Read More >>"> Simbiosis Mutualisme seri 1 (Bagian 10. Ditolak) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Simbiosis Mutualisme seri 1
MENU
About Us  

Masa depan gue setelah lulus kuliah ternyata suram banget. Mungkin karena Nyokap sama Bokap masih nggak ridho gue kerja jadi Allah nggak ridho, seperti kata Nyokap “Ridho Allah itu ada pada ridho orang tua.” Lemas gue memandang deretan tanggal di kalender. Udah hampir lima bulan gue belum dapat kerja, padahal gue suka banget sama Dokter Meyda. Walaupun mungkin usianya lebih tua dari gue, tapi kayaknya dia awet muda. Mungkin karena Dokter Meyda rajin sholat tahajudnya. Kata orang soleh “Orang yang rajin sholat tahajud itu wajahnya beda, awet muda.”

Gue emang suka sama Dokter Meyda, tapi...masak pengangguran kayak gue pantas melamar Dokter, bisa dipecat gue sama mertua. Haaa...tiba-tiba aja gue ingat kata Nyokap “Ibu nggak melarang kamu kerja. Cari kerja yang nggak capek dan santai, kamu harus jaga kesehatan jantungmu dari sekarang. Ibu nggak selalu ada buat kamu.”

Dengan berat dan lemas gue menghela nafas panjang.

“Deni...ada Aldo di bawah...” Seru Nyokap.

Lemas gue keluar kamar dan menemui Aldo yang sedang duduk di lantai di teras rumah, di depan rumput hias. Tanpa menyapa Aldo, gue langsung duduk di samping Aldo. Sejenak gue menoleh dan melihat wajah Aldo. Ternyata wajahnya juga lecek, sama kayak gue. Trus gue kembali memandang rumput-rumput di taman, dan menghela nafas panjang. Tiba-tiba Aldo cepat memeluk gue dan menangis keras. Membuat gue kaget dan bingung, kenapa sama si Aldo?

“Eeee eeeh lo kenapa? Kenapa?”

Aldo nggak menjawab, tapi dia masih menangis keras. Hingga membuat Nyokap keluar rumah dan melihat gue sama Aldo pelukan.

“Deni, Aldo. Kalian ini apa-apaan sih?!” Nyokap keras sambil mengacungkan sapu.

Gue sama Aldo kaget banget mendengar suara Nyokap yang keras bagai halilintar di siang bolong. Hingga membuat Aldo sigap duduk tegap dan gue cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir menatap Nyokap. Ternyata Nyokap malah semakin tajam manatap gue sama Aldo yang sesenggukan sambil sesekali menghapus air mata.

“Ibu jangan mikir macem-macem, kita cuma teman. Sebagai sahabat yang baik, Deni...”

“Aldo sedih banget Tante, makanya tadi Aldo nangis dan pingin meluk Deni, tapi sumpah Aldo sama Deni masih normal kok.” Kata Aldo pelan sambil menunduk dan sesenggukan.

Akhirnya Nyokap menghela nafas panjang dan bilang “Ya sudah kalau begitu, Ibu bisa tenang.”

Setelah itu Nyokap kembali masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Aldo menangis lagi, bahkan tangisnya semakin keras. Ternyata Nyokap cepat keluar rumah lagi sambil mengacungkan sapu, trus dengan suara tinggi tanya “Aldo kenapa masih nangis?”

“Abis Aldo sedih banget Tante...” Aldo sesenggukan.

“Ibu tenang aja, ada Deni. Jadi Ibu masuk aja.” Gue pelan.

Sejenak Nyokap menghela nafas sambil mengelus dada, trus masuk lagi ke dalam rumah. Sambil menggelengkan kepala gue menghela nafas, trus melihat si Aldo yang masih menangis. Kemudian gue tanya “Lagian kenapa sih lo pake nangis segala? Lo habis putus cinta? Atau lagi sakit gigi?”

Aldo nggak menjawab, tapi sambil menangis menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa bilang sesuatu Aldo menunjukkan amplop coklat besar dan tebal. Gue mengambil amplop itu, trus membuka pelan. Ternyata isinya adalah naskah si Aldo “Bajing Luncat Kecil.”

“Gue ditolak.” Aldo pelan sambil sesenggukan.

“Bukan elo, tapi naskah elo.” Gue sedikit tegas.

“Sama aja.” Aldo tegas. Gue cuma menghela nafas panjang.

“Udah santai aja...naskah pertama boleh ditolak, tapi naskah kedua pasti diterima. Jadi lo harus semangat nulis lagi dan ngerevisi naskah yang ditolak.” Gue menepuk-nepuk pundak Aldo.

