Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (14. Saling Melarutkan) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Sudah lama sekali rasanya Abriel tidak merasakan dadanya mencekung sedalam itu. Rasa-rasanya ini bahkan pertama kalinya ia merasakan perasaan begitu menuntut, gusar sekaligus tak berdaya. Ia tidak ikhlas melihat wajah tanpa dosa itu memandanginya dengan sorot tak paham yang nyata. Namun, bagaimana mungkin ada manusia yang begitu tidak peka?

Abriel membuka lembaran kertas yang sudah disatukan dengan penjepit kertas, yang tadinya akan ia perlihatkan pada Isabel. Sudah ada satu bagian pengenalan karakter dan tiga chapter.

Ia menyentuh permukaan kertas itu. Meskipun belum ia perhalus dan masih berupa gambaran tanpa proses pemindahan gambar, ia bisa merasakan bahwa karakternya yang baru benar-benar memiliki jiwa. Tidak seperti karakter-karakternya yang lama, yang jauh lebih bagus dan berteknik, namun selalu saja ada yang terasa kurang pas.

Abriel terdiam cukup lama, memandangi wajah gadis di dalam kertasnya. Namanya Mazzy. Tokoh utama dalam komiknya yang memiliki kemampuan untuk berubah wujud dan mengentikan waktu.

Sama seperti Isabel, yang selalu berganti-ganti pakaian... Sama seperti Isabel yang memiliki kemampuannya untuk mengentikan waktu. Setidaknya saat itu, saat matahari menyoroti tubuhnya dan membuatnya seakan malaikat berjubah emas. Waktu terasa berhenti untuk Abriel.

Kini, Abriel tidak lagi melihat Mazzy sebagai Isabel. Mazzy murni dan memesona, sedangkan Isabel, ia tidak sanggup membayangkan apa yang dilakukan Isabel bersama para lelaki hidung belang itu... Cowok-cowok keparat itu...

Abriel merasakan pedih mulai menjalari kerongkongannya. Ia meraih segelas air. Tidak ada upaya untuk bangkit dan berganti pakaian. Ia meringkuk di atas karpetnya seperti embrio cacat dalam cangkang yang rusak. Lupa segalanya.

 

* * *

 

Isabel menjawab panggilan ponselnya. Salah satu kliennya minta harinya dimajukan. Tanpa pikir panjang ia langsung setuju. Meski itu melanggar kode etiknya sendiri, tapi itu lebih bagus ketimbang merasa aneh dan terbenam dalam pikirannya sendiri. Lebih baik menolong orang lain ketimbang diri sendiri.

Ia segera bersiap-siap, menambahkan riasan ke wajahnya, memakai parka kemudian menelepon taksi.

Taksi yang dipesannya pun muncul empat puluh menit kemudian, membawanya ke Cozy Pool & Lounge, tempat bermain biliar yang paling ngetop di Bandung, tempat kliennya menunggunya.

Satu gelas soda dan belasan potong kentang goreng sudah masuk ke perutnya. Dan kliennya masih terus berkutik di mejanya, bermain sendiri, tanpa aturan, menembakkan bola-bola hingga semua benda bundar itu menggelinding ke dalam lubang yang diarahkannya.

Kadang, memang ada klien yang senang ditemani saja. Tak banyak bicara, tak banyak tuntutan, ditemani hanya agar mereka tidak merasa sendiri. Jadi, Isabel hanya duduk di salah satu sofa terdekat dari meja permainannya, mengamati cowok itu, sesuai dengan permintaannya sambil sesekali menyemangatinya.

Jam delapan malam, ia resmi dibebastugaskan. Delapan lembar uang seratus ribuan sudah masuk ke tasnya. Hari ini ia sudah menangani dua klien. Pagi tadi, tidak semudah ini. Mengingat kliennya yang satu itu akan segera menikah, banyak sekali unek-unek yang disampaikannya padanya sehingga Isabel harus tahan berlama-lama mendengarkan keluh-kesahnya. Dan kostum itu juga sungguh tak masuk akal. Abriel malah mengira ia membawa setumpuk batu-bata.

Isabel mendesah teringat kembali raut wajah Abriel ketika pergi meninggalkannya. Tapi, kenapa juga Abriel harus semarah itu padanya? Dan mengapa pula ia harus memikirkan Abriel hingga mengganggu konsentrasinya seperti ini?

Isabel menyempatkan ke toilet di sudut ruangan sebelum meninggalkan gedung. Saat ia melenggang melewati meja-meja biliar menuju jalan keluar, saat itulah matanya menangkap satu wajah yang tak asing. Salah satu cowok yang ia lihat di lapangan futsal kemarin. Ia yakin, karena karakteristik cowok itu begitu kuat. Rahangnya persegi, dengan alis tebal menukik dan dagu panjang melengkung. Cowok itu juga berbadan besar dan sangat atletis layaknya seorang atlet bela diri yang mengharuskannya untuk membesarkan otot.

