Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (27. Tiga Petak Perasaan) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Bangunan penginapan mereka tampak mengecil dari pandangan, lalu menghilang seperti bintang yang ditelan terang. Perjalanan menuju Subang pagi itu, disertai hawa dingin yang menusuk dan menggigit tulang.

Sebelum meneruskan perjalanan, mereka sempat berhenti untuk mengisi bensin dan sarapan nasi kuning di pinggir jalan. Menurut aplikasi peta yang ada di ponsel Abriel, sebentar lagi mereka akan keluar dari jalan utama dan memasuki jalan menuju desa yang dituju.

"Itu Sariater." Isabel menunjuk ke jendela kanan Abriel. "Tinggal dua-tiga kiloan lagi berarti. Jalan masuknya di sebelah kanan, ati-ati kamu kelewatan."

Tak lama kemudian, Abriel menemukan jalan masuk menuju desa yang dimaksud Isabel. Namun, baru beberapa bangunan kecil yang ia lewati, seorang pemuda berpeci membuat isyarat agar mobil Abriel berhenti. Pemuda itu memberitahu bahwa jalanan utama menuju ke kelurahan sedang diperbaiki. Dan satu-satunya cara untuk menempuh desa yang dimaksud adalah dengan menumpangi motor.

Isabel tampak berpikir cepat. "Kalau gitu, di mana tempat kita bisa sewa motor?"

"Sewa?" Si pemuda tampak berjengit. "Hmm. Oh, kayaknya mah motor Abah Apuk bisa. Itu warungnya. Sebentar, saya tanyain dulu, ya."

"Iya, Kang. Nuhun pisan ya, Kang," ucap Abriel tulus kepada pemuda baik hati itu. Ia pun segera memarkirkan mobilnya di sisi warung penjual beras itu kemudian turun bersama Isabel, mengekor si pemuda tadi.

Tak lama kemudian, keluarlah bapak pertengahan baya dengan si pemuda dari ambang pintu yang sedikit terhalangi gundukan karung-karung beras. Sementara si bapak menghampiri Abriel, pemuda murah hati tadi memilih berpamitan untuk kembali ke pesantren. Setelah Abriel menjelaskan maksud dan tujuan kepada si bapak tersebut, bapak yang akrab dipanggil Abah Apuk tersebut, mengizinkan keduanya menyewa motor miliknya.

"Motor lama, tapi bandel mah bandel. Cing sakeudap." Dengan kedua tangan, Abah Apuk lalu membuka garasi kecil di samping warungnya dan mengeluarkan sebuah motor Honda Mega Pro yang tampak cukup terawat meskipun keluaran tahun lama.

Abriel tampak terpana memandangi motor itu. "Keluaran tahun berapa, Pak?"

"99," jawab bapak itu. "Tapi da rajin dirawat ku anak saya. Kela, dengar suaranya, masih alus sekali. Nggak kalah sama keluaran baru."

Abriel nyaris bersiul ketika bapak itu menghidupkan motornya. Suaranya mantap. 

"Ngomong-ngomong," ujar si bapak berniat menyuarakan isi hatinya yang sejak tadi dipendamnya setelah menyerahkan kunci motor berserta dua buah helem—batok dan full face jadul yang dimilikinya—kepada Abriel, "kenapa sama muka Aa, ya?"

Abriel tampak sedikit kikuk. Namun sebelum Abriel menjawab, Isabel keburu menyela dengan riang, "Dihajar gajah, Pak, waktu teman saya ini liburan ke Thailand. Rebutan pacar sama gajah ya hasilnya sudah pasti gini. Babak-belur."

 

* * *

 

Pagi itu Irena sedang menyiapkan buku pelajarannya, ketika ia mengeluarkan isi tasnya satu per satu, ia sontak memekik.

"Kok, bisa lupa...," renungnya seraya memandangi buku sketsa itu.

Menyisikan perlengkapan sekolahnya, ia mengambil tempat di sisi tempat tidurnya seraya membuka lembar demi lembar halaman itu, menekuri setiap gambar dan huruf rekatan itu dengan penuh penghayatan. Hingga ia tiba di kertas kosong yang belum diisi.

Irena membalikkan bukunya ke bagian-bagian awal, ke halaman di mana tokoh utama komik itu diperkenalkan. Mazzy tampak tersenyum miring padanya, dengan posisi tangan bersedekap, dan kaki disilangkan—tokoh itu tampak begitu matang, superior, intimidatif dan penuh percaya diri. Seolah menantangnya untuk beradu: adu apa saja, kekuatan, otak, kecantikan atau semuanya sekaligus!

Irena mendadak tidak nyaman. Ditutupnya kembali buku itu. Ia tidak bisa memungkiri bahwa kemampuan Abriel menggambar dan mengolah cerita menjadi sangat menarik, meningkat begitu pesat. Komik ini akan luarbiasa sukses dipasaran jika mendapatkan editor yang tepat. Tapi, entah mengapa secara tak masuk akal dan magis, tokoh utamanya terasa mengintimidasinya.

