Read More >>"> Intuisi (Two) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Intuisi
MENU
About Us  

Hari ini, kembali ku rasakan sepi. Air mata telah membendung di pelupuk mata. Sungguh jika hatiku tidak mengajakku untuk bersabar, tangisku telah pecah sekarang. Berteriak? Ingin aku melakukannya menggantikan tangisku yang tertahan. Hari ini aku benar-benar merasa jatuh. Benar-benar tidak dapat lagi menahan ini semua. Maka, di hari ini aku benar-benar meluapkan segalanya. Segala emosi dan sedihku yang selama ini aku pendam. Tak peduli akan reaksi sekitar yang memandangku 'tak waras lagi' mungkin. Tapi mungkin ini waktu yang tepat untukku. 

Tepat sekali momen hari ini. 3 orang yang biasanya membully ku kembali melakukan aksinya. Mereka adalah Salsa, Auly, dan Zalfa--sebagai ketua geng mereka. Kali ini mereka menyuruhku untuk membelikan mereka makanan di kantin. Aku menolak. Karena hari ini aku emang sedang kurang sehat. Mereka lantas menggebrak mejaku. Aku terlonjak kaget. Mereka kembali memaksaku untuk melakukan apa yang mereka suruh dengan mengancamku, "Lo berani-beraninya membantah perintah kita?!" Aku diam tertunduk. "Kalo gitu, cium sepatu gue!" Sontak aku mendongak dan menunjukkan ekspresi tak percaya akan perkataan Zalfa barusan. 
"Lo gak mau beliin kita makan di kantin kan? Jadi Lo harus bayar dengan mencium sepatu gue!" 
"Cium sekarang!" Bentak yang lain. 

BRAK!! Aku menggebrak meja. Kali ini emosiku sudah tidak terkontrol lagi. Apalagi sekarang aku sedang kurang sehat, jadi emosiku cenderung sensitif. Terlihat mereka juga kaget melihatku yang tidak seperti biasanya. 
"Lo-lo berani menggebrak meja depan gue?!" 
"Ma-ma-maaf Zal." Aku yang menyadari apa yang telah aku lakukan, langsung menurunkan nyaliku untuk melawan Meraka. Lantaran Zalfa sekarang menarik kerah seragamku sambil melemparkan tatapan kejam. 
"Lo kenapa tadi gebrak meja depan gue hah? Lo sekarang mau ngelawan?" Tanya Zalfa tenang namun terlihat jelas raut tidak suka dari wajahnya. 

BRAK!! Aku didorong oleh Zalfa hingga tubuhku terbentur ke tembok. Sakit. Benar-benar sakit. Tapi lebih sakit perasaanku. Menangis? Ya, sekarang aku benar-benar menangis di depan mereka. Semua yang menyaksikan kejadian ini memilih untuk tidak ikut campur. Apalagi ini berurusan dengan Zalfa dan gengnya. 

Aku merosot di tembok menuju posisi duduk. Masih dengan tangis menghiasi. Mereka semakin menyiksaku. Tangan Salsa dan Auly memegang gunting. Sedangkan Zalfa, dia menekan daguku sambil mengangkatnya. 
"Ini akibat Lo kalau macam-macam sama kita. Termasuk sama gue!" Daguku terlepas dari cengkeraman tangannya. Perih. Perih sekali. Dia melakukannya dengan kasar.

"Kenapa kalian selalu memperlakukan aku kayak gini?" Tanyaku dengan nada parau. 
"Lo masih tanya kenapa?!" 
"Kalo aku punya salah sama kalian, aku minta maaf. Tapi tolong jangan perlakukan aku kayak gini lagi. Aku mohon..." Ucapku memohon. Air mata telah membanjiri pipi. 
"Lo masih tidak tahu apa kesalahan Lo hah?!" 
Aku berusaha mengingat-ingat kembali ke masa lalu. Berharap dapat mengingat semua kejadian yang berhubungan dengan Zalfa. Nihil. Hasilnya nihil. Aku tidak ingat apa-apa. Semakin keras aku berusaha mengingatnya, kepalaku semakin sakit. 
"Adek gue meninggal gara-gara lo! Gara-gara lo adek gue meninggal!" Sontak ucapannya seakan membawaku kembali ke masa lalu. 

