Read More >>"> Renafkar (Friends always understand) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Renafkar
MENU
About Us  

Oke, I’m ready

               Langit sore yang mulai menampakkan awan abu-abu yang pekat, dengan angin yang berhembus cukup kencang membuat tubuh Rena menggigil. Berjalan sendiri dari lapangan menuju depan sekolah, sesekali Rena memeluk tubuhnya sendiri melawan dinginnya udara meskipun tubuhnya sudah dibalut jaket tebal berwarna ungu.

               Hari itu Rena baru saja selesai menjalani rangkaian acara PAB melelahkan yang diadakan tiga hari dua malam di sekolahnya.Dan sekarang, ditambah lagi harus menunggu jemputan kakaknya yang menempuh perjalanan dari rumah ke sekolahnya yang memakan waktu kurang lebih setengah jam. Sebenarnya, tadi Rena sudah ditawar Afkar untuk pulang bersamanya. Tapi Rena menolak karena pada sebelum Afkar mengajaknya, Kak Dony sudah menelfon untuk mengatakan bahwa akan dijemput olehnya.

               Di depan pagar...

               “Rena! Belum pulang?” Sebuah suara membuatnya menoleh kala duduk di bangku depan pagar sekolah.

               “Eh, kakak pramuka ternyata, kirain siapa,” Rena terkekeh dengan ucapannya itu.

               “Apaan sih?” kesal orang itu sambil duduk di samping Rena.

               “Lo sendiri kenapa belum pulang?” tanya Rena.

               “Lo kan tahu setelah acara ini gue ngapain. Gue sama yang lain harus beresin semuanya dulu baru boleh pulang,” ucap orang itu.

               “Oh iya. Kak Joan harus bersih-bersih dulu ya? Maaf kak aku lupa,” kekeh Rena.

               “Ck, lo yang biasa aja dong sama gue, gak usah pake kak- kak segala, kan harusnya gue yang bilang gitu ke lo,” kesal Joan.

               Joan Zafiq, adalah sepupu laki-laki, anak dari adik Ayah Rena yang satu sekolah dengannya. Wajah dan nama lelaki yang agak blasteran meskipun tidak memiliki darah orang luar sedikitpun itu sangat diidolakan banyak wanita termasuk teman-teman Rena yang selalu mengusiknya untuk memperkenalkan mereka dengan Joan. Joan termasuk anggota Pramuka di sekolahnya, dan yang selalu membantu segala keperluan Rena saat acara PAB. Namun, bila tidak saat acara itu, Rena selalu menjadi korban keusilan Joan dan adiknya setiap kali berkunjung ke rumahnya.

               “Ya udah gue masuk dulu ya. Kalo ada apa-apa lo bisa telfon gue, gue online kok nanti,” ucapnya kemudian nyengir.

               “Tumben banget. Biasanya kan lo cuma PHP in gue doang kan?”goda Rena.

               “Mau lo apa sih, Ren? Gue ramah salah, gue jahil salah, gue perhatian salah, dan sekarang gue bantuin lo juga salah, emang sebanyak itu kesalahan gue ke lo?” kesal Joan tanpa jeda.

               Menaikkan alisnya, Rena menahan tawa yang dari tadi ingin ia keluarkan.

               “Yang santai aja dong, Jo. Gue kan cuma bercanda, serius banget tadi pas lo jelasin semuanya. Emang sekesal itu ya?” tanya balik Rena.

               “Tahu ah! Gue masuk dulu. BYE!” Dengan muka cemberut Joan meninggalkan Rena yang masih memandanginya dengan wajah yang sangat tidak merasa bersalah itu.

               “Oke, BYE!” Rena melambaikan tangannya ke arah Joan dengan tersenyum jahil.

               Setelah itu, Rena kembali memandangi jalan raya, dan akhirnya orang yang ditunggunya datang. Dengan cepat Rena segera menghampirinya dan menaiki motornya. Dan kakaknya melajukan motornya dengan cepat.                                                 

***

               Sesampainya di rumah, Rena langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dengan kedua lengan yang terbuka, tubuh yang terlentang, dan pandangan yang menatap langit-langit kamarnya, ia tersenyum lebar. Rena teringat dengan malam dimana ia dan Afkar saling mengungkap rasa. Malam yang penuh makna, malam yang penuh dengan puisi-puisi dari Afkar, dan malam dimana Rena mulai merasakan getaran cinta yang perlahan masuk ke dalam hatinya.

