Read More >>"> When You Reach Me (enam; dua anak yang tidak memiliki teman) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - When You Reach Me
MENU
About Us  

[ GIANA ]

 

ATAU GIMANA KALAU lewat Line aja biar lebih enak—ID-mu apa, BTW?

Aku membaca ulang pesan langsung yang dikirimkan Evan Ferdian—sahabat penaku itu, menurut nama yang tertulis di bio Instagram-nya—padaku. Seumur-umur, aku nyaris nggak pernah chatting pribadi dengan cowok, kecuali jika ditanyai mengenai tugas sekolah itu termasuk. Aku bukan tipe yang dengan mudahnya mau menyerahkan hal pribadi kayak ID Line ke seseorang yang nggak kukenal. Evan, walaupun secara teknis akan menjadi "sahabat"-ku sampai se-enggaknya empat bulan ke depan, jelas-jelas merupakan orang asing bagiku.

Maka itulah yang kuberitahu ke Evan, dan hanya beberapa detik kemudian, ia langsung membalasnya.

evanisme

tapi kita nggak akan selamanya jadi orang asing, kan?

Aku mulai berpikir kalau Evan ini tipe yang suka mainin cewek, atau se-enggaknya tukang modus. Yang sifatnya nggak beda jauh dengan cowok-cowok di kelasku yang memperebutkan cewek tercantik untuk dijadikan sahabat pena. Aku sendiri nggak pernah berurusan dengan cowok-cowok kayak begitu—salah satu sisi positif dari nggak disukai kebanyakan anak di sekolah, namun tahun lalu aku pernah melihat salah satu teman sekelasku menangis gara-gara cowok yang disukainya apparently malah jadian dengan cewek lain setelah dia "digantung" selama sebulan. Aku nggak terlalu tahu dan nggak terlalu peduli. Cinta—cinta dalam bentuk romantis, dalam hal ini—merupakan sebuah konsep yang amat asing bagiku.

Then again, jika dilihat dari foto-fotonya di Instagram, Evan kayaknya sudah punya pacar, sehingga motif tersebut kesannya agak nggak mungkin. Kecuali kalau dia memang seorang cowok brengsek yang berniat menyelingkuhi cewek manis berambut panjang yang banyak menghiasi feed Instagram-nya itu.

Mereka, omong-omong, terlihat kelewat serasi.

evanisme

atau gimana kalau kamu aja yang nge-add? @duapuluhdelapanapril

evanisme

pake @ ya itu

Tadinya aku ingin menanyakan kenapa nama ID-nya duapuluhdelapanapril, namun kemudian aku ingat kalau itu merupakan tanggal lahirnya. Bukannya mengetikkan ID-nya di Line dan menambahkannya sebagai teman, aku memutuskan untuk mengetikkan balasan terakhir untuknya.

gianatampubolon

kita nggak boleh bicara selain di surat

Evan hanya membaca pesan yang kukirimkan tanpa membalasnya, yang kurasa merupakan hal yang bagus. Dalam hati, aku merasa agak nggak beruntung karena harus mendapatkan cowok tukang modus sebagai sahabat penaku. Satu lagi kesialan yang kualami selama hampir sebulan terakhir aku menjadi anak SMA, selain bermusuhan dengan pacar kakakku sendiri dan menjadi anak tersisihkan di sekolah. Aku mengambil buku cetak Matematika-ku dan iseng mengerjakan beberapa soal supaya aku dapat bilang ke Evan kalau aku sedang belajar kalau cowok itu mengirimiku pesan lagi.

Setelah lima belas menit aku berkutat dengan garis interval dan himpunan penyelesaian, sebuah notifikasi baru tahu-tahu muncul di layar ponselku. 

Evan Alamsyair

hai giana :)

Notifikasi itu berasal dari Line—entah bagaimana Evan bisa menemukanku walaupun aku bahkan belum mengetikkan ID-nya. 

giana

kamu tahu ini aku dari mana?

