Read More >>"> Drapetomania (Chapter 9 | Gun, The Mobster) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Drapetomania
MENU
About Us  

Valhalla. Tidak ada yang pernah menyebut nama grup itu karena tidak ada yang tahu mereka ada. Ketika detektif tidak menemukan jawaban, mereka mengubur jawaban itu. Ketika gadis muda tidak akan pernah kembali pulang, mereka tahu kenapa. Ketika anak yang hilang kembali belasan tahun kemudian, merekalah dalangnya.

You have no idea, they hurt people, here, right under your nose.

Keras kepala, mempercayai menjadi sebuah tabu, naluri liar adalah arah jalan. Siklus kehidupan mereka yang entah mengapa, mereka tidak pernah letih merasakannya. Untuk Valhalla, itu kesempurnaan, bukanlah penyakit.

They clearly describing Valhalla.” Sindir Sara.

“Kau tahu mitologi tentang Valhalla?” tanya Theo. Sara menunjukkan layar ponselnya. “Selama internet masih berguna, semuanya bisa cari di sini.”

Dalam mitologi Nordik, di Asgard terdapat Aula besar yang bernama Valhalla, juga disebut sebagai surganya para prajurit, tidak semuanya yang memiliki nasib beruntung seperti itu. Bagi para prajurit yang gugur dan masuk Valhalla merupakan cita-cita yang mulia.” Theo tertawa mendengar kata surga dan juga mulia. "Aku merasa tersanjung.”

". .Kau tidak bisa merasakan apa yang kau tidak pernah rasakan, Theo."

Theo sekilas melirik Sara. Postur tubuhnya yang sedikit condong ke belakang, dia sedang menyandar di bangku salah satu toko buku, “tidak ada yang mengikutimu ke ATM ‘kan?” Sara mengangkat bahunya. ”Tidak tanpa sepengetahuanku.” Theo mengangguk dan kembali diam.

Sara menoleh kepadanya, kedua jempol Theo memutari permukaan cangkir. Sara mendesah, lalu satu tangan kecilnya menangkup wajah Theo dan di putarnya ke kiri. “Lihat diluar, adakah orang yang kau prediksi mengikutiku?”

“Apa sih.” Theo menangkisnya pelan dan berlanjut, “Kita harus selalu waspada, Sara. Bisa saja pria muda yang terus mondar-mandir naik tangga, wanita tinggi bermodis yang berdiri di depan toko! Lihat itu, ia seperti gelisah bukan?”

Ada tiga detik Sara tidak menyahut, Sara melihatnya tanpa ekspresi. “Yang mondar-mandir itu namanya pelayan. Dan Theo, itu pria bukan wanita.”

Jawaban Theo sangat tidak terduga. “Bagaimana kau tahu?”

Bagaimana kau tidak tahu? he doesn’t have–Dear God! haruskah kita berdebat soal ini?”

Theo masih menggerutu sembari menyeruput cangkir di depannya, hingga cangkir itu kosong. Tidak lama dari itu Theo dan Sara berjalan kaki mengikuti arus orang-orang. Tidak ingin kejadian malam yang lalu terulang lagi, walau masih sore.

Tujuannya tidak jauh. Beruntunglah korban yang selamat itu diantar ke rumah sakit terdekat. Keadaannya tidak sesuai ekspektasi Sara, karena lumayan ramai. Tidak biasanya, karena sebagian orang-orang itu kalau bukan wartawan, apa lagi. Mereka berputar arah memasuki suatu gang kecil. Sesekali melihat ke belakang, tidak ada orang yang mengikuti. Masing-masing bertanya dalam hati kenapa tidak ada wartawan yang di depan tidak berpikiran sama dengan mereka?

“Heran, tidak ada yang menjaga.” ucap Theo.

“Apa bedanya?” tanya Sara singkat.

“Ini kisah menarik. Orang rumah sakit pasti kewalahan menangani wartawan yang penasaran karena ini. Hanya satu yang masih hidup, walau lukanya parah. tidak ada satupun polisi atau penjaga di pintu belakang dari orang seperti kita. And yet, tidak ada yang tahu siapa penyebab kegaduhan ini.”

‘Kecuali kita, mungkin.” Sara perlahan membuka pintu, hanya beberapa dokter, suster dan tiba-tiba dua polisi berjalan dari arah berlawanan. Berbeda dengan yang lain, ada dua polisi penjaga di pintu ujung, lagi mengobrol biasa. Mereka yakin bahwa itu kamar pasien yang dicari. Theo dan Sara menunggi hingga malam pun penjaga masih di tempat yang sama. Kemudian mereka punya rencana yang terlalu klasik.

Memakai jas putih.

“Aku mau jadi dokter.”

Sara memutar matanya malas, “Memangnya kau tahu berlagak seperti dokter?” Theo meletakkan tangan di dadanya, memasang ekspresi menggelikan menurut Sara, “Kau meremehkanku, Sara. Aku punya teman dokter terhebat segalaksi, kau ingat?”

