Read More >>"> Unending Love (End) (#5 Hari Ulang Tahun Axel) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Unending Love (End)
MENU
About Us  

Aku melewatkan sarapan pagiku, lagi. Sudah seminggu semenjak aku kabur karena berakhir di ranjang Axel, dengan pria itu yang masih tidak memakai atasan, sedang tertidur pulas merangkul pinggangku. Ya ampun! Aku sudah melakukan dosa besar.

Karena takut tertangkap, entah oleh siapa, secara insting aku kabur mengendap-endap masuk ke dalam kamarku sebelum para pelayan melihatku meringkuk di ranjang Axel. Bagaimana jika mereka memikirkan hal yang tidak-tidak.

Dan selama seminggu itu, aku beralasan untuk berolahraga pagi dan meminta Axel untuk sarapan sendirian. Kecuali pada malam hari, aku tidak punya alasan yang cukup untuk sering menghindarinya. Aku malu.

Tapi sepertinya, hari ini Axel tidak keluar kamarnya. Para pelayan sibuk seperti biasanya, dan meja makan hanya menyediakan hidangan untuk satu orang di hadapan kursi yang biasa kugunakan.

“Axel tidak sarapan?” tanyaku pada Chas.

“Tuan sedang sibuk di kamarnya hingga esok hari Nona,” jawab Chas.

Sibuk apa dia? Kenapa harus di kamarnya segala? Dia kan punya ruang kerja sendiri.

“Oh.”

Aku menyantap sarapanku di siang hari itu, dan seperti biasanya Chas selalu berada di sampingku.

“Grine kemana?”

“Kepala Grine sedang sibuk di kantornya.”

Aku kembali menyantap sarapanku. Dulu, aku memang terbiasa makan sendirian, terbiasa berteman sepi, tapi kali ini, mansion ini benar-benar sepi sekali. Entah hanya perasaanku saja.

“Chas, apa aku boleh minta sesuatu?”

“Apapun Nona.”

“Bisakah kau buatkan puding almon green tea?”

“Ya?”

Sepertinya Chas tidak mengerti permintaanku.

“Ah, tak apa. Lupakan saja.”

“Maaf Nona, maksud saya apa ada lagi yang Nona inginkan?”

Aku mengalihkan pandanganku Chas.

“Kau bisa membuatnya?”

“Mungkin rasanya tidak seenak di dunia Nona.”

“Wah!!! Tak masalah, kukira permintaanku terlalu aneh. Aku tiba-tiba ingin makan puding, itu saja. Setelah olahraga tadi.”

“Baiklah Nona, pudingnya akan segera saya buat.”

“Terima kasih banyak Chas. Terima kasih juga untuk sarapannya, sangat lezat.”

“Terima kasih kembali atas pujiannya Nona.”

“Jangan buatkan aku makan siang, aku masih kenyang. Apalagi nanti aku akan makan makanan manis.”

“Baik Nona.”

Setelah sarapan di siang hari itu, aku kembali ke kamarku. Melihat-lihat gaun khas Eropa abad 80an yang tertata rapi di lemari besar. Dan di sampingnya, tersusun baju-baju yang biasa kugunakan sehari-hari. Celana jeans dan kaos atau kemeja lengan panjang. Ayolah! Meskipun aku tinggal di dunia vampir dengan para maid dan butler yang hilir mudik mengenakan seragam khas mereka, juga pemilik rumah ini yang selalu berpakaian anggun khas seorang bangsawan, aku tetap menjunjung tinggi pakaian yang umum digunakan abad ini.

Sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dengan atmofer dunia ini, tanpa sinar matahari, selalu dikelilingin kabut dan awan kelabu, juga langit malamnya yang mengagumkan. Aku mulai jarang bertanya perihal ayahku, karena Axel berjanji akan memberi tahuku jika Grine sudah menemukan ayahku. Yaa, walaupun sesekali aku masih menganggap diriku hanya hewan ternak di mansion ini.

Selain itu, aku menghabiskan waktuku dengan menulis buku harian. Tidak ada internet di dunia ini memang cukup mengganggu kehidupan sehari-hariku. Dan seperti kembali pada masa Leonardo da Vinci, kuhabiskan waktuku dengan menulis, atau membaca buku jika Grine membawakan beberapa tumpuk buku yang kuminta.

Sedang asyik-asyiknya menulis, samar-samar aku mendengar suara rintihan yang memilukan. Awalnya kukira memang suara-suara asing yang sesekali muncul dari hutan yang berada tak jauh dari mansion ini, tapi semakin lama suara itu semakin jelas asalnya.

Telingaku kutempelkan pada dinding kamar, kutelusuri setiap jengkal dinding kamarku, dan seolah-olah memiliki matanya sendiri, suara rintihan itu semakin terdengar jelas. Hingga mataku menatap pintu kamar Axel. Pria yang kerap dingin dan menyeramkan itu membuatku ragu-ragu untuk menghampiri kamarnya. Terakhir aku tertidur di sampingnya, rasanya ambigu apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kami semalam. Tapi saat itu aku masih berpakaian utuh.

Suara rintih itu semakin terdengar keras dan membuatku buru-buru menghampiri kamar Axel. Baru saja aku akan membuka pintu kamarnya, Grine dengan cekatan menangkap tanganku.

