Read More >>"> Reuni SMA (Dialogue 13) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Reuni SMA
MENU
About Us  

Hari ini hari ulang tahun Raka, 10 Desember. Umur dia 4 bulan lebih muda dari gue. Gue mempersiapkan pesta kejutan untuk dia hari ini. Bukan pesta yang meriah, namun gue harap dapat berkesan. Gue pergi ke supermarket untuk mencari kado. Masih sangat bingung dengan kado yang akan gue berikan. Hampir satu jam gue berkeliling di supermarket yang memang besarnya super ini, namun tidak mendapat inspirasi apapun. Akhirnya gue berhenti di sebuah toko pakaian pria. Gue melihat-lihat ke dalam toko. Awalnya gue tertarik dengan kemeja berwarna abu-abu tua dengan line berwarna hitam di bagian kancingnya. Namun setelah gue mengelilingi toko itu lagi, gue melihat jaket sangat menarik. Dan saat itu juga gue ingat bahwa Raka hanya punya dua jaket. Hal itu yang membuat gue memutuskan untuk memberikannya kado sebuah jaket berbahan parasit dengan warna hitam putih. Karena kulit Raka juga putih, jaket ini akan sangat cocok dengan warna kulitnya itu. Dan gue juga memutuskan untuk membeli kue ulang tahun. Kue ulang tahun yang berukuran kecil namun cukup untuk dua orang.

Setelah lelah berbelanja gue membeli es krim. Namun hal yang tidak gue sangka terjadi, saat gue sedang memakan es krim tiba-tiba seseorang yang tidak asing lagi berada tepat di hadapan gue. Sela.

“lo ngapain disini sendirian? Tadi lo bilang ga mau pergi waktu gue ajak jalan? Kenapa sekarang lo malah lagi asik makan es krim sendirian? Dan lo keliatannya abis belanja, belanja apa?”

“wow wow... stop!” gue hampir berteriak pada Sela karena pertanyaannya yang segunung itu.

Sela langsung duduk di hadapan gue bersama Kevin tentunya.

“gue minta penjelasan!” nada bicara Sela seperti seorang cewek yang mengetahui bahwa cowoknya selingkuh.

“apaan banget sih, engga tadi gue...”

“apa? Apa?” sela mulai sewot.

“sayang aku beli es krim ya!”

“iya sayang,” Kevin langsung meninggalkan gue dan Sela.

“tadinya gue emang ga mau jalan kemana-mana, tapi di pikir-pikir mungkin gue juga butuh hiburan jadi gue kesini. Karena gue pikir lo juga pasti disini J.” Gue senyum semanis mungkin supaya Sela percaya omongan gue.

“lo ga boong kan?” nada Sela menginterogasi.

“ngapain gue boong, boong buat apa coba?”

“ah udah, udah! Nih makan es krimnya!” Kevin datang dan langsung memberikan es krim kepada sang pacar.

...............................

            “Sekarang jam 10.15!” itulah yang terdengar dari handphone gue saat gue mengklik pilihan jam berbicara. Yup! Sekarang sudah jam 10 lebih 15 menit malam, tepatnya. Dan gue masih berada di rumah Raka bersama Rafa.

“kenapa lo ga coba buat nelpon kakak gue? Kalo nungguin gini kan ga jelas,” Rafa mulai bosan melihat gue yang terus-terusan memandangi pintu rumah dan berharap Raka muncul dari sana.

“aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh!!!” teriak gue yang mulai gila gara-gara bosan.

Berulang kali gue keluar rumah dan melihat ke ujung jalan. Tapi nihil, tidak ada satupun dari bagian tubuh Raka yang terlihat. Rafapun menghampiri gue yang akhirnya duduk di tangga rumah Raka. Adegan dimana seseorang sedang putus asa menunggu.

“masuk di luar kan dingin!”

“mungkin dia lagi di jalan sekarang.” Gue masih yakin

“akhir-akhir ini kakak selalu pulang malem, gue khawatir lo harus nunggu sampe pagi,”

“oh ya... tapi ini kan hari ulang tahunnya.”

