Sabar itu berbatas. Tetapi di mana garisnya? Tolong, tunjukan kepada saya.
"KENA DEH!"
Tawa Rimba meledak, membuat gadis yang duduk di depannya terdiam beberapa detik. Seperti mengerti, mata bening sang korban meneliti sekitar. Kepala kecil berambut cokelat tua bergoyang, berusaha menelaah maksud perkataannya.
Kali ini, guru biologi tidak masuk ke kelas. Tugas yang diberikan adalah membaca bab dua tentang Organisasi Tingkat Jaringan. Hari Kamis besok, akan diadakan praktikum di Lab untuk mengamati struktur jaringan tumbuhan. Jadi guru meminta murid hari ini belajar sendiri agar ketika di Lab langsung praktek.
Tidak mendapat jawaban atas keanehan yang ada, Ruby lalu berdiri. Sesuatu yang basah dan lengket terasa di bagian belakang rok. Kepalanya menoleh.
Sosok yang berjarak tiga puluh senti dari tempat Rimba duduk itu terlihat diam, kaku. Cocok seperti maneken hidup. Kulit yang pucat dengan badan kurus menambah kesan anak itu lebih cocok menjadi patung di etalase daripada menjadi orang.
Seringai tercetak dari bibir Rimba. Ia baru saja menuangkan minyak sayur pada bangku yang ada di depannya, sebelum penghuninya duduk. Hasilnya? Rok korban basah, lengket dan iyugh, nggak bangetlah. Dengan sengaja Rimba memilih minyak bukan air, supaya lengket dan tidak cepat kering.
Sorak-sorai di kelas dari penghuni belakang ikut memanas-manasi kejadian. Membuat Ruby membalikkan badan, menghadap Rimba yang berpura-pura serius membaca buku.
"Gaskeun, Liv! Gaskeun!" teriak seseorang dari pojok yang bersilangan darinya.
Diselingi ucapan yang lain. "Tabok, Liv! Tabok!"
"Jangan kasih ampoon!" tambah yang lain memanasi.
Si Olive menatap mukanya yang tidak tertutup buku. Dalam hati, Rimba menghitung detik-detik dimana sosok pendiam itu akan berubah menjadi medusa.
Tangan kanannya mengetuk meja dengan santai.
Satu.
Dua.
Tiga.
Terdengar helaan napas Ruby. Si Olive alias Maneken Hidup itu membuka tasnya, keluarkan baju olahraga yang sudah dipakai pada pelajaran pertama tadi. Ia usap roknya dengan baju lalu ditaruh di bangku untuk menutupi minyak yang ada. Dengan tidak memedulikan cairan yang menetes dari roknya, ia keluar dari pojok dan menukar bangkunya dengan bangku kosong di samping kemudian duduk lagi seakan tidak terjadi apa-apa, kembali memasang earphones dan mengabaikan dunia.
"Yah, gagal ini mah, Rim! Stok sabar Olive sekontainer gue rasa!" Orang yang tadi berteriak memanasi kejadian menjadi kecewa.
"Jangan salah lo, kadang yang diem-diem gini malah psycho," tambah yang lain, membuat Rimba meletakkan bukunya. "Hati-hati lo, Rim. Buruan lunasin hutang-hutang, minta maaf sama seluruh keluarga, terus aktifin GPS hape lo."
"Nah, iya! Pikir-pikir kalo mau beli bakso atau nasi goreng yang lewat depan rumah, selalu kabari orang terdekat setiap 30 menit sekali," sela yang lain.
"Kalo pulang sekolah jangan langsung pulang ke rumah, usahain mampir-mampir dulu buat mastiin kalo lo nggak diikutin."
"Kurang-kurangin pergi sendirian keluar rumah kalo nggak perlu, Rim. Kalo motor lo kempes di jalan, jangan berhenti di tempat sepi." Yang lain bersemangat menambahi.
"Jangan percaya kalo dikasih permen sama orang yang nggak lo kenal. Apalagi yang tiba-tiba negor sok akrab." Sahutan makin menjadi.
"Siapin kresek di kantong lo. Kalo udah mepet banget, nggak bisa kabur. Tiup tuh kresek gede-gede sampe terbang terus ketawain kreseknya." Gelak penghuni belakang terurai ke udara.
Rimba terkekeh sambil mengumpat komplotannya. Kalau omongan adalah doa, anak-anak itu bukan sedang mendoakan ketidakselamatan dia, 'kan?
Ia kembali memandang punggung Ruby. Gadis kidal itu terlihat sedang menulis, tidak mendengarkan rentetan kalimat yang membuat kelas menjadi ramai. Tangan kiri gadis itu sesekali mengetukkan pensilnya ke meja, seperti berpikir.
