Read More >>"> Dimensi Kupu-kupu (23. Butterfly Effect) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dimensi Kupu-kupu
MENU
About Us  

Besok malamnya, entah dimana Mama bertemu dan mengobrol dengan Tante Riska sehingga bisa-bisanya mereka punya rencana makan malam bersama. Sialnya, semua orang oke-oke saja ketika wanita itu mendeklarasikan perihal acara makan malam yang dia gadang-gadang itu dengan bangga.
Aku hanya pasrah saja ketika Mama menyeretku yang malam itu sudah pakai dress cantik untuk masuk ke dalam restoran.

“Kalian ini suksesnya janjian apa gimana?” Ayah Kak Arja yang baru kuketahui bernama Om Beni itu menatap kami berdua dengan senyuman bangganya.

Kak Arja yang malam ini tampak beda dengan setelan tuxedo-nya itu tersenyum singkat. 

“Eh? Enggak Om, saya aja nggak nyangka kalau bisa menang. Tapi kalau Kak Arja sih, rencananya udah termanajemen baik-baik,” jawabku.

Om Beni menggeleng-gelengkan kepala. “Ini tuh Raras yang dulu katanya mau masuk SMK itu kan?”

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Jadi, kok kamu kepikiran buat ikut lomba Ras? Padahal kata Ayah kamu, lukisanmu itu jadi barang privasi yang nggak boleh diliat siapapun.”

Aku terkekeh pelan sambil melirik Kak Arja yang sedang menahan senyumnya. “Berkat Kak Arja juga sih Om, dia yang nyuruh buat ikut.”

Om Beni melirik anaknya dengan tatapan aneh, sementara yang dilirik hanya mengangkat bahu sambil sibuk melahap makanannya.

“Ooh gara-gara Arja?” Kak Ratih yang sejak tadi sibuk menggosip dengan Mama dan Tante Riska itu tiba-tiba bersuara. Aku mendelik ke arah perempuan yang duduk tepat di sampingku itu sengit. Tiga perempuan itu tertawa pelan yang entah kenapa tiba-tiba sekarang mereka jadi orang-orang menyebalkan.

“Enggak juga, adik kamu emang skill-nya baik.” Kak Arja menyahuti dengan menggunakan sapaan aku-kamu ke Kak Ratih setelah perempuan itu menolak di panggil ‘Kak’ oleh Kak Arja.

Kak Ratih manggut-manggut sambil melirikku sejenak. “Aku itu sering diceritain Raras tentang kepribadianmu Ja,” ucap Kak Ratih ngawur yang langsung kuhadiahi pelototan.

“Pernah ya?” tanyaku malas.

Perempuan sedarah sekandung yang kadang nyebelin kadang ngangenin itu hanya terkekeh tanpa dosa. “Enggak deng, Mama yang cerita. Temen-temenku juga banyak yang kenal kamu, katanya Arja itu a choleric type person who likes to be someone else’s authority, edgy nggak sih kamu terkenal sama sifat-sifat itu?”

Bukannya tersinggung, laki-laki itu malah tersenyum. Aku sempat berfikir kalau Kak Arja suka Kak Ratih. Dengan rautnya sama sekali tidak tersinggung itu Kak Arja kemudian menjawab dengan nada santai, this is very different from his reaction to my criticism, aku ingat betul aura tidak terimanya dia ketika kubilang tujuan hidupnya itu cuma menganut standard masyarakat.

“Sebagian dari mereka itu ada yang salah nangkep soal ‘pemegang wewenang’ yang kita bicarain disini kalau menyangkut nama Arja. Banyak yang bilang kalau tipe koleris itu suka ngatur-ngatur, yah as they think of me, Raras juga awalnya mikir gitu. Iya kan Ras?” Kak Arja menolehkan pandangannya ke arahku dengan sudut bibir sedikit terangkat.

