Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (40. Breakfast at Tiffany\'s) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Hari, minggu, bulan menggelincir dengan cepat. Tahu-tahu Abriel sudah sampai di penghujung tahun. Sedikit, dengan ironis, ia terkagum-kagum akan pencapaiannya hingga bisa menjejak hari ini. Karena, jujur, ia masih bisa mengingat kegelapan hatinya saat itu, dalam perjalanan pulangnya menuju Bandung.

Pada pertengahan bulan Maret, komik Abriel resmi diterbitkan. Pencapaiaan itu membuat banyak orang terkagum-kagum padanya, terutama kedua orangtuanya. Bagaimana tidak, belum pernah ada komikus yang lahir dalam keluarga besar mereka. Abriel sendiri, tampak canggung setiap kali orang-orang yang mengenalnya mengungkap kekaguman mereka pada cerita, gambar dan tokoh-tokoh dalam komiknya. Baginya, karya itu sampai dicetak saja sudah cukup membuatnya bahagia.

Tapi dunia tidak bergerak menurut keinginannya. Kadang juga berlaku pada hal baik yang menjadi lebih baik lagi: feedback yang ia dapat dari pembacanya begitu luarbiasa.

Pada awal bulan April, ketika Abriel sedang membuat sketsa untuk kelanjutan komik "The Iron Minds" di pendopo dekat perpustakaan kampusnya, seorang gadis menghampirinya. Gadis itu cantik, memiliki mata besar dan rambut panjang lebat yang cerah.

Sambil mengeluarkan komik yang dibuat Abriel dari dalam tas kulit merahnya, ia menyapa, "Hai, sorry ganggu. Gue Meta, anak T.I. Butuh keberanian banget buat masuk ke fakultas ini nemuin lo. Gue tahu dari teman gue, katanya yang bikin komik favorit gue satu universitas sama kita. Bisa minta tanda tangan?"

Terperangah dengan keberanian dan kelugasan gadis itu, Abriel menutup buku sketsanya, menerima komik yang diserahkannya. Dengan agak kaku, Abriel menandatangani buku itu sebelum menyerahkannya kembali pada gadis itu.

"Mazzy itu keren banget. Karakternya bener-bener hidup," pujinya sambil mendekap komik itu. "Kalau boleh tahu lo terinspirasi dari mana untuk karakter Mazzy?"

"Uum, terinspirasi dari seseorang yang berarti buat saya aja." Abriel memang tidak memakai sebutan gue-elo pada orang yang baru saja dijumpainya karena merasa itu lebih sopan.

"Pacar?" Gadis itu tampak memastikan.

Abriel mengedikkan bahu. "Belum jadi pacar, sih. Tapi mungkin nanti bisa."

Gadis itu tertawa mendengar pengakuan Abriel yang ironis. "Sorry nih, kalau gue semakin lancang. Kalau nggak ada kepastian kenapa lo masih bertahan sama orang kaya gitu?"

"Karena dia itu, orang yang bisa bikin buku itu ada." Abriel menunjuk buku di genggaman gadis itu.

"Heran," sambungnya.

"Heran gimana?" timpal Abriel.

"Cowok sebertalenta lo, secakep lo... masih bisa kenal sama yang namanya digantungin," ujar gadis itu dengan luwes.

"Puji-pujian kamu bikin saya jadi nggak enak, nih," ucap Abriel, ramah. "Nggak enak atau keenakan barangkali beda tipis."

Gadis itu tertawa. "Lo lucu, ya.  Eh, El, May I..." Ia menunjuk tempat di sebelah Abriel.

"Silakan, silakan," Abriel mempersilakan gadis itu duduk berselonjor di sebelahnya.

Meskipun awalnya Abriel masih menanggapi setiap pertanyaan gadis itu dengan canggung, ketika gadis itu mengutarakan pendapatnya yang cermat mengenai beberapa kemungkinan yang terjadi pada Mazzy di akhir buku, tak dapat dicegah mereka pun terlibat obrolan seru. Hingga akhirnya Abriel mengecek jam kalau sebentar lagi ia harus masuk ke kelas terakhirnya.

"Berhubung lo bilang gue satu-satunya yang bisa menebak dengan sedikit tepat di mana Max menyembunyikan peti itu, gue layak dong dapat kesempatan diajak ngopi-ngopi sama komikus keren kayak lo," ujarnya seraya menyodorkan ponselnya, memberi isyarat agar Abriel mengetikan nomor ponselnya.

Sesaat, Abriel hanya memandangi ponsel itu sementara otaknya menimang-nimang.

"Serius, El. Gue hanyalah hardcore fans yang bakal gigit lo, jambak-jambak lo—jadi nggak ada alasan dong lo nggak mau ngajak gue ngopi—kapan-kapan," guraunya meski terkesan berusaha meyakinkan.

"Kalau saya nggak ngasih nomor HP saya ke kamu, apa kamu bakal berhenti baca komik saya?"

