Read More >>"> Youth (4. Kembali Lagi ke Masa-Masa Itu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Youth
MENU
About Us  

“Dia harus menemukan ruang rahasia nenek kalau mau diterima di sini.”

Siapa yang nggak mau ke sini lagi? Rumah sederhana di pinggiran kota, langit tanpa awan saat siang, dan langit bertabur bintang kala malam. Dika, Tama, dan Daffa mengunjungi rumah neneknya Tama untuk mengisi liburan kali ini. Saat itu awal-awal mereka sering main bareng, tiba-tiba Tama mengajak mereka mengunjungi rumah neneknya. Tama sering ke sini kalau liburan atau sekadar mengasingkan diri dari penatnya kehidupan kota. Kali itu Tama sudah percaya kalau mereka berdua mampu memasuki kehidupannya.

Setelah makan siang, neneknya bilang, kalau mereka mau main ke sini lagi, harus menemukan ruang rahasianya dulu. Seketika Dika bingung, ruang yang bagaimana?

“Ruang itu bisa menemukan diri sendiri,” ucap nenek Tama kalem sambil menuang teh. Sementara Dika dan Daffa saling berpandangan.

“Kamu pasti yang paling ingin ke sini lagi ya, Dik?” tanya Tama santai lalu mulai meminum teh hangatnya.

“Iyalah, Dika kan pengagum langit, mana bagus banget lagi langitnya di sini,” seloroh Daffa sebelum Dika menjawab, tapi jawabannya benar, jadi dia nyengir saja. “Apalagi calon sastrawan, alam yang mendukung pasti bikin lancar tulisan.”

“Namamu siapa, Nak?” tanya nenek mulai menatap Dika lembut.

“Mahardika.”

“‘Mahardika’ juga berarti ‘merdeka’, apa kamu termasuk orang yang suka menentang, Dik?” canda nenek sambil tersenyum tipis.

“Kadang sih, Nek. Kadang apa yang diinginkan nggak selalu didukung kenyataan.”

“Maksudnya, dia tuh ingin kuliah di Sastra tapi orang tuanya nyuruh Bisnis,” celetuk Daffa seketika melihat nenek agak bingung. Lama-lama Daffa bisa jadi juru bicaranya.

Ruang rahasia yang bisa menemukan diri sendiri.

Dika baru tersadar ada ruangan di depan mereka yang hanya berisikan cermin besar dan jendela lebar.

“Maaf Nek, apakah ruang rahasia yang dimaksud adalah ruang itu?” tanya Dika sopan sambil menunjuk sebuah ruangan. Seketika air muka nenek mencerah lalu tersenyum hangat.

Tebakan Dika benar.

“Nenek sudah menyangka kalau Dika anak yang pintar. Nanti malam nenek cerita banyak deh, termasuk penjelasan teka-teki yang nenek kasih tadi. Sekarang kalian lanjutin aja agenda mancing di sungai sebelah rumah,” balas nenek Tama sambil tersenyum. Perawakannya yang sudah tua tidak sama dengan jiwanya yang masih bisa berlaku seperti teman sebaya. Teman yang menyenangkan diajak berbagi. Apalagi neneknya pasti sudah punya banyak pengalaman dan cerita yang mengagumkan.

Mereka bertiga pun mengiyakan dan langsung semangat mengambil alat pancing dan langsung menuju sungai sebelah rumah. Nggak sebelah banget juga sih, paling beberapa langkah dari rumah, sungai kecil dengan air yang masih jernih mengalir menyusuri lembah, terus merendah sampai hilir.

Sesekali mereka serius ingin menangkap beberapa ikan untuk dibakar nanti, sesekali sambil bercanda, sampai melupakan sejenak kalau semester depan mereka akan dipenuhi banyak ujian sekolah.

***

Malam pun tiba, waktunya membakar ikan-ikan yang sudah didapat. Nenek menyiapkan peralatan makan dan nasi, Tama membantu neneknya sambil menggelar tikar di teras rumah, sedangkan Dika dan Daffa asik membakar ikan sambil sesekali bercanda.

“Diem napa, Daf!” sahut Dika yang ingin serius membolak-balikkan ikan di panggangan malah dijaili Daffa yang terus mengipas-ngipas wajahnya. Pelakunya malah bertingkah tanpa dosa sambil tertawa akibat jailannya sendiri.