“Iya?” tanya Kak Ratih semangat. Aku mengedarkan pandangan, Ayah, Mama, Tante Riska, serta Om Beni sesekali memperhatikan pembicaraan Kak Ratih dan Kak Arja.

“Tapi kayaknya kamu udah berhasil buat Raras ada di bawah otoritas kamu ja, buktinya dia mau kamu suruh-suruh.” Kak Ratih terkikik.

Laki-laki itu memperhatikanku sambil manggut-manggut, “nggak segampang itu.”

Kak Ratih malah tertawa, “kalian itu lucu tau. Deket, sering jalan bareng. Aku tau sih, tipe-tipe kayak kamu gini tuh paling masa bodo sama cewek, tinggal tebar pesona seorang coolest bachelor.” Kak Ratih tertawa lagi di akhir kalimatnya.

Kak Arja juga tertawa lalu sekali lagi menolehkan pandangannya ke arahku. “Enggaklah, kalau Raras ya beda.”

Kak Ratih tertawa semakin keras, aku masih bersyukur karena orang-orang tua di sekitarku lebih memilih mengambil topik mereka sendiri.

“Jadi, menurut kamu Raras itu gimana?” tanya Kak Ratih.

“Aduh, kalian itu kalu mau ngobrol ambil mosi yang enak kek. Penting ya ngomongin aku?” ujarku kesal sambil menatap dua orang itu galak.

Kak Arja tersenyum kecil dan tidak melanjutkan obrolannya tentang diriku dengan Kak Ratih, setelah itu mereka berdua asik mengobrol dengan topic yang lebih baik.

Satu jam kemudian, setelah isi piring masing-masing telah kami lahap, kami memutuskan pulang. Hm, makan malam yang berkesan.

“Lo tau efek kupu-kupu kan?” tanya Kak Arja sebelum kami meninggalkan restoran, aku dan dia memang berjalan paling di belakang karena laki-laki itu bilang dia ingin mengatakan sesuatu. Sementara Kakakku yang tadi semangat meledek itu sudah meluncur duluan bersama temannya yang tadi menjemput.

“Tau, teori kekacauan kan?”

Laki-laki itu mengangguk.  “Pulang bareng gue ya Ras?” pintanya kemudian.

“Ha? Aku sama Ayah sama Mama Kak, sekalian,” jawabku.

“Kalo gue ijin ke mereka gimana?”
Aku mengernyit tapi diam, karena tidak ada jawaban dariku setelahnya, Kak Arja betulan berniat menghampiri Ayah dan Mama.

“Kak, aku ijin sendiri aja,” ucapku. Laki-laki mengangkat dua sudut bibirnya. Setelah itu kulangkahkan kaki untuk menghampiri dua orang tuaku yang sedang berjalan di parkiran.

“Yah, Ma, Raras pulang sama Kak Arja boleh nggak?” tanyaku setelah berhasil menghentikan langkah 2 orang itu. Mama mengernyit lalu melirik arloji yang dia pakai.

“Nggak mau bareng Mama aja?” tanyanya memastikan.

Aku menggeleng, “Kak Arja ngajak pulang bareng.”

Wanita itu melirik Ayah yang mengangguk singkat setelahnya. “Yaudah, hati-hati ya!” 

Aku tersenyum kemudian mencium pipi mereka bergantian. “sayang deh sama kalian, kalau Kak Ratih udah pulang titip salam ya.”

“Kakakmu itu lagi keluar sama temen cowoknya, tapi katanya mau kumpul sama temen-temen yang lain juga, kayaknya pulang malem.” Ayah menyahuti.

Aku manggut-manggut. “Yaudah, bye Ma, Yah!” kataku sambil setengah berlari meninggalkan mereka menghampiri Kak Arja yang sudah menunggu di samping mobil jeep-nya.

“Udah pamitannya?” tanya Kak Arja.

“Udah,” jawabku kemudian naik di kursi penumpang.

