Read More >>"> The Boy (2) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Boy
MENU
About Us  

Fikri kembali ketempat duduknya dan Adi memerhatikan temannya itu dengan tatapan kebingungan, melihat betapa basahnya rambut dan beberapa bagian kemejanya. 

“Kau ngapain? Bisa kuyub begitu?” tanya Adi pada Fikri yang baru saja mendudukki bokongnya diatas kursi busa. Pemuda itu menghela nafasnya kemudian mengurut dahinya. 

“Kau ini kepo sekali?”

“Salah memangnya? Aku ‘kan memperhatikanmu Fikri,” ia menyengir dan merangkul pundak pemuda yang sedang menundukkan tubuhnya itu. 

“Iya... iya aku tahu,”

“Jadi kenapa denganmu Sob?” 

“Kepalaku agak sedikit pusing itu saja,”  pandangannya tertuju kearah pintu disamping kiri podium. Terlihat Fairuz sedang berdiri sambil memandang kearahnya dengan sebuah senyuman dibibirnya. 

“Oh kalau begitu bagaimana kalau kau ke klinik kampus saja, aku akan mengantarmu!” 

“Hm... itu ide yang bagus,” Fikri langsung bangkit dan Adi membantunya berjalan keluar dari aula. Beberapa panitia mendekati mereka dan setelah Adi menjelaskan situasinya, mereka mengizinkan kedua mahasiswa tersebut keluar dari aula. Fairuz membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan aula bersama beberapa pria berjas hitam yang mengikutinya dari belakang. 

“Aku tidak menyangka kau bisa tiba-tiba sakit begini?” keluh Adi saat ia memapah Fikri menuju klinik kampus sambil merangkulkan tangan Fikri ke bahunya. 

“Namanya juga sakit datangnya ya tiba-tiba, kau bego juga kadang-kadang ya,” Fikri memandang Adi yang langsung terkejut dengan ucapan Fikri. 

“Hei, tadi pagi kau begitu sangat bersemangat, datang sejam sebelum acara, itu kepagian tahu!” pekik Adi frustasi mendengar ucapan Fikri yang mengatai dirinya bego.

“Dan sering mengeluh,” 

“Eh, kau kira siapa yang membuatku sering mengeluh begini, kau tahu!” sentak Adi.

“Ha... ha... ha, iya... iya,” tawa Fikri. 

“Hm... ya sudah kalau kau mengerti!” masih terdengar suara keluhan dari pemuda itu saat Fikri mulai melihat plank nama sebuah klinik yang tergantung diatas gedung terpisah tersebut. Fikri tersenyum dan ia menutupi matanya seraya membiarkan berat tubuhnya tertompang ke tubuh Adi. “Akh... sial, anak ini malah tidur,” keluh Adi yang masih sempat di dengar oleh Fikri sendiri. Fikri tersenyum mendengar suara keluhan temannya itu.

Adi menyeret tubuh Fikri dengan susah payah hingga seorang satpam melihat Adi dengan wajah terkejut. Ia langsung membantu pemuda tersebut membawa Fikri menuju klinik dengan merangkul pundak Fikri. 

Adi melirik kesekelilingnya dan melihat orang-orang yang sedang lalu lalang di area kampus memperhatikan mereka. Ia memutar kedua matanya dan menghela nafas. 

“Kalau bukan anaknya aku sudah melemparmu ke kandang buaya, Fikri,” keluhnya. 

Sesampainya di klinik Fikri langsung dibaringkan diatas kasur, seorang perawat dengan kerudung hitam mendekati Adi. Adi langsung menjelaskan kondisi Fikri hingga pemuda itu tertidur di bahunya. Satpam dan perawat yang mendengar penjelasan Fikri terdiam dengan ekspresi datar.

Satpam yang menolongnya kemudian kembali ke posnya sementara perawat wanita tadi kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pekerjaannya. Adi duduk disamping Fikri yang dengan tenang tidur sambil terlentang. Pemuda itu melihat kearah wajah Fikri yang tampak sangat tenang dalam tidurnya itu. 

“Yah... setidaknya aku yakin kau adalah anaknya... wajah penuh candamu mirip dengannya Fikri,” lirihnya sambil tersenyum. 

“Assalamualaikum,” salam seorang pria. 

“Walaikumsalam,” salam si perawat. 

Adi sangat mengenal suara pria itu ia langsung bangkit dan menyibakkan gorden yang menutupi ranjang tempat Fikri tidur. Seorang pria dengan setelan coklat tanah tersenyum padanya. 

“Ada apa dengannya Adi?” tanya Fairuz yang langsung berjalan mendekati Adi yang berdiri sambil membelalakkan matanya.

“Kenapa anda ada disini?”

“Aku hanya ingin...,” 

“Kembalilah ke aula Tuan, pengawal anda dimana?” tanya Adi dengan wajah cemas ia melewati Fairuz dan melihat keluar klinik meninggalkan Fairuz dan perawat yang tampak kebingungan dengan reaksi Adi dan tentunya Fairuz yang tumben-tumbennya mendatangi klinik kampus. 