               Seketika, Rena langsung membuka tasnya dan mengambil kamera yang ia bawa saat PAB untuk memotret moment-moment indah disana. Ia terus mengganti-ganti foto yang ia ambil, dan pada akhirnya berhenti pada sebuah jepretan yang menunjukkan wajah Afkar yang tertawa manis tengah berdiri berdampingan dengannya yang juga tersenyum ke arah kamera miliknya. Igo yang mengambilnya saat itu. Rena tersenyum bahagia, karena dapat berfoto bersama Afkar seusai saling mengungkap perasaan.

               “Dek, ayo makan dulu! Dari tadi main kamera muli, ayo buruan!” perintah Dony yang mendadak membuka kamar Rena, dan mengagetkannya.  

               “Ya Ampun, Kak. Nggak bisa ketuk pintu dulu? Kan Rena jadi kaget, untung kamerany nggak jatuh,” bentak Rena.

               “Ya udah maaf, kakak keburu laper soalnya. Udah ah, ayo makan, ditungguin tuh,” Dony meninggalkan kamar dengan pintu yang masih menganga.

               SKIP!                   

               Seusai makan siang, Rena kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengecek grupnya. Tiba-tiba, Anta menelfonnya saat ia sedang membalas chat dari temannya.

               “Halo?” panggil Rena.

               “Renaaaa, selamat yaaa!!! Akhirnya lo jadian juga sama Afkar, hehehe,” suara teriakan Anta menggelegar ke seluruh kamar Rena.

               “Loh kok lo tahu? Gue kan belum cerita apa-apa sama lo,” Rena melonjak kaget.

               “Nanti gue ceritain semuanya ke lo. Oh iya, Ren, lo lagi di rumah nggak?” tanyanya.

               “Iya gue di rumah. Kenapa lo mau mampir?

               “Hehehe iya. Tapi gue nggak sendirian kok, gue udah ngajak Zifa sama Rani, nih mereka,”

               “HALOOO RENAAA!!!” teriak Zifa dan Rani.

               “Haloo,”

               “Ya udah ya, Ren, gue mau otw dulu ke rumah lo. Dan lo harus ceritain semua ke kita, soal pengalaman lo yang baru pertama kali di tembak sama cowok, oke?” kebut Anta.

               “Eh tapi..... tuuuuttt,” Anta menutup telfonnya.

               “Yahh dimatiin lagi. Gue harus gimana coba sama mereka,” Rena bingung.

               Di tengah-tengah kebingungannya, Afkar menelfonnya untuk yan pertama kalinya. Rena dengan gerakan cepat langsung mengangkat telfon Afkar.

               “Halo, Kar?” panggilnya.

               “Halo, Ren. Gimana keadaan kamu? Capek nggak tadi?” Afkar menanyakan keadaannya.                  

               “Eee, kalo dibilang capek yaa capek sih, tapi aku seneng kok, hehe,” kekeh Rena.

               “Seneng karena aku tembak?” goda Afkar.

               Ha? Duhh, kenapa lo tanya itu segala sih, batin Rena.

               “Emm, mungkin salah satunya juga itu.”

               “Hahahahahaha,” Afkar tertawa.

               “Kok kamu ketawa? Apanya yang lucu?”

               “Kamu itu polos-polos lucu, Ren. Makanya aku suka,” aish Afkar membuat Rena deg-degan lagi.

               Rena tertawa kecil.

               “Aku masih nunggu jawaban kamu, Ren. Kapan itu, asalkan kamu siap melalui semua kisah bersamaku,”

               “Iya, Kar. Aku akan bilang saat aku siap,”

               Dan tiba-tiba...

               “RENA!!” suara teriakan Anta, Zifa dan Rani memutus obrolannya dengan Afkar.

               “Eh, sssttt. Gue lagi telfon sama Afkar,” lirih Rena.

               Ketiganya, sama-sama menutup mulutnya masing-masing dan membiarkan Rena mengobrol dengan Afkar.

               “Suara siapa tuh? Kok banyak banget,” tanya Afkar karena di telfonnya terdengar teriakan orang banyak memanggil nama Rena.