“Kalo yang kedua ditolak lagi gimana?” Tanya Aldo dengan sesenggukan dan berlinang air mata.

“Ya lo harus nulis dan kirim yang ketiga.” Gue tegas.

“Kalo yang ketiga ditolak juga?”

“Ya lo nulis dan kirim yang keempat.” Gue lebih tegas.

“Kalo yang keempat tetap ditolak?”

“Ya lo nulis dan kirim yang kelima.” Gue lebih dan lebih tegas.

“Kalo...”

“Kalo naskah-naskah lo tetep ditolak juga, lo harus punya semangat lebih. Semangat untuk nulis judul-judul selanjutnya. Dan kirim ke Penerbit yang pernah nolak elo, eh naskah elo. Lo harus tunjukkan kalo lo bisa buat tulisan yang lebih bagus dari naskah-naskah elo yang udah ditolak. Dan lo harus ngerevisi, ngedit naskah yang udah ditolak menjadi naskah yang lebih baik dan bagus dari sebelumnya.” Gue memotong tegas, trus menepuk pundak Aldo. Akhirnya perlahan wajah Aldo berubah menjadi lebih tegas dan berhenti menangis.

“Lo jangan nyerah, lo harus berjuang dan yakin, kalo naskah elo bisa terbit.” Kata gue tegas.

 

                                                                                       ***

Malam ini gue nggak bisa tidur walaupun gue udah terbaring di kasur. Mungkin karena otak gue masih berjalan, memikirkan perkataan gue sama Aldo. “Kalo naskah-naskah lo tetep ditolak juga, lo harus punya semangat lebih. Semangat untuk nulis judul-judul selanjutnya dan kirim ke Penerbit yang pernah nolak naskah elo. Lo harus tunjukan kalo lo bisa buat tulisan yang lebih bagus dari naskah-naskah elo yang udah ditolak.”

Setelah itu gue bangkit dari kasur dan berjalan mondar-mandir dengan kening berkerut rapat. Gue nggak menyangka bisa ngomong kayak gitu sama Aldo, padahal gue aja lagi bingung. Bingung karena gue pun sampai sekarang masih nganggur dan nggak tahu masa depan gue. Aldo masih mending, udah punya tujuan, dia mau jadi Penulis hebat. Nah, gue...mau jadi apa? Lemas gue menghela nafas panjang dan berhenti berjalan.

“Tapi gue Insinyur, eeehmm calon Insinyur. Walaupun sampe sekarang gue masih nganggur”. Di awal perkataan suara gue tegas.

“Ehmm pasti ada obatnya dan gue harus nanya Dokter Meyda. Dia kan lagi kuliah ngambil spesialis organ dalam, Bu Dokter pasti tahu obat dari kelainan jantung. Biar Nyokap sama Bokap nggak terlalu khawatir gue kerja, jadi mereka ridho gue kerja. Kalau udah gitu, Allah pasti ridho gue kerja.” Di ujung perkataan gue tersenyum.

Gue alihkan sorot mata gue dan melihat naskah Aldo dalam amplop coklat di meja belajar. Aldo yang memberikan ke gue, dia minta gue membuang jauh-jauh naskahnya, soalnya Aldo pingin menulis sesuatu yang baru. Kayaknya Aldo udah menemukan kepercayaan dirinya.

Dengan kening berkerut gue mengambil amplop coklat, trus mengeluarkan isinya. Naskahnya udah dibendel rapi, tapi kenapa bisa ditolak Penerbit ya? Setelah itu gue membuka lembar demi lembar naskah. Gue jadi penasaran, kenapa naskah si Aldo ditolak Penerbit. Kasihan banget Aldo, kayaknya dia emang serius pingin jadi Penulis.

Kening gue pun berkerut semakin tebal, trus gue bilang pelan “Mmm kenapa gue nggak bantuin Aldo? Aldo kan yakin gue bisa nulis, buat novel. Kenapa gue nggak yakin kalo gue bisa nulis?”

Akhirnya gue tersenyum kecil dan manggut-manggut. Kemudian tegas gue bilang “Gue harus bisa bantuin Aldo, gue harus bisa nulis naskah novel.”

