Read More >>"> The Secret Of Bond (Complete) (Bab 6) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Secret Of Bond (Complete)
MENU
About Us  

Aku dan Rafi sampai di kamar. Dia merebahkan tubunhya di tempat tidur dengan sepatu yang masih menggantung di kakinya. Aku tahu cowok ini sedang sangat-sangat kesal. Tapi apakah dia sampai harus berbuat sejauh ini dalam waktu sekejap. Tidak begitu sakitkah hatinya karna telah menyakiti hati wanita yang telah dicintainya setengah mati itu, sahabatnya dan juga semua teman-teman satu gengnya. Aku tahu pasti rasanya sangat-sangat sakit meski aku tak bisa membayangkan itu.

Lantas, sekarang aku harus bagaimana? Aku berada dalam satu kamar yang sama dengan cowok yang berubah 180? itu. Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang macam-macam padaku? Karena ku tahu ketika sedang seperti ini dia pasti melakukan hal-hal yang tidak pernah ku duga seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya yakni menciumku dengan paksa saat dia mendapati kekasihnya bercumbu dengan sahabatnya sendiri. Bagaimana jika dia melampiaskan kekesalannya padaku lagi seperti waktu itu? Bagaimana aku menghindar? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berkecamuk dalam pikiranku.

“Loe nggak istirahat, jangan berpikir yang tidak-tidak gue nggak akan apa-apain loe,” ucapnya seolah bisa mendengar semua kekhawatiran yang tengah berkecamuk dalam pikiranku.

“Ah,,, iya,, gue akan mandi dulu,” ucapku yang sempat terlonjak kaget mendengar perkataannya itu.

“Ya, baiklah sebaiknya loe bersihin diri loe dulu, aku mau rebahan sebentar, kalau loe udah selesai mandi bangunin gue. Gue juga mau mandi,”

“Baiklah,,”

*****

            Usai mandi sesuai permintaannya aku membangunkannya. Dia pun masuk ke kamar mandi, entah apa yang dilakukannya di dalam hingga beberapa jam dia tak keluar-keluar. Mungkin saja dia tengah menangis lagi seperti tadi, tapi dia nggak pengen aku tahu. Makanya dia mengunci diri di kamar mandi. Tapi, kemudian dia tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, mungkin dia habis keramas pikirku. Meskipun tahu, hipotesisku sebelumnya lebih benar, bahwa terdapat lingkaran merah di kedua matanya yang menandakan dia habis menangis. Tapi, aku tak berani untuk bertanya padanya. Dia pun terkaget melihatku tengah menatapnya sekejap.

“Kenapa loe menatap gue seperti itu?” tanyanya.

“Ah, tak apa-apa, ku pikirr,,,,”

“Loe pikir gue akan ngelakuin hal yang tidak-tidak di kamar mandi. Kalau pikiranmu seperti itu ma’af dugaanmu salah besar. Kaum cowok tak selemah kaum wanita?” ucapnya.

“Maksud gue,,,”

“Ah, sudahlah gue mau tidur, gue lelah banget hari ini,” ucapnya sembari menarik selimut dari tempat tidur dan meletakkannya di lantai bawah samping tempat tidur dengan membawa serta sebuah bantal. “Gue akan tidur di bawah, loe tidur di atas,” jelasnya.

            Aku tahu dia tidak akan berbuat yang tidak-tidak terhadapku seperti yang aku kuatirkan. Dan aku pun bisa mempercayai cowok itu sepenuhnya, karena dia tidak pernah melanggar perkataan yang pernah di lontarkannya kepadaku.

“Tapi,, Raf,,,” ucapku.

“Ada apa lagi?” tanyanya. Aku langsung turun dari tempat tidurku dan membawa medical kids yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi karna Farish pernah bilang bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita kelak. Makanya untuk berjaga-jaga aku selalu membawa medical kids yang pernah dia hadiakan kepadaku itu. Aku mendekatinya yang mulai siap untuk tidur itu.

“Sini, gue obatin luka loe dulu,” ucapku.

“Ah, nggak usah. Ini cuman luka kecil,”

“Meskipun luka kecil tapi harus di sembuhkan juga. Gue nggak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka besar yang menganga di hati loe. Gue hanya bisa membantu menyembuhkan luka kecil ini,” ucapku sembari mengobati luka di bibir kananya itu.

“Loe juga bawa kotak obat, kemanapun loe pergi?”Oh, ya pacar loe kan dokter, gue lupa,” tanyanya padaku yang sekaligus dia jawab dengan kesimpulannya sendiri tanpa meminta jawaban dariku yang sesungguhnya. Dan aku pun hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Sudah selesai,” ucapku. “Tidurlah.” Aku meletakkan medical kids ku kembali ke dalam tas. Dan bergegas untuk tidur di ranjang.

“Loe nggak usah bersikap seperti itu pada gue. Bagaimana kalau gue tiba-tiba jadi suka sama loe,” ucapnya dengan nada meledek seperti biasanya. Dari caranya bicara kali ini, aku tahu dia telah kembali, menjadi dirinya yang ku kenal.

