Read More >>"> In Love With the Librarian (05. Megalo-woman) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - In Love With the Librarian
MENU
About Us  

Anak lelaki berkacamata itu berkeringat dan tangannya gemetar mengetik tugas yang bukan miliknya. Disebelahnya beberapa orang menunggunya selesai dengan tidak sabar.

"Cepetan! Kau itu lama sekali sih. Baru kerjain punya Andi, belum punyaku dan punya Lily." Seorang perempuan dengan rambut panjang berwarna merah menghardik kasar anak berkaca mata itu. Perempuan itu mengenakan baju sexy dengan leher sabrina yang memperlihatkan tulang leher yang indah dan bahu yang ramping.

"Kumohon kak, kelasku sudah akan dimulai. Aku harus pergi." Anak lelaki itu memelas dengan suara gemetar.

Perempuan berambut panjang merah bak Megalo-woman itu menekan kepala lelaki muda disampingnya. "Bangsat kau! Kalau gara-gara kau nilaiku jelek awas ya! Tugas ini harus dikumpul hari ini tau!"

"Dah jangan banyak bantah kamu! Buruan dhe!" Perempuan dengan nama Lily bersuara.

Anne melihat dari jauh pemandangan disudut perpustakaan itu namun perkataan mereka hanya berupa gumaman tidak jelas akibat efek gaung di ruangan. Selain mereka, ada beberapa kelompok mahasiswa yang sedang belajar bersama terlihat sedikit terganggu.

Sesaat kemudian anak lelaki tadi terlihat melawan ketika kepalanya ditunjuk-tunjuk lelaki di depannya. Kedua perempuan di sampingnya juga tidak kalah gatalnya mencubit-cubit anak tersebut. Anne tidak bisa tinggal diam melihatnya. Dia mendatangi kumpulan itu.

"Hey! Sedang apa kalian?" Anne memperhatikan reaksi  anak lelaki itu--wajahnya pucat, keringat yang dikeluarkannya berlebihan membasahi bagian dada dan kerah kemejanya.

Mendengar teguran Anne, Megalo-woman itu berdiri dengan gemulai. Roknya yang pendek memperlihatkan kaki atlit yang kencang dengan kulit eksotis. Ternyata perempuan itu cukup tinggi, lebih tinggi satu kepala dari Anne. Itu membuat Anne merasa terintimidasi secara fisik, Anne menelan ludah.

"Maaf ya say, tapi teman kami ini lama sekali mencatat hasil kerja kelompok, padahal kuliah sudah mau dimulai. Kami memaksanya agar lebih cepat."

Anne melirik ke anak tersebut namun anak itu tidak membalas tatapannya, sedari tadi dia hanya menunduk. Menilik dari wajah mereka, tidak mungkin anak-anak jangkung itu seangkatan dengan anak lelaki itu. Tetapi Anne tidak berani untuk berdebat kecuali jika ia mengetahui kebenarannya.

"Ya sudah, jangan bikin keributan ya. Disini perpustakaan." Lelaki di seberang anak itu melihat ke Anne dan memberikan seringai termanisnya, tetapi menurut Anne senyumannya seperti serigala melihat anak ayam, Anne tidak membalas senyumannya.

Tak lama setelah tiga orang mencurigakan itu pergi, Anne mendekati anak lelaki yang tadi semeja dengan mereka. Anak lelaki itu sedang memberesi tasnya. "Kau tidak apa-apa?" Anak itu cuma menggeleng dan pergi bahkan tanpa melihat kearah Anne. Anne bertanya-tanya apa yang terjadi pada anak lelaki itu.

Sorenya, ketika Anne sedang melamun mencari inspirasi, sesosok lelaki jangkung masuk ke ruang perpustakaan dengan menggendong tas laptop di punggungnya. Anne memperhatikan dari balik counternya, wajah lelaki itu memikat, apalagi tertimpa cahaya matahari sore seperti ini, membuatnya berkhayal.

Lelaki itu menuju counter administrasi tempat Anne berada, "Anne? Sibuk?"

Anne terkejut lelaki itu tau namanya, ia memperhatikan lelaki itu sambil mencari tanda-tanda familiar pada wajahnya, tetapi tidak menemukannya. "Bi... bisa kubantu kak?"

"Yeah, kapan shift-mu berakhir?"

"Maksudnya? Err... kakak siapa?" Anne menyipitkan matanya penasaran.