               “Itu temen-temen aku ada yang mampir ke rumah, dan mereka emang suka teriak-teriak,” Rena melirik ngeri ke ketiga temannya.

               “Ooh, ya udah kalo gitu aku tutup dulu ya telfonnya? Ada satu kata yang belum tersampaikan ke kamu,”

               “Apa itu?”

               “I Love You, Ren,” dengan cepat Afkar menutup telfonnya.

               Wajah Rena berubah menjadi merah merona. Anta, Zifa dan Rani menertawakan Rena, karena setelah menutup telfonnya, Rena mematung dengan tersenyum.

               “Ciye ciye, ada yang lagi kasmaran nih, Guys,” Anta mendekati Rena diikuti oleh teman-temannya yang lain.

               Serentak Zifa dan Rani bernyanyi,”Benakku merasakan getaranmu...

               “Asek yo,” tingkah konyol mereka muncul.

               “Mencintaiku seperti ku mencintaimu. Sungguh kasmaran aku kepadamuuu...” lanjut mereka bernyanyi dengan berdiri di atas kasur Rena serta mengangkat kedua tangan.

               Setelah lirik lagu usai, mereka saling tepuk-menepuk tangan satu dengan yang lain. Rena hanya tersenyum dan menggelengkan kepala dengan tingkah laku ketiga temannya. Ketiganya pun kembali duduk mengelilingi Rena.

               “Udah puas ngejek gue?”

               “Puas dong!” teriak ketiganya dengan mengacungkan jempol

               “Eh, Ren, tadi lo ngobrolin apa sama Afkar?” Rani memulai pertanyaannya.

               “Nggak ngomongin apa-apa,”

               “RENA!!” ketiganya ngegas.

               Rena menoleh ke kanan dan ke kiri,” Apa sih? Emang nggak ngomongin apa-apa kok,”

               “Ren, kita tuh jauh-jauh kesini cuma pengen denger cerita lo. Masa lo nggak mau cerita sedikit pun sama kita?” jelas Anta.

               “Salah sendiri, kenapa dateng kesini? Gue nggak nyuruh kan?”

               “Ck, udah yuk pulang aja,” Anta beranjak dari kasur Rena.

               “Ya udah pulang aja,” santai Rena.

               “Renn, ayo dong ceritain ke kita gimana Afkar bisa nembak lo,” rengeknya.

               “Ya udah iya, gue ceritain. Tapi janji ya, jangan kasih tahu siapapun? Karena ini masih belum pasti,”

               “Belum pasti gimana maksud lo?” Zifa bingung.

               “Gue nerima cintanya,”

               “Ha? Serius lo, Ren? Lo nolak cinta dari cowok terkeren di sekolah?” Rani terkejut.

               “Bukan nolak, tapi gue minta waktu buat jawab pertanyaannya,”

               “Emang pertanyaannya gimana?” sahut Anta bersemangat.

               “Kalo nggak salah...” Rena mencoba mengingat.

               “Aku boleh nggak melindungi kamu mulai dari sekarang? Asal kamu tahu, aku suka sama kamu. Dan kamu mau nggak jadi milikku? Gitu,” jelas Rena yang masih mengingat kata-kata itu.

               “Aaaa, so sweet,” ketiganya alay.

               “Udah nggak usah alay,” Rena mengibaskan telapak tangannya ke wajah ketiga temannya.

               “Terus mau sampe kapan lo gantungin Afkar kayak gitu?” Anta heran.

               “Gue juga nggak tahu mau sampe kapan. Soalnya gue belum siap untuk pacaran,”

               “Udahlah, lo terima aja cintanya. Karena gue yakin banget kalo Afkar itu akan sepenuhnya buat lo bahagia,” Zifa menepukkan kedua telapak tangannya.

               “Iya, Ren, bener apa kata Zifa. Afkar orangnya baik banget, penyayang keluarga, kocak, sering buat orang tersenyum, dan yang paling penting...” Anta menjeda kalimatnya.

               “Apa?”

               “Dia kalo milih cuma satu, dan nggak akan ganti selamanya. Kayak kisah lo sekarang, kalo Afkar udah nyatain perasaannya ke lo, gue jamin deh dia nggak pindah ke cewek lain,” jelas Anta.

               Rena terdiam, dan mulai memikirkan kata-kata yang baru saja Anta ucapkan. Perlahan Rena menunduk.

