Rutinitas yang sama. Jam yang sama. Orang yang sama. Jalanan yang sama. Kendaraan yang sama. Kemacetan yang sama. Gedung yang sama. Ngantuk yang sama. Tawa yang sama. Binar yang sama. Jalan yang sama. Orang yang sama. Motif yang sama. Baju yang sama. Memori yang sama. Rindu yang sama. Font yang sama. Tulisan yang sama.
Suatu periode tertentu akan terjadi jungkir balik. Hal baru dengan pola sama.
Kemudian dibolak-balikkan. Keriput yang baru. Renta yang baru. Hangat yang baru. Makna yang baru.
Bila rupa jadi serupa tanah, perlahan menyatu jadi unsur baru. Periode yang berperan.
***
Suatu malam ... Tama sedang belajar di ruang keluarga. Lampu kamar tidur adiknya pun belum dimatikan, tandanya Kintan masih bangun, mungkin sedang belajar juga. Ketika itu adiknya keluar masuk kamar mandi yang tak jauh dari ruang itu.
“Masuk angin, Dek?” tanyanya menoleh sebentar ke arah Kintan.
“Nggak tahu,” jawabnya lebih singkat dari biasanya, terdengar suaranya tak bertenaga.
Punggung Kintan hilang dari balik pintu kamarnya. Sesaat kemudian ia sudah membuka pintu itu lagi dan menuju kamar mandi lagi. Begitu terus hingga 5 kali.
“Minum obat, jangan begadang terus, belajarnya pas siang aja,” sarannya sebagai kakak.
Adiknya tak menjawab lagi. Cuman bulak-balik ke ruangan kecil itu. Tak seperti sebelumnya, kali ini tak ada suara dari dalam kamar mandi, adiknya lebih lama berdiam di sana. Lama kelamaan Tama curiga karena adik bungsunya itu tak keluar-keluar. Ia pun menutup pekerjaannya, menghampiri pintu kamar mandi tersebut lalu mulai mengetuknya.
“Kintan ... kamu nggak apa-apa? Tan? Dek?”
Namun, tak ada suara lain selain jarum jam di ruangan keluarga yang terus bergerak melalui detik-detiknya. Jam itu sedang hidup di angka 10. Pukul 10 malam, ibunya sudah pamit tidur sejak sejam yang lalu. Adiknya tak mau mendengar saat disarankan tidur lebih cepat, kini dia berlaku tak seperti biasanya.
Insting yang kuat membuat Tama mendobrak pintu itu. Adiknya tergeletak di atas lantai. Cepat-cepat Tama menggendongnya masuk ke dalam mobil dan membangunkan ibunya. Malam itu mereka harus tiba di rumah sakit sesegera mungkin.
***
Adiknya berakhir terbaring lemah di salah satu ruangan rumah sakit. Kekurangan cairan kata dokternya. Entah karena makanan yang bermasalah atau pola hidupnya yang berantakan membuat adiknya itu tumbang juga.
“Bu ... tetap sabar ya, Kintan masih bisa diobati, aku ada di sini, dan paling utama, Allah selalu ada,” hibur Tama sambil mengusap punggung ibunya. Mata ibunya semakin sendu menatap anak perempuannya terbujur kaku, berbagai selang seperti belalai menyelimuti sebagian tubuh anaknya itu.
“Kalau aja ... kalau aja waktu itu kami nggak bertengkar, mungkin ayahmu tetap ada juga untuk keluarga kita. Kalau aja ... keluarga kita masih baik-baik aja, mungkin Kintan nggak harus mati-matian belajar sampai lupa kondisi tubuhnya.”
“Bu ... nggak boleh gitu. Apa yang sudah terjadi berarti itu yang terbaik. Pasti ada sisi baiknya. Ujian ada karena Tuhan sayang. Aku juga sayang Ibu.”
Mantap cantikaaa, teruskan ya semoga jalan menjadi penulis lancar sukses dan dapat memberikan inspirasi lewat tulisanmu seperti yang udah kamu lakukan padaku.
Comment on chapter 1. Gerbang Masa Lalu