Waktu itu aku dan keluarga pergi berkunjung ke rumah keluarga Zalfa. Ya, kedua orang tuaku adalah teman lama dari kedua orang tua Zalfa. Seperti biasa, sambil menunggu para orang tua bernostalgia tentang perjalanan hidup mereka, aku, Zalfa, dan Ken--adik Zalfa pergi bermain di halaman depan rumah Zalfa. Kami bermain sepak bola. Tiba-tiba bola yang aku tendang terlempar jauh hingga ke tengah jalan raya. Tadinya aku berniat mengambil bola itu. Tapi karena Ken memaksa agar dia saja yang mengambilkannya, aku pun mengangguk mengiyakan. Lagi pula jalanan sedang sepi. Paling hanya satu dua mobil yang lewat. Itupun jarang sekali. Aku mengawasi Ken yang sedang menuju ke tengah jalan raya. Sedangkan Zalfa, dia sedang mengambilkan minum untuk kami bertiga. 

Tin! Tin! Tin! Suara klakson mobil mengagetkanku. Apalagi sekarang mobil itu sedang menuju ke arah Ken berada. Aku berteriak. Berharap Ken mendengar teriakanku dan dia segera menjauh dari sana. Tapi dia nampaknya tidak mendengarnya. Mobil itu semakin dekat diiringi bunyi klakson yang semakin membuat bising sekitar. Aku memberanikan diri menghampiri Ken, sebelum semuanya terlambat. Mobil semakin mendekat. Refleks aku mendorong tubuh Ken dari sana. Untung saja aku cepat menghindar dari mobil, sehingga aku tidak tertabrak. Tapi aku terkejut dengan keadaan Ken. Kepalanya berlumur darah. Kepalanya terbentur batu saat aku mendorongnya. Dengan cepat aku membopongnya dan membawa Ken ke dalam rumah. Belum saja sampai di pelataran rumah Zalfa, Zalfa sudah berdiri mematung menatap dengan tatapan tak percaya. 

"Zal, Ken--" perkataan ku terpotong karena Zalfa tiba-tiba merebut Ken dariku. Dan aku terkejut saat tiba-tiba Zalfa juga mendorongku. Dan ini membuatku jatuh ke tanah. Aku meringis kesakitan. Tapi aku tidak akan marah pada Zalfa, karena Zalfa melakukan itu karena dia sedang panik saja dengan keadaan Ken. Dan aku tidak ingin membuat keadaan semakin kacau. 

Zalfa membawa Ken ke dalam rumah. Seluruh penghuni rumah khususnya kedua orang tua Zalfa, melihat pemandangan sekarang, langsung menubruk tubuh Ken dengan tangis yang sudah membanjiri pipi. Kedua orang tuaku juga memandangku dengan artian butuh penjelasan akan ini. Tapi aku masih diam membisu. Aku masih syok. Dan aku menghawatirkan keadaan Ken. Juga menghawatirkan Zalfa. Aku takut dia akan membenciku jika nyawa Ken tidak selamat. 

Ken dibawa ke rumah sakit. Dia terpaksa dioperasi dadakan. Kami menunggu di depan ruang operasi Ken. Do'a selalu kami panjatkan supaya nyawa Ken selamat. Paling tidak operasinya berhasil. 

Selama menunggu, tidak ada yang berani berbicara. Semuanya diam dengan pikiran masing-masing. Hanya suara tangis dari keluarga Zalfa yang menyelimuti keheningan ini. Ingin aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi nampaknya suasana sedang tidak mendukung. Dan ingin rasanya aku menenangkan Zalfa, tapi setiap kali aku mendekat dia selalu mengusirku. Dan kini aku tahu dia begini karena dia mengira akulah penyebab adiknya celaka. Mungkin iya, tapi tidak sepenuhnya kesalahanku. Aku juga mendorong Ken karena ada alasan. Dan aku tidak tahu di situ ada batu yang membuat kepala Ken akhirnya terbentur. Ingin aku menjelaskan seperti ini. Hingga beberapa saat, dokter keluar dan memberitahu kabar yang tidak kami inginkan. Bocah laki-laki berumur 9 tahun itu terbaring kaku dengan pucat menghiasi wajahnya. Ken meninggal. Kabar ini membuat hubungan aku dan Zalfa kedepannya tidaklah baik. Walaupun keluarga Zalfa sudah mengikhlaskan kepergian Ken dan memaafkan ku, tapi tidak dengan Zalfa. 

