Read More >>"> Secret Love Story (Complete) (Di Batas Rindu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Secret Love Story (Complete)
MENU
About Us  

“When you’re gone, the piece of my heart are missing you

When you’re gone, the face I came to know is missing too

When you’re gone, the words I need to hear

To always get me through the day and make it ok

I miss you, I’ve never felt this way before

Everything that I do reminds me of you

~When You’re Gone, Avril Lavigne~

 

Berbalik Satu Waktu

Jika aku bisa mengulang waktu...

Aku ingin kembali ke masa itu...

Masa dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya...

Tak apa meski pada akhirnya ku tahu hanya kesakitan yang akan ku dapat

Saat aku memilih untuk berada disampingnya...

Tak apa meski air mataku akan habis karena menangis untuknya...

Aku hanya ingin bersamanya..

Menghabiskan hari-hariku bersamanya..

Meski hanya duduk diam tanpa suara..

Aerylin Bellvania Az-Zahra

         Erlangga meletakkan buku tersebut di meja. Dihempaskannya tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tamunya itu. Sofa dengan warna cream yang bisanya membuatnya nyaman setelah melakukan rutinitasnya seharian itu kini tak berfungsi. Beberapa jam lebih dia rebahan di atas sofa itu, tapi matanya tak lekas terpejam seperti biasanya. Pikirannya berkecamuk kemana-mana setelah membaca puisi di buku yang dibelinya dari sebuah toko buku yang dilewatinya dari perjalanan pulang kuliah tadi. Hanya iseng untuk membeli tadi karena rasa penasarannya akan penulis buku itu. Seolah mirip dengan nama seseorang yang telah dikenalnya dimasa lalu. Dan ternyata benar seperti dugaannya. Dia benar gadis itu, penulisnya adalah gadis yang sama yang selalu mengganggu pikirannya kala kesepian menderanya.

         Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Dimana dia tinggal? Masikah dia sama seperti dulu? Bukankah menulis hanya hobbynya? Ataukah sekarang dia ganti profesi menjadi seorang penulis daripada seorang akuntan? Bukankah cita-citanya menjadi dosen? Terus sekarang dia...

         Pertanyaan-pertanyaan itu yang kerap kali mengganggunya itu datang lagi. Sekarang malah dia sering memikirkan tentang gadis itu. Gadis yang telah pernah disakitinya dulu, gadis yang di sia-siakannya dulu. Entah apakah karena rasa bersalah itu dia selalu memikirkan gadis itu. Ataukah ada perasaan lain yang tak bisa diartikannya. Entah..

         Lagu Dear God-nya Avenged Savenfold tiba-tiba berkumandang dari handphonenya hingga membuatnya terperanjat dari lamunannya. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponsel tersebut “mama”...

Mama Erlangga  Calling:

“Ega, sudah pulang kuliah??”

Erlangga Calling :

“Iya ma. Kenapa?”

Mama Erlangga  Calling:

“Katanya hari sabtu besok kamu pulang. Ujiannya sudah selesai kan?”

 

Erlangga Calling :

         “Iya ma,,,”

Mama Erlangga  Calling:

         “Ya sudah papa dan mama juga adikmu menunggumu di rumah ya. Cepet pulang..,”

Erlangga Calling :

“Iya...”

Tut..tut...sambungan pun terputus. Ujian memang sudah selesai. Dia hanya perlu menyempurnakan proposal untuk pengajuan tesisnya. Tak masalah untuk sejenak berlibur melepas lelah dengan kembali ke kampung halamannya. Sudah lebih dari enam bulan dia tak pulang menjengguk keluarganya. Bukan jarak yang menjadikannya enggan untuk kembali ke kampung halamannya. Karena jarak yang jauh dapat di jangkau hanya dengan beberapa jam saja naik pesawat. Toh dia bisa pulang bolak-balik kalau perlu karena tak ada masalah tentang keuangan sedikitpun dikeluarganya.

Beberapa menit setelah mendapat telfon dari ibunya dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa itu. Dengan mata yang masih di usahakannya untuk terpejam. Tapi kemudian lamunannya membawanya kembali ke kisah beberapa tahun silam bersama gadis itu.