"Andrew Bagaskara, mahasiswa jurusan IT tingkat tiga. Aku tanya lagi, kapan shift-mu berakhir?" Andrew Bagaskara tersenyum manis. Kaca mata berbingkai emasnya berkilat, Anne lagi-lagi terperangah. Dan lelaki jangkung itu mengibas-ngibaskan tangan di depan Anne untuk menyadarkannya.

"Ah~ shift-ku ya! Hmm... sebentar lagi, jam 16.00. Ada apa menanyakan shift-ku kak?" Anne merasa konyol.

"Sebastian mengundangmu melihat sparing kita di lapangan basket di bawah. Dia sedang malas naik, jadi memintaku menemuimu lepas kelas."

"Huh... bilang padanya aku sibuk, kak. Aku benar-benar sibuk!" Anne berbalik badan dan pura-pura sibuk menyusun buku, mengibas-ngibaskan kemoceng dan bersenandung kecil. Andrew tertawa renyah, membuat pipi Anne merona dan merasa beruntung ia sedang membalikkan badan dari lelaki itu.

"Akan kusampaikan padanya. Tetapi kau harus tau gadis kecil, menolak Bas berarti mencari masalah. Dia tidak pernah ditolak." Andrew berpesan sebelum meninggalkan perpustakaan.

Anne menunggu sampai punggung Andrew menghilang dari perpus. "Huh! Dasar orang kaya. Kalau benar kaya, sekalian saja kau bebaskan aku dari uang kuliahku sampai aku lulus," cibir Anne sambil menunggu shift-nya berakhir. Beberapa mahasiswa menoleh, mendengar keluhan Anne. Anne tersenyum minta maaf. Ia berberes kertas sketsanya dan alat gambarnya yang terpapar di meja dalam counter ketika shift-nya selesai.

Leyla datang dengan pacarnya tepat pada waktunya, Anne memberi salam sambil melewati mereka keluar dari ruang perpustakaan itu. Sebentar kemudian, lift membuka di lorong lantai dasar menuju ke lapangan. Anne keluar sambil membuka jarinya satu persatu mengingat-ingat beberapa tugas yang kuliah yang harus diselesaikannya.

Dari belakang, deru derap kaki manusia berlari di belakangnya. Anne sangat terkejut dan merapat serapat-rapatnya ke dinding. Atlet basket itu berjumlah sepuluh orang sedang pemanasan, sambil berlari mereka meneriakkan yel-yel tidak jelas. Tiba-tiba ia merasa tangannya ditarik dan mau tidak mau tubuhnya ikut terseret ke tengah-tengah arus lelaki jangkung. Rasanya seperti terpenjara di jeruji berbentuk manusia.

Ia melihat ke atas, kepada dia yang sedang menggenggam tangannya dan orang itu tersenyum menampakkan deretan gigi putih tak bercela dan lesung pipit yang melumpuhkan. "Jangan khawatir, selama kau mengikutiku, kau tidak akan terinjak-injak mereka. Percayalah."

Oh ya, Anne sangat percaya itu. Kengerian melandanya mendengar keterangan Bas. Jika dia salah langkah dan terjembab, para lelaki ini tidak akan menyadarinya dan dia akan terinjak-injak sampai menjadi setipis karpet di depan perpustakaannya yang bertuliskan 'welcome'. Jadi mau tidak mau Anne ikut berlari seirama para lelaki itu dengan tangannya dalam genggaman Bas.

Bas melepaskan tangan Anne ketika mereka melewati bangku-bangku kayu dipinggir lapangan sambil meneriakkan pesan, "tonton aku ya!" Ditengah sorak sorai para pemain basket dan pendukung dari dua belah pihak. Anne sedikit terheran-heran mengapa lelaki itu ingin sekali dia menonton pertandingan ini, Anne bahkan tidak mengerti peraturannya. Ia hanya tau kalau bola masuk di ring artinya tim tersebut mendapatkan skor.

Orang-orang mulai berdatangan. Hari ini lebih ramai dari hari sebelumnya. Seorang bapak-bapak naik ke podium yang berupa meja kayu pendek, ia mengangkat speaker dan mengumumkan bahwa hari ini babak penyisihan antar Fakultas Arsitektur dan Fakultas Teknik Mesin. Pemenangnya akan mewakili Universitas Mutiara Nusantara ke pertandingan akbar se-Jakarta. Pertandingan akan dimulai dalam 30 menit lagi.

