Read More >>"> AROMA MERDU KELABU (Aku bingung menyebutnya...) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - AROMA MERDU KELABU
MENU
About Us  

Langit dan udara Jogja mendukung keinginanku untuk menuntaskan apa yang harus kutuntaskan. Entah itu akan membuatku senang ataupun tidak, membuat jiwa lain senang ataupun tidak, jika semesta telah mendukung, aku rasa ini akan menjadi hal yang baik.

Seperti biasa, Nela membangunkanku. Dia pasti tidak lupa dengan perbincangan kami semalam, bahwa kami akan mengunjungi Papa. Aku menguatkan diri untuk segera mandi dan bersiap-siap, meskipun kakiku masih terasa sakit saat terlalu digerakan. Tak ada percakapan lebih lanjut antara aku dan Nela, aku tahu dan dia tahu bahwa ada rasa yang sama-sama kita rasakan namun tak bisa gamblang dijelaskan bagaimana rasa itu. Bukan sedih, karena rasanya lebih dari itu. Bukan pula bahagia, karena rasanya lebih dari itu. Ini seperti kolaborasi sedih dan bahagia yang berpadu dengan porsinya yang sama-sama besar.

Memakai pakaian terbaik -menurut versi kami tentunya, bergegaslah kami menuju tepi jalan untuk menunggu angkutan umum, sengaja tak memakai motor Nela karena kami tak ingin repot mengkhawatirkan motor yang terparkir di tepi jalan karena disana tidak tersedia tempat parkir. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk kami menunggu, angkutan datang dengan kursi penumpang yang sudah hampir terisi semua oleh para pelajar yang akan menuju sekolah. Kami hampir putus asa untuk bisa duduk nyaman di kursi angkot, namun ternyata anak baik memang selalu diberi pertolongan. Dua orang anak SMP mempersilakan kami duduk lebih luas karena katanya sebentar lagi mereka akan segera turun. Kami menerima tawaran itu, namun tentunya aku dan Nela pun tak tega jika harus membiarkan dua anak SMP itu berdiri mematung dengan postur tubuh mereka yang sama-sama tinggi, atau membiarkan mereka berjongkok ditemani kaki-kaki para penumpang. Aku dan Nela mempersilakan mereka duduk di atas pangkuan kami, meskipun tak seempuk kursi angkot, tapi setidaknya mereka tidak merasakan pegal karena harus berdiri atau berjongkok di dalam angkot.

Anak yang berada di pangkuanku dan temannya meneriaki sopir agar memberhentikan lajunya. Ternyata, mereka telah sampai di tujuan.

“Bang, ongkosnya di belakang!” ucap Nela saat dua anak SMP itu menuruni angkot.

“Makasih, Mbak!” teriak anak SMP itu sembari melemparkan senyumnya dari tepi jalan, lalu melambaikan tangannya padaku dan Nela yang telah melaju segera setelah mereka turun.

Rasanya secepat kilat, tak terasa kami telah sampai dan segera menuruni angkot itu. Kutatap sekeliling tempat tinggal Papa, seperti banyak penghuni baru di tempat itu, terlihat dari warna coklat khas yang membedakannya dengan yang lain. Tempat tinggal Papa ada di dekat pohon yang rindang, meskipun membuat pengunjung sejuk saat mengunjunginya, namun banyak sekali dedaunan kering yang berjatuhan tepat di atas tempat tinggal Papa. Aku merasa bersalah karena baru mengunjunginya lagi kali ini. Nela hanya menunduk di depan tempat tinggal Papa, aku tahu rasa bersalahnya pun hadir dalam hatinya. Aku menepuk punggung Nela sembari mengelusnya.

“Yuk, kita kirim doa, Nel.”

Kami melantunkan ayat-ayat Al-Quran di depan makam Papa. Sepertinya setiap orang merasakan kesedihan yang hadir kala berziarah, hingga berlanjut dengan tumpahnya segala isi hati yang tertuju untuk orang tersayang yang tak lagi dapat kita temui. Segala rasa hadir dalam jiwaku, sedih, bahagia, rindu, semua hadir beriringan, air mata telah deras mengalir sampai membasahi kerudung yang pertama kali kukenakan. Aku tahu Papa menyambut kami, tapi kami tidak diberikan izin lagi untuk menemui Papa oleh-Nya. Kami hanya mampu mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya. Kusiram makam Papa dengan sebotol air yang kami bawa, dan kusimpan bunga yang masih segar di dekat batu nisannya.

Nela sudah terisak sambil memeluk batu nisan Papa. Kenangan lalu bersama Papa sungguh terputar dalam otakku, sangat berat. Namun, aku tahu Nela menghadapi emosi yang lebih berat lagi karena rasa bersalah yang membebaninya.