Adi menggerutu sambil mencari pengawal Fairuz yang tidak becus menjaga tuan mereka. Saat keluar ia melihat ke-4 manusia berjas hitam yang tampak sedang mencari sesuatuu. Adi mendekati salah satu dari mereka dan memarahi mereka sambil menuntun mereka menuju ke klinik. 

Sementara itu di klinik Fairuz memerhatikan wajah Fikri yang tampak sangat tenang dalam dunia mimpinya. Pemuda itu membalikkan tubuhnya ke kanan hingga memunggungi pria tersebut. Pria itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri, hanya memandangi Fikri dengan perasaan iba dan rindu. Matanya berkaca-kaca melihat pemuda yang sedang tertidur sambil membelakanginya tersebut. Dadanya terasa sakit bagaikan dipukul dari dalam mendesak sesuatu yang selama ini ia tahan agar tidak tumpah. Tapi apa dayanya, rasa rindunya tidak akan terlepaskan dengan hanya memandangi pemuda dihadapannya. Kekasih hatinya sudah lama pergi, pohon yang tumbuh atas nama cinta telah menghasilkan buah tak tergapai meskipun sudah dihadapan matanya. Ada dinding kasat mata yang seolah-olah memisahkan mereka. 

“Fathimah, maafkan aku,” ucapnya lirih kemudian ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan klinik. Adi datang bersama pengawal Fairuz yang langsung membawa pria itu kembali ke aula. Adi menghela nafasnya dan kembali ke klinik. 

***

Tags: Romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dede_pratiwi

    mengambil kisah mahasiswa, pendekatan yg bagus krn pembaca juga kebanyakan mahasiswa sehingga mudah untuk masuk mendalami tokoh. nicee storyudah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter 1
Similar Tags
Kebaikan Hati Naura
4      4     0     
Romance
Naura benar-benar tidak bisa terima ini. Ini benar-benar keterlaluan, pikirnya. Tapi, walaupun mengeluh, mengadu panjang lebar. Paman dan Bibi Jhon tidak akan mempercayai perkataan Naura. Hampir delapan belas tahun ia tinggal di rumah yang membuat ia tidak betah. Lantaran memang sudah sejak dilahirikan tinggal di situ.
Crystal Dimension
5      5     0     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
Revealed
6      6     0     
Short Story
Pembunuh bayaran yang di tuduh melakukan pembunuhan yang tidak dia lakukan memutuskan untuk bekerja sama dengan detektif yang bertanggung jawab dengan kasus itu. Semuanya itu tidak dia lakukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk 'semuanya'.
A - Z
30      12     0     
Fan Fiction
Asila seorang gadis bermata coklat berjalan menyusuri lorong sekolah dengan membawa tas ransel hijau tosca dan buku di tangan nya. Tiba tiba di belokkan lorong ada yang menabraknya. "Awws. Jalan tuh pake mata dong!" ucap Asila dengan nada kesalnya masih mengambil buku buku yang dibawa nya tergeletak di lantai "Dimana mana jalan tuh jalan pakai kaki" jawab si penabrak da...
G E V A N C I A
25      14     0     
Romance
G E V A N C I A - You're the Trouble-maker , i'll get it done - Gevancia Rosiebell - Hidupnya kacau setelah ibunya pergi dari rumah dan ayahnya membencinya. Sejak itu berusaha untuk mengandalkan dirinya sendiri. Sangat tertutup dan memberi garis keras siapapun yang berniat masuk ke wilayah pribadinya. Sampai seorang cowok badboy selengean dengan pesona segudang tapi tukang paksa m...
DEWDROP
795      417     4     
Short Story
Aku memang tak mengerti semua tentang dirimu. Sekuat apapun aku mencoba membuatmu melihatku. Aku tahu ini egois ketika aku terus memaksamu berada di sisiku. Aku mungkin tidak bisa terus bertahan jika kau terus membuatku terjatuh dalam kebimbangan. Ketika terkadang kau memberiku harapan setinggi angkasa, saat itu juga kau dapat menghempaskanku hingga ke dasar bumi. Lalu haruskah aku tetap bertahan...
U&O
0      0     0     
Romance
U Untuk Ulin Dan O untuk Ovan, Berteman dari kecil tidak membuat Rullinda dapat memahami Tovano dengan sepenuhnya, dia justru ingin melepaskan diri dari pertemanan aneh itu. Namun siapa yang menyangkah jika usahanya melepaskan diri justru membuatnya menyadari sesuatu yang tersembunyi di hati masing-masing.
Love in the Past
308      253     4     
Short Story
Ketika perasaan itu muncul kembali, ketika aku bertemu dengannya lagi, ketika aku harus kembali menyesali kisah itu kesekian kali.
Beautiful Sunset
2      2     0     
Short Story
Cinta dan Persahabatan. Jika kau memiliki keduanya maka keindahan sang mentari di ujung senja pun tak kan mampu menandinginya.
AVATAR
56      20     0     
Romance
�Kau tahu mengapa aku memanggilmu Avatar? Karena kau memang seperti Avatar, yang tak ada saat dibutuhkan dan selalu datang di waktu yang salah. Waktu dimana aku hampir bisa melupakanmu