Isabel berjalan ke arahnya bermaksud mengenali cowok itu lebih jelas. Tak tahu mulanya, detik kemudian mereka berdua sudah terlibat kontak mata. Seperti terpatri, cowok itu tidak melepaskan pandangannya dari Isabel.

Isabel mendadak merasakan adanya kesempatan besar. Ia kemudian membiarkan cowok itu menghampirinya duluan. Ia tahu betul, apa yang akan dilakukan cowok itu jika dirinya memasang ekspresi andalannya.

Masih sambil memegang tongkat biliar, cowok itu sudah berdiri di depan Isabel. Senyum ragu dan kikuk tersungging di bibirnya meskipun setengah mati cowok itu mengendalikannya.

"Hai," sapa cowok itu.

Isabel menunggu dua detik sebelum membalas, "hei."

"Sendirian?" tanyanya lagi, memastikan.

"Nggak, berdua sama tuyul. Nih, lagi digendong," seloroh Isabel nyaris tanpa berpikir.

Cowok itu sedikit terlihat heran dan bergeming, maka Isabel segera meralat ucapannya.

"Abis ketemu orang. Dia balik duluan. Saya juga mau balik, kalau aja kamu nggak ngalangin jalan saya."

"Oh, oke. Saya sebenernya nggak mau ganggu lama-lama. Saya cuma mau bilang kalau rasanya udah berabad-abad nggak liat sesuatu yang... kayak kamu di tempat ini—di mana aja. Dalam artian yang positif pastinya," ujar cowok itu. "By the way, Adit."

"Audrey." Isabel menerima uluran tangan cowok itu. 

 

* * *

 

Abriel bangun dengan tersentak. Keringat dingin membanjiri punggungnya. Ia ingat, ia belum makan sejak tadi siang. Mungkin karena itulah kepalanya sakit dan perutnya pedih. Tapi kemudian ia sadar, bukan itu sebabnya.

Karena ia digerogoti perasaan merasa bersalah pada gadis itu.

Entah mengapa, ia merasa begitu buruk dan kejam karena sudah memperlakukan Isabel seperti tadi sore. Apapun yang dilakukan Isabel, apapun yang dikerjakannya selama ini tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Kalaupun Isabel melakukan hal-hal... mengerikan, itu sudah dilakukan lama sebelum ia mengenalnya...

Abriel kemudian bangkit, masih memakai seragam sekolah, ia menyeberang jalanan dan mengetuk pintu rumah berpelitur mengilat itu. Empat ketukan cepat dan keras. Bi Iceu akhirnya membukakan pintunya.

"Isabel ada, Bi?" ujar Abriel terburu-buru.

"Neng Abel pergi dari tadi sore. Naik taksi," jawab Bi Iceu sambil membetulkan posisi rok panjangnya yang miring.

"Ke mana ya, Bi?"

"Bibi kurang tahu kemananya mah."

Abriel merasakan bahunya merosot. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia harus segera menemui Isabel dan mengatakan padanya bahwa ia bersikap demikian kasar karena ia sangat mencemaskannya. Membayangkan ada tangan kotor yang menyentuh kulit Isabel membuat seluruh tulang Abriel berontak ngilu.

"Bi Iceu tahu nomor HP-nya Isabel?"

Bi Iceu tampak berpikir sejenak. "Ya tahu, A. Cuma... Neng Abel nggak bolehin saya kasih nomor HP-nya sama Aa. Udah janji. Gimana ya, A?" Wanita itu tampak mulai gelisah. "Sebenernya ini teh ada apa, A?"

"Oke, oke, Bi. Nggak pa-pa, kok." Abriel paham betul bagaimana Bi Iceu akan mencerna semua ini jika ia terus memaksa. "Kalau gitu, misal dia pulang, tolong bilangin saya nyariin dia ya, Bi. Makasih."

Abriel kembali ke kamarnya dengan hati hampa. Diitungnya setiap detik yang berdetak seolah-olah dengan begitu ia bisa melompati waktu dan bertemu dengan Isabel. Hingga akhirnya ia merasa terlalu lelah, gerah dan sesak.

Abriel memutuskan mandi air hangat sebelum pergi tidur. Namun ia merasa banyak yang masih harus ia pikirkan matang-matang sebelum bertemu kembali dengan Isabel, jadi ia hanya bisa memejamkan mata tanpa mampu terlelap. Pikirannya terus membawa hatinya resah.

Seharusnya di jidat setiap orang ditulisi persentase peluang orang itu akan mempermainkan hati kita, batin Abriel.

