Read More >>"> Dimensi Kupu-kupu (8. Bantar Gebang) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dimensi Kupu-kupu
MENU
About Us  

“Cie yang pamer foto di Instagram, yang backgrounnya lukisan-lukisan. Keren sih, tapi sayang sendirian aja kaya kiper,” ucap Devina ketika dia baru saja sampai dan meletakkan tasnya di kursi.

“Yee sirik aja,” jawabku sambil menyalin PR Fisika yang belum kukerjakan. Kemarin kan aku pulang malam, jadinya lupa deh kalau ada tugas. Maaf ya Allah, aku sedang kepepet nih lima menit lagi Bu Guru datang.

“Iya nih gue sirik, lo nggak bilang-bilang mau kesana mana nggak ngajak lagi. Gue tu pengen kesana meskipun nggak tau apa-apa tentang lukisan. Tapi paling enggak kan disana ada pahatan-pahatan Tuhan yang indah.” 

Aku langsung geleng-geleng mendengar penuturan Devina. Kalau masalah cowok aja dia langsung gercep. “Jangan centil deh!”

“Kemarin lo ke Galeri sama siapa sih Ras” tanya Devina kepo, tapi belum sempat kujawab, gadis itu malah cengar-cengir. “Ah gue tau, sama Kak Arja kan? Tu cowok meskipun mulutnya kaya balsem, perhatian juga ya ternyata.”

Nah kan minta ditabok. Kalau aja dua tanganku tidak sibuk menyalin PR, tabok beneran deh Devina. 

“Katanya kesel sama dia. Kesel apa sukaaa?” Devina meledek.

“Suka dari Konoha! Orang dia yang maksa kok. Tu orang kan suka banget merintah-merintah.”

“Emang dia suka merintah-merintah?” 

Aku menarik napas sebentar. Mama dan Kak Arja pernah menasihatiku agar tidak suka ngomongin orang dari belakang, tapi karena ini Devina yang mancing duluan, namanya aku juga manusia yang gampang tergoda jadi maaf lagi ya Allah. 

“Iya. Dia itu harus menjadi pemimpin semuanya, termasuk hak gue juga. Masa kemarin dia nyuruh gue bawa baju ganti terus dia mau jemput pulang sekolah, tapi berangkat paginya gue disuruh ngojek. Bukan main kan kekuasaannya,” ucapku.

“Terus lo iyain?”

Aku mengangguk.

“Itu namanya lo mengakui kalau Kak Arja itu emang berkuasa.” Devina berujar santai tapi sukses membuatku menghentikan aktivitas menulis.

“Masa sih?”

Devina mengangguk. “Tau lapisan sosial nggak? Intinya semacam itulah.”

Aku menggeleng cepat, bukan karena tidak tau. “Big no! Gue emang mengakui kalau Kak Arja itu pucak piramida lapisan sosial. Secara dia kan pinter, cocok jadi pemimpin, koleris. Tapi serius gue nggak tunduk sama dia juga,” tolakku keras.

“Ya buktinya lo lakuin juga kan apa yang dia perintah?”

“Gini ya Vin, lapisan sosial itu terjadi ketika ada seseorang yang punya kemampuan lebih dari orang-orang lain. Nah otomatis orang itu dipandang baik dan orang-orang yang merasa lebih rendah dari dia berpikir ‘orang itu pinter, jadi kita nggak bakal salah kalau ikut kata-katanya’. Dan itu beda sama kasus gue yang iyain perintahnya," jelasku panjang. 

“Aduh Ras, terus alesannya apa?”

“Cuma penasaran. Titik!,” tekanku. “Nggak mungkin lah gue tunduk sama Arja cuma gara-gara dia pinter. Dampak buruk lapisan sosial itu namanya.” Aku kembali melanjutkan menyalin contekan. Satu menit lagi bel masuk akan berbunyi.

