimanapun ini berpengaruh terhadap nilai sekelompok.

"Akar," pinta Rimba tanpa basa-basi di depan Ruby. Cewek yang sedang menulis hasil pengamatan itu mengabaikannya.

"Gue tahu lo nggak budek. Buruan balikin akarnya," gumam Rimba menahan kesal. Selama ini penghuni sekolah mana ada yang tidak mengindahkannya. Kecuali si Ruby Andalusia ini.

Sayang beribu sayang, Ruby Andalusia adalah batu. Sesuai namanya, ia permata. Permata adalah salah satu material terkeras yang pernah ada.

"Eh, lo nggak usah sok budek." Rimba berkemam. Emosinya mulai merambat naik.

Ruby tidak peduli. Ia meneruskan tulisannya. Bergantian dengan yang lain meneliti struktur jaringan melalui lensa okuler. Rimba dianggapnya tidak nyata.

Pelajaran akan segera berakhir. Murid mulai mengumpulkan hasil pengamatan selama dua jam tadi. Begitu pun dengan kelompok Ruby, satu per satu kertas dikumpulkan oleh ketua kelompok.

Kelompok Rimba mulai gelisah. Pasalnya Bu Hartini sudah meminta mikroskop dikembalikan kembali ke lemari penyimpanan.

"Eh, balikin woy. Nggak lucu main-main lo." Rimba mulai spaning. Ibaratkan bola lampu, tegangan tinggi yang ada sudah membuat Rimba terbakar emosinya sendiri. Dan cewek maneken hidup itu malah seperti slow motion. Santai, berjalan sendiri seperti lagi liburan di pantai. Kalau saja lelaki boleh memukul perempuan, tentu tangan Rimba sudah menepuk kepalanya dari tadi.

Masih dengan datar, Ruby membawa mikroskopnya untuk dikembalikan ke tempat asal. Rimba yang berdiri di depan meja dibiarkan begitu saja. Laboratorium mulai sunyi, teman-teman kelompok Rimba pun sudah menyerah dan mengumpulkan saja kertas mereka.

Atas nama rasa tidak terima diasingkan dan terabaikan, seperti boneka tali, tangan Rimba bergerak sendiri meraih Ruby yang sedang membawa mikroskop dengan kedua tangan.

Tangkupan tangan Rimba di lengannya membuat gerak Ruby goyah, mikroskop terlepas. Perangkat optik itu jatuh di lantai. Suasana mendadak hening dan mencekam. Beberapa orang yang tersisa di Lab itu benar-benar diam tak bergerak.

Selanjutnya, seperti adegan sinetron azab di televisi. Bu Hartini memandang Ruby dan benda yang teronggok di lantai. Matanya mendelik tajam. Terlihat seperti zoom in, zoom out ala cameraman saat adegan memasuki babak klimaks.

"RUBY!" bentak Bu Hartini. "Apa yang kamu lakukan?!"

Ruby tertegun, tidak menyangka peralatan berharga itu bisa jatuh. Ia memegangnya sesuai petunjuk, dua tangan dengan sebelah tangan di bagian dasar dan sebelah lagi di bagian pegangan.

Tidak, ia tidak salah!

Ruby menoleh ke Rimba. Anak itu pasti sengaja mengerjainya. Mengingat Bu Hartini pasti akan membela dia sebagai Peringkat Satu Pararel yang tidak pernah ada cela.

"Rimba menarik tangan saya, Bu." Demi Pluto yang sudah hilang, Ruby tidak akan menyerah!

"Rimba!" Tatapan Bu Hartini menuju ke anak kesayangannya.

"Kok saya? Kan Ruby yang pegang mikroskop, Bu!" Rimba bersikeras.

Bu Hartini berdiri gemas. Ia sebagai guru juga penanggung jawab Laboratorium Biologi tentu akan terkena getahnya. "Kalian ini bagaimana? Kenapa bisa jatuh? Ruby, kamu pasti megangnya nggak benar."

Seandainya ini hanyalah perang meme di Twitter. Tentu Ruby akan menaruh poster lelaki memegang dagu bertuliskan 'Hmm.. Sudah kuduga' besar-besar.

Karena seperti perkiraan, Bu Hartini hanya akan menuduh dirinya. Ruby melirik pelaku, ada senyum kecil nan licik di wajahnya.

Tidak semudah itu, Ferguso! Ruby balik menyeringai di dalam hati.

"Bu, Lab ini ada CCTV. Bagaimana kalau kita putar videonya?" Ruby memandang Bu Hartini, meminta keadilan. Ia menunjuk barang berukuran setengah lingkaran, berwarna hitam dan menempel di langit-langit.

Ruby jongkok, meraih mikroskop yang berada di dekat kakinya. Kemudian berdiri kembali. "Saya bersedia bertanggung jawab, asal diperiksa dahulu kebenarannya. Jangan orang yang tidak bersalah menjadi korban."