Barangkali, seharusnya ia tidak pernah bertemu dengan Isabel sama sekali seumur hidupnya.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Andrafedya

    @shalsabillaa semoga ga mengecewakan ya, terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • defreeya

    Actually, It's not my typical genre. But, si author menceritakannya dgn indah sih *lanjut baca lagi*

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • shalsabillaa

    narasinya menarik. Membuat ikut hanyut dalam cerita. Ingin bisa menulis sebagus ini amin XD

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @Zeee terima kasih banyak udah ngingetin, sangat seneng ada yg apresiasi

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Zeee

    Luak atau luwak? *bertanya2

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @hijauoren tapi untunglah mereka sebetulnya saling menyayangi. terima kasih sudah comment

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @ysrsyd terima kasih untuk semangatnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • dayana_putri

    Sakit itu ketika adik kita lebih belain pasangan kita daripada saudara kandungnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ysrsyd

    Seruuu semangat

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Somehow 1949
333      217     0     
Fantasy
Selama ini Geo hidup di sekitar orang-orang yang sangat menghormati sejarah. Bahkan ayahnya merupakan seorang ketua RT yang terpandang dan sering terlibat dalam setiap acara perayaan di hari bersejarah. Geo tidak pernah antusias dengan semua perayaan itu. Hingga suatu kali ayahnya menjadi koordinator untuk sebuah perayaan -Serangan Umum dan memaksa Geo untuk ikut terlibat. Tak sanggup lagi, G...
Should I Go(?)
220      132     0     
Fan Fiction
Kim Hyuna dan Bang Chan. Saling mencintai namun sulit untuk saling memiliki. Setiap ada kesempatan pasti ada pengganggu. Sampai akhirnya Chan terjebak di masa lalunya yang datang lagi ke kehidupannya dan membuat hubungan Chan dan Hyuna renggang. Apakah Hyuna harus merelakan Chan dengan masa lalunya? Apakah Kim Hyuna harus meninggalkan Chan? Atau justru Chan yang akan meninggalkan Hyuna dan k...
Du Swapped Soul
256      158     0     
Fantasy
Apa kamu pernah berasumsi bahwa hidupmu lah yang paling sempurna? Apakah kamu pernah merasakan rasanya menjalani kehidupan orang lain? Dan apakah... kamu pernah mempunyai sahabat yang aneh, tapi setia? Kalau belum, kau akan menemukan semuanya di sini, di kehidupan Myung-Joo yang akan diperankan oleh Angel.
Confusing Letter
53      42     0     
Romance
Confusing Letter
Senja Kedua
131      92     0     
Romance
Seperti senja, kau hanya mampu dinikmati dari jauh. Disimpan di dalam roll kamera dan diabadikan di dalam bingkai merah tua. Namun, saat aku memiliki kesempatan kedua untuk memiliki senja itu, apakah aku akan tetap hanya menimatinya dari jauh atau harus kurengkuh?
HIWAY Ketika Persahabatan Mengalahkan Segala
34      25     0     
Inspirational
Persahabatan bukan tentang siapa yang salah. Persahabatan adalah tentang meminta maaf. Hany, seorang gadis SMA bermata indah telah mengecewakan teman-temannya saat memutuskan untuk keluar dari ekskul cheerleader dan beralih ke ekskul futsal. Apa alasan Hany? Dan mampukah dia mengobati kekecewaan teman-temannya?
Love Escape
339      193     0     
Romance
Konflik seorang wanita berstatus janda dengan keluarga dan masa lalunya. Masih adakah harapan untuk ia mengejar mimpi dan masa depannya?
Run Away
282      168     0     
Romance
Berawal dari Tara yang tidak sengaja melukai tetangga baru yang tinggal di seberang rumahnya, tepat beberapa jam setelah kedatangannya ke Indonesia. Seorang anak remaja laki-laki seusia dengannya. Wajah blesteran campuran Indonesia-Inggris yang membuatnya kaget dan kesal secara bersamaan. Tara dengan sifatnya yang terkesan cuek, berusaha menepis jauh-jauh Dave, si tetangga, yang menurutnya pen...
About us
638      369     0     
Romance
Krystal hanya bisa terbengong tak percaya. Ia sungguh tidak dirinya hari ini. CUP~ Benda kenyal nan basah yang mendarat di pipi kanan Krystal itulah yang membuyarkan lamunannya. "kita winner hon" kata Gilang pelan di telinga Krystal. Sedangkan Krystal yang mendengar itu langsung tersenyum senang ke arah Gilang. "gue tau" "aaahh~ senengnya..." kata Gila...
Bertemu di Akad
148      101     0     
Romance
Saat giliran kami berfoto bersama, aku berlari menuju fotografer untuk meminta tolong mendokumentasikan dengan menggunakan kameraku sendiri. Lalu aku kembali ke barisan mahasiswa Teknik Lingkungan yang siap untuk difoto, aku bingung berdiri dimana. Akhirnya kuputuskan berdiri di paling ujung barisan depan sebelah kanan. Lalu ada sosok laki-laki berdiri di sebelahku yang membuatnya menjadi paling ...