Read More >>"> When You Reach Me (delapan; tentang kencan-kencan yang teramat canggu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - When You Reach Me
MENU
About Us  

"YANG WAKTU ITU ngelabrak gue di kamar mandi itu temen-temen kamu, kan?"

Dahi Malia mengernyit. Se-enggaknya hingga tanggal 21 nanti, aku masih terjebak dalam hukuman membersihkan taman sekolah dengan cewek itu—hari ini, kami sedang mencopot dekorasi-dekorasi bendera sisa perayaan tujuh belasan kemarin. Malia sedang mencabut gantungan gelas-gelas plastik berwarna merah-putih di langit-langit koridor kelas 10 yang terletak dekat taman sekolah. Cewek itu bahkan hanya perlu melompat satu kali untuk melakukannya—tingginya yang kayaknya melebihi 170 sentimeter jelas memberinya keuntungan. Aku, di sisi lain, harus berdiri di atas kursi untuk menggapai rantai-rantai dari kertas minyak yang digantung di kusen pintu kelas.  

Sesi bersih-bersih kami belakangan ini agak menyebalkan, omong-omong. Seringkali Malia hanya mengerjakan tugasnya sebentar sebelum pergi karena "rapat OSIS" atau "ada les" atau alasan-alasan basi lainnya, meninggalkanku harus mengerjakan segalanya sendiri. Dan Malia bahkan nggak kena marah guru pengawas karenanya. Aku mulai bertanya-tanya apakah diam-diam anak-anak OSIS mendapat perlakuan istimewa di sekolah ini, karena mereka menerima dengan begitu saja alasan-alasan yang dilontarkan Malia tiap kali dia harus kabur dari kewajibannya.

"Ngelabrak apaan?" tanya Malia, pura-pura nggak tahu.

"Masak kamu nggak tahu?" Aku turun dari bangku plastik tempat aku berdiri sedari tadi. "Minggu lalu temen-temen kamu nggak ada yang cerita kalo mereka ditampar sama adik kelas belagu yang berani ngelawan senior atau apa?" Aku mengatakan ini semua dengan nada kelewat santai dan agak terkesan menantang, seakan-akan aku sama sekali nggak langsung menyesal dan mencurahkan segala isi hatiku di dalam sebuah surat untuk orang yang bahkan nggak kukenal setelah melakukan hal itu.

Setelah kejadian itu, omong-omong, aku sempat diadukan mereka ke guru BK lantaran "menyerang kakak kelas secara fisik". Meski demikian, lantaran para guru BK nggak dapat menemukan bukti kalau aku memang menampar mereka, kami pada akhirnya dipaksa untuk saling meminta maaf. Bu Laras sempat memberi kami permen lollipop seakan-akan kami ini anak TK sebagai hadiah. 

Mendengar hal ini, Malia langsung menjatuhkan gelas-gelas yang dipegangnya dan menatapku nanar. "Itu bukan aku yang nyuruh, asal kamu tahu," ucapnya.

Walaupun dalam hati aku juga kesal setengah mati, aku membalas dengan nada kelewat tenang, "Gara-gara kamu, aku jadi dijauhin satu sekolah."

"Salah kamu sendiri." Malia memutar matanya. "Kamu juga nggak ada hormat-hormatnya banget sama kakak kelas."

Mendengar perkataan Malia yang satu itu, emosi yang sedari tadi kupendam nggak bisa lagi kutahan. Dengan nada bicara yang kali ini meninggi, aku setengah berteriak, "Emangnya aku perlu, gitu, ngehormatin kakak kelas yang seenaknya dan gila kuasa kayak kamu?" Setelah mengatakan itu, aku mengambil tasku dan langsung berjalan pergi dari koridor tempat kami mencopot dekorasi-dekorasi tujuh belasan. Aku nggak peduli kalau aku meninggalkan Malia mengerjakan tugasnya sendiri—toh, selama ini dia juga seringkali melakukan hal yang sama terhadapku.

"Giana!" Malia meneriakkan namaku, namun aku nggak peduli. Aku terus berjalan. "Woi! Sadar nggak kalau ini pekerjaan belum selesai?"

Mau nggak mau, aku kembali menoleh. "KAMU SENDIRI SELAMA INI KEMANA SAAT GUE NGEBERSIHIN ITU TAMAN SENDIRIAN?" teriakku lantang sebelum kembali berjalan. Perasaanku campur aduk.

Saat aku dan Malia bertengkar hebat di sekolah tadi siang, aku nyaris lupa kalau Malia adalah pacar dari kakakku sendiri

Saat aku dan Malia bertengkar hebat di sekolah tadi siang, aku nyaris lupa kalau Malia adalah pacar dari kakakku sendiri. Yang berarti aku harus sering-sering berhadapan dengan wajah juteknya di luar hukuman yang diberikan Pak Danang pada kami. Dan setelah segala sesuatu yang terjadi hari ini, bertemu dengan Malia lagi jelas-jelas bukan ide yang bagus.