*****

Empat tahun yang lalu di telfon...

Bocah Cilik Calling :

“Assalamu’alaikum...Hallo....,”gadis itu selalu memulai percakapan di telfon dengan dua kata itu..

Erlangga Calling :

         “Wa’alaikum salam. Iya kenapa??”

 

Bocah Cilik Calling :

“Kamu dimana?”

Erlangga Calling :

         “Di kosan. Kenapa?”

Bocah Cilik Calling :

“Kenapa lagi. Skripsimu udah selesai?”

Erlangga Calling :

“Belum...,”

Bocah Cilik Calling :

“Loh, kenapa belom? Ibu Kepala sudah suruh kita semua menyelesaikan secepatnya. Tidak ada waktu lagi. Masih sampai bab berapa?”

Erlangga Calling :

“Bab 3,”

Bocah Cilik Calling :

“Hah...bab 3. Bukannya katanya kamu sudah sampai bab empat ya?”

Erlangga Calling :

“Iya sudah input, tapi terus gak paham mau diapain...,”

Bocah Cilik Calling :

“Hadehhh..kamu nih. Makanya bilang. Kalau ndak bisa bilang. Ada aku dan anak-anak yang bisa bantuin. Kalau kamu gak bilang kita juga gak bisa bantuin kamu,”

Erlangga Calling :

“........................,”

Bocah Cilik Calling :

“Kamu ndak hidup sendiri, kalau ndak bisa ya minta tolong gituloh...,”

Erlangga Calling :

“Iya...,”

Bocah Cilik Calling :

“Ya sudah besok datang ke lab besok tak bantuin..,”

Erlangga Calling :

“Iya, beneran loh...,”

Bocah Cilik Calling :

“Iya, bye....,”

Erlangga Calling :

“Oke, bye...,”

         Gadis itu selalu saja cerewet. Entah berapa banyak kata-kata yang tidak penting selalu keluar dari mulutnya. Celotehannya banyak sekali seolah tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi, dibalik cerewetannya itu kadang ada beberapa hal yang memang benar adanya. Seperti motivasi-motivasinya atau bahkan hal-hal lainnya. Dan yang paling penting adalah otaknya briliant. Kalau sudah berbicara dengan sesuatu yang menyangkut pelajaran otaknya pasti akan berkelana menyusuri setiap ilmu yang pernah di dapatkannya di sekolah dan mungkin pelajaran di sekolah dasar pun masih melekat di otaknya.

Gadis kecil yang cerewet itu selalu memenuhi pesan masuk di handphonenya. Berisi banyak hal, tentang pertanyaan-pertanyaan yang selalu di ajukan Erlangga tentang pelajaran yang tidak diketahuinya atau bahkan hanya sekedar ucapan “hati-hati” yang selalu di ucapkannya setiap kali Erlangga hendak pulang kampung. Tapi, kini gadis itu tidak ada lagi. Tidak ada disaat Erlangga membutuhkannya lagi, membutuhkan motivasinya disaat semangatnya lemah. Erlangga tak pernah mengerti, tak pernah menyadari sebelumnya, hingga saat ini baru disadarinya betapa sebenarnya letak gadis itu besar dalam hidupnya tak sekecil ukuran tubuhnya.

“Huft...,”lenguh Erlangga sambil beranjak dari sofa dan segera bergegas menuju ke kamar mandi. Dia butuh penyegaran saat ini. Dan salah satu caranya adalah dengan mandi. Selain ingin membersihkan dan menyegarkan tubuhnya, dia juga ingin membersihkan pikirannya dari memikirkan gadis kecil itu.

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 malam. Ketika mata Ara bahkan belum merasakan kantuk sedikitpun. Beberapa halaman lagi, hanya tinggal beberapa halaman lagi ia akan segera menyelesaikan novelnya. Tapi, tiba-tiba saja cairan merah itu keluar dari lubang hidungnya. Selalu seperti ini, beberapa hari ini sering terjadi. Kepalanya akan pusing bukan main dan bahkan terkadang ia sering jatuh pingsan. Mungkin inilah kelelahan yang berlebihan. Ia terlalu lelah untuk bisa mengejar deadline yang diberikan penerbit padanya.

