Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (13. Gadis Teka-Teki) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Satu belokan dari SMA Bhakti Negara, ada warung nasi padang yang sering jadi langganan guru-guru dan murid-murid di sana. Warung makan itu selalu ramai saat jam makan siang dan pulang sekolah. Tempat itu beruntung, memiliki lokasi strategis di antara minimarket, Masjid, dan sekolah sehingga jadi salah tujuan utama perut-perut keroncongan.

Laksana pelangi di tengah gurun, gadis cantik itu kontan mencuri perhatian dengan kemunculannya di sana. Di belakang setumpuk kerupuk bawang yang sudah diplastik-plastikan hingga menggunung, ia yang hari itu mengenakan terusan bermotif bunga daisy dan sepatu kanvas hitam, menclok di sana. Tak lupa, kacamata hitam bulat ala John Lennon sudah nongkrong di atas kepalanya, menjadi bingkai untuk poni agung yang di-blow amat rapi.

Sejak sepuluh menit disajikan, seporsi gulai ayam dan es teh manis sudah tenggelam ke dalam perutnya. Dengan ekspresi kekenyangan, Isabel kembali melirik ke arah pintu. Abriel muncul di sana tak sampai lima detik kemudian.

"Aku nerima kertas yang kamu titipin ke Mang Diman, kamu kreatif ya kepikiran kayak gitu." Mang Diman adalah petugas kebersihan SMA Bhakti Negara yang terkenal dekat dengan murid-murid.

Isabel tersenyum puas. "Saya kasih tiga puluh ribu supaya surat itu sampai ke tangan kamu. Berhasil, kan, saya bilang kita bisa kan ketemu tanpa HP."

"Para genius yang udah capek-capek nyiptain berbagai alat teknologi komunikasi canggih harusnya protes tuh sama kamu," dumel Abriel sembari mengulurkan tangan untuk membawakan tas kulit besar yang dibawa Isabel. "Kamu bawa apaan aja? Berat banget. Nggak masukin batu bata ke sini, kan?"

"Kalau nebak tuh kreatif dikitan dong, Mas. Jadi... tas itu tuh isinya setumpuk perkamen paling rahasia dan lima keping hard drive dalam boks terkunci plus antipeluru. Semuanya milik pemerintah United States. Masalahnya, kalau saya kasih lihat kamu bentuknya, kamu bakal dikejar sama FBI dan militer Amerika Serikat seumur hidup kamu. Bahkan kalau kamu nyerah pun pilihannya hanya dilobotomi atau potong lidah," ujar Isabel dengan cepat dan lancar, seolah kalimat itu sudah dikatakannya ratusan kali."So, masih pengin tahu isinya?"

"Selain jadi angsa jadi-jadian, ternyata kamu berbakat juga jadi pengarang. Beneran," kekeh Abriel sungguhan takjub.

"Pengarang itu cuma istilah ningrat untuk pembohong profesional," decak Isabel.

"Kalau gitu, kamu termasuk yang mana: pengarang atau pembohong?"

Isabel mendadak mengamati wajah Abriel untuk beberapa saat sebelum menjawab, "Semuanya."

Mereka sudah berdiri di depan mobil Abriel yang diparkirkan di dekat sana. Dan ketika Abriel sedang membukakan pintu penumpang untuk Isabel, rombongan anak OSIS berpapasan dengan mereka di sana. Dengan canggung, Abriel membalas sapaan beberapa orang yang dikenalnya. Sebelum ia memutari kap depan mobilnya, masuk dan memasang sabuk pengamannya.

"Kapan kamu futsal lagi?" tanya Isabel begitu mobil melaju.

"Belum tahu," jawab Abriel dengan tangan di kemudi. "Aku ke sana kadang-kadang aja, ikut Adit doang. Adit itu temen deket banget, duduk sebangku juga."

"Adit itu yang..."

"Tinggi banget, putih, rambutnya kelimis gitu. Yang pakai baju biru. Badannya paling gede aja kemarin. Nggak gendut, tapi berotot banget."

"Yang sepatunya oranye?"

"Nah, iya."