Meski demikian, di sinilah aku, duduk di samping Genta yang sedang memegang tangan Malia malu-malu saat sebuah adegan menegangkan muncul di layar bioskop. Ini semua gara-gara Mama menyuruhku untuk ikut dengan Genta saat dia mengumumkan kalau malam ini dia mau jalan berdua dengan Malia.

Saat aku menanyakan apakah Mama secemas itu terhadap kemungkinan apabila Genta dan Malia mulai melakukan hal-hal nggak senonoh, Mama menggelengkan kepala beliau dan menjawab, "Mama cuma kasihan sama kamu, Nak. Selama ini Mama nggak pernah melihat kamu jalan-jalan sama temen kamu."

Aku memberitahu Mama kalau aku bahkan nggak punya teman, dan Mama malah melihat itu sebagai satu lagi alasan Kenapa Aku Harus Ikut Genta Jalan Sama Ceweknya. "Siapa tahu kamu juga bisa temenan sama Malia," tambahnya dengan nada riang.

Kalau mau mengutip perkataan Cher Horowitz di film Cluelessas if!

Yang ada, aku malah menjadi obat nyamuk di antara musuhku dan kakakku sendiri. Saat aku berusaha untuk fokus ke film yang diputar, aku nggak bisa nggak sesekali melirik Genta dan Malia yang saling menyenderkan diri ke satu sama lain walaupun selama ini kukira Genta bukan tipe yang gemar mengumbar kemesraan di depan publik. Aku juga nggak pernah menduga kalau Genta, sang pianis modern classic muda yang seleranya terhadap segala sesuatu cenderung pretensius, ternyata masih mau mengajak pacarnya menonton film horor murahan di Paris van Java.

Dalam hati, aku bertanya-tanya bagaimana rasanya mencintai seseorang hingga kamu rela melakukan hal-hal yang kamu kira nggak akan pernah kulakukan untuknya. Aku penasaran seperti apa rasanya jatuh cinta. Aku sering melihat orang-orang jatuh cinta di sekitarku—mulai dari tokoh-tokoh fiktif di film-film, anak-anak di kelasku yang curhatannya nggak sengaja kudengar, Mama dan Papa, hingga sekarang Genta dan Malia—namun entah kenapa sejauh ini aku sendiri nggak pernah mengalaminya. Jatuh cinta, maksudku.

Karena aku tahu hal itu akan membuatku semakin terlihat kayak obat nyamuk bagi Genta dan Malia, aku buru-buru mengenyahkan pikiran itu dan kembali fokus ke layar bioskop. 

Seusai menonton film, kami makan di salah satu restoran barbecue Korea yang terletak di bagian depan mall. Genta dan Malia berhadap-hadapan sementara aku duduk di sebelah Genta. Kami terlihat seperti keluarga kecil beranak satu yang hangat—fakta kalau aku terlihat mungil saat disandingkan dengan mereka yang tinggi menjulang  semakin menguatkan kesan ini—walaupun aku sebenarnya sama sekali nggak akur dengan mereka berdua. Bahkan walaupun Genta kakak kandungku sendiri.

Yah, walaupun Genta berusaha sebisa mungkin untuk mendekatkan dirinya padaku.

Sambil menunggu menu yang kami pesan tiba, dia menepuk bahuku dan bertanya, "Gi, kok kamu nggak ngobrol sih, sama Malia?"

Aku ingin memberi tahu Genta kalau dia mulai terdengar kayak Mama, namun aku memutuskan untuk nggak melakukannya, Aku dan Malia hanya menatap satu sama lain nggak suka. Rasanya bahkan lebih canggung dibanding saat Malia makan steak bareng kami seusai resital Genta tempo hari.

Dalam hati, sebenarnya aku ciut saat melihat Malia. Cewek itu merupakan kebalikan dariku dalam berbagai aspek—dia cantik, modis, dan tahu cara melakukan hal-hal kayak memakai make up natural atau mencatok rambut agar kelihatan agak keriting di bawah. Aku, di sisi lain, terlihat amat lusuh dalam balutan kaus Joger hitam warisan dari Genta dan celana jeans yang sudah kumiliki dari SMP. Terakhir kali aku mencoba menggunakan catok, rambutku terbakar, yang merupakan alasan kenapa aku sekarang memotongnya pendek tanpa gaya. 

"Lagi nggak mood," aku akhirnya menjawabnya singkat.