Aku ingat. Aku ingat kejadian itu. Dan kini aku tahu kenapa Zalfa selalu memperlakukanku seperti ini. Kenapa dia selalu menginginkanku supaya aku tidak bahagia. Dia membenciku. Dia menyimpan dendam padaku karena kejadian 3 tahun silam. Aku tak menyangka jika Zalfa masih saja menyalahkan ku akan kejadian itu, apalagi sampai menyimpan dendam padaku. Padahal kedua orang tua Zalfa sudah memaafkan ku sejak lama, "Sudahlah Sita, ini bukan sepenuhnya salah kamu. Lagipula ini sudah terjadi. Jangan selalu merasa bersalah terus dan meminta maaf pada kami. Ini sudah menjadi takdir sayang...". Tapi walau hubungan keluargaku sudah kembali membaik dengan keluarga Zalfa, tapi itu tidak berlaku untuk Zalfa padaku. Malahan dia semakin bernafsu balas dendam saat mengetahui bahwa aku satu SMA dengannya. 

"Inget Lo sekarang pem-bu-nuh?!" Bentak Zalfa sambil menekan kata pembunuh. 
"Maaf Zalfa. Tapi sudah ku bilang itu murni kecelakaan." 
"Kecelakaan?!" Sorot matanya membara, menunjukkan betapa bencinya dia padaku. 

Setelah memberi kode pada kedua anggota gengnya, Zalfa lantas mundur dan tidak lupa dia tertawa puas melihat nasibku sekarang. Kalian tahu apa yang terjadi? Mereka baru saja mencukur rambutku asal dan menggunting bajuku hingga aku merasakan silir angin memasuki tubuhku dengan bebas. Dingin. Benar-benar dingin. 

Selama itu, tangisku benar-benar pecah. Bahkan aku sempat memberontak dengan menjambak rambut Auly. Tapi, semakin aku melawan, mereka semakin bernafsu menyiksaku. Akhirnya aku pasrah dengan semuanya. Hanya tangis yang mewakili perasaanku sekarang. Setelah mereka puas melakukan aksinya, mereka pergi meninggalkanku. Untung ini adalah hari bebas dan juga sudah waktunya pulang, sehingga tidak banyak yang melihat keadaanku sekarang. 

"Ini belum seberapa dibanding yang Lo lakukan pada adek gue! Dan ingat! Hidup Lo tidak akan tenang selagi Lo masih terus menampakkan muka Lo di hadapan gue!" 

Aku duduk meringkuk memegangi kedua lututku. Masih dengan tangisan. Bayangan-bayangan saat mereka menyiksaku mulai kembali muncul dan itu membuatku meringis. Meringis perih seakan menyalahkan takdir. Tapi, tiba-tiba aku teringat akan perkataan seseorang. 
"Jangan menangis terlalu lama. Menangis lah secukupnya. Kasian kan mata kamu kehabisan air sungainya? "  Aku tersenyum membayangkan semua kejadian bersama Rian. Ya, dia selalu menghiburku dengan cara dia sendiri. Dan ini membuat aku rindu akan hadirnya. Aku benar-benar merindukannya yang selalu ada di sampingku. 

"Rian aku merindukanmu." Tanpa sadar kata itu lolos dari mulutku. 
"Jangan merindukan seseorang yang tidak pasti datang." Ucap salah seorang cowok yang tanpa aku sadari sekarang telah duduk di sampingku. Sebelumnya dia memberikan jaketnya untuk menutupi bajuku yang sudah robek karena ulah Zalfa dan gengnya. 

Aku masih diam. Tapi tangisku mulai reda. Kedua mataku bertemu dengan mata cowok itu, yang membuat aku bertatapan beberapa detik dengannya. Dia mengajakku pulang bersamanya. Tanpa sadar, aku mengangguk mengiyakan ajakannya. Entahlah. Sekarang aku hanya ingin pulang dan melupakan semua yang telah terjadi. Walau itu sulit. 

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 1
Submit A Comment
Comments (10)
  • Irmafer

    We love Sitta

    Comment on chapter One
  • Revaa

    Lanjut thor say, wkwk

    Comment on chapter Four
  • Nida

    Lovelove

    Comment on chapter Prolog
  • Alya

    Ternyata Arda. Lovelove my hero,ups sitta'hero wkwk

    Comment on chapter Three
  • Alya

    Huh, siapa cowok itu...

    Comment on chapter Two
  • nfyhazizah

    Yang sabar ya sitta... Lovelove

    Comment on chapter One
  • Alya

    Rian kenapa pergi huh

    Comment on chapter Prolog
  • nfyhazizah

    Bikin penasaran Riannya..

