Read More >>"> CINLOV (KARENA CINTA PASTI LOVE) ( (ENDING) PERATURAN MALA) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - CINLOV (KARENA CINTA PASTI LOVE)
MENU
About Us  

                                                                                                               Peraturan Mala

 

            Pulang sekolah Mala dan Malto berjalan di pedestrian. Gadis itu tersenyum kecil ketika melihat lantai trotoar. Ia jadi teringat akan kejadian minggu lalu ketika ia dan Malto menulis kata-kata di atas pedestrian. Gadis itu termenung sebentar ia lalu menoleh ke arah Malto yang menggunakan jaket berwarna putih.

            Sudah sejak SMP mereka bersama awalnya sebagai teman namun kini sebagai sepasang kekasih. Mala tahu semua hal tentang Malto. Tapi gadis itu teringat akan pertanyaan Syifa ketika di kelas. Saat itu Syifa bertanya apa yang paling tidak di sukai oleh Malto. Mala ingat saat itu ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kini saatnya ia tahu semuanya, semua tentang laki-laki yang berjalan di sampingnya.

            "Mal,"

            "Iya sayang," kata Malto dengan cepat.

            Mala berdecak lidah, ia memukul lengan Malto. "Jangan mulai ngajak berantem ya."

            "Iya, iya. Apa?"

            Mala menarik napasnya. "Apa sih yang paling lo gak suka di bumi ini."

            Malto tertunduk sambil tersenyum. Ia memegang tali tas punggungnya. "Yang paling gue gak suka di bumi ini, liat perempuan nangis."

            "Kenapa?"

            Malto menatap kedepan. "Dulu waktu Papah meninggal gue liat Mamah nangis seharian. Tangisannya begitu dalam, gue gak tega liatnya. Dari tangisan Mamah gue bisa rasain betapa kehilangannya dia, betapa sakitnya dia kehilangan orang yang dia cinta. Sejak saat itu gue gak suka ngeliat perempuan nangis, karena ngingetin gue sama tangisan Mamah."

            "Jadi perempuan gak boleh nangis?"

            "Boleh, tapi kalau bisa jangan di depan gue. Karena gue pasti akan ikut sedih."

            Mala meangguk ia coba untuk mengerti perasaan Malto. "Kalau gue yang nangis?"

            "Jangan! Gak boleh biar gue aja yang gantiin lo nangis. Gue gak akan kuat ngeliat cewek yang gue suka ngeluarin air matanya. Biar gue yang gantiin posisi lo pada saat lo nangis nanti."

            Gadis itu tersenyum mendengar Malto berkata manis seperti itu. "Gue tau kalau lo suka ngegombalin cewek-cewek di sekolah yang selalu bikin gue mual. Tapi kenapa ya kok gue suka sama gombalan lo barusan."

            "Mala, mala lo belum gue apa-apain aja udah mual."

            Mala memberengut ia lalu menjambak rambut Malto. "Dasar mesuuummm... lo tuh gak berubah-berubah yah. Nih rasain! Rasain nih!" gadis itu menjambak rambut Malto hingga meringis.

            "Aduh... aduh... aduh... rambut gue. Kalau begini caranya tiga bulan pacaran sama lo kepala gue bisa botak."

            Mala masih gemas dengan laki-laki itu. "Biarin aja, biar gak ada cewek yang mau sama lo, dasar busuuukkk..." Mala menggoyang goyangkan kepala Malto lalu ia melepaskannya.

           Malto memeriksa rambut di kepalanya. Ia menoleh ke arah Mala dan mendesisi seperti ular. Dasar gadis jahat! Tapi gue sayang sama lo. Dasar gadis kejam, Tapi gue cinta sama lo. Malto merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya.

            "Lo mau bawa gue kemana sih?" kata Mala.

            "Katanya mau lewati momen-momen hidup sama gue sebagai sepasang kekasih. Sekarang gue mau ajak lo ketempat yang mungkin akan jadi salah satu momen penting dalam hidup lo."

            Mala memperhatikan Malto berbicara. "Ok siapa takut."

            Mereka berdua lalu naik GoTrans sekitar empat puluh menit mereka lalu turun dan berganti kendaraan dengan menggunakan angkot. Saat ini mereka berdua kabupaten Bogor. Setelah tiga puluh menit di dalam angkot mereka turun dan melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki. Mala melihat kesana kemari ia baru pertama kali ketempat itu.

            Mereka berdua melewati jalan setapak. Ada beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Mala tersenyum ia melihat hamparan padang tanah dan perbukitan yang di tumbuhi oleh rerumputan dan juga ilalang.

            "Jangan senyum dulu. Tujuan kita kesana." Malto menunjuk sebuah bukit yang ada di hadapan mereka.

           Gadis itu terus berjalan mengikuti Malto yang ada di depannya. Mereka berjalan di jalan yang sedikit berbatu. Jalanannya menanjak membuat napas mereka berdua terengah-engah. Butuh waktu tiga puluh menit bagi mereka untuk bisa sampai ke puncak bukit.