Ini adalah kali ketiga Rimba mengerjainya. Seolah kucing yang memiliki sembilan nyawa, Ruby tetap selamat meski terjerat. Gadis aneh yang suka berbicara sendiri itu tidak pedulikan cibiran orang yang menertawakannya. Dan itu membuat Rimba selalu ingin mencoba mengerjainya, sampai sosok itu menyerah dan meminta maaf atas pengaduan tempo hari. Sayangnya, Ruby bertingkah biasa saja.
Rimba menutup buku biologi yang sedari tadi dibaca. "Bosen gue, njir. Kayak apaan aja kali belajar melulu."
"Ya, lo mah enak sekali lihat hafal. Lah otak gue yang seperempat ini susah masukinnya. Udah kepenuhan." Untung, teman sebangku Rimba mengomentari kalimatnya.
"Sok serius lo, Tung. Kantin yuk." Rimba menutup buku Untung.
Cowok di sampingnya berdesis. "Ogah! Lo mah ngajakin gue cabut mulu. Tapi nilai lo tetep bagus sementara nilai gue hancur lebur! Dunia emang nggak adil."
"Kenapa lo nyalahin dunia?" Alis Rimba yang dari sananya sudah terlihat menyatu itu tampak berkerut. "Yang iyanya lo belum nemu gaya belajar lo yang pas. Cari dulu, kenalin dulu diri lo gimana."
"Dah ah, gue ke kantin dulu." Rimba meminta Untung untuk keluar sebentar karena dia ingin berlalu. "Jangan merindukanku, Rodolvo."
"Najis! Jaga bicaramu, Antonio!"
Ketika melewati Ruby, ia berkata, "Dadah, Olive. Udah nggak usah ngoyo. Lo nggak akan bisa ngelampaui gue."
Sontak kata 'Huuuu' dari penghuni belakang mengiringi kepergian Rimba.
Ruby masih tidak terpengaruh, matanya menatap buku. Telinganya selalu ditempeli alat pendengar musik. Rimba dan lainnya juga tahu, bahwa ucapan mereka tidak akan didengar maneken hidup itu.
***
"Kamu anak KIR, 'kan?" tanya Bu Hartini, guru biologi menyelisik sosok Ruby. Pulang sekolah, ia dipanggil ke ruangan guru karena mendapat remedial untuk ulangan biologinya.
Pelan, Ruby mengangguk. Bu Hartini mengusap rambutnya yang bersanggul. "Baru ini saya ketemu anak KIR yang remedial biologi," ujarnya santai. Namun, kalimat itu sukses menghantam kesadaran Ruby, membuatnya menggigit ujung bibir tanpa sengaja.
"Saya malu mengakui anak didik saya ada yang seperti ini." Bu Hartini menghela napas sembari membenarkan kacamata. "Coba kamu tanya kepada teman-teman yang lain. Bagaimana cara mereka bisa memahami pelajaran. Atau cara mengajar saya yang salah?"
"Eung. Nggak, Bu. Memang salah saya. Nanti saya akan belajar lebih giat." Meski sebenarnya Ruby memang tidak memahami penjelasan Bu Hartini yang dinilainya terlalu cepat dengan suara nyaris seperti tikus terjepit. Namun, ia tidak mungkin frontal mengatakan itu.
"Kamu duduk di depan Rimba, 'kan?
Pertanyaan Bu Hartini dijawabnya dengan mengangguk. Ingin sekali ia bilang kepada wali kelas sekaligus pembina KIR-nya bahwa pemuda itu belakangan mengganggu ketenangannya. Akan tetapi—
"Kamu seharusnya tanya ke dia. Bagaimana cara supaya bisa sepintar dia. Atau sekalian ikut belajar kelompok bersama dia. Saya lihat kamu terlalu pendiam. Sesekali berbaurlah dengan yang lain."
Ruby kembali mengangguk-angguk seperti patung anjing di dashboard mobil. Jujur, ia malas berurusan dengan orang yang hanya bisa memandang sesuatu dari satu sisi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu." Ruby berdiri dan hendak berlalu.
"Rok kamu kenapa?"
Ruby buru-buru menutupi roknya dengan buku panjang yang dibawa. "Rimba yang buat, Bu."
Bu Hartini menggeleng tidak percaya. "Mana mungkin?"
Ruby kembali dengan muka kecut. Ia ingin secepatnya hengkang dari sana. Bu Hartini tentu tidak akan percaya jika itu hasil perbuatan Rimba, 'kan?
Peringkat Satu Pararel itu selamanya akan menjadi anak kesayangan Bu Hartini. Dia yang hanya remah-remah Astor ini bisa apa?
Apa orang hanya dielu-elukan ketika berada di atas saja? Karena Rimba nomor satu, berarti dia hebat, dia benar, dia segalanya?
Ruby tersenyum satir. Lebih baik ia pulang karena pahanya sudah terasa sangat lengket. Semoga tukang ojek tidak protes dengan roknya yang berminyak ini.
