Read More >>"> When You Reach Me (tiga belas; kapan-kapan mau ketemuan, nggak?) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - When You Reach Me
MENU
About Us  

[ EVAN ]

 

ENTAH KENAPA, SAAT ini aku merasa lebih dekat dengan Giana daripada dengan siapa pun di dunia ini. Ironis, memang, padahal aku sendiri harus naik kereta 12 jam kalau mau mengunjunginya di Bandung sana. Sebenarnya tanganku gatal banget ingin mengetikkan segala sesuatu—kayak percakapan di telepon antara Mama dan Maggie yang tadi nggak sengaja aku dengar—di ruang chat kami, namun aku teringat kalau kami terikat peraturan yang kami buat waktu itu.

Dan iya, saat aku memberitahu Giana kalau menurutku dia imut, itu karena menurutku sahabat penaku itu memang imut. Memang bukan tipe yang akan membuat cowok-cowok stalking akun media sosialnya berjam-jam, tapi begitu aku melihatnya di TV tadi, dia seakan memiliki magnetnya tersendiri.

Evan Alamsyair

btw gi

Evan Alamsyair

kapan-kapan mau ketemuan nggak?

Sekarang sudah hampir jam dua belas, namun Giana membalasku dengan cepat. Aku kira dia kecapekan setelah syuting tadi. Ternyata, sama sepertiku, Giana nggak bisa tidur.

giana

???

giana

akunya yang ke surabaya atau kamu yang ke sini?

Evan Alamsyair

aku aja yang ke bandung

Evan Alamsyair

ngapain kamu ke surabaya di sini nggak ada apa-apa

Nggak lama kemudian, aku merasa kebelet. Karena malas mengambil tongkat, aku pada akhirnya keluar kamar sambil berjalan pincang. Aku sempat ketemu Mama di ruang keluarga—"kamu nggak denger percakapan Mama sama Kak Maggie, kan?" tanyanya, dan aku menggeleng bohong.

Begitu kembali dari kamar mandi, aku melompat-lompat dengan satu kaki karena kaki kiriku terlalu sakit untuk diajak berjalan. Saat itulah, aku langsung ingat kalau Giana nggak boleh melihatku begini—untuk sekarang, cuma dia yang nggak tahu apa-apa dan memperlakukanku layaknya orang sehat biasa, dan lebih baik memang begitu.

Aku langsung buru-buru mengetik di laman chat-ku dengan Giana:

Evan Alamsyair

eh kayaknya kita nggak usah ketemuan-ketemuan deh

Evan Alamsyair

lagian kita kayak gini juga karena tugas satu semester ini doang, kan?

Entah kenapa, setelah mengetikkan hal itu, aku merasa sedikit nggak enak.

            Entah kenapa, setelah mengetikkan hal itu, aku merasa sedikit nggak enak

Untungnya, keesokan harinya Giana belum membalas pesan yang kukirim. Dibaca pun enggak. Aku menduga cewek itu pasti sedang sibuk merhatiin penjelasan guru tentang Pithecantropus erectus atau entah apa di kelasnya. Entah bagaimana dia bisa nggak tergoda untuk membuka HP saat pelajaran berlangsung—sesuatu yang di lingkungan teman-teman sekelasku mustahil terjadi.

Aku sendiri nggak masuk sekolah hari ini. Instead, aku diajak ketemuan lagi dengan Kak Wisnu, psikolog yang selama ini menanganiku. Dalam hati, aku bersyukur hari ini aku nggak sekolah. Sekarang hampir semua orang di sekolah tahu aku menderita kanker, dan setiap hari aku diingatkan kalau hidupku nggak akan lama lagi. Aku mendadak berubah dari agak diabaikan menjadi diperhatikan semua orang, meski bukan tipe perhatian yang kuinginkan. Teman-teman sekelasku—biasanya cewek—mulai mengerubutiku di jam istirahat dan menanyakan hal-hal kayak dikemo rasanya kayak gimana sih? atau kamu kok nggak botak? (Di titik ini, aku sendiri bertanya-tanya kenapa aku belum botak dan menenteng infus kemana-mana kayak stereotip anak-anak penderita kanker yang biasa kulihat di film-film.) Kadang-kadang, ada yang mentraktirku makan, meski sebelumnya mereka menanyakan boleh enggaknya aku makan ini dan itu seakan-akan aku nggak bisa makan apa-apa kecuali cairan dari selang. (Akiu belum separah itu. Penekanan pada kata belum.)