Setelah kami berdua sudah duduk manis di dalam mobil dan Kak Arja juga sudah menyalakan mesin mobilnya, sedetik kemudian mobil putih itu melaju meninggalkan pelataran restoran.

“Emang kita mau kemana sih?” tanyaku kemudian.

Kak Arja yang sedang fokus menyetir itu menjawab tanpa mengalihkan perhatian. “Pulang lah.”

“Kan tadi tinggal sekalian aku sama Ayah aja, kok jadi ribet mau nganter segala.”

“Sesekali lah, kita ngobrol dalam kedaan baik-baik.”

Aku terkekeh kecil. “Jadi maksudnya sekarang kita lagi dalam keadaan baik?”
Laki-laki itu hanya menjawab dengan anggukan kepala singkat.

“Eh tapi btw, tadi Kak Arja nanya soal efek kupu-kupu? Kenapa?” tanyaku teringat percakapan kami yang belum usai tadi.

“Ooh, gue mau bicara soal dimensi-dimensi yang lo bilang kemarin sama novel kupu-kupu lo itu.”

“Kenapa emangnya?”

Kak Arja menoleh, sesekali menatapku juga jalanan depan sana. “Lo tau apa yang gue rasain tiap liat lo Ras?” tanyanya pelan.

Aku diam.

“Gue takut bakal gagal,” ucapnya.
Aku semakin tidak paham. “Maksudnya?”

“Apa setiap lo hidup lagi di suatu dimensi, ada sebuah mimpi yang dateng sebelum itu?” tanyanya serius, kuanggukkan kepala kemudian. “Apa yang lo minta di mimpi itu?”

Mendadak tubuhku menggigil, perasaanku mulai tidak enak. “Aku ingin mati dengan kesuksesan yang membuat orang-orang terdekatku bahagia,” jawabku. Persis dengan jawaban yang kuberikan untuk sebuah mimpi itu.

“Gue juga, mimpi itu bahkan dateng tiap malem.”

“Apa yang Kak Arja minta?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Jadi manfaat buat orang lain. Dan semesta ngirim lo buat gue bikin bahagia, dan setelah baca novel itu gue sadar, gue nggak pernah berhasil buat bikin lo sukses dalam suatu hal. Maaf ya?” Dia menatapku intens. Aku termenung mendengarkan kata-katanya. Tapi kemudian laki-laki itu tersenyum.

“Menurut lo kupu-kupu itu giamana?” tanyanya.

Masih dengan pandanganku yang lurus ke laki-laki itu, aku menjawab, “Kupu-kupu itu rentan mati. Awal jadi ulat dia berjuang mempercantik diri, itu usaha. Setelah gemilang, punya sayap bagus, hidupnya nggak tahan lama.”

“Kan udah jalannya gitu, kupu-kupu kalo hidupnya lama, sayapnya bisa rusak, jadi dia bukan suatu keindahan lagi."

“Jadi artinya apa?”

“Kupu-kupu disayang Tuhan.”

Aku terdiam. Ketika matanya tiba-tiba menatapku intens, aku merasakan hal berbeda dari dia.

“Kamu mau jadi kupu-kupu? Tanyanya.

Aku terkesiap, ini aneh.

“Jadi kupu-kupu yang keindahannya diabadikan Tuhan.”

Aku menatap Kak Arja lamat-lamat. “Kak?”

“Tau apa lagi yang aku rasain tiap kita deket?”

Aku menggeleng pelan.

“Love!”

Aku terkesiap, terkejut, belum siap mencerna yang terjadi setelahnya. Aku mendengar suara ramai klakson memekakkan telinga dari arah depan. Tapi tubuhku kaku, terlebih ketika suara benturan keras itu terdengar, tubuhku sudah tak bisa kugerakkan lagi. 

Pelan, aku merasakan sakit di sekujur tubuh, sangat sakit sampai kemudian tubuhku mati rasa. Aku menangis, dengan kesadaran yang tinggal separuh itu dapat kudengar samar-samar teriakan orang.