Evan Alamsyair

ternyata id kamu ada di bio instagram wkwk

Evan Alamsyair

eh

Evan Alamsyair

kok ngetik "wkwk" kesannya awkward banget ya

Evan Alamsyair

kayak

Evan Alamsyair

memangnya ada gitu orang yang ketawanya "wkwk" di kehidupan sehari-hari?

Evan Alamsyair

sdnfosadfjsansd 

Aku terkekeh melihat bocah Surabaya ini menanyakan arti dari wkwk dalam hati dan mengekspresikan rasa frustrasinya lewat ketikan huruf-huruf random, walaupun separuh dari diriku masih merasa agak terganggu akan presensinya di notifikasi ponselku.

Kemudian, aku teringat, aku baru saja meluapkan seluruh isi hatiku di dalam suratku, yang mungkin sudah dia baca. 

giana

kamu belum baca suratku kan?

giana

jangan dibaca langsung dibalas aja soalnya isinya malu-maluin

giana

tulis aja namaku evan blablabla guru kamu juga nggak bakal merhatiin kok

Evan Alamsyair

sudah

Evan Alamsyair

sudah baca, maksudnya, bukan sudah bikin balasan

Evan Alamsyair

yang kamu suruh aku nulis namaku evan blablabla itu

Evan Alamsyair

aku belum

Evan Alamsyair

belum bikin surat balasannya, maksudku

Evan Alamsyair

aduh gimana sih bilangnya

Aku kembali ingat akan cerita mengenai Malia dan anak-anak di sekolah dalam suratku, dan mengapa aku bisa dengan begitu cepat percaya pada orang yang bahkan belum pernah kulihat secara langsung wujudnya. Sadar akan betapa anehnya kalimat seperti aku rasa aku hanya butuh teman yang mungkin mau membaca tulisan tentang masalahku mungkin terdengar—ehm, terlihat—di mata Evan, aku membenturkan kepalaku di atas meja belajar. Giana bodoh.

Nggak lama kemudian, Evan mengirimiku pesan lagi. 

Evan Alamsyair

anyway isinya nggak aneh, kok

Evan Alamsyair

malahan itu jadi alasan kenapa aku sampe nyari-nyari instagram kamu supaya kita bisa ngobrol di luar tugas surat-suratan

Evan Alamsyair

you seem interesting, i guess?

Aku memutar mataku melihat Evan kembali ke mode cowok-modus-ingin-pedekate. Aku dapat membayangkan anak itu sedang menulis surat balasannya padaku, lengkap dengan gombalan-gombalan ala Dilan di dalamnya. Giana, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Nggak tahu kalau nanti kamu udah nulis balasan. 

giana

jadi kamu mau pedekate, gitu?

Nggak butuh waktu lama bagi Evan untuk membalas apa yang baru saja kuketik. 

Evan Alamsyair

aku cuma pengen punya teman

Evan Alamsyair

aku nggak punya teman

Evan Alamsyair

jadi kurang lebih aku paham sama apa yang kamu tulis di surat itu

Percakapanku dengan sahabat pena baruku kemarin malam berakhir dengan sebuah perjanjian yang kubuat dengan Evanbahwa kami akan memiliki dua medium untuk saling berhubungan, melalui surat yang akan kami tulis ke satu sama lain dan lewat Line


Percakapanku dengan sahabat pena baruku kemarin malam berakhir dengan sebuah perjanjian yang kubuat dengan Evan—bahwa kami akan memiliki dua medium untuk saling berhubungan, melalui surat yang akan kami tulis ke satu sama lain dan lewat Line. Dalam surat, kami akan menceritakan hal-hal penting yang terjadi dalam kehidupan kami, misalnya kalau kami melalui UTS atau berulang tahun atau apa. Sedangkan Line akan digunakan untuk percakapan-percakapan tidak penting, seperti saat salah satu dari kami ingin curhat atau meminta bantuan PR atau apa. Aku bisa mengetahui seperti apa perasaan Evan dalam suatu waktu, walaupun aku nggak tahu Evan sendiri sedang ngapain. Demikian juga sebaliknya. Dengan cara itu, aku dan Evan dapat mengenal satu sama lain dengan baik, namun kami masih akan penasaran saat membuka surat balasan.