Ia tahu Rimba mendelik mendengar tantangannya. Ia juga tidak keberatan kali ini diarahkan ke ruang BK bersama pemuda itu. Meski banyak mata memandang ke arahnya, ia kukuhkan tatapan ke depan.

Republik Indonesia sudah merdeka ke-73 tahun, kok masih ada penjajahan di Nusantara? Arwah para pahlawan pasti gelisah di liang kubur. Darah yang sudah mereka tumpahkan demi merebut kemerdekaan seakan sia-sia.

Maka, Ruby tidak akan tinggal diam lagi. Ruby sudah tidak peduli lagi apakah akan mencoreng nama Papa atau tidak. Baginya kesewenangan Rimba harus dilawan. Papa pasti mengerti itu.

Ia berjalan layaknya pasukan tidak bergenderang, berpalu. Tidak peduli jika hanya sekali berarti, sudah itu mati. Pokoknya: Maju! Serbu! Serang! Terjang!

***

Kisanak
Mungkin silap bertakhta
Aku-
Sesat di jenggala
Latisan sirna

Tapi-
Aku batu
Tak mudah remuk
Tak gampang binasa

Tidak berkarat
Tidak jua rusak meski kaupijak

-Mirah Delima-

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
CATCH MY HEART
15      7     0     
Humor
Warning! Cerita ini bisa menyebabkan kalian mesem-mesem bahkan ngakak so hard. Genre romance komedi yang bakal bikin kalian susah move on. Nikmati kekonyolan dan over percaya dirinya Cemcem. Jadilah bagian dari anggota cemcemisme! :v Cemcemisme semakin berjaya di ranah nusantara. Efek samping nyengir-nyengir dan susah move on dari cemcem, tanggung sendiri :v ---------------------------------...
LUCID DREAM
3      3     0     
Short Story
aku bertemu dengan orang yang misterius selalu hadir di mimpi walapun aku tidak kenal dengannya. aku berharap aku bisa kenal dia dan dia akan menjadi prioritas utama bagi hidupku.
Ketika Kita Berdua
455      49     0     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
Weak
4      4     0     
Romance
Entah sejak kapan, hal seromantis apapun kadang terasa hambar. Perasaan berdebar yang kurasakan saat pertama kali Dio menggenggam tanganku perlahan berkurang. Aku tidak tahu letak masalahnya, tapi semua hanya tidak sama lagi. Kalau pada akhirnya orang-orang berusaha untuk membuatku menjauh darinya, apa yang harus kulakukan?
1000 Origami Bangau
5      5     0     
Short Story
Origami bangau melambangkan cinta dan kesetiaan, karna bangau hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Tapi, jika semua itu hanyalah angan-angan belaka, aku harus bagaimana ??
Sweet Pea
25      11     0     
Romance
"Saya mengirim Kalian berdua ke alam itu bukan untuk merubah 'segala'nya. Saya hanya memberi jalan kearah 'happy ending'. Hanya itu." [Aku akan membenarkan yang typo secepatnya]
Melodi Sendu di Malam Kelabu
5      5     0     
Inspirational
Malam pernah merebutmu dariku Ketika aku tak hentinya menunggumu Dengan kekhawatiranku yang mengganggu Kamu tetap saja pergi berlalu Hujan pernah menghadirkanmu kepadaku Melindungiku dengan nada yang tak sendu Menari-nari diiringi tarian syahdu Dipenuhi sejuta rindu yang beradu
LOVE IN COMA
356      287     7     
Short Story
Cerita ini mengisahkan cinta yang tumbuh tanpa mengetahui asal usul siapa pasangannya namun dengan kesungguhan didalam hatinya cinta itu tumbuh begitu indah walaupun banyak liku yang datang pada akhirnya mereka akan bersatu kembali walau waktu belum menentukan takdir pertemuan mereka kembali
To The Girl I Love Next
4      4     0     
Romance
Cinta pertamamu mungkin luar biasa dan tidak akan terlupakan, tetapi orang selanjutnya yang membuatmu jatuh cinta jauh lebih hebat dan perlu kamu beri tepuk tangan. Karena ia bisa membuatmu percaya lagi pada yang namanya cinta, dan menghapus semua luka yang kamu pikir tidak akan pulih selamanya.
The Eternal Love
226      57     0     
Romance
Hazel Star, perempuan pilihan yang pergi ke masa depan lewat perantara novel fiksi "The Eternal Love". Dia terkejut setelah tiba-tiba bangun disebuat tempat asing dan juga mendapatkan suprise anniversary dari tokoh novel yang dibacanya didunia nyata, Zaidan Abriana. Hazel juga terkejut setelah tahu bahwa saat itu dia tengah berada ditahun 2022. Tak hanya itu, disana juga Hazel memili...