Gue cepat duduk di depan meja belajar, trus gue mengambil kertas sama bulpen. Sambil berpikir sorot mata gue bergerak, kayaknya...gue pakai notebook aja. Jaman sekarang masih nulis pakai kertas sama bulpen, berapa lembar kertas yang kebuang kalo gue salah nulis, dan berapa banyak tinta yang keluar sia-sia, kalo dicoret lagi-dicoret lagi, ditulis lagi-ditulis lagi. Gue cepat membuka notebook warna merah, warna kesukaan gue walaupun gue cowok. Gue menyalakan power-nya, nunggu bentar, trus tersambung. Gue langsung membuka office, lembar kerja di notebook. Sambil tersenyum gue duduk tegap menatap layar notebook, sementara sepuluh jari gue udah di atas papan notebook, tapi ternyata otak gue nggak berjalan. Gue bingung mau menulis apa?

“Apa yang mau gue tulis?” Ucap gue pelan.

Lemas gue menghela nafas panjang sambil menjatuhkan tubuh di punggung kursi.  “Gue nggak tahu caranya nulis itu gimana, gimana gue bisa nulis? Haaaa...”

Sejenak gue mengingat kata-kata gue ke Aldo, waktu gue membacakan buku sekolah gue. “Cara menulis cerita. Pertama, lo harus bisa membayangkan isi dalam cerita itu. Bisa juga lo campurin sama imajinasi lo sendiri, biar orang-orang dari masa lalu elo nggak tahu dan nggak bisa nebak cerita lo.”

Gue kembali tersenyum dan manggut-manggut, tapi senyum gue surut waktu gue mikir masa lalu gue. Pelan gue bilang “Mmm masa lalu gue...nggak ada yang menarik. Gue cuma sering sakit-sakitan gara-gara jantung gue, trus apa yang mau diceritain?”

Dengan duduk tegap kening gue berkerut semakin rapat, trus gue merapatkan kedua tangan di meja. Pelan kepala gue mendongak ke atas dan sorot mata gue nggak bergerak. Saat ini gue lagi berpikir dan mengingat perkataan gue ke Aldo. “Yang paling penting lo buat sinopsisnya dulu, itu cara yang paling gampang. Jadi waktu lo nulis, lo nggak keluar jalur dari judul dan tema cerita lo. Baru kalo udah selesai nulis ceritanya, lo bisa tambahin di sinopsis bagian yang kurang.”

Akhirnya gue manggut-manggut pelan dan tersenyum. Tegas gue bilang “Jadi gue harus buat sinopsisnya dulu, biar gue tahu gambaran cerita gue.”

Jari-jari tangan gue mulai melompat-lompat di papan notebook, menulis sinopsis dari novel yang ingin gue tulis. Selesai satu paragraf gue membaca lagi yang udah gue ketik, tapi tiba-tiba kening gue berkerut semakin rapat.

“Kayaknya...ceritanya nggak kayak gini.” Ucap gue pelan.

Gue memutuskan membuka lembar office baru, trus gue menulis sinopsis baru. Sedangkan lembar office pertama, gue simpan dan gue kasih judul fileDibuang sayang.” Sejenak gue tersenyum saat menulis judul file “Dibuang sayang”. Kayak yang di tv...kalo ada adegan-adegan acting yang salah kan sayang dibuang soalnya bisa buat ketawa, tapi “Dibuang sayang” di file ini malah nggak buat ketawa, tapi dijamin mikir!

Jari-jari tangan gue mengetik sinopsis baru sambil sesekali gue nge-delete hasil ketikan. Selanjutnya jari-jari gue masih terus bergerak di papan notebook sambil sesekali mengerutkan dahi dan sesekali juga gue manggut-manggut. Sejenak gue menghela nafas, trus menggelengkan kepala setelah gue membaca sinopsis yang tadi gue ketik. Gue blok ketikan di lembar office, trus gue cut dan gue pindahin ke lembar kerja/fileDibuang sayang.” Sejenak pandangan gue beralih, lalu tertuju pada mesin printer di depan gue. Setelah itu gue membaca lagi hasil ketikan dua sinopsis di lembar “Dibuang sayang”, cukup lama. Haaa ternyata bagi Penulis yang mau memulai menulis, cari inspirasi itu nggak gampang. Mungkin karena otak gue masih belum terbiasa mikir cerita, belum lagi cara menulis gue kayaknya...masih standar.

Setelah itu jari-jari gue bergerak lagi di papan notebook, pelan dan nggak secepat tadi. Perlahan gue mencoba merangkai cerita yang udah mulai ditangkap sama otak gue, cerita dari masa lalu gue. Mendadak gue berhenti ngetik, gue bangkit berdiri dan berjalan ke kasur, lalu menjatuhkan badan gue di kasur dan kembali menghela nafas dengan berat. Saat ini rasanya otak gue benar-benar buntu, gue nggak tahu apa yang mesti diceritakan dari masa lalu gue. Kemudian sorot mata gue terpaku pada lampu di atas kasur dengan merapatkan kedua tangan di atas dada, trus jari-jari gue ikut berpikir, selalu bergerak di atas dada.