               “Ren, lo nggak apa-apa kan?” Zifa menggoyangkan  tubuh Rena.

               Rena mendongakkan kepalanya,” Gue nggak apa-apa kok,” Rena tersenyum.

               “Jadi, apa keputusan lo?” tanya Anta.

               “Gue akan terima cintanya,” kalimat Rena membuat ketiga temannya berteriak kembali.

               “Yeeaayyy!!!!”

               “Lo tenang aja, Ren, besok kita bakal bantuin lo, Oke?” tawar Rani yang dibalas oleh senyuman manis Rena.

***

               “Go, kok lo mainnya curang sih. Nggak adil lo,” suara Yoga memberontak.

               “Lo yang mainnya curang, gue dari tadi udah nurut sama peraturan kok,” Igo membela diri.

               Pukul 19.30, kamar Afkar mulai tercemar dengan kehadiran dua berang-berang, yaitu Yoga dan Igo yang sejak tadi siang masih bermain playstation milik Afkar.

               “Ck, lo berdua bisa diem nggak? Berisik sendiri dari tadi,” Afkar melempari kedua temannya dengan bantal.

               “Ya, sorry, Kar. Lagian si Yoga nih, nuduh gue terus dari tadi. Udah tahu dia yang curang,” sebel Igo.

               “Eh, malah nyalahin gue lagi. Lo tuh yang curang,” Yoga kembali bersuara.

               “Lo yang curang,” Igo yakin.

               “Lo,” Igo dan Yoga sama-sama saling tuduh.

               Ish! Kayak anak kecil aja deh,

               “Ck, malah teriak-teriak. Kalo udah gue bilang diem ya diem, jangan malah teriak-teriak,” Afkar ngegas.

               Akhirnya Igo dan Yoga diam.

               “Iye iye, Kar. Lo kenapa sih? Ngegas mulu dari tadi?” heran Yoga.

               Afkar merebahkan tubuhnya menghadap ke atas langit kamarnya sambil memetik-metikkan gitarnya.

               “Gue lagi pengen merenung. Jadi lo berdua nggak usah berisik,”

               “Merenungin apa lo?” Yoga menoleh ke Afkar.

               “Paling ngrenungin jawaban Rena,” tiba-tiba Igo berkata.

               “Ck, Igo!” peringat Afkar.

               “Rena? Ada hubungan apa lo sama dia, Kar?”

               “Perlu gue nggak nih, Kar,” tawar Igo yang masih sibuk dengan gamenya.

               “Nggak usah, biar gue sendiri yang bilang,”

               “Gue udah nembak Rena kemaren malam,”

               “What? Yang bener lo, Kar?” Yoga berubah alay.

               “Alay lo, Ga,” Igo memukul punggung Yoga.

               “Terus-terus Rena jawab apaan, Kar?” Yoga kepo.

               “Dia belum jawab. Dia bilang dia butuh waktu untuk jawab semua pertanyaan gue kemaren,”

               “Yahh, gantung dong,”

               Suasana kembali hening, Yoga berhenti bermain dan menonton streaming youtub, Igo masih sibuk bermain game, dan Afkar menaikkan kakinya ke tembok, sementara kepalanya menghadap ke atas langit.

               “Kar?” panggil Igo.

               “Apaan?”

               “Kalo misalnya Rena nolak lo gimana?”

               “Gue akan tetap berteman baik sama dia, kalo bisa jadi sahabatnya sekalian. Tapi gue yakin Rena terima cinta gue, karena gue tulus cinta sama dia,”

               “Berarti rencana lo besok adalah?”

               “Gue bakal nungguin jawaban Rena sambil main basket,”

               “Sip, gue bakal jadi musuh lo, oke?” tiba-tiba Yoga bangkit dan mengejutkan kedua temannya.

               Igo sudah merasa kesal,”Eh, bener-bener ya lo!! Dasar gajah!! Ngagetin aja,” Igo melemparkan bantal ke muka Yoga, dilanjutkan dengan mengelus dadanya.

               Afkar terkekeh, diikuti oleh Yoga yang tertawa riang melihat reaksi Igo yang sedang kesal dengannya.

