Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (9. Tergelincir) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Di tengah-tengah pesta sweet seventeen yang meriah itu, keadaan mengharuskan Abriel dan Adit jalan sendiri-sendiri. Adit terlalu sibuk mencari muka di depan Andine dan keluarganya, sementara Abriel, usai menjalankan rencana perbaikan gizi yang membuat kancing kemejanya nyaris penuh sesak, tidak jelas mau ngapain di situ. Jadi ia cuma menclok sana-sini seperti ayam, berharap punya pintu-ke-mana-saja supaya bisa pulang ke rumah dan melanjutkan proyeknya.

Di antara kerumunan cowok-cowok yang datang terlambat, perhatian Abriel mendadak tertambat. Ia hampir saja tersedak minumannya karena menemukan seseorang yang dikenalnya namun tidak diharapkannya muncul di sana, tampak memberi selamat kepada Andien si empunya pesta dengan akrab.

Abriel baru ingat di mana Andine bersekolah, dan serta-merta fakta itu membuatnya merasa tolol. Tentu saja ada kemungkinan ia akan bertemu Andre jika ia datang ke pesta ulangtahun salah satu teman sekolahnya!

Melihat Andre Iskandar, pitcher yang digadang-gadang menjadi saingan mutlaknya dulu, muncul di hadapannya pada malam ini, jelas cukup untuk membawa ruhnya terserap mundur kembali ke lapangan itu: ke tanah merah yang ia hapal betul gradasi warnanya, kepulan debu yang baunya ia ingat persis, para pelatih dan anggota timnya—yang ia kecewakan dengan keputusannya, dan pada Irena.

Diperparah karena kini muncul satu, dua—hingga enam anggota lainnya dari tim bisbol SMA Pemuda Sakti yang dikenalnya.

Menghindari beradu mata dengan kawanan itu, Abriel memutuskan untuk keluar dari ballroom.

Ia kemudian menempatkan dirinya di sofa tak jauh dari dua eskalator yang mengarah ke atas dan ke bawah. Sepi, hanya ada ia dan seorang cowok lain yang sedang menelepon. Tanpa tujuan, ia menatap sepatu kulit hitamnya yang mengilat, yang ujungnya tampak memantulkan cahaya lampu kandelir di atasnya. 

Sebersit aroma parfum bernuansa vanila yang familier mendadak menguar dari sekat ingatan Abriel. Sudah banyak yang ia korbankan, sudah jauh ia berlari, sudah genap satu bulan ia rela untuk berhenti bercengkerama dengan tanah lapangan, tapi kenapa aroma satu ini tidak pernah menjauhinya barang sebentar saja?

Hanya bunyi dua ketukan sepatu yang disadarinya. Pikirannya kini telah kembali sepenuhnya. Aroma parfum itu rasa-rasanya mengikat penciuman Abriel sehingga membuatnya refleks menoleh.

"Hei. Aku dikasih tahu Andre kalau kamu datang juga. Ketemu di sini, deh." Itulah pertama kalinya sejak tujuh bulan terakhir sosok di hadapan Abriel berucap padanya.

Abriel mematung, tidak bisa berkata-kata, apalagi merangkainya. Ada gadam besar memukul kepalanya dan membuat sensornya rusak.

"El?" Irena menekuk alisnya karena Abriel hanya memandanginya saja. 

Abriel menelan ludahnya. Kalau ia diharuskan memilih untuk terjun bebas dari wahana bungee jumping terseram di dunia atau bertemu Irena sekarang ini. Ia tahu apa yang akan dipilihnya.

"Na..." Dengan gugup Abriel berkata. "Apa kabar?"

"Kamu emang seharusnya nanya kabar aku," Irena berkata, berpura-pura tersinggung, tapi membiarkan Abriel menangkap canda di balik ucapannya.

"Syukurlah kalau gitu." Abriel memberanikan diri menatap Irena ketika mengatakannya. Ia mendaratkan tatapannya langsung ke matanya. Barangkali, sudah saatnya ia mencairkan kebekuan itu, pikirnya. Kesempatan seperti ini tidak akan datang sering-sering. Dengan suasana yang berbeda, ia mungkin bisa memperbaiki hubungan mereka yang keras dan dingin seperti balok es. Namun rapuh seperti selembar daun kering.

"Sekali-sekali segar juga lihat kamu pakai setelan gini," puji Irena tulus. "Yah, walaupun menurutku sekarang kamu agak kurusan."