“Kecelakaan!”

Tangisku kian deras ketika mataku menemukan Kak Arja dengan mata terpejam berada di sampingku. Aku merintih minta tolong, tidak ada yang kurasakan lagi selain kehilangan. Setelah itu pandanganku menggelap, semua rasa sakit tadi tiba-tiba lenyap, dan aku merasa damai, tenang, dan sunyi. Aku telah happy ending pada kisahku sendiri.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
BIYA
11      2     0     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
Help Me
41      9     0     
Inspirational
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika manusia berfikir bahwa dunia adalah kehidupan yang mampu memberi kebahagiaan terbesar hingga mereka bangun pagi di fikirannya hanya memikirkan dunia yang bersifat fana. Padahal nyatanya kehidupan yang sesungguhnya yang menentukan kebahagiaan serta kepedihan yakni di akhirat. Semua di adili seadil adilnya oleh sang maha pencipta. Allah swt. Pe...
a Little Braver
6      6     0     
Romance
Ketika takdir yang datang di setiap kehidupan membawanya pada kejutan-kejutan tak terduga dari Sang Maha Penentu, Audi tidak pernah mengerti kenapa Dia memberikannya kehidupan penuh tanya seperti ini?
Utha: Five Fairy Secret
16      8     0     
Fantasy
Karya Pertama! Seorang pria berumur 25 tahun pulang dari tempat kerjanya dan membeli sebuah novel otome yang sedang hits saat ini. Novel ini berjudul Five Fairy and Secret (FFS) memiliki tema game otome. Buku ini adalah volume terakhir dimana penulis sudah menegaskan novel ini tamat di buku ini. Hidup di bawah tekanan mencari uang, akhirnya ia meninggal di tahun 2017 karena tertabrak s...
Dialogue
27      2     0     
Romance
Dear Zahra, Taukah kamu rasanya cinta pada pandangan pertama? Persis senikmat menyesapi secangkir kopi saat hujan, bagiku! Ah, tak usah terlalu dipikirkan. Bahkan sampai bertanya-tanya seperti itu wajahnya. Karena sesungguhnya jatuh cinta, mengabaikan segala logika. With love, Abu (Cikarang, April 2007) Kadang, memang cinta datang di saat yang kurang tepat, atau bahkan pada orang yang...
Gloria
32      14     0     
Romance
GLORIA, berasal dari bahasa latin, berarti ambisi: keinginan, hasrat. Bagimu, aku adalah setitik noda dalam ingatan. Namun bagiku, kamu adalah segumpal kenangan pembuat tawaku.
Bulan dan Bintang
36      16     0     
Romance
Orang bilang, setiap usaha yang sudah kita lakukan itu tidak akan pernah mengecewakan hasil. Orang bilang, menaklukan laki-laki bersikap dingin itu sangat sulit. Dan, orang bilang lagi, berpura-pura bahagia itu lebih baik. Jadi... apa yang dibilang kebanyakan orang itu sudah pasti benar? Kali ini Bulan harus menolaknya. Karena belum tentu semua yang orang bilang itu benar, dan Bulan akan m...
RAHASIA TONI
322      50     0     
Romance
Kinanti jatuh cinta pada lelaki penuh pesona bernama Toni. Bukan hanya pesona, dia juga memiliki rahasia. Tentang hidupnya dan juga sosok yang selalu setia menemaninya. Ketika rahasia itu terbongkar, Kinanti justru harus merasakan perihnya mencintai hampir sepanjang hidupnya.
Sampai Nanti
4      4     0     
Short Story
Ada dua alasan insan dipertemukan, membersamai atau hanya memberikan materi
Rihlah, Para Penakluk Khatulistiwa
110      24     0     
Inspirational
Petualangan delapan orang pemuda mengarungi Nusantara dalam 80 hari (sinopsis lengkap bisa dibaca di Prolog).