    Comment on chapter One
  • risaaryani

    Greget kayak pengen gigit si Zalfa sama gengnya! Pengen nampol nih tangan. Aargh

    Comment on chapter Two
  • risaaryani

    Sittaaa????

    Comment on chapter One
Similar Tags
Black World
26      11     0     
Horror
Tahukah kalian? Atau ... ingatkah kalian ... bahwa kalian tak pernah sendirian? *** "Jangan deketin anak itu ..., anaknya aneh." -guru sekolah "Idih, jangan temenan sama dia. Bocah gabut!" -temen sekolah "Cilor, Neng?" -tukang jual cilor depan sekolah "Sendirian aja, Neng?" -badboy kuliahan yang ...
Iskanje
37      17     0     
Action
Dera adalah seorang mahasiswa pindahan dari Jakarta. Entah takdir atau kebetulan, ia beberapa kali bertemu dengan Arif, seorang Komandan Resimen Mahasiswa Kutara Manawa. Dera yang begitu mengagumi sosok lelaki yang berwibawa pada akhirnya jatuh cinta pada Arif. Ia pun menjadi anggota Resimen Mahasiswa. Pada mulanya, ia masuk menwa untuk mencari sesuatu. Pencariannya menemui jalan buntu, tetapi ia...
BACALAH, yang TERSIRAT
133      19     0     
Romance
Mamat dan Vonni adalah teman dekat. Mereka berteman sejak kelas 1 sma. Sebagai seorang teman, mereka menjalani kehidupan di SMA xx layaknya muda mudi yang mempunyai teman, baik untuk mengerjakan tugas bersama, menghadapi ulangan - ulangan dan UAS maupun saling mengingatkan satu sama lain. Kekonyolan terjadi saat Vonni mulai menginginkan sosok seorang pacar. Dalam kata - kata sesumbarnya, bahwa di...
Dua Sisi
35      16     0     
Romance
Terkadang melihat dari segala sisi itu penting, karena jika hanya melihat dari satu sisi bisa saja timbul salah paham. Seperti mereka. Mereka memilih saling menyakiti satu sama lain. -Dua Sisi- "Ketika cinta dilihat dari dua sisi berbeda"
Ballistical World
157      37     0     
Action
Elias Ardiansyah. Dia adalah seorang murid SMA negeri di Jakarta. Dia sangat suka membaca novel dan komik. Suatu hari di bulan Juni, Elias menemukan dirinya berpindah ke dunia yang berbeda setelah bangun tidur. Dia juga bertemu dengan tiga orang mengalami hal seperti dirinya. Mereka pun menjalani kehidupan yang menuntun perubahan pada diri mereka masing-masing.
Petualang yang bukan petualang
36      14     0     
Fantasy
Bercerita tentang seorang pemuda malas bernama Ryuunosuke kotaro yang hanya mau melakukan kegiatan sesuka kehendak nya sendiri, tetapi semua itu berubah ketika ada kejadian yang mencekam didesa nya dan mengharuskan dia menjadi seorang petualang walupun dia tak pernah bermimpi atau bercita cita menjadi seorang petualang. Dia tidaklah sendirian, dia memiliki sebuah party yang berisi petualang pemul...
DEVANO
10      3     0     
Romance
Deva tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Mega bisa begitu berpengaruh untuk hidupnya. Dan untuk pertama kalinya setelah hari itu, Dio-mantan sahabatnya, ikut campur dalam urusannya. Padahal, biasanya cowok itu akan bersikap masa bodo. Tidak peduli pada semua yang Deva lakukan. Ternyata, pertemuan itu bukan hanya milik Deva. Tapi juga Dio di hari yang sama. Bedanya Deva lebih berun...
NYUNGSEP
81      28     0     
Romance
Sejatinya cinta adalah ketulusan. Jika ketika hati telah 'nyungsep', terjatuh pada seseorang, apa yang boleh buat? Hanya bisa dengan tulus menjalaninya, ikhlas. Membiarkan perasaan itu di hati walaupun amat menyakitkan. Tak perlu jauh mengelak, tak perlu ditikam dengan keras, percuma, karena cinta sejati tidak akan pernah padam, tak akan pernah hilang.
Oh My Heartbeat!
5      4     0     
Romance
Tentang seseorang yang baru saja merasakan cinta di umur 19 tahun.
kekasihku bukan milikku
2      1     0     
Romance