Abriel tersenyum suram. Bukan cuma Irena yang belakangan mengatakan jika ia kurusan. Bahkan papanya yang termasuk tidak begitu peduli sekitar, berkali-kali mengatakan supaya Abriel banyak makan.

"Ntar juga ngisi lagi. Belakangan juga lagi doyan makan nasgor Mas Tamim malem-malem, kayak dulu. Abis kenyang tidur. Sebulan lagi kalau ketemu, taruhan, kamu bakal bilang aku kayak Doraemon."

"Duh, jadi kangen sama Mas Tamim. Masih seenak dulu nggak nasgornya?"

Abriel mengangguk mantap. "Semakin layak dapat tiga bintang Michelin."

"Keren!"

Sebersit kenangan menyapu saku memorinya lagi. Dulu, setiap kali Irena dibawa main ke rumahnya, usai mereka membuat komik bareng, mereka pasti mencegat gerobak Mas Tamim. Irena yang suka makanan pedas, akan minta Mas Tamim membubuhkan lima sendok sambal sementara Abriel masih tak berkutik jika Mas Tamim kebanyakan memberinya pedas. Satu sendok untuk menghangatkan tenggorokan saja, sudah cukup.

"Anyway, kamu ke sini sama siapa?" Irena seolah menyadari sesuatu. "Nggak sama... ehm, Febby, pacar kamu yang cantiknya kebangetan itu—jangan kira aku mata-matain kehidupan percintaan kamu, lho. Dia kan biasanya rajin nungguin kamu latihan, jadi aku sering lihat."

Abriel tidak tahan untuk menggaruk rambutnya karena salah tingkah. Di mata Irena pastilah ia dicap sebagai cowok yang gampang pindah ke lain hati. Dua bulan setelah mereka putus, Abriel sudah jadian dengan gadis lain.

Tapi sebenarnya, ada alasan mengapa Abriel menggantungkan status jomblonya secepat itu. Dengan punya pacar posesif dan cemburuan seperti Febby, ia berharap akan ada alasan untuknya pelan-pelan mengurangi jatah latihannya, agar ia tidak perlu terlalu sering bertemu Irena.

Dugaannya jelas keliru. Karena nyatanya, Febby malah mendukung karier bisbolnya seratus persen. Bahkan sudah beberapa kali Febby menunggui Abriel latihan, menyorakinya setiap kali Abriel membuat lemparan sempurna yang sulit diterjang pemukul tim lawan. Sebelum menjadi terlalu posesif, Febby pernah menjadi pacar yang sangat suportif, meskipun ia selalu memasang tampang masam ketika menemukan Irena di sekitarnya.

"Soal Febby, aku sebenarnya baru putus sama dia beberapa hari yang lalu," aku Abriel setelah bimbang sejenak untuk mengatakannya atau tidak.

"Dih. Kok bisa? Dia kan... apa yah, sempurna banget kayaknya," ujar Irena. "Cowok-cowok di lapangan kan kesenangan tuh kalau dia datang nungguin kamu. So, kenapa kalian bisa putus?"

Sejenak, Abriel tidak bisa menangkap apapun dari ucapan Irena. Sebenarnya, Abriel masih tidak yakin dengan semua ini: ke mana sebenarnya salah satu dari mereka akan membawa pembicaraan basa-basi ini.

"Alesannya? Kenapa yah... Seperti kata kamu dulu mungkin, 'bahkan bintang yang paling kuat di semesta ini suatu saat nanti bakal padam'," jawab Abriel, enggan menjelaskan lebih jauh.

Senyum Irena sedikit memudar.

"Giliran aku yang nanya, kok kamu bisa ada di sini? Kalau kamu belum tahu, Andine sama Adit lagi pedekatean. Aku kayaknya jadi hand of the king-nya. Buat aku lumayan sih, perbaikan gizi," jelas Abriel sembari bercanda.

"Sama. Aku juga ke sini karena diajak. Aku sekarang jalan sama Andre, El."

Hening. Ada sesuatu yang menohok di dalam perut Abriel. Ia yakin alasannya bukan sebelas potong sushi yang terakhir ia lahap.

"Jalan kayak jadian gitu?"

Irena yang malam itu terlihat cantik dengan gaun berlengan pendek berwarna salem pucat dan riasan tipis itu mengangguk mengiyakan. "Belum jadian, sih. Andre mungkin bukan tipe yang suka ngumbar perasaan. Tapi dia kasih aku perhatian yang setara sama orang pacaran."