“Itu, nggak akan terjadi,” jawabku.

“Kenapa tidak,”

“Loe bukan orang yang bakal menjilat lidah loe sendiri,” jelas ku sembari memejamkan mataku yang tengah mengantuk.

“Loe beneran percaya sama gue,” ucapnya tanpa ku hiraukan. “Loe nggak kedinginan?”Ah, gue dingin banget disini. Bagaimana kalau gue peluk loe, pasti rasanya,,,” godanya tanpa henti hingga membuat ku berteriak,” Rafiiii,,,,,,,”

“Eh, suara loe kenceng banget, ntar loe bikin mereka berpikir gue lagi ngapa-ngapain loe,”

“Bukannya itu yang loe mau, bukannya loe mau mereka mempercayai itu kan?”

“Ah, iya loe bener, thanks atas teriakan loe, pasti mereka sekarang sedang berpikir kalau kita sedang,,,” ucapnya yang ku cut secara tiba-tiba.

“Loe bisa diem nggak sih, gue ngantuk banget nie,” bentakku.

“Ah, baiklah,, tidurlah kekasih kontrakku,” ucapnya yang terakhir karna tak ku dengan lagi celotehannya selanjutnya.

“Raf,,, loe bener-bener udah kembali,” desahku yang telah menyadari bahwa Rafi sudah kembali sepenuhnya dari sikap dingin dan kasar yang tengah dilakukannya pada kekasih dan teman-temannya itu. Aku pun memejamkan mataku dan terlelap dalam malam yang panjang.

*****

            Ku rasakan terik sinar matahari memasuki jendela kamar tempat aku tidur itu. Dan ku sadari aku terlambat bangun. Sudah jam berapa ini, pikirku. Dan aku terlonjak kaget ketika ku dapati jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Aku melepaskan selimut hangat yang melingkar di tubuhku dan ku tahu pasti Rafi yang meletakkannya disana. Aku pun bergegas mandi seusai menata tempat tidurku, setelah ku ingat bahwa jadwal hari ini adalah Rafi dan teman-temannya akan pergi jalan-jalan menikmati pemandangan di puncak ini.

            Aku terkejut ketika mendapati mereka semua tengah berkumpul di meja makan. Semua mata tertuju ke arahku dan seorang pria dengan wajah imut itu tersenyum melihatku.

“Kau baru bangun,” tanya pria itu yang tak ku tahu siapa karena Rafi belum memperkenalkannya padaku dan dia juga tak kudapati diantara orang-orang yang telah menghakimi Rafi waktu itu.

Melihatku terheran-heran, akhirnya Rafi memperkenalkannya padaku. “Ah, dia Rizal dan di sebelahnya Dany, mereka temanku juga, dan baru tiba tengah malam tadi,” jelasnya.

“Bagaimana malammu Tuan Putri, apakah tidurmu nyenyak?” tanya Dany padaku dengan di sertai tatapan penuh tanya pula dari semua orang yang tengah berkumpul di meja makan itu. Aku masih diam tak menjawab sepatah kata pun pada mereka. Karena ku tahu kemana arah pembicaraan mereka.

“Ah, kau pasti tidur dengan sangat nyenyak. Apakah sahabatku ini melakukannya dengan baik?” Rizal menambahi pertanyaan Dany.

“Ya, tentu saja dia akan melakukannya dengan sangat baik, ini pertama kalinya dia melakukan hal itu,” jawab Dany menanggapi pertanyaan Rizal.

“Tapi, kenapa dia berteriak semalam Raf,” pertanyaannya beralih ke Rafi.

“Ah, itu,,, ucap Rafi terbata-bata. Aku melotot ke arahnya dan dia tak lagi meneruskan jawaban yang telah di karangnya. Sebaliknya dia hanya tersenyum ke arah mereka.

“Ah, ini pasti pertama kalinya juga buat nona ini, makanya dia menjerit,” jawab Rizal berasumsi sendiri. Dan aku semakin geram melihat tingkah mereka berdua yang sangat ingin tahu tentang apa yang terjadi padaku dan Rafi semalam. Tapi, ini sudah kesepakatanku dengan Rafi untuk berakting dan tidak membuka kebenaran tentang semalam, bahwa diantara aku dan dirinya tidak pernah terjadi apapun. Kecuali aku yang berteriak kepadanya karna dia tetap saja mengoceh sepanjang malam tanpa mengizinkanku untuk tertidur.

            Sesosok cewek imut itu, menghentikan makannya melihat kelakuan kedua temannya itu yang memojok-mojokkan ku dan Rafi. Aku tahu dia sangat marah dari sikapnya yang membunyikan sendoknya dengan keras ketika hendak meletakkannya kembali dalam piring kotornya.

“Sudahlah, kau itu kalian berdua itu suka usil dengan urusan orang lain,” seru Hera melihat kelakuan Rizal dan Dany yang telah membuat sahabatnya, Angel, marah dan geram.