“nah itu dia, justru karena hari ini hari ulang tahunnya. Jadi wajar kan kalo dia pulang malem.” Rafa menasehati gue dengan nada bicara orang dewasa. -_-

Guepun berdiri dan melihat ke dalam rumah yang sudah terhias dengan berbagai macam pernak-pernik ulang tahun. Semua persiapan sudah gue selesaikan sejak pukul 7 tadi. Yah, gue berencana untuk memberikan pesta kejutan ulang tahun buat Raka. Tapi entahlah, rencana ini akan menjadi kenyataan atau tidak. Karena yang jelas sampai sekarang Raka belum juga pulang ke rumahnya.

11.20 malam...

Akhirnya gue menyerah dan memutuskan untuk pulang. Setelah merapihkan makanan yang sudah tidak hangat lagi ke dalam lemari es, guepun berpamitan kepada Rafa.

“langsung tidur!” perintah gue pada Rafa saat Rafa mengantar gue di pintu gerbang.

“lo juga, langsung pulang!”

“iya!” gue menepuk pundak Rafa dan tersenyum kemudian pergi.

Keesokan harinya...

            Gue merasa tidak enak badan hari ini untuk pergi ke sekolah. Mungkin inilah efek tadi malam, gue mengendarai motor gue untuk pergi ke rumah Raka.

“masuk angin mungkin, non!” bibi memberikan segelas air putih yang gue pinta.

“oh yah? Apa rasanya kayak gini bi?”

“maksudnya?”

“iya, mual, perut itu rasanya kosong, pusing, ah pokoknya ga enak deh!” gue mengeluh kepada bibi gue tersayang.

“betul sekali itu non. Ya udah biar bibi bikinin teh manis sama ambilin obat, supaya non tetep bisa sekolah.” Bibi langsung meninggalkan gue yang masih meringkuk di kasur.

Hari ini di rumah benar-benar tidak ada orang. Kakak gue sudah balik lagi ke Belanda. Sementara orang tua gue seperti biasa sibuk dengan bisnis-bisnisnya.

            Setelah meminum teh manis hangat dan obat yang diberikan oleh bibi, guepun berangkat dengan satu potong roti sarapan yang masih menempel di mulut gue. Berhubung gue sakit jadi hari ini gue pergi ke sekolah membawa mobil. Sebenarnya gue belum punya SIM untuk mengendarai mobil gue ini, tapi ya begitulah orang Indonesia :-D heheheh. Mobil kesayangan gue ini berwarna biru mengkilap, jenis sedan force yang atapnya bisa di buka. Yah menurut gue ini bukan hal yang berlebihan kalau gue dibelikan mobil ini waktu ulang tahun gue yang ke-15 kemarin. Karena kenapa? Untuk apa lagi orang tua gue sibuk bekerja, kalau bukan untuk memberikan fasilitas dan kesenangan lainnya bagi anaknya. Hahahahahahahaha. *evil laugh

“tumben lo bawa mobil?” Sela langsung menghampiri gue yang baru turun dari mobil.

“hari ini gue lagi masuk angin,”

“ya ampun!!!!” seketika teriak ketika melihat wajah gue.

“kenapa?”

“kenapa sama muka lo?” Sela mendekatkan wajahnya ke wajah gue.

“kan tadi udah gue bilang gue ga enak badan.” Gue langsung berjalan meninggalkan Sela.

“iya, tapi emang lo ga mandi gituh?”

“emang segitu dekilnya muka gue?”

“ah, ya udah deh lupain. Ayo masuk, diluar dingin. Kan lo lagi sakit.”

Setelah sampai di kelas gue hanya duduk lemas. Mungkin benar pada akhirnya gue sakit. Gue sudah merasakan gejala-gejalanya. Seperti bersin-bersin, udara di sekitar tubuh gue benar-benar dingin, sendi-sendi badan gue juga terasa ngilu. Guepun mencoba tidur di meja gue sebelum bel masuk pelajaran dimulai. Tapi tiba-tiba terdengar suara gaduh dan menyanyikan lagu ulang tahun disertai tepuk tangan dari semua siswa kecuali gue.