Meskipun tokoh itu membuat perasaan Irena tak menentu, ia tak bisa mengabaikan satu fakta mencolok dari tokoh itu. Mazzy sangatlah memesona!

 

* * *

 

Tanpa sengaja Adit mendengar kabar itu dari Mario yang tengah bercerita pada dua orang temannya saat ia mampir ke kantin untuk membeli roti. Tanpa menunggu, Adit langsung menyela, "Lo tahu dari mana?"

Mario tampak gugup ketika melihat Adit tahu-tahu muncul di sampingnya. "Gue tahu dari Helmi. Semalam, Muamar ke rumah Kalib, Helmi lagi di sana." 

"Terus?" desak Adit. Diremasnya roti dalam genggamanya hingga gepeng.

Mario pun tak punya pilihan selain menceritakan semua hal yang ia tahu pada Adit.

Dalam perjalanan menuju ke kelas Muamar, Adit menelepon ponsel Abriel, tapi sambungan itu mengatakan bahwa jurusan yang sedang ia tuju berada di luar jangkauan. Adit kontan mengumpat geram. Bagaimana bisa Abriel menyembunyikan hal sepenting itu darinya? Bagaimana keadaan anak itu sekarang? Di mana ia sekarang?

Sesampainya di kelas yang dimaksud, Adit tidak menemukan Muamar. Maka, ia langsung menghampiri Kalib yang sedang mengobrol bersama beberapa teman di kelas itu.

"Lib, gue perlu ngomong sama lo. Sekarang. Di luar," katanya, dan tanpa menunggu Kalib merespons, Adit sudah melengos keluar.

"Apaan, Dit?" ujar cowok berambut kelimis itu dengan lambat-lambat, salah tingkah. Tahu betul arah pembicaraan ini akan ke mana.

"Lo tahu apa yang terjadi semalam?"

Kalib menghela napas. "Jujur, gue nggak nyangka dia bisa segila itu. Keadaan si El gimana sekarang, Dit?"

"Nggak tahu." Fakta itu otomatis menggores hati Adit. Giginya refleks membuat suara desisan. "Si Muamar nggak sekolah hari ini?"

Namun, sebelum Kalib menjawab lagi, mata Adit lebih dulu menangkap sosok yang tengah berjalan ke arahnya itu. Dan tanpa menunggu, ia pun bergegas menghampiri cowok itu. Melayangkan pukulan keras ke rahangnya. Sekali. Dua kali. Hingga cowok itu jatuh terjengkang. Jeritan riuh terdengar dari murid-murid perempuan yang menyaksikan kejadian itu.

"Ingat, Mar. Masalah Abriel, masalah gue juga," geram Adit. Napasnya memburu.

Dari sekian banyak murid, hanya satu yang terlihat bergerak memecah kerumunan. Sebelum Adit akan melayangkan pukulan yang ketiga, Tomi muncul di belakangnya dan menarik Adit sekuat tenaga untuk menjauhi Muamar. Sementara Kalib segera menghampiri teman sebangkunya itu, membantu Muamar untuk bangun. Deretan gigi Muamar tampak ditenggelamkan ludah bercampur darah.

"Tom, ngapain sih lo! Si anjing ini gebukin si El, Tom! Gara-gara cewek, tai banget kan, Tom!" bentak Adit pada Tomi yang berhasil menarik tubuhnya menjauh.

"Iya, iya, Dit. Tapi ini sekolah. Lo bisa kena masalah juga," ujar Tomi berusaha menenangkan gelegak kemarahan Adit. 

"Udah segini doang? Udah? Lo sama tainya tahu kayak sobat lo!" teriak Muamar dari balik punggung Adit.

Tersulut emosi, Adit hendak berbalik, tapi Tomi mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengarahkan Adit tetap berjalan lurus.

"Udah, udah, Dit. Biarin. Nggak usah kepancing. Kita ke kelas aja mendingan." Tomi masih menekan bahu Adit.

Terdengar derap-derap langkah cepat. Sebuah tangan lain menarik bahu Adit. Tak butuh waktu lama bagi Adit menerima serangan di detik berikutnya. Ia mundur, menabrak jendela di belakangnya hingga terdengar bunyi bergoncang. Tomi menghadangkan tangannya untuk mendorong tubuh Muamar, tetapi Adit keburu maju. Perkelahian itu akhirnya tak dapat dihindarkan lagi. Terpaksa, Tomi harus meminta murid-murid yang mengerubung untuk memanggil guru guna menghentikan kericuhan tersebut bertambah parah, sementara ia dan Kalib menengahi semampu mereka.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Cassanouva

    Teenlit namun lbh matang. Metropop namun tidak ngepop amat. Kadarnya pas, bakal lanjut membaca cerita cantik ini. Trims Author untuk cerita ini

    Kalau suda beres saya akan kasih review.