Bas, Liam dan Andrew bersiap dengan melakukan pemanasan. Anne menunggu, tidak sabar untuk pulang, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling lautan manusia.

Lapangan basket Universitas Mutiara Nusantara hanya ada disini, ditengah-tengah gedung Fakultas Teknik. Menurut Anne, sebenarnya lokasi ini sepertinya kurang cocok karena setiap kali ada pertandingan ramai seperti ini maka akses dari Fakultas Teknik ke Fakultas Desain diseberangnya dan ke Fakultas lainnya tertutup penonton.

Kemudian Anne melihatnya, Megalo-woman itu ada disana ditengah kerumunan dan sekarang ia mendekati Sebastian. Mereka berbicara sesuatu. Eh, apakah itu barusan? Apakah perempuan itu barusan mencium Bas? Anne refleks menutup wajahnya dengan tangan. Ketika ia membuka tangannya, Bas sedang melihat ke arahnya dan Anne tiba-tiba merasa malu.

Anne berdiri dan dengan cepat menyeruak diantara penonton yang duduk untuk sampai ke seberang, ke fakultasnya dimana bagian atas bangunan itu diperuntukkan untuk asrama perempuan. Anne hampir sampai diujung susunan bangku penonton ketika tangannya ditarik paksa oleh Sebastian yang menatap Anne lekat-lekat. Jantung Anne seakan berhenti, wajahnya hanya berjarak sepupuh senti dari hidung Bas yang mancung. Anne bahkan dapat melihat jelas janggut yang mulai tumbuh satu milimeter di rahang dan pipi Sebastian.

"Mau kemana?" Tanya Bas tanpa senyum.

"Pu...lang." jawab Anne lemah, ia masih menahan nafasnya.

"Kurasa kau telah setuju menontonku? Pertandinganku hanya 10 menit saja. Kenapa kabur?"

Anne tidak dapat menjawab, wajahnya merona. Ia merasa malu melihat Megalo-woman itu mencium Bas dan merasa tidak pantas berada disini. Tatapan Bas melembut, ia menghembuskan nafas dan tersenyum.

Tempat duduk sudah ramai pada jam lima sore, Bas celingak-celinguk mencarikan bangku kosong untuk Anne. Ketika ia tidak dapat menemukan tempat duduk, Bas mendekati salah satu murid lelaki yang sedang duduk di dekat mereka. "Geser sana." Anak lelaki itu bukannya bergeser tetapi langsung bangun dan pergi.

Anne terkesima melihat betapa berkuasanya Bas di sekolah dan menjadi tidak enak pada anak lelaki itu. Peluit ditiupkan dan semua pemain diharuskan kumpul di lapangan. "Sampai habis ya!" Anne hanya bisa mengangguk.

Pertandingan itu berlangsung singkat. 10 menit dan tim Teknik Mesin menang tipis dari tim Arsitektur dengan skor 21-19. Bas mencetak 13 skor dari total 21 skor yang di cetak timnya. Bas memang keren banget di lapangan. Semua orang menahan nafasnya ketika bola ditangan Bas, dan ketika tembakannya masuk, semua orang berteriak--terutama para wanita.

Megalo-woman langsung berdiri menyerbu ke lapangan ketika peluit panjang pertandingan berakhir ditiupkan. Handuk dilapkan ke seluruh wajah Bas. Anne melihat teman si Megalo-woman yang bernama Lily juga ada. Dia menghampiri Liam yang sedang membereskan barang-barangnya, ditangan Lily terdapat handuk lap. Anne menutup mulutnya, menunggu reaksi Liam. Ketika tangan Lily menjangkau wajah Liam, Liam menepisnya lembut. Liam bahkan tidak menawarkan senyum pada Lily. Tidak seperti Bas yang membiarkan wajahnya di sentuh-sentuh dan dengan cuek masih membereskan barangnya.

Aku berjanji sampai pertandingan selesai kan? Pertandingan sudah selesai.

 

 

Maria mengoceh sesuatu disampingnya ketika Bas menepis tangannya. Maria adalah pacarnya dari jurusan Arsitektur. Bas baru selesai berberes, menyeleting tas trainingnya dan mengedarkan pandangan kesekeliling, mencari Anne. Perempuan itu tidak ada dimana-mana, ia menggertakkan giginya.