“happy birthday to you! Happy birthday to you!” Gue sudah menduga hal ini terjadi.

Raka datang dan disambut oleh anak-anak untuk memberikannya nyanyian selamat ulang tahun. Sementara semua orang menghampiri Raka, termasuk Sela. Gue tidak bergerak dari tempat duduk gue. Masih ingat betapa menjengkelkannya tadi malam. Saat gue dan Rafa menunggu kedatangan Raka yang pada akhirnya tidak juga datang. Jam pelajaran dimulai, dan tidak ada tanda-tanda Raka ingin mengatakan apapun pada gue. Padahal gue meninggalkan kue ulang tahun dan kado di kamarnya.

Jam istirahat, Sela mengajak gue ke kantin. Tapi gue merasa malas dan mengatakan pada Sela untuk membelikan gue susu dari kantin. Dan Sela mengiyakan keinginan gue. Dia selalu mengerti gue dan mematuhi gue. Hehe J setelah semua orang keluar dari kelas dan ruangan terasa lebih tenang. Gue baru sadar ternyata sekarang hanya ada gue dan Raka di dalam kelas. Gue juga bisa merasakan sekarang Raka menghampiri gue. Dan benar saja tiba-tiba ada tangan yang menempel di dahi gue. Guepun menatap Raka, tapi Raka tidak mengatakan apapun. Lalu Raka mengisyaratkan gue untuk mengikutinya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Gugur Bunga di Andhang Pangrenan
298      241     0     
Short Story
\"Mungkin Tuhan berniat baik. Tidak mempertemukan kita dalam waktu yang cepat. Agar ada sedikit waktu untuk kebersamaan kita. Sebelum akhirnya pertemuan itu menjadi cerita terakhir.”
Black Envelope
7      7     0     
Mystery
Berawal dari kecelakaan sepuluh tahun silam. Menyeret sembilan orang yang saling berkaitan untuk membayarkan apa yang mereka perbuatan. Nyawa, dendam, air mata, pengorbanan dan kekecewaan harus mereka bayar lunas.
Suara Kala
126      97     0     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...
Jalan-jalan ke Majapahit
124      93     0     
Fantasy
Shinta berusaha belajar Sejarah Majapahit untuk ulangan minggu depan. Dia yang merasa dirinya pikun, berusaha melakukan berbagai macam cara untuk mempelajari buku sejarahnya, tapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah website KUNJUNGAN KE MAJAPAHIT yang malah membawanya menyebrangi dimensi waktu ke masa awal mula berdirinya Kerajaan Majapahit. Apa yang akan terjadi pada Shinta? ...
A Life Time
12      12     0     
Short Story
Mo discovered a flower so beautiful and captivating, Little did she know, the flower would change her life, or worse... her death.
Hero In The Sky
12      12     0     
Short Story
Took A Step Back
14      14     0     
Short Story
Turning sadness to happiness with a step.
SERENA (Terbit)
360      217     0     
Inspirational
Lahir dalam sebuah keluarga kaya raya tidak menjamin kebahagiaan. Hidup dalam lika-liku perebutan kekuasaan tidak selalu menyenangkan. Tuntutan untuk menjadi sosok sempurna luar dalam adalah suatu keharusan. Namun, ketika kau tak diinginkan. Segala kemewahan akan menghilang. Yang menunggu hanyalah penderitaan yang datang menghadang. Akankah serena bisa memutar roda kehidupan untuk beranjak keatas...
Warna Jingga Senja
0      0     0     
Romance
Valerie kira ia sudah melakukan hal yang terbaik dalam menjalankan hubungan dengan Ian, namun sayangnya rasa sayang yang Valerie berikan kepada Ian tidaklah cukup. Lalu Bryan, sosok yang sudah sejak lama di kagumi oleh Valerie mendadak jadi super care dan super attentive. Hati Valerie bergetar. Mana yang akhirnya akan bersanding dengan Valerie? Ian yang Valerie kira adalah cinta sejatinya, atau...
Foto dalam Dompet
294      234     3     
Short Story
Karena terkadang, keteledoran adalah awal dari keberuntungan. N.B : Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan semata