"Jadi, kamu masih belum tahu kapan mau ke sana lagi?"

"Belum. Mama sama Papa lagi penginnya aku mengurangi kegiatan." Abriel lalu tiba-tiba kembali teringat hari itu, hari di mana ia melihat Isabel di gedung futsal. "Jadi, kamu udah boleh kasih tahu aku kenapa kamu bisa ada di sana kemarin?"

Isabel tegelak. "Sebenarnya nggak penting-penting amat. Kalaupun saya kasih tahu kamu, nggak akan ngaruh apa-apa buat kamu."

"Aku mau nanya sesuatu, boleh?" Ekor matanya mengarah ke Isabel, menatap ekspresi gadis itu yang mendadak tidak nyaman.

"Soal apa?"

"Nggak serius dan nggak maksa untuk dijawab. Aku cuma penasaran, hampir setiap hari, kalau nggak pakai taksi, kamu nunggu dijemput atau pulang diantar seseorang..."

"Saya kerja, cari duit," potong Isabel cepat, nadanya lega dan ceria. Seolah ada pertanyaan lain yang ia waspadai sebelumnya. "Yang jemput saya itu klien-klien saya. Nggak setiap hari sih dapet klien, tapi kadang sehari bisa dua lokasi. Kebanyakan klien saya itu memang cowok. Tapi waktu di Jakarta dalam seminggu saya pernah dapet klien cewek semua. Saya udah begini selama tujuh bulan."

Karena terkejut dengan kelugasan ucapannya, Abriel nyaris mengerem mobilnya mendadak. Bunyi klakson pengendara motor di belakangnya, membuat suasana makin kikuk.

"Klien? Maksud kamu, kamu itu menyediakan jasa... Oh, aku dengar Mama kamu punya tempat katering terkenal banget, apa kamu yang handle bagian ketemu klien Mama kamu?"

"Bukan klien Mama, klien saya sendiri, kok," bantah Isabel langsung.

"Aku agak nggak ngerti." Nada suara Abriel meninggi tanpa bisa ia kendalikan. Ia sendiri sedikit terkejut oleh nada bicaranya itu.

Isabel mendesah setelah terdiam beberapa detik. "Saya ini cewe bayaran, Abriel. Selesai saya lakuin job saya, ya saya dibayar."

Hening seketika. Abriel kehilangan kata-kata. Seakan ada tangan transparan yang memberikan kepingan puzzle terakhir padanya, kemudian tanpa dapat dicegah isi kepalanya mulai mencocokkan setiap ingatan. Semua mobil dan cowok yang menjemput serta mengantar Isabel pulang. Kostum-kostum anehnya, yang mungkin adalah request dari klien-kliennya itu, demi memuaskan hasrat gelap dan liar mereka. Dalam sekejap, semua monolog internal di dalam pikiran Abriel semakin menggila dan tak terkendali.

Abriel merasakan runtuhnya sesuatu dalam dirinya. Ia sedang berusaha meraba perasaannya. Dan di sanalah, di bagian inti dadanya, ia merasakan sebersit kekhawatiran lebih mendominasi kekecewaannya.

"Terus, apa Mama kamu tahu soal itu?" Abriel akhirnya berkata, suaranya terdengar tertahan dan merintih. Ia tidak melirik Isabel, ia takut menemukan fakta lain yang meruntuhkan sesuatu yang lain dari dirinya. Gestur Isabel yang masih tetap tenang dan santai membuatnya tidak nyaman.

Isabel menatapnya meskipun pandangan Abriel hanya lurus ke depan. "Yang di Jakarta sih kayaknya tahu. Cuma selama saya happy... Yang penting kayaknya saya selalu ngabarin aja. Kerjaan saya di Bandung yang saya nggak bilang, soalnya sebelum pindah saya sempet bikin janji. Entah tahun depan atau dua tahun lagi saya mau kuliah. Target saya NYU, saya kepingin banget tinggal di New York. Tapi kalau harus di dalam negeri juga nggak apa-apa. Banyak universitas bagus di sini."

"Aneh," Abriel tidak tahan untuk tidak mengerang. "Kamu tuh serius sama semua omongan kamu ini?"