“Jangan Nona.”

Wajah Grine terlihat gelisah, tapi justru semakin membuatku pensaran dengan kondisi Axel. Apa yang tengah ia kerjakan di kamarnya hingga merintih kesakitan seperti itu.

“Kenapa? Ada apa di dalam? Apa Axel baik-baik saja?” tanyaku.

Grine seperti enggan menjawab pertanyaanku, tapi kemudian ia membuatku terkejut dengan kehidupan bangsa vampir yang tak masuk akal.

“Hari ini Tuan Axel berulang tahun.”

Harusnya ulang tahun adalah hari yang paling bahagia bagi setiap orang. Setidaknya ada satu hari dalam setahun ia merasa menjadi makhluk paling istimewa.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • ShiYiCha

    Whoaa ... Seruu ini. Aku suka😍. Minim typo juga. Liked

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
  • cintikus

    @YantiRY Hai, makasih ya udah membaca tulisanku. Chapter-chapter selanjutnya sudah siap menanti :)

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
  • YantiRY

    Like. Ditunggu chapter2 berikutnya.

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
Similar Tags
Time Travel : Majapahit Empire
434      123     0     
Fantasy
Sarah adalah siswa SMA di surabaya. Dia sangat membenci pelajaran sejarah. Setiap ada pelajaran sejarah, dia selalu pergi ke kantin. Suatu hari saat sekolahnya mengadakan studi wisata di Trowulan, sarah kembali ke zaman kerajaan Majapahit 700 tahun yang lalu. Sarah bertemu dengan dyah nertaja, adik dari raja muda Hayam wuruk
What If I Die Tomorrow?
6      6     0     
Short Story
Aku tak suka hidup di dunia ini. Semua penuh basa-basi. Mereka selalu menganggap aku kasat mata, merasa aku adalah hal termenakutkan di semesta ini yang harus dijauhi. Rasa tertekan itu, sungguh membuatku ingin cepat-cepat mati. Hingga suatu hari, bayangan hitam dan kemunculan seorang pria tak dikenal yang bisa masuk begitu saja ke apartemenku membuatku pingsan, mengetahui bahwa dia adalah han...
Camelia
4      4     0     
Romance
Pertama kali bertemu denganmu, getaran cinta itu sudah ada. Aku ingin selalu bersamamu. Sampai maut memisahkan kita. ~Aulya Pradiga Aku suka dia. Tingkah lakunya, cerewetannya, dan senyumannya. Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku tak ingin menyakitinya. ~Camelia Putri
RAIN
9      9     0     
Short Story
Hati memilih caranya sendiri untuk memaknai hujan dan aku memilih untuk mencintai hujan. -Adriana Larasati-
The Accident Lasts The Happiness
332      251     9     
Short Story
Daniel Wakens, lelaki cool, dengan sengaja menarik seorang perempuan yang ia tidak ketahui siapa orang itu untuk dijadikannya seorang pacar.
Ending
45      18     0     
Romance
Adrian dan Jeana adalah sepasang kekasih yang sering kali membuat banyak orang merasa iri karena kebersamaan dan kemanisan kedua pasangan itu. Namun tak selamanya hubungan mereka akan baik-baik saja karena pastinya akan ada masalah yang menghampiri. Setiap masalah yang datang dan mencoba membuat hubungan mereka tak lagi erat Jeana selalu berusaha menanamkan rasa percayanya untuk Adrian tanpa a...
Noterratus
6      6     0     
Short Story
Azalea menemukan seluruh warga sekolahnya membeku di acara pesta. Semua orang tidak bergerak di tempatnya, kecuali satu sosok berwarna hitam di tengah-tengah pesta. Azalea menyimpulkan bahwa sosok itu adalah penyebabnya. Sebelum Azalea terlihat oleh sosok itu, dia lebih dulu ditarik oleh temannya. Krissan adalah orang yang sama seperti Azalea. Mereka sama-sama tidak berada pada pesta itu. Berbeka...
Monday
6      6     0     
Romance
Apa salah Refaya sehingga dia harus berada dalam satu kelas yang sama dengan mantan pacar satu-satunya, bahkan duduk bersebelahan? Apakah memang Tuhan memberikan jalan untuk memperbaiki hubungan? Ah, sepertinya malah memperparah keadaan. Hari Senin selalu menjadi awal dari cerita Refaya.
Veintiséis (Dua Puluh Enam)
16      10     0     
Romance
Sebuah angka dan guratan takdir mempertemukan Catur dan Allea. Meski dalam keadaan yang tidak terlalu baik, ternyata keduanya pernah memiliki ikrar janji yang sama sama dilupakan.
Baret,Karena Ialah Kita Bersatu
463      308     0     
Short Story
Ini adalah sebuah kisah yang menceritakan perjuangan Kartika dan Damar untuk menjadi abdi negara yang memberi mereka kesempatan untuk mengenakan baret kebanggaan dan idaman banyak orang.Setelah memutuskan untuk menjalani kehidupan masing - masing,mereka kembali di pertemukan oleh takdir melalui kesatuan yang kemudian juga menyatukan mereka kembali.Karena baret itulah,mereka bersatu.