Di ambilnya beberapa tisu yang selalu disediakannnya di meja kerjanya. Diusapnya darah segar yang menetes itu sembari dengan menengadahkan wajahnya ke atas agar tak banyak darah yang akan keluar lagi. Setelah dirasa tak ada darah yang akan keluar lagi, ia kembali terfokus pada layar persegi panjang yang berpendar di hadapannya. Sekitar dua jam lebih ia akhirnya berhasil menyelesaikan beberapa halaman yang kurang dari novelnya. Nyeri dipunggungnya akhirnya dapat sedikit terobati ketika ia mulai berbaring dan rebahan di atas ranjang.

“Alhamdulillah...akhirnya selesai...,” gumam Ara dalam hati.

            Mata Ara masih belum terpejam saat itu. Ara masih teringat beberapa kisah lagi tentang masa lalu. Tentang dirinya dan seseorang itu. Seseorang yang selalu ia jaga dalam do’a. Terkadang orang bertanya kenapa begitu? Karena hati tak bisa menjaganya. Karenanya ia menjaganya lewat do’a-do’a yang dilantunkannya di setiap sujud malamnya. Dan akhirnya do’a itupun berubah menjadi sebuah keajaiban.

 

 

Message From : Cowok Jelek

“Aku lulus.....,” ucapnya ketika seseorang itu mengirim pesan pada Ara tiga tahun yang lalu.

Message To : Cowok Jelek

“Benarkah.....,” Ara terkejut mendengar berita baik yang diceritakannya lewat sms.

Message From : Cowok Jelek

“Yah, aku lulus. Aku benar-benar lulus. Dan ini semua berkat bantuanmu...,”ucap orang itu.

            Itulah kata terakhir yang dikirimkan oleh orang itu. Tak pernah satu kalipun seseorang itu menulis ucapan terima kasih untuk Ara atas semua keberhasilannya. Bagi Ara tak masalah karena melihat orang itu bahagia sudah cukup untuknya. Tapi, bohong jika Ara tak mengharapkan itu darinya. Ara berharap bahwa orang itu tidak hanya bicara melalui pesan singkat itu, melainkan langsung datang menemuinya dan menceritakan kabar gembira itu langsung padanya. Harapan itu hanyalah tinggal sebuah pengharapan yang sia-sia. Karena selain dua pesan sms itu, tak ada lagi pesan-pesan berikutnya yang menyusul. Orang itu sudah meraih segalanya, dan Ara bukanlah orang terpenting dalam hidupnya yang akan dibaginya pesan kegembiraan itu.

            Mengingat semua itu, air mata Ara menetes lagi. Tak mampu lagi ditahannya sesak yang menyiksa itu dan akhirnya isakan itupun beralih menjadi hujan air mata. Segera di ambilnya air wudhu agar batinnya menjadi tenang dan tak lagi mengingat lelaki di masa lalunya itu.

            “Tuhan, sampaikanlah aku pada batas rinduku. Agar aku tak lagi mengingatnya. Agar rasa sesak itu tak lagi ku rasa. Karena sungguh rindu itu begitu menyiksa. Tuhan, sampaikanlah aku di batas rinduku. Untuk menggulung semua tangis dan luka. Dan kemudian menyembunyikannya. Agar aku tetap dapat melangkah. Tanpa mengingat pedih kenangan bersamanya. Tuhan, sampaikanlah aku di batas rinduku. Mampukanlah aku untuk mengikhlaskan. Lapangkanlah dadaku untuk merelakan. Dia, yang belum halal untukku,” batin Ara.

            Selepas itu, Ara pun segera mengganti bajunya dengan piyama tidurnya dan segera mematikan lampu kamar tidurnya dan menyalakan lampu tidur di nakas tempat tidurnya. Do’a di rapalkan sebelum ia akhirnya memejamkan matanya dan berjalan di alam bawah sadarnya.