"Sebenarnya saya sih penginnya berhenti nggak ngelakuin itu lagi, toh saya nggak kekurangan kalau soal materi. Tapi nggak tahu kenapa ya, mungkin karena kepuasan batin aja."

Mata dan alis Abriel sudah naik. Genggaman kemudinya menguat. Perutnya terasa mulas. "Kepuasan batin? Ini hal tergila yang pernah aku dengar. Dan nggak tahu kenapa, kok aku sedih banget ya..."

"Percaya deh, ini terapi buat saya. Dulu hidup saya pernah seribu kali lebih ancur dari ini... Cara terbaik untuk bangkit adalah berdamai dengan masa lalu dan menghadapi sedikit demi sedikit ketakutan saya. Hal positif lain yang saya dapat sebagai bonus, saya bikin orang senang juga. Dan... dapat duit."

Ekspresi Abriel begitu kaku hingga nyengir pun dia enggan.

"Kalau kamu jadi saya, kamu bakal sadar betapa logisnya yang saya lakuin. Job saya sekarang bantu saya banget untuk bisa memindai lagi perasaan saya. Saya nggak mau jadi heartless selamanya," Isabel melanjutkan.

"Iya, logis. Kamu memang 'menyenangkan' orang lain, cowok-cowok itu. Tapi menurut aku itu namanya bukan berdamai dengan masa lalu, bukan terapi, bukan juga membuka lembaran baru. Itu namanya loncat ke jurang, nggak pake parasut-parasutan. Memang, nggak bisa dipastiin seratus persen kamu bakal mati setelah melompat, tapi ingatan itu, trauma itu, sedikit demi sedikit akan ngikis jiwa kamu," Abriel berkata, dongkol karena Isabel tidak memahami situasi yang ia ciptakan dari pengakuannya itu. Abriel merasa ingin melompati bara api, dengan komiknya di genggamannya.

Dicecar dengan kata-kata sinis, Abriel malah mendengar gadis itu terkekeh. "Omongan kamu lucu, ya. Seolah-olah kamu udah pernah ketemu langsung sama jiwa saya aja."

 

* * *

 

Heran, Isabel masih melongo tidak percaya waktu Abriel mendadak saja membatalkan acara mereka sore itu, dan malah berbelok ke arah jalan pulang.

Sepanjang perjalanan hingga sampai ke gerbang kompleks mereka, Abriel pun tidak menjelaskan apa-apa selain kalimat "nggak apa-apa" dan "lain kali aja, ya" meski Isabel terus-terusan menanyai alasannya memilih pulang serta bersikap seratus delapan puluh derajat.

"Aku mendadak capek aja," akhirnya Abriel berkata setelah ia mematikan mesin mobilnya. Raut wajahnya keras seperti tanah liat yang seharian terpanggang.

Isabel belum pernah melihatnya seperti itu. Selama ini, Abriel selalu lembut ketika berbicara dengannya dan hangat ketika menatapnya. Nada dan sorotan itu mendadak lenyap. Abriel bahkan beberapa kali menghindari tatapan Isabel.

Isabel sadar, ada sesuatu yang menyentil nuraninya. Ia terkejut menyadari betapa lamanya ia tidak merasakan perasaan seperti itu.

"El, saya boleh nggak, ngomong sama kamu sebentar?" Itulah kali pertama Isabel memanggil Abriel tidak dengan kaku dan lengkap. Tapi hanya dengan "El".

Berkat panggilan yang akrab bagi Abriel itu, cowok itu pun tak kuasa untuk tidak mendongak menatap sepasang mata bundar milik Isabel. Ia mengangguk.

Abriel pun segera memarkirkan mobilnya di trotoar rumahnya sebelum menyeberang menghampiri Isabel di beranda rumahnya. Abriel duduk di salah satu kursi besi tempa bercat putih di sana. Ia masih enggan menatap langsung mata Isabel.

"Kamu marah sama saya, ya?" Isabel mengatakan itu dengan setengah mendesak.