Sejauh ini, ada beberapa hal yang aku tahu tentang Evan.

1. Aku nggak terlalu mengerti mengapa cowok itu menganggap dirinya nggak punya teman, karena beberapa foto dimana dia di-tag menunjukkan dirinya berpose dengan segerombolan cowok yang mungkin merupakan temannya. Belum lagi dia punya pacar. Then again, bisa saja Evan merasa sendirian meski dari luar ia terlihat populer dan disukai banyak orang.

2. Omong-omong tentang pacar, pacar Evan bernama Astrid. Cewek itu setahun lebih tua dari kami—aku bisa tahu karena tahun lahirnya tercantum di bio Instagramnya—dan rupanya mereka sudah jadian dari tahun lalu kalau dilihat dari foto-foto yang dia pasang. Aku nggak begitu tahu banyak tentang si Astrid-Astrid ini selain fakta kalau dia lumayan cantik dan dirinya dengan Evan adalah definisi dari "relationship goals" yang belakangan ini diidam-idamkan orang.

3. Aku bisa mengerti kenapa Astrid suka pada Evan—dari segi fisik, cowok itu nggak bisa dibilang jelek. Lumayan ganteng, malahan. Wajahnya terlihat kalem dan dewasa untuk ukuran cowok yang seumuran denganku—walaupun secara teknis dia baru kelas sepuluh, Evan mempunyai aura kakak kelas yang mengayomi. Then again, itu mungkin hanya kesan yang kudapat foto-foto dirinya yang beberapa kali dia posting di Instagram. Bisa saja aslinya Evan beda jauh dengan di foto.

4. Dia juga anak bola. Beberapa foto lamanya menunjukkan dirinya berpose dengan tim bola SMP-nya, dan dalam satu foto dia berpose candid sambil mengenakan sebuah jersey Chelsea. Aku tahu ini kesannya terlalu menggeneralisasi, namun menurut penelitianku terhadap anak-anak di sekolah, mereka yang terlibat dalam bidang olahraga biasanya memiliki penggemar cewek yang banyak.

5. Menurut bio-nya, yang mencantumkan nomor +62 dan +65, kayaknya Evan bukan cuma numpang lahir di Singapura sana. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata beberapa anggota keluarganya memang asli orang sana. Sebuah foto dari bulan Februari lalu menunjukkan anak itu merayakan Imlek bersama keluarga besarnya di Singapura.

6. Feed Instagram-nya sangat rapi dan cenderung minimalis. Di luar foto dirinya dan foto-foto bersama teman-teman anak bolanya, Evan banyak mengunggah foto hasil jepretan ponselnya. Sahabat penaku itu ternyata salah satu dari orang-orang yang entah kenapa terobsesi dengan aplikasi filter foto.

"Ngelamun wae, Gi?" Haruki, si anak Jepang Jadi-Jadian itu, tahu-tahu melingkarkan lengannya di bahuku. Kami bertiga—bersama Alex, ketua kelasku yang seperti toa itu. Kami sedang duduk-duduk di tangga dekat kelas Seni Musik, memikirkan lagu apa yang akan dibawakan kelompok kami untuk ujian praktek minggu depan. "Mikirin apa?"

"Cowok," jawabku datar, yang memang benar adanya. Aku yakin, kedua anak nggak bisa diam itu akan langsung melontarkan bunyi-bunyi seperti cie atau ehm, atau se-enggaknya menanyakan siapa cowok yang kupikirkan. Fakta bahwa aku bahkan baru sekali ngobrol dengan cowok itu—that is, kalau ketikan di ponsel bisa disebut ngobrol—akan mereka abaikan begitu saja.