*****

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • diyaaaa

    Ceritanya bagus, menginspirasi.
    baca ceritaku juga ya,

    Comment on chapter Di Batas Rindu
Similar Tags
Intuisi
44      13     0     
Romance
Yang dirindukan itu ternyata dekat, dekat seperti nadi, namun rasanya timbul tenggelam. Seakan mati suri. Hendak merasa, namun tak kuasa untuk digapai. Terlalu jauh. Hendak memiliki, namun sekejap sirna. Bak ditelan ombak besar yang menelan pantai yang tenang. Bingung, resah, gelisah, rindu, bercampur menjadi satu. Adakah yang mampu mendeskripsikan rasaku ini?
Kutu Beku
4      4     0     
Short Story
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang berusaha dengan segala daya upayanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, melepas rindu sekaligus resah, dan dilputi dengan humor yang tak biasa ... Selamat membaca !
The Twins
41      8     0     
Romance
Syakilla adalah gadis cupu yang menjadi siswa baru di sekolah favorit ternama di Jakarta , bertemu dengan Syailla Gadis tomboy nan pemberani . Mereka menjalin hubungan persahabatan yang sangat erat . Tapi tak ada yang menyadari bahwa mereka sangat mirip atau bisa dikata kembar , apakah ada rahasia dibalik kemiripan mereka ? Dan apakah persahabatan mereka akan terus terjaga ketika mereka sama ...
Golden Cage
17      7     0     
Romance
Kim Yoora, seorang gadis cantik yang merupakan anak bungsu dari pemilik restaurant terkenal di negeri ginseng Korea, baru saja lolos dari kematian yang mengancamnya. Entah keberuntungan atau justru kesialan yang menimpa Yoora setelah di selamatkan oleh seseorang yang menurutnya adalah Psycopath bermulut manis dengan nama Kafa Almi Xavier. Pria itu memang cocok untuk di panggil sebagai Psychopath...
Trip
15      7     0     
Fantasy
Sebuah liburan idealnya dengan bersantai, bersenang-senang. Lalu apa yang sedang aku lakukan sekarang? Berlari dan ketakutan. Apa itu juga bagian dari liburan?
Sakura di Bulan Juni (Complete)
68      25     0     
Romance
Margareta Auristlela Lisham Aku mencintainya, tapi dia menutup mata dan hatinya untukku.Aku memilih untuk melepaskannya dan menemukan cinta yang baru pada seseorang yang tak pernah beranjak pergi dariku barang hanya sekalipun.Seseorang yang masih saja mau bertahan bersamaku meski kesakitan selalu ku berikan untuknya.Namun kemudian seseorang dimasa laluku datang kembali dan mencipta dilemma di h...
Mimpi Milik Shira
5      5     0     
Short Story
Apa yang Shira mimpikan, tidak seperti pada kenyataannya. Hidupnya yang pasti menjadi tidak pasti. Begitupun sebaliknya.
Aku dan Dunia
5      5     0     
Short Story
Apakah kamu tau benda semacam roller coaster? jika kamu bisa mendefinisikan perasaan macam apa yang aku alami. Mungkin roller coaster perumpamaan yang tepat. Aku bisa menebak bahwa didepan sana ketinggian menungguku untuk ku lintasi, aku bahkan sangat mudah menebak bahwa didepan sana juga aku akan melawan arus angin. Tetapi daripada semua itu, aku tidak bisa menebak bagaimana seharusnya sikapku m...
She Is Falling in Love
4      4     0     
Romance
Irene membenci lelaki yang mengelus kepalanya, memanggil nama depannya, ataupun menatapnya tapat di mata. Namun Irene lebih membenci lelaki yang mencium kelopak matanya ketika ia menangis. Namun, ketika Senan yang melakukannya, Irene tak tahu harus melarang Senan atau menyuruhnya melakukan hal itu lagi. Karena sialnya, Irene justru senang Senan melakukan hal itu padanya.
27th Woman's Syndrome
44      21     0     
Romance
Aku sempat ragu untuk menuliskannya, Aku tidak sadar menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Orang ketiga? Aku bahkan tidak tahu aku orang ke berapa di hidupnya. Aku 27 tahun, tapi aku terjebak dalam jiwaku yang 17 tahun. Aku 27 tahun, dan aku tidak sadar waktuku telah lama berlalu Aku 27 tahun, dan aku single... Single? Aku 27 tahun dan aku baru tahu kalau single itu menakutkan