Daripada berdebat, akhirnya mereka berdua menjadi dokter. Sara berjalan di depan Theo sambil memegang papan record pasien. Dan tentu saja berhasil, Theo sempat mengobrol dengan polisi tersebut. “Kau tahu apa yang sedang kubicarakan dengan mereka?”

“Apa?” ucap Sara, dan Theo memalingkan wajah dari Sara, “Pria yang berbaring ini, adalah polisi.” Ia berdiri di depan jendela, melihat keluar, dan tidak melihat apa-apa. Pikirannya berkecamuk. “Maldición[1],” desis Sara.

“Harusnya aku membiusmu tanpa ragu dan membawamu pulang.” Serentak Theo menjauh dari kasus dan Sara sontak menutup jendela dan keduanya berposisi waspada. Pria itu yang masih terbaring lemah memindai seluruh ruangan. Ia mencoba bangun dan menyandarkan diri dengan bantal, tanpa bantuan Theo dan Sara. “Hanya menunggu waktu, mereka akan kembali. Apa yang kau mau, Theo?”

“Bagaimana seorang polisi tahu?” Ucap Sara ragu-ragu. Pria itu tertawa meremehkan pertanyaannya. “Hanya itu yang kau ingin tahu? Ayolah, tidak semua polisi adalah ‘polisi’. jangan naif.”

Theo memberengut, perlahan mendekati pintu yang sedikit terbuka. Sara mengepalkan rahangnya, mengambil foto sang pasien dan mempersilahkan dia berbicara. “Waktu kami tidak banyak.”

Tangan pria itu gatal untuk mencabut selang infus di hidungnya. Dan dia melakukan itu. Di sampingnya terdapat barang-barangnya, ia mengambil perekam dan menekan tombol.  “Namaku Alfredo, polisi yang nyatanya pembohong dan ini akan menjadi bukti, bahwa Valhalla nyata. Mereka memeras dan meminta secara paksa bantuan kami, polisi yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut karena teringat keselamatan keluarga, menjadi informan, ikut menyelundupi drugs, ga–“

Alfred terisak dalam diam, “gadis muda... anak-anak. Dengar, tidak ada diantara kami yang suka, senang. Untuk istriku, Maria... maaf aku tidak bisa... aku sayang kalian berdua–”

Kalimat itu tidak akan pernah selesai. Theo dan Sara tidak mendengar isakan, kata maaf lagi, atau sayang dari mulut pucatnya. Suara elektrokardiogram[2] yang memekakkan telinga. Darah mengalir deras dari wajah Alfredo akibat tertembak.

Pintu terbuka, dihadapi dua penjaga tadi yang mengacungkan rifle ke arah Theo dan Sara. Mana ada polisi membawa senapan panjang saat bertugas? Merasa terjebak, Theo menendang meja dan mengenai satu penjaga., Theo mengambil handgun dari si penjaga dia lengah. Ambil posisi petinju, menarik pelatuk dan peluru itu mengenai kepala penjaga. Dan tepat mengenai bahunya.

Theo terus meninju, menembak, menimbulkan keributan, tapi ia tidak mampu melepaskan tangan penjaga yang membawa Sara pergi. Seluruh akalnya langsung berantakan. Theo bahkan tidak merasakan sakit pisau belati yang menusuk punggungnya. Pengawal yang menendang Theo hingga ia terlentang di lantai, yana ia rasakan hanya kepanikan sangat karena Sara tidak ada di dekatnya.

Semua dokter, suster berkeliaran di luar rumah sakit, tak lupa para pasien yang dievakuasi. Polisi baru saja datang. Tiga polisi menyaksikan dirinya terkapar di lantai, dan membantunya keluar dari lingkaran para pengawal tersebut. Kacamata Theo sampai patah. “Mereka yang menembak pasien, aku hampir mati jika kalian tidak datang!”

Aliran darah di kepalanya membuat suster yang lewat langsung menghampirinya. Theo hanya minta obat saja, memerintahkan mereka keluar dari gedung. Suara teriakan wanita mengalihkan perhatian Theo. Pria itu mengikuti suara itu. Namun tidak menyangka apa yang ia lihat.

Pengawal yang menculik Sara tadi sudah terkapar. Lautan darah menjadi hiasan lantai lorong tersebut, Leher pria itu sudah tidak berbentuk utuh. Baju pelingungnya bolong karena bekas tembakan peluru. Senapan panjang berada di samping korban. Sara berdiri di pojok lorong, terjatuh jika Theo tidak segera memeluknya.

Theo menangkup wajah Sara. “Apa kau terluka? I, ini bukan darahmu, iyakan?” Sara mengangguk cepat. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini. Theo pun berkeinginan sama. Mengambil alat pengobatan apa saja yang dia lihat.

Keramaian berubah menjadi kericuhan. Namun menjadi keuntungan untuk Theo dan Sara. Mereka keluar dan ikut berbaur. Di ujung jalan mereka melepas jas dan buang ke tempat sampah.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Sambil menghindari kamera pengawas, masih dalam ruang pelukan pria itu Sara sudah bisa melihat jalan dengan jelas. “Lepaskan aku Theo,” ucap Sara pelan.

