Read More >>"> If Is Not You (Kembali) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - If Is Not You
MENU
About Us  

            “Bagaimana? Setelah melarikan diri ke Paris apa hidupmu baik-baik saja sekarang?”

Kwon Ann Ha membenahi posisi, jemarinya terus mengaduk jus mangga yang entah kenapa menjadi pesanannya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan jus mangga yang kental dan berlendir di kerongkongan itu ditenggak habis olehnya. Sementara itu gadis di seberangnya asik menikmati Americano, dengan duduk cantik nan elegan.

Namanya Park Yoo Ra. Dia manusia berdarah campuran Prancis-Korea. Minuman kesukannya adalah Americano dan sahabat sejatinya adalah Kwon Ann Ha. Gadis cerewet yang lebih sering melupakan marga ‘Park’ dan menyebut namanya ‘Yura’ dengan gaya kebarat-baratan itu, nyaris tidak pernah mengeja nama Kwon Ann Ha dengan baik dan benar.

Anna, begitulah cara Yura memanggil sahabatnya. Gadis yang juga mendeklarasikan diri sebagai saudara kembar Ji Soo Blackpink itu sengaja melarikan diri ke Paris usai dicampakkan oleh sang mantan. Otak Ann Ha sudah mencatat semuanya, dan yah… kalau saja Yura tidak patah hati, mungkin persahabatan mereka tidak akan pernah terpisah oleh jarak. Dia tahu betul kalau sebenarnya Yura pun masih sangat mencintai Korea.

Dulu saat sekolah menengah atas, Yura pernah datang ke rumahnya sambil membawa koper besar. Dia bilang, ibunya akan pindah ke Paris bersama sang ayah. Tapi dia tidak suka, dan memutuskan untuk menumpang hidup pada Kwon Anna. Pada dasarnya ia tidak keberatan, hanya saja dia muak dengan ulah jahil Yoo Ra yang suka kelewatan.

Jus mangga ini misalnya. Gadis yang kini asik memotret minumannya itu tahu betul betapa Anna benci mangga. Dan dengan wajah tidak berdosa, sebagai wujud kesal karena Anna datang terlambat, ia memesan jus mangga ukuran besar.

“Seperti yang kau lihat, aku masih begini-begini saja. Tidak ada yang berubah.”

Tiba-tiba Yura meletakkan poselnya, membuang pandangan ke Jendela. Bola matanya menerawang, seolah berusaha keras melukis wajah lelaki itu dalam lamunannya. Tujuannya datang kembali ke Korea adalah membantu bisnis Anna yang sedang dalam krisis besar. Sejak dulu Anna memang suka mencoba dunia bisnis Korea, namun gadis itu tidak pernah menyadari kelemahannya.

Dan tujuan terselubung yang membuat Yura semakin yakin untuk kembali ke sini adalah rasa penasaran akan mantan. Apa kabar dia? Lima tahun bukan waktu yang singkat, namun bukan berarti Yura bisa melupakan lelaki itu dengan mudah. Apapun perihal lelaki itu masih saja membuat rasa ingin tahu Yura membesar.

Dia lelaki yang biasa saja, bahkan cenderung tidak istimewa. Saat di kelas, ia selalu duduk paling belakang. Ia juga sering bolos mata pelajaran. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki hanyalah membuat Yura jatuh cinta. Bahkan hingga detik ini Yura tidak bisa melupakannya, dunianya masih mengitari dunia lelaki itu juga.

            Bohong, siapa yang bisa melupakan mantan terindah dengan mudah? Meski kau membencinya begitu dalam. Walau ia meninggalkanmu demi perempuan lain yang tidak apa-apanya dibanding dirimu yang sempuna. Tetap saja, tidak ada kata move on jika kau tidak memiliki pelampiasan. Seperti itulah yang Yura rasakan, dan buruknya, gadis itu kini sudah mati rasa.

            Nyatanya pergi ke Paris dengan alih-alih mengikuti kedua orang tua tidaklah membuat ia bahagia. Ia masih sering menangis ketika malam tiba. Tiap kenangan yang mereka ukir muncul secara acak, sering kali menghantui bunga tidurnya. Ia tidak suka terbangun, namun dalam tidurpun ia tetap merasa tertekan. Sesakit itu, dan sebenarnya Yura pun masih selemah dulu.