Devina mengangguk-angguk. “Eh tapi gue mencium bau-bau nanti sore ada orang kencan nih,” sindir Devina ketika tukang ledeknya mode on lagi. Aku hanya diam sambil pasang muka galak agar gadis itu diam. Betul saja, Devina diam setelahnya namun masih cengengesan lalu dia melongok buku fisika yang masih kutulis. “Apaan tuh?” tanyanya.

“PR Fisika.”

“APA? PR Fisika? Anjir gue belum ngerjain.” Devina kelabakan.

***

Pulang sekolah Kak Arja betulan menjemputku ke sekolah tapi boro-boro kencan seperti yang Devina bilang, laki-laki itu malah membawaku ke Bantar Gebang. Mau apa coba? Dikira aku sampah apa?

Mobil Kak Arja terparkir jauh dari lokasi kami sekarang. Tapi yang membuatku heran, disana juga ada teman-teman Kak Arja yang lain. 

“Nah Pak ketua datang. Tumben telat Ja, biasanya kita dateng lo udah stand by aja,” seru salah satu teman Kak Arja ketika kami baru saja sampai. Laki-laki yang kini kembali memakai jaket jeans buluk itu tersenyum.

“Iya, tadi jemput ini dulu,” jawab Kak Arja sambil menunjukku dengan sikunya dan sama sekali tidak melirik.

“Siapa nih? Adek lo?” Teman Kak Arja bertanya lagi. Aku hanya tersenyum bingung ditatap enam teman Kak Arja yang 4 diantaranya adalah laki-laki.

Kali ini Kak Arja menghadapku sambil mengerutkan kening. “Menurut lo mirip nggak?” tanyanya diikuti senyuman miring.

“Iya mirip,” teman laki-laki Kak Arja yang sejak tadi bertanya itu menjawab dengan sok tau. Mirip dari Wakanda!

“Iya, ini adek gue,” jawab laki-laki berjaket buluk itu minta ditampol.

“Enak aja ngaku-ngaku!” Aku mendelik. Sementara Kak Arja hanya tertawa pelan dan enam temannya memperhatikanku bingung. “Kak Arja itu cuma …” Ucapanku menggantung, disana aku mengalami keadaan bingung akan berkata apa.

“Cuma?” lanjut teman-teman Kak Arja kompak sambil mengulum senyum. Ini namanya pembulyan.

“Udah-udah! Kasian itu adeknya jadi malu kan.” Perempuan berhijab yang tadi membulyku akhirnya membela juga. Diam-diam aku menghela nafas lega. Ah Kakak yang satu ini memang penyelamat.

“Ck baik deh Hanum mah, bikin tambah naksir aja,” ucap teman Kak Arja yang lain dengan aroma modus.

Perempuan yang ternyata bernama Hanum itu menjulurkan lidah, lalu beralih memperhatikan Kak Arja. “Gimana Ja perkembangannya?” tanyanya.

“Bagus kok, ini kita tinggal pisah-pisahin Polietilena Tereftalat-nya.”

“Yah gorek-gorek sampah lagi dong ini.” Laki-laki yang menggoda Kak Hanum mengeluh.

“Gino sih mana tau peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian,” cibir perempuan satunya yang tidak pakai hijab sambil bangkit berdiri. “Ayok ah mulai, biar pulangnya nggak kesorean!”

Orang-orang itu mulai bangkit satu persatu dan berjalan meninggalkan tempat mengobrol tadi. Aku hanya berdiri kikuk ketika tersisa aku, Kak Arja dan perempuan teman Kak Hanum.

“Mau ikut?” tanya perempuan itu ramah. Aku tersenyum, belum sempat kujawab tau-tau saja Kak Arja sudah menyela terlebih dahulu.

“Ikut lah, lo sama Hana ya Ras!” perintah Kak Arja. Jadi perempuan yang mengajakku ini namanya Kak Hana.

“Iya.” Meski belum mengerti sepenuhnya, aku tetap menurut. “Tapi itu tadi poli-poli apa? Aku nggak ngerti,” ujarku akhirnya.

Kak Hana tersenyum simpul, itu lebih membesarkan hatiku daripada ekspresi Kak Arja yang terlihat merendahkan seperti sekarang ini.