Abriel kembali merasa tidak nyaman. Ia tahu persis bermuara ke mana pembicaraan mereka jika ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Ia lelah untuk menjelaskan. Ia merasa tidak punya tenaga untuk melakukan apapun. Ia hanya ingin merobek komiknya, dan tidur.

"Kenapa harus marah?" Abriel memandangi sepatu hitam bergaris putihnya. Saking telitinya ia menatap kakinya, sekarang ia juga sadar kalau ada jaitan yang terbuka di betis celana seragamnya.

"Teknik bolak-balik gitu nggak akan berlaku kalau ngobrolnya sama saya," kata Isabel. "Sejujurnya saya nggak tahu kenapa kamu sampai semarah ini. Apa kamu bisa kasih tahu saya apa yang kamu pikirin sekarang?"

Abriel menggeleng kuat. "Aku nggak bisa jelasin. Cuma, dulu aku ngiranya kamu tuh orang paling... polos, unik sekaligus ajaib yang pernah aku temuin. Sekarang aku baru sadar kamu tuh bener-bener orang paling nggak masuk akal di dunia. Seseorang yang nggak akan pernah bisa aku ngertiin sama nalar aku yang cara kerjanya seperti manusia normal pada umumnya."

Isabel masih menatap Abriel.

"Kamu nggak seperti yang aku bayangin," akhirnya Abriel mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya sejak tadi. "Dan aku kecewa." Ia sengaja menekankan kata terakhir itu.

Kali ini Isabel yang tampak mengeras. "Terus tugas saya untuk bikin semua orang di sekitar saya terkesan dan puas sama saya? Salah saya kalau ada sesuatu dalam diri saya yang mendadak bikin kamu wow-oh-so-begitu-kecewanya?"

"Isabel," panggil Abriel, pelan dan lirih. Tapi tidak lembut. "Kamu benar-benar nggak ngerasa ada perkataan kamu sebelumnya ada yang salah? Paling nggak, sedikit aja..."

Isabel mengangkat satu alisnya, berusaha mengingat-ingat. "Ada perkataan saya yang menyinggung kamu secara langsung?"

Abriel bisa merasakan berat di kepalanya. Ia menunduk menatap lantai linoleum di kakinya. "Bel, aku rasa ada yang salah sama kepala kamu. Saran aku sebagai teman, seseorang yang peduli sama kamu, sebaiknya kamu minta rekomendasi untuk ketemu profesional, deh." Ia kemudian bangkit berdiri, menatap Isabel selama dua detik. Tatapannya dingin, Isabel bisa merasakannya. "Aku balik, ya."

Setengah mati Isabel berharap untuk bisa mengatakan semuanya pada Abriel. Bahwa sudah tujuh profesional yang ia kunjungi, hingga ia menemukan satu terapis yang cocok. Bahwa ia tidak pernah absen untuk minum obat jika diperlukan. Tapi lidahnya terasa kelu.

Isabel bisa melihat rambut cokelat Abriel tampak bersemburat keemasan ketika melewati jalanan, dan berubah hitam ketika berpayung kanopi rumahnya. Kemudian, segalanya pun lenyap, tak ada lagi warna bagi Isabel. Pintu rumah tetangganya itu tidak pernah dibanting begitu keras.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Cassanouva

    Teenlit namun lbh matang. Metropop namun tidak ngepop amat. Kadarnya pas, bakal lanjut membaca cerita cantik ini. Trims Author untuk cerita ini

    Kalau suda beres saya akan kasih review.

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ruriantysavana

    ka cek inbox ya aku ada pertanyaan2 tentang cerita ini
    mau di sini tp tkt spoiler hehe, thx

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ala_fifi

    baca karya ini jd pgn nulis yg bagus jg rasanya, pgn latihan banyak biar bisa gini

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Retha_Halim

    Good job, Author. On chaper41

    Comment on chapter 41. Dua Hati (TAMAT)
  • yurriansan

    diksinya mantep banget, kudu banyak belajar nih

    Comment on chapter 2. Pantomim Waktu
  • Andrafedya

    @firlyfreditha silakan dibaca sampai beres, kalau masih blm ketemu nanti kukasih tau deh :)

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • Andrafedya

    @ayuasha febby baik, cuma temperamental. Tapi dia juga punya sisi baik, kok :) terima kasih sudah membaca

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • firlyfreditha

    bersetting tahun brp kak?