Anna yang menyadari perubahan expresi Yura-pun hanya bisa terdiam. Siapapun mungkin akan melakukan hal yang sama saat menghadapinya. Gadis ini sudah dilukai terlalu banyak. Karena tidak ada satu manusia-pun yang sudi menoleransi penghianatan. Tidak ada yang baik-baik saja saat ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya.

“Oh iya… jadi seburuk apa usahamu itu? Payah! Tidak ku sangka kau sangat buruk itu Anna~Ssi,” cibir Yura berusaha mengalihkan topik. Bukan berarti karena dia tidak suka, tapi ia ingin melupakan semuanya untuk beberapa detik.

“Buruk sekali, aku bahkan sempat menggaji karyawanku dengan uang pribadi, itu pun juga banyak yang ku pecat satu bulan sebelum aku mengundangmu datang ke sini,” gerutu Anna muak dengan krisis moneter yang ia alami. “Maaf sudah memintamu kembali ke sini, tapi ku rasa hanya kau yang bisa membantuku menyelesaikan semua ini.”

“Wedding Organizer kan? Aku pernah bekerja part time di Paris, aku juga sempat mengurus Event Organizer di sana, jadi channel ku lumayan baik. Asal kau bersedia menggajiku lebih tinggi Anna~Ssi,” godanya penuh keangkuhan yang alami.

Anna terkekeh, siapa sangka kalau kesombongan Yura adalah bawaan lahir? Sejak dulu memang Yura merupakan gadis tangguh yang multitalent. Berbeda dengan Anna, ia hanya manusia baik yang memiliki mimpi besar. Ia terlalu baik, sampai-sampai baik menjadi kelemahannya. Dia pernah tertipu dan salah satu penyebab Wedding Organizernya nyaris bangkrut pun juga tertipu.

“Bagaimana dengan namanya? Apa nama Wedding Organizemu itu?”

“Amour Organizer.”

“Mengorganisasi cinta? Hmm… kau pakai bahasa Prancis karena merindukanku ya?”

“Bukan…”

“Terus?”

“Supaya cinta mereka terorganisasi, nggak kandas seperti kisah cintamu yang tragis!” ejek Anna percaya diri.

“Iya, tapi Wedding Organizer mu yang tragis, ya kan?” cibir Yura sakras yang langsung disambar kekehan kecil.

“Kau benar, orang-orang sejenismu menyumpahiku sepertinya,” timpal Anna yang memecahkan tawa keduanya.

“Omong-omong, bagaimana kalau malam ini kita adakan pesta penyambutan?” usul Anna penuh semangat. Sudah lama mereka tidak makan daging sapi bersama, bahkan walau hanya sekedar makan Ramen-pun sepertinya Anna tidak masalah.

“Pesta penyambutannya kau atur besok-besok saja, yang penting sekarang adalah Amour Organizer selamat. Pantas saja kau gagal, isi otakmu Cuma makanan sih… ketauan kan..”

Anna hanya tertawa.

Malam ini Yura tidak sedang ingin kemana-mana. Gadis itu hanya ingin pergi ke apartemennya, menikmati suasanya Korea. Ia ingin mengulas berbagai kenangan. Karena sepertinya Korea tidak banyak berubah, hanya semakin padat.

Hilir mudik pejalan kaki semakin sesak, dan angkutan umum memiliki antrian yang panjang. Yura senang berada di kota ini, Negara ini dan semua yang bersangkut paut dengan tempat ini. Aromanya, suasananya, lalulintasnya, seluruhnya, kecuali satu manusia yang ingin ia musnahkan dari bumi, yakni mantan kekasih.

Ah… lamunan itu lagi. Dan pertemuan sepasang sahabat itu-pun berakhir dingin dengan pikiran masing-masing. Yura dengan dunianya yang masih kelabu sejak ia pergi dan kembali. Sementara Anna dengan pikiran yang ia sendiri tidak bisa dipikirkan lagi.

***

“Jadi bagaimana keputusanmu Ong Seong-woo~Ssi?” Ahn Robin mengetuk-ngetuk pahanya dengan jari. Kakinya disilangkan, duduk mendominasi Ong Seong Woo yang tak mengubah kikuknya sama sekali.