“Ayo dong nenek udah lapar nih.” Alih-alih membentak, nenek Tama menegur mereka dengan memberi kode.

Tama yang sudah selesai membantu dan duduk bersebelahan sambil menemani nenek melihat mereka bercanda, hanya tersenyum lalu menghampiri mereka.

Ketika sudah dekat, Tama mencolek sedikit arang yang ada di sebelah panggangan lalu mencoleknya ke pipi Daffa lalu kabur sambil berlari ke tempat duduk sebelah nenek di atas tikar.

“Apa-apaan, Tam!” balas Daffa sambil mengejar ke teras yang akhirnya disuruh duduk saja sama neneknya Tama.

Dika hanya geleng-geleng sambil tertawa kecil lalu membawa ikan yang sudah jadi ke teras tempat berkumpul.

“Selamat makan!” ucap Daffa sambil merentangkan kedua tangannya seakan telah menghidangkan makanan ala chef andal.

“Berdoa dulu!” cegah nenek Tama.

Mereka pun berdoa lalu makan dengan tertib diselingi obrolan ringan. Tak butuh waktu lama, makan malam itu selesai. Mereka langsung membereskan peralatan dan berkumpul di ruang TV.

***

“Nah, tadi siang kenapa Dika bisa tahu kalau itu ruang rahasia nenek?” Nenek Tama membuka topik, mereka sudah bersih-bersih, menggelar karpet, dan membawa beberapa bantal. Rutinitas sejak Tama kecil, neneknya selalu bercerita, tentang apa saja, sampai mereka mengantuk.

Malam itu hanya bersuarakan TV bervolume kecil, beberapa suara hewan malam dari kejauhan, dan air sungai yang samar terdengar. Udara terasa dingin tapi mereka tidak sampai kedinginan. Suasana yang menyenangkan saat liburan.

“Nenek bilang kan ruang itu bisa menemukan diri kita sendiri, Dika tahu kalau maksudnya itu berkaitan dengan introspeksi. Dilihat dari cermin besar, membuat kita bisa melihat diri sendiri sebenarnya kita itu siapa dan mau apa. Terus ada kaca besar yang menghadap keluar, bisa lihat apa kehidupan yang kita hadapi dan orang-orang yang menginspirasi,” jelasnya panjang lebar, Dika memang gitu, sekalinya ngomong bakal detail, tapi sebenarnya dia malas ngomong kalau nggak penting-penting amat. Dika suka to the point, nggak suka basa-basi, biar efisien waktu katanya.

“Weh, gaya sih si Dika,” tanggap Daffa sambil bertepuk tangan heboh, biasa ... suka lebay.

“Aku yang cucunya nenek aja baru ngeh loh,” balas Tama yang merasa “bodoh”, padahal aslinya dia termasuk anak yang pintar juga, kabar prestasinya suka datang tiba-tiba, “diam-diam menghanyutkan” kalau kata orang-orang.

“Nenek salut loh sama jawaban Dika, karena memang itu alasannya,” balas nenek. Mereka bertiga agak terkejut mendengar kata “salut” terlontar dari nenek Tama yang berusia 70-an tahun. Tama merasa sudah melewatkan banyak momen bersama neneknya. Apa karena aku jarang liburan ke sini lagi ya, begitu pikirnya. Namun, Tama tak mau banyak pikir kalau lagi liburan. Ia mau amnesia sejenak kalau rutinitas sekolah datang sebentar lagi. Liburan kali itu sangat berkesan bagi mereka. Setelah ini, mereka siap kembali berseragam putih abu lagi.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 2 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • erlinahandayanii26

    Mantap cantikaaa, teruskan ya semoga jalan menjadi penulis lancar sukses dan dapat memberikan inspirasi lewat tulisanmu seperti yang udah kamu lakukan padaku.