"WAH! GOSIP BARU!" Alex tahu-tahu berteriak, membuat kelompok yang tengah lesehan sambil latihan menyanyi lagu Sampai Jadi Debu-nya Banda Neira nggak jauh dari kami menoleh. "Giana suka sama... eh, Gi, kamu tadi mikirin siapa, sih, emang?" Alex kembali menoleh padaku.

"Udah, ah." Aku memutar bola mataku. "Kok jadi ngelantur, sih, bahasannya? Besok kita udah harus tampil di depan Pak Reza dan kita bahkan nggak punya lagu."

Sebenarnya satu-satunya alasan mengapa aku terjebak dengan Haruki dan Alex adalah karena mereka menganggapku jago main piano, seakan-akan memiliki kakak yang merupakan pianis muda kelas dunia membuatku menjadi seorang pianis muda kelas dunia juga. Kelompok praktek Seni Musik di semester ini dipilih sendiri, dan sama kayak tugas sahabat pena yang diberikan Ibu Paula, kelompok yang kami pilih akan bertahan selama satu semester.

Karena Haruki dan Alex senang memakan gaji buta dan nggak ada orang lain yang mau sekelompok denganku, aku terjebak dengan kedua anak ini selama satu semester.

Kurang lebih sama kayak bagaimana aku terjebak menjadi sahabat pena Evan, walaupun dari percakapan kami semalam aku sudah menarik kesimpulan kalau Evan nggak seburuk yang aku kira.

"Yah kamu, lah, yang mikirin mau lagu apa," jawab Alex kelewat santai. "Kita mah terserah kamu aja. Yang jago musik kan kamu, bukan kita."

Aku buru-buru menampar bahunya. "Kamu kok nggak bisa diajak kerjasama banget, sih?" Kemudian aku menoleh ke arah Haruki, yang sedang menonton entah apa di ponselnya. Meskipun telinga besarnya tersumbat earphone dan aku nggak yakin kalau dia bisa mendengarku, aku bertanya kepadanya, "Ki, kamu ada saran, nggak?"

Haruki, tepat sesuai dugaanku, nggak menjawab. Ia malah menyanyi dengan nada pelan pada dirinya sendiri, nadanya hampir terdengar kayak gumaman. "Alien datang mengarungi bumi, demi koko yang dicari-cari..."

"Maneh teh nonton BoBoiBoy?" tanya Alex, yang langsung excited mendengar gumaman kecil Haruki. Cowok itu langsung bangkit dari tempatnya duduk, kepalanya mendekat ke layar ponsel Haruki yang tengah menampilkan sebuah episode kartun asal Malaysia itu di YouTube. "Gi," cowok itu menoleh kembali ke arahku. "Kayaknya aku tahu, deh, apa lagu yang bakal kita tampilin besok."

"Apa? Kita nyanyiin lagu temanya BoBoiBoy?"