            “Saa—sa-ya akan menikahi putri bapak. Tapi tolong rahasiakan ini dari manapun, beri saya waktu untuk menjelaskan kejadian ini pada agency.”

            Roo Bin tersenyum puas. Kemudian ia menepuk-nepuk pundak Ong Seong Woo penuh kebanggaan. “Baiklah, aku akan menghargai usahamu. Aku akan mengirimkan list keperluan pernikahannya, sekaligus kau boleh menyewa Wedding Organizer yang kau suka.”

            Seong Woo terbelalak. Apakah kali ini pendengarannya juga salah? Memangnya kapan pernikahan itu akan dilakukan? Saking tidak habis pikirnya Seong Woo sampai kehabisan kata-kata.

            “Kenapa? Apa kau tidak memiliki rekomendasi Wedding Organizer terbaik?”

            “Bu—bukan begitu, memangnya pernikahan ini kapan dilakukan?”

            “Hmm.. setelah putriku dinyatakan sembuh total, saat itulah kalian harus menikah. Tenang saja, soal biaya kau hanya perlu mengirimkan notanya padaku setelah melakukan pesanan.”

            Pria tua ini memang gila. Nampaknya ia sudah tidak lagi memiliki akal sehat. Anggap saja dia merupakan seorang CEO Robin Group, namun bukankah ulahnya ini keterlaluan? Ong Seong Wooo merasa seperti diperas habis-habisan. Kehidupannya, bahkan harga dirinya sedang dipermainkan. Tapi lagi-lagi Seong Woo tidak bisa berbuat banyak, demi kebaikan semua orang.

            “Senang bisa menerima ganti rugimu Seong-woo~Ssi. Segera urus pernikahannya sebelum aku yang menyelesaikan semua untuk kalian. Dan yah… aku harus pergi ke London sekarang. Jaga putriku dengan baik.”

            Tanpa basa basi atau sekedar ucapan maaf dan terima kasih, pria itu meninggalkan Seong Woo yang masih membeku di kursinya sendiri. Otaknya mendadak kosong. Pikirannya tidak mau berfungsi sebaik hari-hari kemarin. Selanjutnya apa yang harus ia lakukan? Mengaku pada agency kalau dia menghamili anak orang? Begitu? Iya?

***

Langkah kaki Seong Woo bergerak gontai. Ia tidak mengerti perihal keadaan yang dihadapinya saat ini. Terlalu rumit. Logika dan hati yang disatukan pun tetap saja tidak akan mau mengerti. Oke, dia memang bodoh dan ceroboh, namun haruskah berakhir seperti ini? Menikah dengan gadis asing yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui. Mustahil.

            Seong Woo terus berjalan. Mengikuti arah kakinya yang entah hendak membawanya pergi kemana. Ia tidak perduli lagi dengan masker dan topi. Dia juga mengabaikan tatapan semua orang yang mengagumi dirinya sambil berbisik. Ia tidak perduli dengan paparazzi. Karena ia terjebak dalam satu titik yang membuatnya terjepit.

            Ia merasa hampa, dan hidupnya tidak lagi berarti. Namun, suara melengking membuatnya terpaksa harus mendongak ke arah langit. Menemukan sosok gadis dari lantai empat yang melambaikan tangan sambil menjerit. Bukan, ini bukan adegan bunuh diri. Gadis itu juga sepertinya bukan penggemar dari Ong Seong Woo, karena ia berulangkali mengucapkan kalimat, “Tolong lempar ke sini.”

            “Hyaaa apa kau mendengarku?? Tolong lempar kunci mobil yang ada di dekat kakimu ke atas sini!! Aku akan menangkapnya…” teriak gadis itu seolah ahli dalam menangkap benda sekecil kunci dengan ketinggian yang mustahil.

            “Hei… apa kau tuli?! Apa kau tidak bisa membantuku? Aku membawa banyak barang dan tidak bisa turun!!!” teriaknya lagi.

            Sementara itu Seong Woo menyimak ke atas, kepalanya sama sekali tidak berusaha memastikan kunci mobil di bawah kakinya. Karena entah mengapa, gadis itu terlihat aneh di matanya. Tetapi semakin dipandang, gadis itu semakin kesal. Sambil menggerutu dari lantai atas sampai bawah, akhirnya mereka bertemu tepat di depan apartemen yang nyaris tidak menyisakan tanda-tanda kehidupan.