“Polietilena Tereftalat itu jenis plastik yang biasa dipake buat botol minum sama wadah minyak,” ucap Kak Arja. Aku  mengangguk pelan, buat apa mereka-mereka mengumpulkan sampah botol?

“Jadi ini buat bahan percobaan kita, Polietilena Tereftalat nantinya bakal diuraikan sama bakteri Ideonella Sakaiensis. Tau kan sampah plastik susah terurainya? Jadi ini kegiatan penting.” Tanpa ditanya lagi, Kak Arja sudah lebih dulu menjelaskan ketika melihat rautku yang masih bingung. Sebenarnya dari penjelasan barusan, aku makin bingung. “Kalo masih nggak ngerti, tanyain sama Hana aja ya!” ucap Kak Arja sebelum menyusul teman-temannya yang lain.

Kini hanya tersisa aku dan Kak Hana yang mulai berjalan pelan menyusul. Jadi tujuan Kak Arja ngajakin kesini itu apa? Pembuktian apa?

“Namanya siapa ya?” tanya Kak Hana.

“Raras Kak.” Aku menjawab sopan sambil memperhatikan wajah cantik teman Kak Arja yang satu ini.

“Raras kok bisa ikut Arja sih? Emang dia bilang apa sampai kamu mau-mau aja diajak ke tempat sampah begini?” Kak Hana bertanya dengan nada penasaran yang enak didengar. Sama sekali bukan nada intimidasi.

“Nggak tau sih Kak, dia cuma butuh pengakuan soalnya aku terus-terusan bilang kalau dia itu  bisanya perintah-perintah orang lain doang.” Aku nyengir sementara Kak Hana tertawa pelan.

“Haha, Arja emang gitu.”

Kok ambigu ya, maksud Kak Hana ‘emang begitu’ itu Kak Arja emang suka perintah-perintah orang lain apa gimana?

“Kak Han, emang percobaan ini tuh buat apa sih?” tanyaku pelan.

“Tujuan kegiatan ini itu sebenernya buat penyaluran minat anak yang suka sama hal berbau bio-bio gitu. Rencana sih kita pengen kegiatan ini jadi UKM kampus, tapi ya gatau deh kedepannya bakal ngapain. Tuh si Arja yang jadi pelopor,” jelas Kak Hana.

“Apa cuma anak Teknologi Bioproses aja Kak yang ikut?”

Kak Hana menggeleng. “Aku anak Biologi Ras."

“Jadi bebas yang mau ikut?”

“Iya, asalkan dia ada niat sama mampu. Arja pernah bilang sama anak-anak dia Cuma mau pimpin orang-orang yang beneran mau dipimpin. Jadinya ya gini, kita cuma sisa 7 orang doang yang serius. Tapi bener sih kata Arja, nggak nyesel juga kehilangan orang yang nggak niat.” 
Kak Arja juga pernah bilang gitu ke aku waktu di Kopi Bar dulu. Jadi itu pengalamannya ya?  Benar-benar ngambis ya manusia yang satu itu

“HAN!” 

Aku dan Kak Hana menoleh bersamaan, ternyata laki-laki yang bernama Gino tadi yang meneriakkan nama Kak Hana.

“Cepet sini bantuin!” perintahnya.

Aku mendapati Kak Hana memasang wajah malas ketika laki-laki bernama Gino itu bicara dengan tampang modus.

“Ogah!” Kak Hana menarik tanganku menuju Kak Hanum setelah menolak mentah-mentah Kak Gino. Aku cuma meringis menyaksikannya. Sebelum aku menyusul yang lain bekerja, Kak Hana membisikkan sesuatu yang membuatku berpikir lama.