Sara melepas diri dari Theo ia menarik baju di lengan Theo, pemandangan tidak sedap membuat Sara geram. “Aku tak tahan merasakan luka ini di pinggangku. Beri aku waktu untuk ini di lorong sana.”

“Aku baik-baik saja,” ucap Theo.

Sara justru tidak merasa demikan. Lukanya tidak apa-apanya dibandingkan Theo. Luka dilengannya tidak lagi menjadi perhatian Sara. Kondisi punggungnya jauh dari kata baik. Beserta darah yang tidak berhenti mengucur, kepalanya berat sekali, sekitarnya serasa berputar. “Oh, Theo. . .”

 

 

[1] sial.

[2] alat monitor detak jantung.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Late Night Stuffs
11      4     0     
Inspirational
Biar aku ceritakan. Tentang tengah malam yang terlalu bengis untuk membuat pudar, namun menghentikan keluhan dunia tentang siang dimana semua masalah seakan menjajah hari. Juga kisah tentang bintang terpecah yang terlalu redup bagi bulan, dan matahari yang membiarkan dirinya mati agar bulan berpendar.
RAHASIA TONI
322      50     0     
Romance
Kinanti jatuh cinta pada lelaki penuh pesona bernama Toni. Bukan hanya pesona, dia juga memiliki rahasia. Tentang hidupnya dan juga sosok yang selalu setia menemaninya. Ketika rahasia itu terbongkar, Kinanti justru harus merasakan perihnya mencintai hampir sepanjang hidupnya.
Nothing Like Us
237      58     0     
Romance
Siapa yang akan mengira jika ada seorang gadis polos dengan lantangnya menyatakan perasaan cinta kepada sang Guru? Hal yang wajar, mungkin. Namun, bagi lelaki yang berstatus sebagai pengajar itu, semuanya sangat tidak wajar. Alih-alih mempertahankan perasaan terhadap guru tersebut, ada seseorang yang berniat merebut hatinya. Sampai pada akhirnya, terdapat dua orang sedang merencanakan s...
MANTRA KACA SENIN PAGI
55      17     0     
Romance
Waktu adalah waktu Lebih berharga dari permata Tak terlihat oleh mata Akan pergi dan tak pernah kembali Waktu adalah waktu Penyembuh luka bagi yang sakit Pengingat usia untuk berbuat baik Juga untuk mengisi kekosongan hati Waktu adalah waktu
Love Dribble
96      33     0     
Romance
"Ketika cinta bersemi di kala ketidakmungkinan". by. @Mella3710 "Jangan tinggalin gue lagi... gue capek ditinggalin terus. Ah, tapi, sama aja ya? Lo juga ninggalin gue ternyata..." -Clairetta. "Maaf, gue gak bisa jaga janji gue. Tapi, lo jangan tinggalin gue ya? Gue butuh lo..." -Gio. Ini kisah tentang cinta yang bertumbuh di tengah kemustahilan untuk mewuj...
UNFINISHED LULLABY
3      3     0     
Inspirational
THE HISTORY OF PIPERALES
21      10     0     
Fantasy
Kinan, seorang gadis tujuh belas tahun, terkejut ketika ia melihat gambar aneh pada pergelangan tangan kirinya. Mirip sebuah tato namun lebih menakutkan daripada tato. Ia mencoba menyembunyikan tato itu dari penglihatan kakaknya selama ia mencari tahu asal usul tato itu lewat sahabatnya, Brandon. Penelusurannya itu membuat Kinan bertemu dengan manusia bermuka datar bernama Pradipta. Walaupun begi...
Run Away
93      18     0     
Romance
Berawal dari Tara yang tidak sengaja melukai tetangga baru yang tinggal di seberang rumahnya, tepat beberapa jam setelah kedatangannya ke Indonesia. Seorang anak remaja laki-laki seusia dengannya. Wajah blesteran campuran Indonesia-Inggris yang membuatnya kaget dan kesal secara bersamaan. Tara dengan sifatnya yang terkesan cuek, berusaha menepis jauh-jauh Dave, si tetangga, yang menurutnya pen...
DanuSA
292      66     0     
Romance
Sabina, tidak ingin jatuh cinta. Apa itu cinta? Baginya cinta itu hanya omong kosong belaka. Emang sih awalnya manis, tapi ujung-ujungnya nyakitin. Cowok? Mahkluk yang paling dia benci tentu saja. Mereka akar dari semua masalah. Masalalu kelam yang ditinggalkan sang papa kepada mama dan dirinya membuat Sabina enggan membuka diri. Dia memilih menjadi dingin dan tidak pernah bicara. Semua orang ...
Phased
14      13     0     
Romance
Belva adalah gadis lugu yang mudah jatuh cinta, bukan, bukan karena ia gadis yang bodoh dan baperan. Dia adalah gadis yang menyimpan banyak luka, rahasia, dan tangisan. Dia jatuh cinta bukan juga karena perasaan, tetapi karena ia rindu terhadap sosok Arga, abangnya yang sudah meninggal, hingga berusaha mencari-cari sosok Arga pada laki-laki lain. Obsesi dan trauma telah menutup hatinya, dan mengu...