“Sudah, sudah, sudah,,, ini masih pagi jangan membuat keributan lagi. Kita selesaikan masalah itu dan masalah-masalah lainnya nanti. Sekarang kita pergi jalan-jalan dulu,” Sang ketua geng sudah memutuskan acara hari itu dan kami pun bergegas.

            Kami berjalan menyusuri kebun teh di sekitar puncak itu. Rafi melekatkan tangannya ke bahuku. Dia bilang itu adalah salah satu bagian dari akting agar teman-temannya semakin percaya dengan hubungan kita. Tapi, aku tak tahu apa yang tengah ku rasakan. Tiba-tiba saja jantungku berdebar dengan kencangnya, dan aku takut bahwa dia akan mendengarnya jika dia terus saja menempel di sampingku tanpa membiarkan aku lepas sedikitpun dari genggamannya.

*****

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Astronaut
37      19     0     
Action
Suatu hari aku akan berada di dalam sana, melintasi batas dengan kecepatan tujuh mil per detik
MANTRA KACA SENIN PAGI
55      17     0     
Romance
Waktu adalah waktu Lebih berharga dari permata Tak terlihat oleh mata Akan pergi dan tak pernah kembali Waktu adalah waktu Penyembuh luka bagi yang sakit Pengingat usia untuk berbuat baik Juga untuk mengisi kekosongan hati Waktu adalah waktu
Miss Gossip
37      16     0     
Romance
Demi what?! Mikana si "Miss Gossip" mau tobat. Sayang, di tengah perjuangannya jadi cewek bener, dia enggak sengaja dengar kalau Nicho--vokalis band sekolah yang tercipta dari salju kutub utara sekaligus cowok paling cakep, tajir, famous, dan songong se-Jekardah Raya--lagi naksir cewek. Ini hot news bangeddd. Mikana bisa manfaatin gosip ini buat naikin pamor eskul Mading yang 'dig...
Dream Space
5      5     0     
Fantasy
Takdir, selalu menyatukan yang terpisah. Ataupun memisahkan yang dekat. Tak ada yang pernah tahu. Begitu juga takdir yang dialami oleh mereka. Mempersatukan kejadian demi kejadian menjadi sebuah rangakaian perjalanan hidup yang tidak akan dialami oleh yang membaca ataupun yang menuliskan. Welcome to DREAM SPACE. Cause You was born to be winner!
Anak-Anak Dunia Mangkuk
6      6     0     
Fantasy
Dunia ini seperti mangkuk yang biasa kalian pakai untuk makan dan minum. Kalian yang tinggal di lembah hidup di dasarnya, dan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.
Irresistible
19      11     0     
Romance
Yhena Rider, gadis berumur 18 tahun yang kini harus mendapati kenyataan pahit bahwa kedua orangtuanya resmi bercerai. Dan karena hal ini pula yang membawanya ke rumah Bibi Megan dan Paman Charli. Alih-alih mendapatkan lingkungan baru dan mengobati luka dihatinya, Yhena malah mendapatkan sebuah masalah besar. Masalah yang mengubah seluruh pandangan dan arah hidupnya. Dan semua itu diawali ketika i...
Reach Our Time
119      23     0     
Romance
Pertemuan dengan seseorang, membuka jalan baru dalam sebuah pilihan. Terus bertemu dengannya yang menjadi pengubah lajunya kehidupan. Atau hanya sebuah bayangan sekelebat yang tiada makna. Itu adalah pilihan, mau meneruskan hubungan atau tidak. Tergantung, dengan siapa kita bertemu dan berinteraksi. Begitupun hubungan Adiyasa dan Raisha yang bertemu secara tak sengaja di kereta. Raisha, gadis...
ADITYA DAN RA
225      56     0     
Fan Fiction
jika semua orang dapat hidup setara, mungkin dinamika yang mengatasnamakan perselisihan tidak akan mungkin pernah terjadi. Dira, Adit, Marvin, Dita Mulailah lihat sahabatmu. Apakah kalian sama? Apakah tingkat kecerdasan kalian sama? Apakah dunia kalian sama? Apakah kebutuhan kalian sama? Apakah waktu lenggang kalian sama? Atau krisis ekonomi kalian sama? Tentu tidak...
Kala Senja
188      40     0     
Romance
Tasya menyukai Davi, tapi ia selalu memendam semua rasanya sendirian. Banyak alasan yang membuatnya urung untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. Sehingga, senja ingin mengatur setiap pertemuan Tasya dengan Davi meski hanya sesaat. "Kamu itu ajaib, selalu muncul ketika senja tiba. Kok bisa ya?" "Kamu itu cuma sesaat, tapi selalu buat aku merindu selamanya. Kok bisa ya...
Unknown
4      4     0     
Romance
Demi apapun, Zigga menyesal menceritakan itu. Sekarang jadinya harus ada manusia menyebalkan yang mengetahui rahasianya itu selain dia dan Tuhan. Bahkan Zigga malas sekali menyebutkan namanya. Dia, Maga!