***

Di sebuah Rumah bergaya sederhana, dengan jendela kayu yang berventilasi horizontal dan bercatkan biruu langit, tumbuh dua anak perempuan dari seorang Ayah pengusaha, dan seorang Ibu Rumah Tangga. Mereka adalah keluarga yang berkecukupan, anak-anaknya tumbuh dengan sehat dan pintar. Banyak tetangga yang mengangumi keluarga itu karena keberhasilan kepala keluarganya. Itu adalah keluargaku. Aku bangga memiliki Papa seorang pengusaha yang sukses, tiap hari aku selalu makan enak, pakaianku selalu cantik, aku pun disekolahkan di sekolah terbaik di Yogyakarta. Sejak pertama kali menginjak bangku sekolah, yaitu Sekolah Dasar, aku selalu mendapat perhatian lebih dari Papa mungkin karena aku anak pertama dan Papa baru pertama kali menyekolahkan anak. Setiap hari aku selalu diantar Papa untuk berangkat sekolah, sampai pulang pun Papa selalu setia menungguku di gerbang sekolah, padahal jarak dari rumah menuju sekolah sangat dekat,  hanya terpisah 3 rumah saja. Setiap tahun aku selalu merayakan hari ulang tahunku, begitu juga Nela. Papa selalu menghadiahi kami kado yang benar-benar kami inginkan.

“Selamat Ulang Tahun anak Papa!” ucapnya sambil membuka pintu kamarku tepat di pukul 00.00.

“Ih Papa, Treela lagi enak-enaknya tidur.”

“Ayo bangun dulu, tiup nih lilinnya!” ajak Mama.

Lilin telah kutiup, Papa dan Mama memelukku sambil mendoakanku.

“Makasih ya, Pa, Ma.”

“Sama-sama, Sayang. Ayo lanjutin lagi tidurnya, besok sekolah!”

Hingga aku bangun di Pagi harinya dan seperti biasa akan diantar oleh Papa, sebuah kado besar tersimpan di garasi mobil Papa, aku yakin itu kado ulang tahunku. Aku berteriak memanggil Papa dan Mama untuk memastikan kado itu.

“Iya Tree itu kado buat kamu, coba buka!” jawab Papa.

“Kok gede banget kadonya?” tanyaku sambil kegirangan.

Aku membukanya dan ternyata itu sebuah sepeda yang benar-benar aku inginkan.

“Waahh! Papa bener-bener beliin Treela sepeda yang kemarin kita lihat! Makasih Papa!”

Aku, Mama, Papa, dan Nela yang masih dalam pangkuan Mama saling berpelukan, aku merasakan pagi hari yang bahagia. Aku pun semakin bersemangat pergi sekolah.

Aku masih ingat dengan jelas, saat aku ikut perlombaan membaca puisi antar sekolah saat SD, Papa hadir memberiku semangat dan begitu sigap merekamku saat tampil di panggung, Papa yang memberiku tepuk tangan meskipun penonton lain tak begitu tertarik dengan penampilanku di panggung. Meskipun aku tak berhasil menjuarai perlombaan itu, Papa tidak menunjukkan kekecewaannya dan tak henti-hentinya menghiburku agar tetap semangat.

***

Kami mengakhiri kunjungan dengan emosi yang sudah benar-benar baik, karena kami tak ingin membawa oleh-oleh yang akan membuat kami semakin tak terkendali. Namun sayangnya, belum lama aku menikmati emosi baik, tiba-tiba seseorang di depanku membuat kegaduhan.

“Ila! Ila!” teriaknya sambil melambaikan tangannya padaku.

Aku menengokkan kepala ke belakang siapa tahu ada orang lain di belakangku. Tapi ternyata hanya ada aku dan Nela saja disana. Lelaki itupun semakin mendekat, hingga wajahnya bisa jelas kuperhatikan. Ah, ternyata, dia lelaki yang tak ingin memberitahukan namanya itu.

“Eh Ila, kita ketemu lagi! Sekarang kamu bisa tahu namaku!”

“Hah?”

“Kamu lupa, ya. Aku ‘kan pernah bilang akan memberitahukan namaku kalau kita ketemu lagi.”

“Oh ya, aku tidak ingat.”

“Kenalin, aku Rio.”

Bagai tersengat listrik, aku dipenuhi keterkejutan dengan pertemuan kami yang tak disangka-sangka dan tak kuharapkan.

Aku tak tertarik untuk lebih dari sekedar membalas perkenalannya dengan senyum tipis dan anggukan kecil. Namun, dia terus memancing responku dengan berbagai obrolannya yang tak perlu. Sebagai seseorang yang baru kenal, aku sih tidak akan bisa seperti dia, membomku dengan berbagai pertanyaannya, perihal mengapa aku ada disini, siapa yang ada di sisiku, mengapa tak menggunakan kendaraan pribadi, hingga dia sampai bertanya dimana aku tinggal. Aku hanya menjawabnya singkat, dan tentu saja aku tidak memberitahukan tempat tinggalku bersama Nela.