"Lebih tepatnya, aku lagi males berurusan sama dia," Malia mengoreksi. Musuhku ini, yang merupakan kebalikan dariku, untuk pertama kalinya mewakili perasaanku.

"Kalian kenapa, sih?" tanya Genta. "Perasaan kalo aku perhatiin kalian nggak pernah akur kalau bareng. Waktu kemarin makan sekeluarga juga." Kali ini, Genta menoleh kepadaku.

Malia langsung bangkit dari tempat duduknya "Dia—"

"Mending soal itu jangan dibahas di sini, deh," dengan tegas, aku buru-buru memotong perkataan Malia. Kemudian, khususnya kepada Genta, aku melanjutkan, "Udah, Gen, mending kamu nikmatin aja ini malam berdua sama dia. Aku nggak usah ikut."

Aku buru-buru mengambil tasku dan berjalan keluar dari restoran itu, namun Genta buru-buru menarik lenganku dan memaksaku untuk kembali duduk. "Udah, Gi," Genta berusaha menenangkanku. "Udah, kalau kamu memang lagi nggak mood banget, mending kamu diem aja."

Tepat setelah Genta menenangkanku, pesanan kami datang. Kami bertiga makan dalam keheningan yang amat canggung, dan aku terutama berharap segala sesuatu dapat cepat selesai.

 

a/n; gAES sorry for the v slow updates kubaru selesai uts soalnya ;-;

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
My Noona
31      16     0     
Romance
Ini bukan cinta segitiga atau bahkan segi empat. Ini adalah garis linear. Kina memendam perasaan pada Gio, sahabat masa kecilnya. Sayangnya, Gio tergila-gila pada Freya, tetangga apartemennya yang 5 tahun lebih tua. Freya sendiri tak bisa melepaskan dirinya dari Brandon, pengacara mapan yang sudah 7 tahun dia pacariwalaupun Brandon sebenarnya tidak pernah menganggap Freya lebih dari kucing peliha...
Memoria
3      3     0     
Romance
Memoria Memoria. Memori yang cepat berlalu. Memeluk dan menjadi kuat. Aku cinta kamu aku cinta padamu
CINLOV (KARENA CINTA PASTI LOVE)
133      44     0     
Romance
Mala dan Malto dua anak remaja yang selalu memperdebatkan segala hal, Hingga akhirnya Valdi kekasih Mala mengetahui sesuatu di balik semua cerita Mala tentang Malto. Gadis itu mengerti bahwa yang ia cintai sebenarnya adalah Malto. Namun kahadiran Syifa teman masa kecil malto memperkeruh semuanya. Kapur biru dan langit sore yang indah akan membuat kisah cinta Mala dan Malto semakin berwarna. Namu...
Kasih yang Tak Sampai
4      4     0     
Short Story
Terkadang cinta itu tak harus memiliki. Karena cinta sejati adalah ketika kita melihat orang kita cintai bahagia. Walaupun dia bahagia bukan bersama kita.
She Is Mine
2      2     0     
Romance
"Dengerin ya, lo bukan pacar gue tapi lo milik gue Shalsa Senja Arunika." Tatapan Feren makin membuat Shalsa takut. "Feren please...," pinta Shalsa. "Apa sayang?" suara Feren menurun, tapi malah membuat Shalsa bergidik ketakutan. "Jauhin wajah kamu," ucapnya. Shalsa menutup kedua matanya, takut harus menatap mata tajam milik Feren. "Lo pe...
PALETTE
5      5     0     
Fantasy
Sinting, gila, gesrek adalah definisi yang tepat untuk kelas 11 IPA A. Rasa-rasanya mereka emang cuma punya satu brain-cell yang dipake bareng-bareng. Gak masalah, toh Moana juga cuek dan ga pedulian orangnya. Lantas bagaimana kalau sebenarnya mereka adalah sekumpulan penyihir yang hobinya ikutan misi bunuh diri? Gak masalah, toh Moana ga akan terlibat dalam setiap misi bodoh itu. Iya...
Crystal Dimension
5      5     0     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
When I Was Young
44      24     0     
Fantasy
Dua karakter yang terpisah tidak seharusnya bertemu dan bersatu. Ini seperti membuka kotak pandora. Semakin banyak yang kau tahu, rasa sakit akan menghujanimu. ***** April baru saja melupakan cinta pertamanya ketika seorang sahabat membimbingnya pada Dana, teman barunya. Entah mengapa, setelah itu ia merasa pernah sangat mengenal Dana. ...
Sahabat Selamanya
1      1     0     
Short Story
cerpen ini bercerita tentang sebuah persahabatan yang tidak ernah ada akhirnya walaupun mereka berpisah jauh
Suara Kala
58      37     0     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...