“Arja butuh pengakuan kan Ras? Percaya deh, akuin aja kalau dia nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia cuma ulat yang belum jadi kupu-kupu.” Aku memicing. Apa ini?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Unknown
10      10     0     
Romance
Demi apapun, Zigga menyesal menceritakan itu. Sekarang jadinya harus ada manusia menyebalkan yang mengetahui rahasianya itu selain dia dan Tuhan. Bahkan Zigga malas sekali menyebutkan namanya. Dia, Maga!
Enigma
546      393     0     
Romance
enigma noun a person or thing that is mysterious, puzzling, or difficult to understand. Athena egois, kasar dan tidak pernah berpikir sebelum berbicara. Baginya Elang itu soulmate-nya saat di kelas karena Athena menganggap semua siswi di kelasnya aneh. Tapi Elang menganggap Athena lebih dari sekedar teman bahkan saat Elang tahu teman baiknya suka pada Athena saat pertama kali melihat Athena ...
DariLyanka
72      48     0     
Romance
"Aku memulai kisah ini denganmu,karena ingin kamu memberi warna pada duniaku,selain Hitam dan Putih yang ku tau,tapi kamu malah memberi ku Abu-abu" -Lyanka "Semua itu berawal dari ketidak jelasan, hidup mu terlalu berharga untuk ku sakiti,maka dari itu aku tak bisa memutuskan untuk memberimu warna Pink atau Biru seperti kesukaanmu" - Daril
Black Lady the Violinist
487      257     0     
Fantasy
Violinist, profesi yang semua orang tahu tidak mungkin bisa digulati seorang bocah kampung umur 13 tahun asal Sleman yang bernama Kenan Grace. Jangankan berpikir bisa bermain di atas panggung sebagai profesional, menyenggol violin saja mustarab bisa terjadi. Impian kecil Kenan baru kesampaian ketika suatu sore seorang violinist blasteran Inggris yang memainkan alunan biola dari dalam toko musi...
Bukan Kamu
423      254     0     
Romance
Bagaimana mungkin, wajahmu begitu persis dengan gadis yang selalu ada di dalam hatiku? Dan seandainya yang berada di sisiku saat ini adalah kamu, akan ku pastikan duniaku hanyalah untukmu namun pada kenyataanya itu bukan kamu.
Koma
424      233     0     
Romance
Sello berpikir bisa menaklukkan Vanda. Nyatanya, hal itu sama halnya menaklukkan gunung tinggi dengan medan yang berbahaya. Tidak hanya sulit,Vanda terang-terangan menolaknya. Di sisi lain, Lara, gadis objek perundungan Sello, diam-diam memendam perasaan padanya. Namun mengungkapkan perasaan pada Sello sama saja dengan bunuh diri. Lantas ia pun memanfaatkan rencana Sello yang tak masuk akal untuk...
NAZHA
12      12     0     
Fan Fiction
Sebuah pertemuan itu tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya pasti punya jalan cerita. Begitu juga dengan ku. Sang rembulan yang merindukan matahari. Bagai hitam dan putih yang tidak bisa menyatu tetapi saling melengkapi. andai waktu bisa ku putar ulang, sebenarnya aku tidak ingin pertemuan kita ini terjadi --nazha
Blue Diamond
82      55     0     
Mystery
Permainan berakhir ketika pemenang sudah menunjukkan jati diri sebenarnya
LANGIT
772      358     0     
Romance
'Seperti Langit yang selalu menjadi tempat bertenggernya Bulan.' Tentang gadis yang selalu ceria bernama Bulan, namun menyimpan sesuatu yang hitam di dalamnya. Hidup dalam keluarga yang berantakan bukanlah perkara mudah baginya untuk tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti istilah yang menyatakan bahwa orang yang sering tertawalah yang banyak menyimpan luka. Bahkan, Langit pun ...
Noterratus
93      58     0     
Mystery
Azalea menemukan seluruh warga sekolahnya membeku di acara pesta. Semua orang tidak bergerak di tempatnya, kecuali satu sosok berwarna hitam di tengah-tengah pesta. Azalea menyimpulkan bahwa sosok itu adalah penyebabnya. Sebelum Azalea terlihat oleh sosok itu, dia lebih dulu ditarik oleh temannya. Krissan adalah orang yang sama seperti Azalea. Mereka sama-sama tidak berada pada pesta itu. Berbeka...