    Comment on chapter 1. Gerbang Masa Lalu
  • dede_pratiwi

    sama seperti judulnya, kisahnya pun fresh dan youth sekali sekitaran masa-masa remaja yang penuh pergolakan dan percintaan. keep writing...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter 1. Gerbang Masa Lalu
Similar Tags
Dibawah Langit Senja
21      9     0     
Romance
Senja memang seenaknya pergi meninggalkan langit. Tapi kadang senja lupa, bahwa masih ada malam dengan bintang dan bulannya yang bisa memberi ketenangan dan keindahan pada langit. Begitu pula kau, yang seenaknya pergi seolah bisa merubah segalanya, padahal masih ada orang lain yang bisa melakukannya lebih darimu. Hari ini, kisahku akan dimulai.
Last Game (Permainan Terakhir)
4      4     0     
Fan Fiction
Last Game (Permainan Terakhir)
R.A
35      10     0     
Romance
Retta menyadari dirinya bisa melihat hantu setelah terbangun dari koma, namun hanya satu hantu: hantu tampan, bernama Angga. Angga selalu mengikuti dan mengganggu Retta. Sampai akhirnya Retta tahu, Angga adalah jiwa yang bimbang dan membutuhkan bantuan. Retta bersedia membantu Angga dengan segala kemungkinan resiko yang akan Retta hadapi, termasuk mencintai Angga. - - "Kalo nanti ka...
Mars
18      6     0     
Romance
Semenjak mendapatkan donor jantung, hidup Agatha merasa diteror oleh cowok bermata tajam hitam legam, tubuhnya tinggi, suaranya teramat halus; entah hanya cewek ini yang merasakan, atau memang semua merasakannya. Dia membawa sensasi yang berbeda di setiap perjumpaannya, membuat Agatha kerap kali bergidik ngeri, dan jantungnya nyaris meledak. Agatha tidak tahu, hubungan apa yang dimiliki ole...
Thantophobia
21      11     0     
Romance
Semua orang tidak suka kata perpisahan. Semua orang tidak suka kata kehilangan. Apalagi kehilangan orang yang disayangi. Begitu banyak orang-orang berharga yang ditakdirkan untuk berperan dalam kehidupan Seraphine. Semakin berpengaruh orang-orang itu, semakin ia merasa takut kehilangan mereka. Keluarga, kerabat, bahkan musuh telah memberi pelajaran hidup yang berarti bagi Seraphine.
Dear You
150      51     0     
Romance
Ini hanyalah sedikit kisah tentangku. Tentangku yang dipertemukan dengan dia. Pertemuan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Aku tahu, ini mungkin kisah yang begitu klise. Namun, berkat pertemuanku dengannya, aku belajar banyak hal yang belum pernah aku pelajari sebelumnya. Tentang bagaimana mensyukuri hidup. Tentang bagaimana mencintai dan menyayangi. Dan, tentang bagai...
SATU FRASA
149      45     0     
Romance
Ayesha Anugrah bosan dengan kehidupannya yang selalu bergelimang kemewahan. Segala kemudahan baik akademis hingga ia lulus kuliah sampai kerja tak membuatnya bangga diri. Terlebih selentingan kanan kiri yang mengecapnya nepotisme akibat perlakuan khusus di tempat kerja karena ia adalah anak dari Bos Besar Pemilik Yayasan Universitas Rajendra. Ayesha muak, memilih mangkir, keluar zona nyaman dan m...
Special
34      18     0     
Romance
Setiap orang pasti punya orang-orang yang dispesialkan. Mungkin itu sahabat, keluarga, atau bahkan kekasih. Namun, bagaimana jika orang yang dispesialkan tidak mampu kita miliki? Bertahan atau menyerah adalah pilihan. Tentang hati yang masih saja bertahan pada cinta pertama walaupun kenyataan pahit selalu menerpa. Hingga lupa bahwa ada yang lebih pantas dispesialkan.
My Reason
16      9     0     
Romance
pertemuan singkat, tapi memiliki efek yang panjang. Hanya secuil moment yang nggak akan pernah bisa dilupakan oleh sesosok pria tampan bernama Zean Nugraha atau kerap disapa eyan. "Maaf kak ara kira ini sepatu rega abisnya mirip."
ALUSI
80      14     0     
Romance
Banyak orang memberikan identitas "bodoh" pada orang-orang yang rela tidak dicintai balik oleh orang yang mereka cintai. Jika seperti itu adanya lalu, identitas macam apa yang cocok untuk seseorang seperti Nhaya yang tidak hanya rela tidak dicintai, tetapi juga harus berjuang menghidupi orang yang ia cintai? Goblok? Idiot?! Gila?! Pada nyatanya ada banyak alur aneh tentang cinta yang t...