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ruriantysavana

    ka cek inbox ya aku ada pertanyaan2 tentang cerita ini
    mau di sini tp tkt spoiler hehe, thx

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ala_fifi

    baca karya ini jd pgn nulis yg bagus jg rasanya, pgn latihan banyak biar bisa gini

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Retha_Halim

    Good job, Author. On chaper41

    Comment on chapter 41. Dua Hati (TAMAT)
  • yurriansan

    diksinya mantep banget, kudu banyak belajar nih

    Comment on chapter 2. Pantomim Waktu
  • Andrafedya

    @firlyfreditha silakan dibaca sampai beres, kalau masih blm ketemu nanti kukasih tau deh :)

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • Andrafedya

    @ayuasha febby baik, cuma temperamental. Tapi dia juga punya sisi baik, kok :) terima kasih sudah membaca

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • firlyfreditha

    bersetting tahun brp kak?

    Comment on chapter 3. Pemantauan
  • ayuasha

    kesel sama Febby sumpah

    Comment on chapter 9. Tergelincir
  • Andrafedya

    @defreeya selamat membaca, jangan berhenti ya. Terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Youth
449      250     0     
Inspirational
Salah satu meja di kafe itu masih berisikan tiga orang laki-laki yang baru setahun lulus sarjana, mereka mengenang masa-masa di SMA. Dika, Daffa, dan Tama sudah banyak melewati momen-momen kehidupan yang beragam. Semuanya tak bisa mereka pilih. Mereka diizinkan berkumpul lagi setelah sempat berjanji untuk bertemu di tanggal yang mereka tentukan. Apa pun yang terjadi, mereka harus berkumpul pa...
Sekotor itukah Aku
546      294     0     
Romance
Dia adalah Zahra Affianisha. Mereka biasa memanggilnya Zahra. Seorang gadis dengan wajah cantik dan fisik yang sempurna ini baru saja menginjakkan kakinya di dunia SMA. Dengan fisik sempurna dan terlahir dari keluarga berada tak jarang membuat orang orang disekeliling nya merasa kagum dan iri di saat yang bersamaan. Apalagi ia terlahir dalam keluarga penganut islam yang kaffah membuat orang semak...
With you ~ lost in singapura
16      15     0     
Fan Fiction
Chaeyeon, seorang siswi SMA yang sangat berani untuk pergi menyusul Tae-joon di Paris. Chanyeol, seorang idol muda yang tengah terlibat dalam sebuah skandal. Bagaimana jika kedua manusia itu dipertemukan oleh sebuah takdir?
Senja Kedua
131      92     0     
Romance
Seperti senja, kau hanya mampu dinikmati dari jauh. Disimpan di dalam roll kamera dan diabadikan di dalam bingkai merah tua. Namun, saat aku memiliki kesempatan kedua untuk memiliki senja itu, apakah aku akan tetap hanya menimatinya dari jauh atau harus kurengkuh?
Senja Belum Berlalu
112      79     0     
Romance
Kehidupan seorang yang bernama Nita, yang dikatakan penyandang difabel tidak juga, namun untuk dikatakan sempurna, dia memang tidak sempurna. Nita yang akhirnya mampu mengendalikan dirinya, sayangnya ia tak mampu mengendalikan nasibnya, sejatinya nasib bisa diubah. Dan takdir yang ia terima sejatinya juga bisa diubah, namun sayangnya Nita tidak berupaya keras meminta untuk diubah. Ia menyesal...
Dua Sisi
152      113     0     
Romance
Terkadang melihat dari segala sisi itu penting, karena jika hanya melihat dari satu sisi bisa saja timbul salah paham. Seperti mereka. Mereka memilih saling menyakiti satu sama lain. -Dua Sisi- "Ketika cinta dilihat dari dua sisi berbeda"
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
BACALAH, yang TERSIRAT
390      191     0     
Romance
Mamat dan Vonni adalah teman dekat. Mereka berteman sejak kelas 1 sma. Sebagai seorang teman, mereka menjalani kehidupan di SMA xx layaknya muda mudi yang mempunyai teman, baik untuk mengerjakan tugas bersama, menghadapi ulangan - ulangan dan UAS maupun saling mengingatkan satu sama lain. Kekonyolan terjadi saat Vonni mulai menginginkan sosok seorang pacar. Dalam kata - kata sesumbarnya, bahwa di...
Stay With Me
16      16     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
About us
638      369     0     
Romance
Krystal hanya bisa terbengong tak percaya. Ia sungguh tidak dirinya hari ini. CUP~ Benda kenyal nan basah yang mendarat di pipi kanan Krystal itulah yang membuyarkan lamunannya. "kita winner hon" kata Gilang pelan di telinga Krystal. Sedangkan Krystal yang mendengar itu langsung tersenyum senang ke arah Gilang. "gue tau" "aaahh~ senengnya..." kata Gila...