Gue bangkit lagi, lalu kembali duduk di depan notebook yang masih menyala. Gue membaca lagi yang udah gue ketik di lembar office, hingga perlahan gue manggut-manggut pelan. Ternyata beneran susah kalo menulis cerita dari pengalaman sendiri, apalagi ceritanya harus persis sama. Karena otak gue harus kembali ke masa lalu, lebih dari lima tahun yang lalu. Sementara yang gue tahu, otak manusia itu nggak dirancang kayak komputer yang bisa kuat menyimpan data bertahun-tahun lamanya, kecuali kalo kena virus.  Otak gue nggak secanggih itu, alias terbatas. Dan emang pantas Yang Maha Tak Terbatas itu cuma milik Allah, karena cuma Allah yang bisa mengingat dan mengetahui segala apa yang kita lakukan di masa lalu dan masa akan datang. Subhanallah...

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Suara Kala
126      97     0     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...
November Night
9      9     0     
Fantasy
Aku ingin hidup seperti manusia biasa. Aku sudah berjuang sampai di titik ini. Aku bahkan menjauh darimu, dan semua yang kusayangi, hanya demi mencapai impianku yang sangat tidak mungkin ini. Tapi, mengapa? Sepertinya tuhan tidak mengijinkanku untuk hidup seperti ini.
Alfazair Dan Alkana
13      13     0     
Romance
Ini hanyalah kisah dari remaja SMA yang suka bilang "Cieee Cieee," kalau lagi ada teman sekelasnya deket. Hanya ada konflik ringan, konflik yang memang pernah terjadi ketika SMA. Alkana tak menyangka, bahwa dirinya akan terjebak didalam sebuah perasaan karena awalnya dia hanya bermain Riddle bersama teman laki-laki dikelasnya. Berawal dari Alkana yang sering kali memberi pertanyaan t...
Untuk Reina
528      298     0     
Romance
Reina Fillosa dicap sebagai pembawa sial atas kematian orang-orang terdekatnya. Kejadian tak sengaja di toilet sekolah mempertemukan Reina dengan Riga. Seseorang yang meyakinkan Reina bahwa gadis itu bukan pembawa sial. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Riga?
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
North Elf
85      72     0     
Fantasy
Elvain, dunia para elf yang dibagi menjadi 4 kerajaan besar sesuai arah mata angin, Utara, Selatan, Barat, dan Timur . Aquilla Heniel adalah Putri Kedua Kerajaan Utara yang diasingkan selama 177 tahun. Setelah ia keluar dari pengasingan, ia menjadi buronan oleh keluarganya, dan membuatnya pergi di dunia manusia. Di sana, ia mengetahui bahwa elf sedang diburu. Apa yang akan terjadi? @avrillyx...
Rinai Hati
8      8     0     
Romance
Patah hati bukanlah sebuah penyakit terburuk, akan tetapi patah hati adalah sebuah pil ajaib yang berfungsi untuk mendewasakan diri untuk menjadi lebih baik lagi, membuktikan kepada dunia bahwa kamu akan menjadi pribadi yang lebih hebat, tentunya jika kamu berhasil menelan pil pahit ini dengan perasaan ikhlas dan hati yang lapang. Melepaskan semua kesedihan dan beban.
Flower
8      8     0     
Fantasy
Hana, remaja tujuh belas tahun yang terjebak dalam terowongan waktu. Gelap dan dalam keadaan ketakutan dia bertemu dengan Azra, lelaki misterius yang tampan. Pertemuannya dengan Azra ternyata membawanya pada sebuah petualangan yang mempertaruhkan kehidupan manusia bumi di masa depan.
a Little Braver
14      14     0     
Romance
Ketika takdir yang datang di setiap kehidupan membawanya pada kejutan-kejutan tak terduga dari Sang Maha Penentu, Audi tidak pernah mengerti kenapa Dia memberikannya kehidupan penuh tanya seperti ini?
Sibling [Not] Goals
37      33     0     
Romance
'Lo sama Kak Saga itu sibling goals banget, ya.' Itulah yang diutarakan oleh teman sekelas Salsa Melika Zoe---sering dipanggil Caca---tentang hubungannya dengan kakak lelakinya. Tidak tau saja jika hubungan mereka tidak se-goals yang dilihat orang lain. Papa mereka berdua adalah seorang pencinta musik dan telah meninggal dunia karena ingin menghadiri acara musik bersama sahabatnya. Hal itu ...