Gadis itu mengangkat bahu. "Barangkali. Atau gue malah akan semakin penasaran." Kali ini Abriel bisa melihat kilauan di bola mata gadis itu meskipun gadis itu sudah menarik ponselnya kembali.

Ia mengerjap. "Ada seseorang yang pernah bilang sama saya, sebenarnya kita nggak perlu HP. Kalau udah jalannya, dengan hanya berjalan lurus ke depan, kita bakal sampai ke tujuan kita."

"Karena dunia itu bundar," gadis itu langsung menyimpulkan.

Abriel mengangguk, terperangah. "Tepat."

"Yang bilang gitu adalah orang yang menginspirasi lo itu?"

Abriel mengangguk. "Mazzy di dunia nyata. Namanya Isabel," ia memberitahu.

Gadis itu tampak menghela napas. "Jadi, gue nggak dapat apa-apa, nih, seriusan? Karena lo pikir kita bakal dipertemukan lagi oleh bundarnya permukaan bumi?"

Abriel mengeluarkan ponselnya, kemudian menjulurkan benda pipih tersebut pada gadis itu. "Sayangnya, saya nggak sependapat sama teori dia. Saya yakin cepat atau lambat saya akan butuh nomor kamu. Dan sebagai cowok, lebih sopan rasanya kalau kamu yang nulis nomor kamu di HP saya."

Dengan lebih ceria, gadis itu segera mengetikkan nomornya di ponsel Abriel. "Call me, ya, kalau lo nggak lagi sibuk kita bisa nongkrong atau apa bareng," ujarnya. "Tapi nggak maksa, kok, kalau lo mau aja."

"Oke." Abriel tampak memandangi layar ponsel yang baru saja diterimanya kembali.

"Kalau gitu, see ya. Good luck buat proyek lo berikutnya dan semoga beruntung buat penantian panjang lo nunggu kepastian dari Abel, Sang Inspirasi..." Gadis itu bangkit, turun dari atas pendopo dan berbalik.

"Boleh titip pesan, nggak?" Abriel berkata sebelum gadis itu melangkah pergi. "Tolong bilang sama Isabel, 'Abriel tahu dunia itu bundar, makanya Abriel punya keyakinan kalau dia bakal ketemu sama Angsa-nya lagi suatu saat nanti'."

Gadis itu membalikkan badannya, perlahan, seperti orang yang sakit leher. "Heeeei, sejak kapan lo tahu?"

Abriel tersenyum lebar. "Sejak kamu manggil saya 'El', saya udah curiga. Kita baru pertama kali ketemu, tapi kamu langsung tahu panggilan saya seolah-olah kita udah pernah kenal atau kamu sering dengar nama panggilan itu."

Gadis itu mengangkat alisnya.

"Saya juga nggak menyebut kalau Isabel sering dipanggil keluarganya dengan sebutan 'Abel'," tambah Abriel. "Dan, setahu saya anak T.I nggak ada yang pakai sepatu setinggi itu." Ia menunjuk sepatu silver mencolok gadis itu.

Kali ini gadis itu tampak menyerah, kalah. "Oke, Sherlock. Gue tahu sejak awal ini bukan ide bagus. Tapi anak itu tetep minta gue. Lo tahu kan Abel itu kayak apa? Rese, nyebelin, seenaknya, bossy. Sejak kecil dia emang udah gitu. By the way, gue Mei. Well, nama asli gue emang Meta, panggilan aja sih Mei—gue sepupunya Abel." Ia memutar bola matanya.

"Kabar dia sekarang gimana?" Abriel berujar cepat, bahunya terasa menengang.

"Dia baik. Hidupnya semakin baik dan bermanfaat, gue rasa."

"Dan maksud dia ngirim kamu ke sini, pura-pura nggak jelas gitu, tujuannya buat apa?"

Meta tampak berpikir. "Nggak tahu, ya. Dia kan orangnya unpredictable gitu. Kemungkinan besar, dia pengin tahu kabar lo—or maybe, emang pengin tanda tangan lo. Eh, tapi soal komik lo emang seru, serius deh gue nyampe baca tiga balikan, lho. Jadi bagian itu bukan rekayasa."

"Kalau gitu kamu tahu dong Isabel di mana?"

Meta mengerucutkan bibirnya seraya mengerlingkan matanya. "Heeeeell yeees," gerutunya, karena meski ia berkata panjang-lebar, Abriel hanya terfokus mengenai Isabel. "Cuma gue satu-satunya orang yang mau agak mentolerir isi kepalanya, ya..."

"Jadi, di mana dia sekarang?"

"Lo udah nonton DVD yang dia kasih?"

"Breakfast at Tiffany's?" gumam Abriel.

"Nah."

Abriel tampak tertegun, kepalanya terasa baru dilempar batu. Ia sudah menonton film itu berkali-kali guna menyelami jalan pikir Isabel. "New York?"

