Read More >>"> Reach Our Time (Chapter IX : Ingin Dianggap) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Reach Our Time
MENU
About Us  

Ada kalanya ketika seseorang berusaha melakukan sesuatu dan akhirnya mencapai tujuan yang diinginkan, rasa ingin dihargai orang lain pasti akan membuat kesenangan tersendiri. Yah begitulah manusia, butuh sanjungan. Kita tidak bisa memungkiri sifat itu. Itu memang sudah naluri.

 

Malam itu, suasana serasa hening lantaran perdebatan Raisha dan Wahyu yang masih belum menemui titik terang. Hanya suara televisi yang memenuhi ruangan. Tengah menayangkan berita malam.

Berbagai pikiran mulai bercabang dalam otak Raisha. Namun, ia selalu terbentur kebuntuan. Berkali-kali juga, ia menghela nafas. Sebentar-bentar merubah posisi. Atau berjalan sekedar mengisi gelas minum yang saat itu cepat habisnya.

Wahyu pun berusaha acuh dengan gelagat resah anaknya. Kala itu, ia membiarkan Raisha berpikir. Mungkin Raisha bisa menenangkan diri dengan cara itu. Wahyu memang tahu betul watak keras kepala anak semata wayangnya itu. Jika disaat seperti itu, ia tidak akan mampu menenangkan Raisha, kecuali dengan ucapan logis yang bisa dimengertinya.

"Assalamualaikum" teriak lelaki menyapa rumah. Dengan segera Raisha pun menghampiri. Seketika, dirinya terkejut dengan keberadaan dua lelaki yang belum lama ini menjadi biang keladi penambah masalah. Siapa lagi kalau bukan Adi dan Putra.

Mereka pun akhirnya disambut Wahyu dengan sumringah. Raisha menghela nafas, mengatur suasana hati. Entah apa yang akan terjadi malam itu.

"Ini pak, dari kami. Mudah-mudahan bapak suka!" ujar Putra sambil menyodorkan kantong plastik berisi bandeng presto dan telur asin buatan rumah.

"Kata ibu saya kalau orang yang patah tulang harus banyak makan ikan dan telur. Banyak kalsiumnya pak." tambah Adi.

Wahyu pun terkesima dengan pemberian tersebut. "Wah terima kasih banyak nak! Aduh bapak gak bisa kasih apa-apa ini."

"Gak apa-apa kok pak. Udah jangan merasa berat hati gitu. Mungkin emang udah rezeki untuk bapak!" ujar Adi.

Raisha pun datang menyajikan minuman untuk mereka. Wahyu pun sebagai tuan rumah mempersilahkan mereka untuk segera meminumnya.

Raisha memilih duduk di samping bapaknya. Ia mulai mengamati pemberian dari keluarga Adi. Terselip kebingungan dalam dirinya, namun ia berusaha tenang.

"Kalau boleh tahu, kaki bapak bisa patah kenapa?" tanya Adi penasaran. Akhirnya Wahyu pun menjelaskan kronologinya. Ia pun juga memberitahu pekerjaannya. Hingga berlanjut dengan cerita obrolan kehidupan masing-masing.

Dari obrolan itu pun, akhirnya Wahyu dan Raisha mendapat pencerahan. Adi pun banyak memberi saran agar berobat di rumah sakit dengan jaminan pemerintah. Yah, ini dikhusukan layanan bagi orang yang kurang mampu. Pengalaman dari temannya ternyata memang berguna khususnya untuk sekarang.

Tak terasa minuman dalam tiap cangkir kala itu, kini hanya sisa seperempat. Sekali teguk, mungkin cangkir tersebut akan kosong dalam sekejap. Bersamaan dengan itu, Adi dan Putra akhirnya pamit. Mereka berdua pun menyalami Wahyu, sebelum keluar dari rumah. Sebagai tuan rumah, Raisha mengantarkan mereka hingga keluar rumah.

Adi pun menyodorkan tas berisi laptop ke arah Raisha. "Ini gue pinjemin laptop. Yah hitung-hitung bisa lo pake sampai laptopnya bener."

Tangan Raisha belum mau menerima pemberian itu. Mata Raisha menatap tajam ke bola mata Adi. Dahinya sedikit mengkerut heran dengan pemberian tersebut. "Lo yakin mau pinjemin laptop ini?"

"Yah, anggep aja ini sebagai ganti rugi karena gua udah jatuhin laptop lo."

"Gue bukan orang yang suka dikasihani. Lo gak inget?"

"Bisa gak sih lo hargai bantuan dari gua!"

"Adiyasa, kita itu baru ketemu, dan itu secara gak sengaja. Kita belum saling kenal. Dan yang gua gak habis pikir, kenapa lo tiba-tiba sok peduli dengan masalah gue."