            Mala mengatur napasnya. Ia berjalan kedepan sebuah senyuman lebar terpatri di wajahnya. Dari atas sana ia melihat hamparan perbukitan dan juga rumput-rumput hijau yang melambai-lambai karena tertiup angin sore.

            "Ini keren banget Malto. Gue suka."

            Malto berdiri di samping. "Kita mulai semua momen-momen hidup kita sebagai sepasang kekasih dari puncak bukit ini. Gimana lo berani."

            Mala melihat wajah Malto dari samping. "Gue gak takut sama sekali, ok! Kita mulai semua momen kita dari sini."

            Malto masih menatap ke arah depan. Ia melihat matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Laki-laki itu tersenyum sambil menatap matahari, sementara Mala tersenyum sambil memandang wajah Malto. Angin sepoy-sepoy datang membawa lalu menyebarkan kabar gembira bahwa ada sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Burung-burung berterbangan diatas langit. Warna jingga dari matahari sore menggoreskan warna indah di momen mereka.

            Mala melihat apa yang sedang dilihat oleh Malto. Gadis itu tersenyum ketika sadar bahwa jari-jemari Malto melekat erat di tangannya. Sudah cukup Malto melihat keindahan dari matahari terbenam. Kini ia melihat keindahan yang ada di wajah Mala. Laki-laki itu tersenyum ada sesuatu yang ia pikirkan.

 

            Qimala Hanindya, terima kasih karena sudah mau menjadi teman hidup gue. gue memang gak sempurna tapi gue bakalan coba jadi yang terbaik. Terima kasih Mala, teman yang gue cinta dari SMP. Malto masih terus memandangi wajah Mala seakan ia enggan melewatkan momen indah yang saat ini sedang ia rasakan. Karena terbawa suasana Malto kemudian mencium kening Mala.

            Mala yang sedang melihat matahari terbenam sedikit terkejut. Perlahan ia menoleh ke arah Malto sambil tersenyum, namun dalam hitungan detik mimik wajahnya berubah menyeramkan.

            "Ihhh... emang dasar lo cabul," Mala menjambak rambut Malto.

            "Aduh... aduh... aduh... rambut gue. Iya, ampun... ampun... ampun... mbah, ratu, nyai, ampunnn." Malto meringis kesakitan.

            Mala melepaskan jambakannya.

            "Kenapa sih? Lo kan cewek gue," ucap Malto sambil merapihkan rambutya yang berantakan.

            "Terus kenapa? Hanya karena gue cewek lo bukan berarti lo boleh macem-macem sama gue. Pokoknya lo gak boleh cium gue, membelai rambut gue, pegang-pegang gue, pokoknya gak boleh."

            "What! Terus gue bolehnya ngapain?"

            Mala tersenyum manis. "Lo cukup memandangi wajah gue yang cantik ini. Tanpa boleh menyentuhnya."

            Malto berkacak pinggang. "Cantik darimananya? Lo tau gak sih, muka lo tuh kaya kolong meja di kelas kita, KOTOR!"

            "Otak lo tuh yang kotor! Sini lo." Mala mencoba mencubit pinggang Malto namun laki-laki itu terus menghindar. Malto tertawa melihat Mala kesal dengannya. Ia menganggap lucu ketika melihat Mala kesal. Makanya sejak dari SMP ia paling suka membuat Mala kesal hanya untuk melihat mimik wajahnya yang menurut Malto lucu.

            Malto menangkap kedua tangan Mala dan menatap matanya. "Sadar gak sih baru aja kita buat momen yang bakalan kita kenang nantinya. Makasih ya udah mulai mengawali momen kita dengan hal yang indah. Ya meskipun gue tau akan ada momen yang gak enak, yang akan kita hadapi nantinya. Tapi gue udah siap sama momen itu karena ada lo."

            Mala menatap mata Malto. Ia mencium pipi kanan Malto. Gadis itu lalu tersenyum di depan wajah Malto. Ia kemudian berjalan ke arah depan dan memandang matahari yang sedang tenggelam.

            "Katanya gak boleh, pegang-pegang, cium." Malto berdiri di samping Mala.

            "Itu kan lo. Kalau gue sih boleh. Itu peraturan dari gue."

            "Jadi gue gak boleh macem-macem sementara lo boleh." Ia melihat Mala tersenyum. "Wah! Menarik," ucap Malto sambil tersenyum kagum.

            Gadis itu masih menatap matahari. Ia lalu megenggam tangan Malto dengan lembut. Laki-laki itu tersenyum melihat tangannya di genggam oleh gadis yang ia cintai. Sepertinya ia harus pasra dengan peraturan yang Mala buat sendiri. Malto memandang kedepan melihat cahaya matahari yang berwarna jingga. Mala dan Malto kedua orang itu tersenyum ketika ada angin yang melintasi tubuh mereka. Tidak ada pertengkaran kali ini, yang ada hanya suasana sepi di antara Mala dan Malto yang sedang syahdu menikmati matahari tenggelam.

 

                                                                                                                         TAMAT

Tags: twm18 twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 1 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • ajunatara

    jadi inget dulu pernah di jambak sama cewek gue di kelas

    Comment on chapter JAMBAKAN MALA
Similar Tags