"Bagus buat kamu. Andre sepertinya cowok yang tanggung jawab..."

"Eh, iya, gimana kabarnya si Jensen?" cetus Irena, cukup kentara sengaja mengganti topik. "Masih suka berlagak jadi MacGyver, nggak, itu anak?"

Abriel berdecak, sekilas membayangkan tingkah-tingkah adiknya yang sok tahu. "Jangan ditanya... makin jadi itu anak. Tahun depan mungkin dia bakalan dikirim NASA ke Mars buat nyelidikin alien."

Tanpa disadari obrolan mereka semakin mengalir. Meluncur menembus waktu, menuju kenangan yang membuat mereka tertawa bersama, baik dulu maupun sekarang. Tawa yang kali ini terdengar memilukan namun tetap tulus. Tawa yang bersaut-sautan dan saling mengisi, yang seinci saja meleset, bisa membuat keduanya tergelincir dan menangis begitu pilu.

Irena-lah yang akhirnya tergelincir duluan.

Di sela-sela tawanya, air mata Irena jatuh ke bagian paha gaunnya. "El... Kenapa kamu lakuin itu sih, sama aku?" Mendadak saja tidak ada lagi yang sanggup menghalangi Irena mengeluarkan isi hatinya. "Nggak lihat kamu di lapangan sehari aja bikin aku kayak... kosong, kehilangan semangatku."

Mulut Abriel setengah terbuka mendengar pengakuan Irena saat ini. Hati retak itu, yang ia pikir sudah terobati lama, nyatanya berupa pecahan mikro yang tak akan sanggup direkatkan kembali. Abriel menghela napas, kembali teringat ucapan Pak Deni dulu. Kalaupun ia dan Irena bisa kembali, Abriel yang kini telah mantap memilih tokoh-tokoh komiknya dibanding bisbol, tidak akan pernah sanggup mengambil hati ayah Irena yang menganggap hasrat dan cita-cita menjadi komikus tidak akan membuat seseorang berharga.

Ingin rasanya Abriel mendekatkan dirinya untuk menghapus air mata Irena, menyentuh dagunya, memeluknya, selama-lamanya... Tapi ia sadar, sentuhannya tidak akan berarti baik bagi Irena. Sentuhannya hanya akan membuat nyeri hati Irena, membuat lubangnya kembali berdarah-darah. Semakin rusak.

Maka, ia bangkit dari posisinya. "Na, kamu tahu kamu nggak boleh gini. Kita udah berhasil ngelewatin semua. Aku ke dalam, ya. Kalau kamu masih mau di sini, biar aku panggilin Andre supaya nemanin kamu."

"Maafin aku ya, El... maafin orang-orang di sekitar aku yang ikut campur... Sebenarnya aku udah tahu semuanya. Dan hal itu yang bikin aku kayak barusan. Ngenes banget." Irena mendongak sambil menghela napas. "Aku udah tahu kalau Papa aku yang nyuruh kita putus. Aku udah tahu semuanya, El. Papa bilang sama aku seminggu yang lalu, abis kamu datangin Kang Iwan ke kantornya. Tahu kamu keluar, Papa puas banget, menurutnya feeling-nya buat misahin kita itu benar. Papa akhirnya punya alasan buat nggak rahasiain semuanya lagi. Menurut Papa kamu emang bawa pengaruh buruk buat aku—yang mana adalah salah besar. Kamu adalah semangat sejati aku."

Irena kembali menghela napas panjang. Melenguh dalam satu tarikan napas.

"Selama ini kebencian aku sama kamu sama sekali nggak beralasan. Kamulah yang paling sakit. Aku aja nggak bisa bayangin perasaan kamu saat itu, El," tambahnya.

Abriel kehabisan kata-kata. Genggaman Irena di jemarinya semakin kuat. Hatinya mulai melunak, tapi untunglah pikirannya masih selaras dengan akal sehatnya.

Saat itulah Abriel melihat pintu belakang terbuka, Andre tampak celingukan, mencari Irena. "Na, Andre nyariin kamu," Abriel memberitahu.

Irena refleks melirik ke arah yang dituju mata Abriel, napasnya otomatis terhela. Ia kemudian bangkit, menyentuh jemari Abriel singkat sebelum meninggalkannya untuk menghampiri pemuda itu.