“Aku antar kalian pulang, ya, kasihan panas-panas begini masa naik angkot.”

“Eh gak usah, kebetulan kami mau ke suatu tempat dulu.”

“Oh gitu, oke, deh. Semoga kita ketemu lagi!”

Ah untung saja  aku selamat dari ajakannya.

***

 

 

 

 

 

 

 

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Cheossarang (Complete)
94      30     0     
Romance
Cinta pertama... Saat kau merasakannya kau tak kan mampu mempercayai degupan jantungmu yang berdegup keras di atas suara peluit kereta api yang memekikkan telinga Kau tak akan mempercayai desiran aliran darahmu yang tiba-tiba berpacu melebihi kecepatan cahaya Kau tak akan mempercayai duniamu yang penuh dengan sesak orang, karena yang terlihat dalam pandanganmu di sana hanyalah dirinya ...
Bulan Dan Bintang
45      20     0     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
Drama untuk Skenario Kehidupan
145      41     0     
Romance
Kehidupan kuliah Michelle benar-benar menjadi masa hidup terburuknya setelah keluar dari klub film fakultas. Demi melupakan kenangan-kenangan terburuknya, dia ingin fokus mengerjakan skripsi dan lulus secepatnya pada tahun terakhir kuliah. Namun, Ivan, ketua klub film fakultas baru, ingin Michelle menjadi aktris utama dalam sebuah proyek film pendek. Bayu, salah satu anggota klub film, rela menga...
(Can’t) Treat You Better
3      3     0     
Romance
Raydan cuma mau hidupnya yang lama kembali; papinya, maminya, adik kembarnya, dan kenangan indah tentang keluarganya. Dan yang dia dapat malah Lava, pacar yang sebenarnya tidak dia butuhkan sama sekali selain demi 'keuntungan dirinya sendiri'. Tapi who knows kalau ternyata satu-satunya penolong agar dia bisa mewujudkan keinginan besarnya itu hanyalah Lava, cewek yang di hari depan nanti akan dia ...
Rasa yang Membisu?
4      2     0     
Romance
Menceritakan 4 orang sahabatnya yang memiliki karakter yang beda. Kisah cerita mereka terus terukir di dalam benak mereka walaupun mereka mengalami permasalahan satu sama lain. Terutama kisah cerita dimana salah satu dari mereka memiliki perasaan terhadap temannya yang membuat dirinya menjadi lebih baik dan bangga menjadi dirinya sendiri. Pertemanan menjadikan alasan Ayu untuk ragu apakah pera...
Kristalia
62      23     0     
Fantasy
Seorang dwarf bernama Melnar Blacksteel di kejar-kejar oleh beberapa pasukan kerajaan setelah ketahuan mencuri sebuah kristal dari bangsawan yang sedang mereka kawal. Melnar kemudian berlari ke dalam hutan Arcana, tempat dimana Rasiel Abraham sedang menikmati waktu luangnya. Di dalam hutan, mereka berdua saling bertemu. Melnar yang sedang dalam pelarian pun meminta bantuan Rasiel untuk menyembuny...
Infatuated
14      9     0     
Romance
Bagi Ritsuka, cinta pertamanya adalah Hajime Shirokami. Bagi Hajime, jatuh cinta adalah fase yang mati-matian dia hindari. Karena cinta adalah pintu pertama menuju kedewasaan. "Salah ya, kalau aku mau semuanya tetap sama?"
Late Night Stuffs
10      3     0     
Inspirational
Biar aku ceritakan. Tentang tengah malam yang terlalu bengis untuk membuat pudar, namun menghentikan keluhan dunia tentang siang dimana semua masalah seakan menjajah hari. Juga kisah tentang bintang terpecah yang terlalu redup bagi bulan, dan matahari yang membiarkan dirinya mati agar bulan berpendar.
It Takes Two to Tango
3      3     0     
Romance
Bertahun-tahun Dalmar sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Kini, ia hanya punya waktu dua minggu untuk bebas sejenak dari tanggung jawab-khas-lelaki-yang-beranjak-dewasa di Balikpapan, dan kenangan masa kecilnya mengatakan bahwa ia harus mencari anak perempuan penyuka binatang yang dulu menyelamatkan kucing kakeknya dari gilasan roda sepeda. Zura tidak merasa sese...
Kala Saka Menyapa
141      37     0     
Romance
Dan biarlah kenangan terulang memberi ruang untuk dikenang. Sekali pun pahit. Kara memang pemilik masalah yang sungguh terlalu drama. Muda beranak begitulah tetangganya bilang. Belum lagi ayahnya yang selalu menekan, kakaknya yang berwasiat pernikahan, sampai Samella si gadis kecil yang kadang merepotkan. Kara butuh kebebasan, ingin melepas semua dramanya. Tapi semesta mempertemukannya lag...