Meta tak mengangguk ataupun menggeleng. Gantinya ia sengaja mengangkat bahunya dengan lambat dan kentara.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Andrafedya

    @shalsabillaa semoga ga mengecewakan ya, terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • defreeya

    Actually, It's not my typical genre. But, si author menceritakannya dgn indah sih *lanjut baca lagi*

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • shalsabillaa

    narasinya menarik. Membuat ikut hanyut dalam cerita. Ingin bisa menulis sebagus ini amin XD

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @Zeee terima kasih banyak udah ngingetin, sangat seneng ada yg apresiasi

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Zeee

    Luak atau luwak? *bertanya2

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @hijauoren tapi untunglah mereka sebetulnya saling menyayangi. terima kasih sudah comment

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @ysrsyd terima kasih untuk semangatnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • dayana_putri

    Sakit itu ketika adik kita lebih belain pasangan kita daripada saudara kandungnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ysrsyd

    Seruuu semangat

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Help Me
169      112     0     
Inspirational
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika manusia berfikir bahwa dunia adalah kehidupan yang mampu memberi kebahagiaan terbesar hingga mereka bangun pagi di fikirannya hanya memikirkan dunia yang bersifat fana. Padahal nyatanya kehidupan yang sesungguhnya yang menentukan kebahagiaan serta kepedihan yakni di akhirat. Semua di adili seadil adilnya oleh sang maha pencipta. Allah swt. Pe...
Koude
111      80     0     
Romance
Menjadi sahabat dekat dari seorang laki-laki dingin nan tampan seperti Dyvan, membuat Karlee dijauhi oleh teman-teman perempuan di sekolahnya. Tak hanya itu, ia bahkan seringkali mendapat hujatan karena sangat dekat dengan Dyvan, dan juga tinggal satu rumah dengan laki-laki itu. Hingga Clyrissa datang kepada mereka, dan menjadi teman perempuan satu-satunya yang Karlee punya. Tetapi kedatanga...
The War Galaxy
425      258     0     
Fan Fiction
Kisah sebuah Planet yang dikuasai oleh kerajaan Mozarky dengan penguasa yang bernama Czar Hedeon Karoleky. Penguasa kerajaan ini sungguh kejam, bahkan ia akan merencanakan untuk menguasai seluruh Galaxy tak terkecuali Bumi. Hanya para keturunan raja Lev dan klan Ksatrialah yang mampu menghentikannya, dari 12 Ksatria 3 diantaranya berkhianat dan 9 Ksatria telah mati bersama raja Lev. Siapakah y...
CALISTA
14      14     0     
Fantasy
Semua tentang kehidupan Calista, yang tidak hanya berisi pahit dan manis. Terdapat banyak rasa yang tercampur di dalamnya. Ini adalah kisah dimana seorang Calista yang mendapatkan pengkhianatan dari seorang sahabat, dan seorang kekasih. Disaat Calista berusaha menyelesaikan satu masalah, pasti masalah lain datang. Akankah Calista dapat menyelesaikan semua masalah yang datang padanya?
Ignis Fatuus
53      42     0     
Fantasy
Keenan and Lucille are different, at least from every other people within a million hectare. The kind of difference that, even though the opposite of each other, makes them inseparable... Or that's what Keenan thought, until middle school is over and all of the sudden, came Greyson--Lucille's umpteenth prince charming (from the same bloodline, to boot!). All of the sudden, Lucille is no longer t...
If Is Not You
283      177     0     
Fan Fiction
Kalau saja bukan kamu, mungkin aku bisa jatuh cinta dengan leluasa. *** "Apa mencintaiku sesulit itu, hmm?" tanyanya lagi, semakin pedih, kian memilukan hati. "Aku sudah mencintaimu," bisiknya ragu, "Tapi aku tidak bisa melakukan apapun." Ia menarik nafas panjang, "Kau tidak pernah tahu penderitaan ketika aku tak bisa melangkah maju, sementara perasaank...
Teater
800      438     0     
Romance
"Disembunyikan atau tidak cinta itu akan tetap ada." Aku mengenalnya sebagai seseorang yang PERNAH aku cintai dan ada juga yang perlahan aku kenal sebagai seseorang yang mencintaiku. Mencintai dan dicintai. ~ L U T H F I T A ? Plagiat adalah sebuah kejahatan.
BANADIS 2
261      161     0     
Fantasy
Banadis, sebuah kerajaan imajiner yang berdiri pada abad pertengahan di Nusantara. Kerajaan Banadis begitu melegenda, merupakan pusat perdagangan yang maju, Dengan kemampuan militer yang tiada tandingannya. Orang - orang Banadis hidup sejahtera, aman dan penuh rasa cinta. Sungguh kerajaan Banadis menjadi sebuah kerajaan yang sangat ideal pada masa itu, Hingga ketidakberuntungan dialami kerajaan ...
Sweet Scars
9      9     0     
Romance
Midnight Sky
63      51     0     
Mystery
Semuanya berubah semenjak kelompok itu muncul. Midnight Sky, sebenarnya siapa dirimu?