"Iya," jawab kedua cowok itu berbarengan. Aku menghela napas panjang. 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kisah Kasih di Sekolah
11      7     0     
Romance
Rasanya percuma jika masa-masa SMA hanya diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Nggak ada seru-serunya. Apalagi bagi cowok yang hidupnya serba asyik, Pangeran Elang Alfareza. Namun, beda lagi bagi Hanum Putri Arini yang jelas bertolak belakang dengan prinsip cowok bertubuh tinggi itu. Bagi Hanum sekolah bukan tempat untuk seru-seruan, baginya sekolah ya tetap sekolah. Nggak ada istilah mai...
Aria's Faraway Neverland
76      40     1     
Fantasy
"Manusia adalah Tuhan bagi dunia mereka sendiri." Aria adalah gadis penyendiri berumur 7 tahun. Dia selalu percaya bahwa dia telah dikutuk dengan kutukan ketidakbahagiaan, karena dia merasa tidak bahagia sama sekali selama 7 tahun ini. Dia tinggal bersama kedua orangtua tirinya dan kakak kandungnya. Namun, dia hanya menyayangi kakak kandungnya saja. Aria selalu menjaga kakaknya karen...
My Big Bos : Mr. Han Joe
2      2     0     
Romance
Siapa sih yang tidak mau memiliki seorang Bos tampan? Apalagi jika wajahnya mirip artis Korea. Itu pula yang dirasakan Fraya ketika diterima di sebuah perusahaan franchise masakan Korea. Dia begitu antusias ingin segera bekerja di perusahaan itu. Membayangkannya saja sudah membuat pipi Fraya memerah. Namun, apa yang terjadi berbeda jauh dengan bayangannya selama ini. Bekerja dengan Mr. Ha...
Hujan Bulan Juni
4      4     0     
Romance
Hujan. Satu untaian kata, satu peristiwa. Yang lagi dan lagi entah kenapa slalu menjadi saksi bisu atas segala kejadian yang menimpa kita. Entah itu suka atau duka, tangis atau tawa yang pasti dia selalu jadi saksi bisunya. Asal dia tau juga sih. Dia itu kaya hujan. Hadir dengan serbuan rintiknya untuk menghilangkan dahaga sang alang-alang tapi saat perginya menyisakan luka karena serbuan rintikn...
Your Secret Admirer
0      0     0     
Romance
Pertemuan tak sengaja itu membuat hari-hari Sheilin berubah. Berubah menjadi sesosok pengagum rahasia yang hanya bisa mengagumi seseorang tanpa mampu mengungkapkannya. Adyestha, the most wanted Angkasa Raya itulah yang Sheilin kagumi. Sosok dingin yang tidak pernah membuka hatinya untuk gadis manapun, kecuali satu gadis yang dikaguminya sejak empat tahun lalu. Dan, ada juga Fredrick, laki-l...
Sepi Tak Ingin Pergi
5      5     0     
Short Story
Dunia hanya satu. Namun, aku hidup di dua dunia. Katanya surga dan neraka ada di alam baka. Namun, aku merasakan keduanya. Orang bilang tak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan. Namun, bagiku sakit adalah tentang merelakan.
My Reason
14      9     0     
Romance
pertemuan singkat, tapi memiliki efek yang panjang. Hanya secuil moment yang nggak akan pernah bisa dilupakan oleh sesosok pria tampan bernama Zean Nugraha atau kerap disapa eyan. "Maaf kak ara kira ini sepatu rega abisnya mirip."
Utha: Five Fairy Secret
17      9     0     
Fantasy
Karya Pertama! Seorang pria berumur 25 tahun pulang dari tempat kerjanya dan membeli sebuah novel otome yang sedang hits saat ini. Novel ini berjudul Five Fairy and Secret (FFS) memiliki tema game otome. Buku ini adalah volume terakhir dimana penulis sudah menegaskan novel ini tamat di buku ini. Hidup di bawah tekanan mencari uang, akhirnya ia meninggal di tahun 2017 karena tertabrak s...
SiadianDela
77      31     0     
Romance
Kebahagiaan hanya bisa dicapai ketika kita menikmatinya bersama orang yang kita sayangi. Karena hampir tak ada orang yang bisa bahagia, jika dia tinggal sendiri, tak ada yang membutuhkannya, tak ada orang yang ingin dia tolong, dan mungkin tak ada yang menyadari keberadaanya. Sama halnya dengan Dela, keinginan bunuh diri yang secara tidak sadar menjalar dikepalanya ketika iya merasa sudah tidak d...
Tak Pernah Memiliki
5      5     0     
Short Story
Saling menunggu seseorang, dalam diam. Berakhir tak indah, berujung pisah. Kita yang tak pernah bisa untuk saling memiliki.