***

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dede_pratiwi

    rena dan afkar menjadi renafkar, hehe... nice hit. keep writing. udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter Kata Pengantar
Similar Tags
Renjana: Part of the Love Series
3      3     0     
Romance
Walau kamu tak seindah senja yang selalu kutunggu, dan tidak juga seindah matahari terbit yang selalu ku damba. Namun hangatnya percakapan singkat yang kamu buat begitu menyenangkan bila kuingat. Kini, tak perlu kamu mengetuk pintu untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Karena menit demi menit yang aku lewati ada kamu dalam kedua retinaku.
Sejauh Matahari
5      5     0     
Fan Fiction
Kesedihannya seperti tak pernah berujung. Setelah ayahnya meninggal dunia, teman dekatnya yang tiba-tiba menjauh, dan keinginan untuk masuk universitas impiannya tak kunjung terwujud. Akankah Rima menemukan kebahagiaannya setelah melalui proses hidup yang tak mudah ini? Happy Reading! :)
Pangeran Benawa
198      68     0     
Fan Fiction
Kisah fiksi Pangeran Benawa bermula dari usaha Raden Trenggana dalam menaklukkan bekas bawahan Majapahit ,dari Tuban hingga Blambangan, dan berhadapan dengan Pangeran Parikesit dan Raden Gagak Panji beserta keluarganya. Sementara itu, para bangsawan Demak dan Jipang saling mendahului dalam klaim sebagai ahli waris tahta yang ditinggalkan Raden Yunus. Pangeran Benawa memasuki hingar bingar d...
Meta(for)Mosis
110      20     0     
Romance
"Kenalilah makna sejati dalam dirimu sendiri dan engkau tidak akan binasa. Akal budi adalah cakrawala dan mercusuar adalah kebenaranmu...." penggalan kata yang dilontarkan oleh Kahlil Gibran, menjadi moto hidup Meta, gadis yang mencari jati dirinya. Meta terkenal sebagai gadis yang baik, berprestasi, dan berasal dari kalangan menengah keatas. Namun beberapa hal mengubahnya menjadi buru...
Zona Erotis
5      5     0     
Romance
Z aman dimana O rang-orang merasakan N aik dan turunnya A kal sehat dan nafsu E ntah itu karena merasa muda R asa ingin tahu yang tiada tara O bat pelipur lara T anpa berfikir dua kali I ndra-indra yang lain dikelabui mata S ampai akhirnya menangislah lara Masa-masa putih abu menurut kebanyakan orang adalah masa yang paling indah dan masa dimana nafsu setiap insan memuncak....
Gagal Menikah
24      15     0     
Fan Fiction
Cerita ini hanya fiktif dan karanganku semata. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter dan kejadian, semua itu hanya kebetulan belaka. Gagal Menikah. Dari judulnya udah ketahuan kan ya?! Hehehe, cerita ini mengkisahkan tentang seorang gadis yang selalu gagal menikah. Tentang seorang gadis yang telah mencoba beberapa kali, namun masih tetap gagal. Sudut pandang yang aku pakai dalam cerita ini ...
Delilah
99      39     0     
Romance
Delilah Sharma Zabine, gadis cantik berkerudung yang begitu menyukai bermain alat musik gitar dan memiliki suara yang indah nan merdu. Delilah memiliki teman sehidup tak semati Fabian Putra Geovan, laki-laki berkulit hitam manis yang humoris dan begitu menyayangi Delilah layaknya Kakak dan Adik kecilnya. Delilah mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan pada akhirnya membuat Ia trauma akan ses...
Mendadak Pacar
104      35     0     
Romance
Rio adalah seorang pelajar yang jatuh cinta pada teman sekelasnya, Rena. Suatu hari, suatu peristiwa mengubah jalannya hari-hari Rio di tahun terakhirnya sebagai siswa SMA
Two World
27      9     0     
Fantasy
Ketika mimpimu terasa nyata Hingga kamu merasa bingung dunia mana yang seharusnya kamu tinggali ...
Dialogue
34      3     0     
Romance
Dear Zahra, Taukah kamu rasanya cinta pada pandangan pertama? Persis senikmat menyesapi secangkir kopi saat hujan, bagiku! Ah, tak usah terlalu dipikirkan. Bahkan sampai bertanya-tanya seperti itu wajahnya. Karena sesungguhnya jatuh cinta, mengabaikan segala logika. With love, Abu (Cikarang, April 2007) Kadang, memang cinta datang di saat yang kurang tepat, atau bahkan pada orang yang...