    Comment on chapter 3. Pemantauan
  • ayuasha

    kesel sama Febby sumpah

    Comment on chapter 9. Tergelincir
  • Andrafedya

    @defreeya selamat membaca, jangan berhenti ya. Terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Too Sassy For You
65      52     0     
Fantasy
Sebuah kejadian di pub membuat Nabila ditarik ke masa depan dan terlibat skandal sengan artis yang sedang berada pada puncak kariernya. Sebenarnya apa alasan yang membuat Adilla ditarik ke masa depan? Apakah semua ini berhubungan dengan kematian ayahnya?
Peringatan!!!
70      60     0     
Horror
Jangan pernah abaikan setiap peringatan yang ada di dekatmu...
Bullying
12      12     0     
Inspirational
Bullying ... kata ini bukan lagi sesuatu yang asing di telinga kita. Setiap orang berusaha menghindari kata-kata ini. Tapi tahukah kalian, hampir seluruh anak pernah mengalami bullying, bahkan lebih miris itu dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Aurel Ferdiansyah, adalah seorang gadis yang cantik dan pintar. Itu yang tampak diluaran. Namun, di dalamnya ia adalah gadis rapuh yang terhempas angi...
simbiosis Mutualisme seri 2
283      179     0     
Humor
Hari-hari Deni kembali ceria setelah mengetahui bahwa Dokter Meyda belum menikah, tetapi berita pernikahan yang sempat membuat Deni patah hati itu adalah pernikahan adik Dokter Meyda. Hingga Deni berkenalan dengan Kak Fifi, teman Dokter Meyda yang membuat kegiatan Bagi-bagi ilmu gratis di setiap libur panjang bersama ketiga temannya yang masih kuliah. Akhirnya Deni menawarkan diri membantu dalam ...
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
Kama Labda
14      14     0     
Romance
Kirana tak pernah menyangka bahwa ia bisa berada di jaman dimana Majapahit masih menguasai Nusantara. Semua berawal saat gadis gothic di bsekolahnya yang mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Dan entah bagaimana, semua ramalan yang dikatakannya menjadi kenyataan! Kirana dipertemukan dengan seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah raja. Akankah Kirana kemba...
Aranka
137      107     0     
Inspirational
Aranka lebih dari sebuah nama. Nama yang membuat iri siapa pun yang mendengarnya. Aland Aranka terlahir dengan nama tersebut, nama dari keluarga konglomerat yang sangat berkuasa. Namun siapa sangka, di balik kemasyhuran nama tersebut, tersimpan berbagai rahasia gelap...
ADITYA DAN RA
552      320     0     
Fan Fiction
jika semua orang dapat hidup setara, mungkin dinamika yang mengatasnamakan perselisihan tidak akan mungkin pernah terjadi. Dira, Adit, Marvin, Dita Mulailah lihat sahabatmu. Apakah kalian sama? Apakah tingkat kecerdasan kalian sama? Apakah dunia kalian sama? Apakah kebutuhan kalian sama? Apakah waktu lenggang kalian sama? Atau krisis ekonomi kalian sama? Tentu tidak...
Someday Maybe
308      183     0     
Romance
Ini kisah dengan lika-liku kehidupan di masa SMA. Kelabilan, galau, dan bimbang secara bergantian menguasai rasa Nessa. Disaat dia mulai mencinta ada belahan jiwa lain yang tak menyetujui. Kini dia harus bertarung dengan perasaannya sendiri, tetap bertahan atau malah memberontak. Mungkin suatu hari nanti dia dapat menentukan pilihannya sendiri.
Senja Menggila
14      14     0     
Romance
Senja selalu kembali namun tak ada satu orang pun yang mampu melewatkan keindahannya. Dan itu.... seperti Rey yang tidak bisa melewatkan semua tentang Jingga. Dan Mentari yang selalu di benci kehadirannya ternyata bisa menghangatkan di waktu yang tepat.