Tags: Twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • YUYU

    @deborahana hugs... terima kasih Deb

    Comment on chapter 21. Semester Baru Bersama Anne
  • siboratukangtulis

    Lanjutttt!

    Comment on chapter 21. Semester Baru Bersama Anne
Similar Tags
Dessert
15      8     0     
Romance
Bagi Daisy perselingkuhan adalah kesalahan mutlak tak termaafkan. Dia mengutuk siapapun yang melakukannya. Termasuk jika kekasihnya Rama melakukan penghianatan. Namun dia tidak pernah menyadari bahwa sang editor yang lugas dan pandai berteman justru berpotensi merusak hubungannya. Bagaimana jika sebuah penghianatan tanpa Daisy sadari sedang dia lakukan. Apakah hubungannya dengan Rama akan terus b...
Pertualangan Titin dan Opa
50      26     0     
Science Fiction
Titin, seorang gadis muda jenius yang dilarang omanya untuk mendekati hal-hal berbau sains. Larangan sang oma justru membuat rasa penasarannya memuncak. Suatu malam Titin menemukan hal tak terduga....
Comfort
14      7     0     
Romance
Pada dasarnya, kenyamananlah yang memulai kisah kita.
Nafas Mimpi yang Nyata
5      5     0     
Romance
Keinginan yang dulu hanya sebatas mimpi. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar mimpi. Dan akhirnya mimpi yang diinginkan menjadi nyata. Karna dengan Usaha dan Berdoa semua yang diinginkan akan tercapai.
I have a dream
5      5     0     
Inspirational
Semua orang pasti mempunyai impian. Entah itu hanya khayalan atau angan-angan belaka. Embun, mahasiswa akhir yang tak kunjung-kunjung menyelesaikan skripsinya mempunyai impian menjadi seorang penulis. Alih-alih seringkali dinasehati keluarganya untuk segera menyelesaikan kuliahnya, Embun malah menghabiskan hari-harinya dengan bermain bersama teman-temannya. Suatu hari, Embun bertemu dengan s...
Secret Elegi
52      20     0     
Fan Fiction
Mereka tidak pernah menginginkan ikatan itu, namun kesepakatan diantar dua keluarga membuat keduanya mau tidak mau harus menjalaninya. Aiden berpikir mungkin perjodohan ini merupakan kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Menggunakan identitasnya sebagai tunangan untuk memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat hancur. Tapi Eun Ji bukanlah gadis 5 tahun yang l...
DELION
36      11     0     
Mystery
Apa jadinya jika seorang perempuan yang ceria ramah menjadi pribadi yang murung? Menjadi pribadi yang dingin tak tersentuh, namun dibalik itu semua dia rapuh sepert bunga i Dandelion tapi dia tidak bisa menyesuaikan dirinya yang mulai hidup di dunia baru dia belum bisa menerima takdir yang diberikan oleh tuhan. Kehilangan alasan dia tersenyum itu membuat dirinya menjadi kehilangan semangat. Lal...
AraBella [COMPLETED]
337      88     0     
Mystery
Mengapa hidupku seperti ini, dibenci oleh orang terdekatku sendiri? Ara, seorang gadis berusia 14 tahun yang mengalami kelas akselerasi sebanyak dua kali oleh kedua orangtuanya dan adik kembarnya sendiri, Bella. Entah apa sebabnya, dia tidak tahu. Rasa penasaran selalu mnghampirinya. Suatu hari, saat dia sedang dihukum membersihkan gudang, dia menemukan sebuah hal mengejutkan. Dia dan sahabat...
RAHASIA TONI
322      50     0     
Romance
Kinanti jatuh cinta pada lelaki penuh pesona bernama Toni. Bukan hanya pesona, dia juga memiliki rahasia. Tentang hidupnya dan juga sosok yang selalu setia menemaninya. Ketika rahasia itu terbongkar, Kinanti justru harus merasakan perihnya mencintai hampir sepanjang hidupnya.
Frekuensi Cinta
5      5     0     
Romance
Sejak awal mengenalnya, cinta adalah perjuangan yang pelik untuk mencapai keselarasan. Bukan hanya satu hati, tapi dua hati. Yang harus memiliki frekuensi getaran sama besar dan tentu membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi cinta itu hadir, bergelombang naik-turun begitu lama, se-lama kisahku yang tak pernah ku andai-andai sebelumnya, sejak pertama jumpa dengannya.