Hari ini, aku kembali bertemu dengan Kak Wisnu, psikologku yang sebenarnya sudah lama nggak kutemui. Aku menduga pertemuan ini direncanakan Mama gara-gara percakapannya tadi malam dengan Maggie. Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya kenapa Maggie yang kudengar lewat telepon tadi malam berbeda jauh dengan Maggie yang mengataiku nggak punya masa depan dua bulan yang lalu.

"Dari cerita yang mama kamu beberin tadi, kayaknya kamu ada gejala-gejala depresi, deh," ujar Kak Wisnu yakin, yang bikin aku mengerutkan dahi. Jangan-jangan Mama menelepon Kak Wisnu tadi malam setelah aku kembali dari kamar mandi, saat aku benar-benar sudah tidur dan nggak mendengarkan. AKu heran kenapa Kak Wisnu mau meladeninya di tengah malam. Buru-buru, dia menambahkan, "Itu hal normal, kok. Putus dari pacar memang sakit. Belajar dari pengalaman."

Mau nggak mau aku tertawa sedikit. Kadang-kadang, Kak Wisnu memang sering curhat tentang mantan-mantan pacarnya dan cewek-cewek yang tengah dia dekati, meskipun harusnya dia-lah yang menjadi "tempat sampah"-ku. "Kasih saran, dong, yang pacarannya awet," mintanya tempo hari. "Minta aja dia comblangin kamu sama temannya, Kak," jawabku.

Kalau mengingat bagaimana dulu aku lumayan sering cerita tentang Astrid ke dia, aku kembali merasa kosong.

"Eh, tapi seriusan. Kalau menurut pemantauanku, kayaknya kamu sekarang ini lagi merasa terisolasi, deh. Dan bukan karena putus sama si Astrid doang. Belakangan ini, kata mama kamu sekarang kamu lebih sering menutup diri, ya?"

Lamunanku terbuyar. "Itu karena mereka semua—teman-teman sekolahku—merlakuin aku kayak orang sakit." Aku menghela napas, pada akhirnya memberanikan diri untuk membuka segalanya. "Aku cuma pengen balik ke masa SMP, waktu aku masih bisa jadi anak normal yang berteman sama siapa saja tanpa dikasihani."

Kak Wisnu mengangguk. Dia terdiam sebentar, kemudian mengeluarkan selembar pamflet dari kolong meja kopi ruangannya. "Sabtu nanti bakal ada event buat anak-anak seperti kamu," ujarnya. "Mereka nggak bakal menilai kamu macam-macam, kok. Mereka juga nggak bakal nganggap kamu orang sakit."

            Giana menulis tentang perasaannya selama masuk Goodnight Indonesia waktu itu, dan sesuai tebakanku, Giana waktu itu merasa nggak nyaman

Giana menulis tentang perasaannya selama masuk Goodnight Indonesia waktu itu, dan sesuai tebakanku, Giana waktu itu merasa nggak nyaman. Suratnya kali ini dipenuhi coretan koreksi dari gurunya, yang kadang-kadang membuatku sulit untuk membaca tulisannya yang besar kecil nggak beraturan itu. Selain itu, Giana juga memberitahuku kalau dia seorang Gryffindor—yang bikin aku sedikit iri, dia saut asrama dengan The Golden Trio!—dan patronusnya stoat, sejenis musang.

Seakan-akan beliau tahu kalau aku dan Giana diam-diam berhubungan lewat chat untuk saling mengajak kopi darat, Pak Bima kali ini menugaskan kami untuk menulis tentang Surabaya di surat balasan kami.

Salah satu sisi positif dari bersahabat pena adalah kamu bisa kenal sama tempat asal teman kamu," beliau menjelaskan di depan kelas. "Dan sebaliknya, kamu juga bisa ngenalin teman kamu sama kota asal kamu. Surabaya itu unik, lho. Setiap aspek kehidupan di sini—kayak rujak cingur, Patung Buaya, atau bahkan misuh-misuh kalian itu—bisa banget, lho, jadi bahan tulisan."

"Kalo dibandingin sama Bandung, Surabaya mah nggak ada apa-apanya padahal," komentar Raga, yang duduk di belakangku. "Palingan cuman panas, macet, sama bonek doang."

Mau nggak mau aku ikutan nimbrung. "Sama Gang Dolly."