Ada jeda panjang sebelum akhirnya Abriel pun menghela napasnya yang sejak tadi tertahan begitu dalam.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 2 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Andrafedya

    @shalsabillaa semoga ga mengecewakan ya, terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • defreeya

    Actually, It's not my typical genre. But, si author menceritakannya dgn indah sih *lanjut baca lagi*

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • shalsabillaa

    narasinya menarik. Membuat ikut hanyut dalam cerita. Ingin bisa menulis sebagus ini amin XD

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @Zeee terima kasih banyak udah ngingetin, sangat seneng ada yg apresiasi

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Zeee

    Luak atau luwak? *bertanya2

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @hijauoren tapi untunglah mereka sebetulnya saling menyayangi. terima kasih sudah comment

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @ysrsyd terima kasih untuk semangatnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • dayana_putri

    Sakit itu ketika adik kita lebih belain pasangan kita daripada saudara kandungnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ysrsyd

    Seruuu semangat

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Diary of Time
42      30     0     
Romance
Berkisah tentang sebuah catatan harian yang melintasi waktu yang ditulis oleh Danakitri Prameswari, seorang gadis remaja berusia 15 tahun. Dana berasal dari keluarga berada yang tinggal di perumahan elit Menteng, Jakarta. Ayahnya seorang dokter senior yang disegani dan memiliki pergaulan yang luas di kalangan pejabat pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Ibunya seorang dosen di UI. Ia memiliki...
Let Me Go
97      74     0     
Romance
Bagi Brian, Soraya hanyalah sebuah ilusi yang menyiksa pikirannya tiap detik, menit, jam, hari, bulan bahkan tahun. Soraya hanyalah seseorang yang dapat membuat Brian rela menjadi budak rasa takutnya. Soraya hanyalah bagian dari lembar masa lalunya yang tidak ingin dia kenang. Dua tahun Brian hidup tenang tanpa Soraya menginvasi pikirannya. Sampai hari itu akhirnya tiba, Soraya kem...
kekasihku bukan milikku
15      14     0     
Romance
Semanis Rindu
500      308     0     
Romance
Aku katakan padamu. Jika ada pemandangan lain yang lebih indah dari dunia ini maka pemandangan itu adalah kamu. (Jaka,1997) Sekali lagi aku katakan padamu. Jika ada tempat lain ternyaman selain bumi ini. Maka kenyamanan itu ada saat bersamamu. (Jaka, 1997) Jaka. nama pemuda jantan yang memiliki jargon Aku penguasa kota Malang. Jaka anak remaja yang hanyut dalam dunia gengster semasa SM...
Bulan Dan Bintang
159      118     0     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
Novel Andre Jatmiko
318      172     0     
Romance
Nita Anggraini seorang siswi XII ingin menjadi seorang penulis terkenal. Suatu hari dia menulis novel tentang masa lalu yang menceritakan kisahnya dengan Andre Jatmiko. Saat dia sedang asik menulis, seorang pembaca online bernama Miko1998, mereka berbalas pesan yang berakhir dengan sebuah tantangan ala Loro Jonggrang dari Nita untuk Miko, tantangan yang berakhir dengan kekalahan Nita. Sesudah ...
Kisah yang Kita Tahu
129      96     0     
Romance
Dia selalu duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, begitu diam seperti patung, sampai-sampai awalnya kupikir dia cuma dekorasi kolam di pojok taman itu. Tapi hari itu angin kencang, rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, dan poninya yang selalu merumbai ke depan wajahnya, tersibak saat itu, sehingga aku bisa melihatnya dari samping. Sebuah senyuman. * Selama lima...
Ghea
11      11     0     
Action
Ini tentang Ghea, Ghea dengan segala kerapuhannya, Ghea dengan harapan hidupnya, dengan dendam yang masih berkobar di dalam dadanya. Ghea memantapkan niatnya untuk mencari tahu, siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan ibunya. Penyamaran pun di lakukan, sikap dan nama palsu di gunakan, demi keamanan dia dan beserta rekan nya. Saat misi mereka hampir berhasil, siapa sangka musuh lamany...
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
Dear Vienna
12      12     0     
Romance
Hidup Chris, pelajar kelas 1 SMA yang tadinya biasa-biasa saja sekarang jadi super repot karena masuk SMA Vienna dan bertemu dengan Rena, cewek aneh dari jurusan Bahasa. Ditambah, Rena punya satu permintaan aneh yang rasanya sulit untuk dikabulkan.