            “Apa kau tuli? Atau bisu? Minimal kau bisa bilang kalau tidak mau membantuku,” gadis itu membungkuk, menyambar kunci mobilnya yang hanya berjarak beberapa senti dari kaki Ong Seong Woo. Dalam hati ia bersumpah, akan lebih baik jika kunci itu menjatuhi kepala lelaki yang hingga kini masih saja bungkam.

            “Aigoo… laki-laki Korea memang menyebalkan!” cibirnya.

            Seong Woo hanya diam, tidak berusaha menanggapi cibiran yang seharusnya bisa ia balas dengan makian serupa. Tapi ia sedang tidak bersemangat. Rasanya ia justru ingin meminta energy emosi dari gadis yang baru saja menghina dirinya. Kalau boleh jujur, ia pun juga ingin marah dan mengungkapkan semuanya dengan leluasa.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Tentang Kita
25      7     0     
Romance
Semula aku tak akan perna menduga bermimpi pun tidak jika aku akan bertunangan dengan Ari dika peratama sang artis terkenal yang kini wara-wiri di layar kaca.
Sarah
249      196     2     
Short Story
Sarah, si gadis paling populer satu sekolahan. Sarah yang dijuluki sebagai Taylor Swift SMU Kusuma Wijaya, yang mantannya ada dimana-mana. Sarah yang tiba-tiba menghilang dan \'mengacaukan\' banyak orang. Sarah juga yang berhasil membuat Galih jatuh cinta sebelum akhirnya memerangkapnya...
Good Art of Playing Feeling
2      2     0     
Short Story
Perkenalan York, seorang ahli farmasi Universitas Johns Hopskins, dengan Darren, seorang calon pewaris perusahaan internasional berbasis di Hongkong, membuka sebuah kisah cinta baru. Tanpa sepengetahuan Darren, York mempunyai sebuah ikrar setia yang diucapkan di depan mendiang ayahnya ketika masih hidup, yang akan menyeret Darren ke dalam nasib buruk. Bagaimana seharusnya mereka menjalin cinta...
Unthinkable
120      29     0     
Romance
Cinta yang tidak diketahui keberadaannya, namun selalu mengawasi di dekat kita
IMAGINATIVE GIRL
45      18     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
SALAH ANTAR, ALAMAKK!!
593      453     3     
Short Story
EMMA MERASA BOSAN DAN MULAI MEMESAN SESUATU TAPI BERAKHIR TIDAK SEMESTINYA
Mungkin
2      2     0     
Romance
Mungkin dia datang.. Atau mungkin dia hanya menghampiri, Hampir datang. -Karena terkadang kenyataan tak seindah mimpi-
Akhir SMA ( Cerita, Cinta, Cita-Cita )
27      9     0     
Romance
Akhir SMA yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiran seorang cewek bernama Shevia Andriana. Di saat masa-masa terakhirnya, dia baru mendapatkan peristiwa yang dapat mengubah hidupnya. Ada banyak cerita terukir indah di ingatan. Ada satu cinta yang memenuhi hatinya. Dan tidak luput jika, cita-cita yang selama ini menjadi tujuannya..
I FEEL YOU AS A HOME
28      5     0     
Romance
Ini seriusan, lho. Bagi Lentera Kamasean, dikejar-kejar cowok sekece Al Virzha Diemen Salim bukanlah berkah, melainkan musibah. Karena, sejak kehadiran cowok itu, hidupnya yang setenang langit malam di tengah samudra mendadak kacau kayak kota yang baru disapu puting beliung. Kesal, sebal, benci, marah, dan muak, semua itu Lentera rasakan serta lalui seorang diri sampai pahlawannya datang. Lalu ...
Akhirnya Pacaran
385      297     5     
Short Story
Vella dan Aldi bersahabat dari kecil. Aldi sering gonta-ganti pacar, sedangkan Vella tetap setia menunggu Aldi mencintainya. \"Untuk apa pacaran kalau sahabat sudah serasa pacar?\" -Vella- \"Aku baru sadar kalau aku mencintainya.\" -Aldi-