"Gang Dolly udah ditutup, cuk." Raga menoyor kepalaku. "Yang tersisa sekarang cuma panas, macet, sama bonek."

"Sama banjir," aku menambahkan. Aku nggak pernah menduga aku bakal menjelek-jelekkan kota tempat tinggalku dengan teman sekelas yang jarang aku ajak bicara. Mungkin, inilah pertama kalinya aku mendekati normal selama setahun terakhir.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Old day
4      4     0     
Short Story
Ini adalah hari ketika Keenan merindukan seorang Rindu. Dan Rindu tak mampu membalasnya. Rindu hanya terdiam, sementara Keenan tak henti memanggil nama Rindu. Rindu membungkam, sementara Keenan terus memaksa Rindu menjawabnya. Ini bukan kemarin, ini hari baru. Dan ini bukan,Dulu.
Maaf katamu? Buat apa?
5      5     0     
Short Story
“Kamu berubah. Kamu bukan Naya yang dulu.” “Saya memang bukan Naya yang dulu. KAMU YANG BUAT SAYA BERUBAH!”
Perfect Candy From Valdan
20      12     0     
Romance
Masa putih abu-abu adalah masa yang paling tidak bisa terlupakan, benarkah? Ya! Kini El merasakannya sendiri. Bayangan masa SMA yang tenang dan damaiseperti yang ia harapkan tampaknya tak akan terwujud. Ia bertanya-tanya, kesalahan apa yang ia buat hingga ada seorang senior yang terus mengganggunya. Dengan seenaknya menyalahgunakan jabatannya di OSIS, senior itu slalu sukses membuatnya mengucapka...
Stay With Me
6      6     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
REVIVE TIME
23      13     0     
Mystery
Kesalahan ada pada setiap orang. Kesalahan pernah terjadi pada setiap orang. Bagaimana caramu memperbaiki kesalahan di masa lalu? Yah, mungkin memang tidak bisa diperbaiki. Namun, jika kamu diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu akankah kamu memperbaikinya?
SATU FRASA
146      42     0     
Romance
Ayesha Anugrah bosan dengan kehidupannya yang selalu bergelimang kemewahan. Segala kemudahan baik akademis hingga ia lulus kuliah sampai kerja tak membuatnya bangga diri. Terlebih selentingan kanan kiri yang mengecapnya nepotisme akibat perlakuan khusus di tempat kerja karena ia adalah anak dari Bos Besar Pemilik Yayasan Universitas Rajendra. Ayesha muak, memilih mangkir, keluar zona nyaman dan m...
Bandung
303      67     0     
Fan Fiction
Aku benci perubahan, perubahan yang mereka lakukan. Perubahan yang membuat seolah-olah kami tak pernah saling mengenal sebelumnya - Kemala Rizkya Utami
Your Secret Admirer
0      0     0     
Romance
Pertemuan tak sengaja itu membuat hari-hari Sheilin berubah. Berubah menjadi sesosok pengagum rahasia yang hanya bisa mengagumi seseorang tanpa mampu mengungkapkannya. Adyestha, the most wanted Angkasa Raya itulah yang Sheilin kagumi. Sosok dingin yang tidak pernah membuka hatinya untuk gadis manapun, kecuali satu gadis yang dikaguminya sejak empat tahun lalu. Dan, ada juga Fredrick, laki-l...
Tuan Landak dan Nona Kura-Kura
52      15     0     
Romance
Frans Putra Mandala, terancam menjadi single seumur hidupnya! Menjadi pria tampan dan mapan tidak menjamin kisah percintaan yang sukses! Frans contohnya, pria itu harus rela ditinggal kabur oleh pengantinnya di hari pernikahannya! Lalu, tiba-tiba muncul seorang bocah polos yang mengatakan bahwa Frans terkena kutukan! Bagaimana Frans yang tidak percaya hal mistis akan mematahkan kutukan it...
Why Joe
5      5     0     
Romance
Joe menghela nafas dalam-dalam Dia orang yang selama ini mencintaiku dalam diam, dia yang selama ini memberi hadiah-hadiah kecil di dalam tasku tanpa ku ketahui, dia bahkan mendoakanku ketika Aku hendak bertanding dalam kejuaraan basket antar kampus, dia tahu segala sesuatu yang Aku butuhkan, padahal dia tahu Aku memang sudah punya kekasih, dia tak mengungkapkan apapun, bahkan Aku pun tak bisa me...