***
Setelah mengganti seragam dengan baju rumah, Ruby bergegas mengoleskan sabun cuci piring ke pakaiannya yang berminyak. Setelah noda itu larut, ia lantas membilas berulang kali dan merendam dengan detergen.
Ruby menuju ke dapur. Ia memasak nasi, mengeluarkan ikan yang tadi pagi diturunkan dari freezer ke chiller, juga kangkung yang sudah dipetik. Tangannya cekatan membersihkan dan meracik bumbu, kemudian menggoreng ikan dan menumis sayur.
Terdengar bunyi 'celetek' yang menandakan nasi sudah selesai dimasak. Harum nasi, ikan goreng dan tumis kangkung membumbung di dapur yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan.
Ia juga mengeluarkan cabai, bawang, tomat lalu mengulek sambal terasi, kesukaan Papa.
Semenjak Mama tidak ada, Ruby berperan sebagai pengganti Mama di dapur.
Mama sempat mengajarkan beberapa masakan kepada Ruby saat SMP. Dan Ruby menguasainya, tetapi untuk masakan-masakan rumahan yang mudah saja. Jika agak sulit, biasanya Ruby akan mengintip resep melalui Cookpad.
Kali pertama Ruby memasak sendiri di dapur tanpa Mama, ia menangis. Membuat ayamnya gosong dan sayurnya tidak ada rasa. Lama kelamaan, Ruby sadar bahwa ia harus ikhlas. Tangisan tidak akan mengembalikan yang sudah pergi. Ia hanya bisa menitip doa kepada langit agar Mama berbahagia di sana.
Ruby menata masakannya dalam diam. Ia menyendokkan nasi ke piring dan memulai makan sendirian. Ditekannya sedih yang masih berdenyut di satu titik. Napasnya menghangat, kehilangan itu terasa masih perih.
Ruby memejam. Ia teringat petuah Mama, Tidak boleh menangis di depan nasi.
Ruby berdoa dan memulai makannya tanpa suara.
Seandainya Mama masih ada, Ruby mungkin bisa bercerita tentang segala gangguan Rimba. Dan Mama bisa memberinya jalan keluar menghadapi sang Peringkat Satu Pararel yang tingkahnya makin kelewatan.
Seandainya Mama masih ada, Ruby juga bisa bertanya tentang omongan Rimba dan Bu Hartini tadi siang. Bagaimana caranya menjadi pintar? Ia sudah rajin tetapi rajin saja tidak serta merta membuat gelar juara jatuh kepadanya.
Ia juga ingin bertanya kepada Mama, apakah salah jika kejujuran kita membahayakan orang lain? Sepertinya ia membahayakan Rimba sehingga anak itu sangat anti kepadanya.
Ruby menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia singkirkan pengandaian barusan yang membuat rasa kehilangan naik satu tingkat dari biasanya. Secepat kilat, ia selesaikan makannya.
Ruby sadar daripada berkhayal lebih baik ia membereskan rumah, menyapu dan mengepel. Agar ruangan menjadi bersih dan harum ketika Papa pulang ke rumah.
Semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan dengan tepat waktu. Ia kini merebahkan diri di kasur untuk membaca sekaligus memutar musik ringan.
Memang benar kata Rimba, ia tidak punya teman. Perbedaan fisik yang signifikan dengan yang lain menuai ejekan. Kulit yang terlalu pucat, rambut yang ikal, tangan yang kidal, badan yang kurus membuat orang-orang menjulukinya Olive.
Tidak tersinggung, Ruby masih mau menoleh jika dipanggil Olive. Baginya itu seperti doa, siapa tahu kelak ia akan dipertemukan dengan pahlawan yang siap sedia menolong seperti Popeye.
Namun, semenjak kematian Mama, ia tidak menggubris lagi panggilan itu.
Memang benar, ia pendiam. Lantas apa itu salah? Bukankah selama ia tidak mengganggu orang, hal itu tidak masalah? Ia bukan orang yang suka mencari-cari masalah. Jika ia mau, omongan orang tentangnya sudah menyulut sumbu emosinya.
Seperti tadi siang, dalam diam Ruby mendengar. Ruby mendengar semuanya. Ruby tidak menghidupkan musik sama sekali, telinganya ditutup semata-mata hanya untuk mengurangi kebisingan yang ada. Dan Ruby mendengar semua kalimat tentangnya juga kalimat-kalimat Rimba.
Candaan yang terlontar masih dianggap biasa, meski tidak diresponnya. Ia tidak perlu emosi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bukan?
Mama selalu mengajarkannya untuk sabar.
Seandainya Mama masih ada. Ah, seandainya. Ruby ingin bercerita banyak. Termasuk cita-cita yang belakangan berkobar dengan pesat.
Salah satunya, menaklukkan Rimba.