Adi tak menanggapi pertanyaan Raisha. Ia hanya menyodorkan laptopnya ke pangkuan tangan Raisha. Akhirnya Raisha pun menerima secara terpaksa.

"Gue tahu lo lagi butuh. Jadi jangan sok kuat!" Adi pun berjalan berlalu, meninggalkan Raisha.

"Lo mau balas budi?"

Ucapan Raisha tidak menghentikan langkah Adi. Akhirnya, Adi dan Putra pun melesat pergi meninggalkan Raisha yang masih dilanda kebingungan.

Raisha masih berdiri, tak berpindah posisi semenjak Adi dan Putra pergi. Semakin lama dipikirkan, kini ia tak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi coba untuk ditahan.

"Makasih" ucapnya lirih. Namun, ucapan itu kini tak bermakna. Rasa gengsi mengalahkan Raisha untuk berterus terang pada dirinya. Hingga menyesakkan dalam dada.

Ia pun mulai menyeka air matanya yang jatuh, lalu masuk kedalam rumah. Berusaha menyembunyikan kejadian tersebut. Berpura-pura dari bapaknya, tak terjadi apa-apa pada dirinya.

********

Gita sejenak merebahkan diri di kasurnya. Membebaskan pikiran dari tumpukan file project coding ruwet yang kini sudah berbaris di foldernya. Matanya menerawang menatap langit kamar. Pikirannya kini masih berkelut resah dengan kehadiran gadis lain yang merebut dambaan hatinya.

"Gerangan siapa yang merebut hati kak Adi?" besit Gita saat itu. Sudah hampir 4 tahun lamanya, Gita menjadi pengagum rahasia yang setia mengikutinya. Namun, dalam sekejap gadis lain langsung bisa menarik hatinya. Gita tak pelak menyalahkan dirinya, yang selalu bersembunyi tak pernah berusaha memberikan sinyal.

Hanya jika rasa suka itu sudah berada dalam tahap cinta. Berarti Gita mau tak mau harus bertempur. Itu sudah resiko yang harus diterima. Setidaknya untuk bertempur, Gita harus tahu terlebih dahulu siapa musuhnya.

Entah apa yang akan dilakukannya, Gita sendiri belum ada gambaran. Mungkin teguran kasar, bisa Gita mulai dengan hacking akun sosial media gadis tersebut. Baru itu saja yang terbesit dalam otaknya. Yang lain, menunggu hingga waktu yang tepat.

Gita beranjak dari kasurnya, setelah melihat jam digital yang terpampang di sudut monitor. Mengingatkan dirinya dengan musuh nyata yang sedang berbaris di layar monitor. Barisan kode yang belum selesai, lantaran buntu logika.

Pukul 21.30 WIB, masih ada waktu setengah jam sebelum gerbang kos dikunci. Ia harus menyiapkan amunisi sebelum berperang. Apalagi kalau bukan beberapa snack ringan dan biskuit. Dengan segera ia meraih jaket kuning cerah yang tergantung di pintu kamar. Tak lupa dompet serta smartphone ikut serta dalam perjalanan.

Untung saja, kosan Gita tak jauh dari minimarket. Tapi gara-gara itu, Gita sering dimarahi orang tuanya karena sering menghabiskan jatah uang saku bulanan dalam waktu dua minggu. Gita sering mengelak, makanan ringan lah yang membuat otaknya mengalir lancar. Snack ringan sudah menjadi kebutuhan pokok Raisha dalam ber-coding ria.

Setelah memilih beberapa snack dan minuman ringan, Gita pun langsung menuju kasir. Namun, matanya menangkap sosok lelaki yang tak asing. Lelaki itu tengah mengisi air panas ke dalam cup mie instant-nya.

“Kak Farhan?”

Lelaki itu dengan segera menoleh ke arah panggilan suara. Lalu, ia kembali fokus dengan cup yang kini sudah terisi air panas sesuai takaran yang diinginkan.

“Eh, Gita. Banyak amat snack yang lo beli. Bagi satu boleh kali?” ledek Farhan setelah melihat barang-barang yang tengah discan di meja kasir.

“Gua tunggu di depan yah!” ujar Fahan berlalu tanpa menunggu jawaban Gita yang belum mengiyakan. Gita hanya menghela nafas.

Setelah membayar barang-barang yang dibeli, ia langsung keluar. Tak perlu waktu lama untuk mencarinya, Farhan persis duduk di dekat pintu keluar. Gita pun duduk di sampingnya sambil menyodorkan keripik kentang balado miliknya di atas meja. Farhan yang tengah menyeruput mie, langsung meraih snack tersebut. Tangan Gita dengan segera menghentikan gerak tangan Farhan.

“Tapi, lo harus jawab pertanyaan gua!”

Farhan pun menggangguk mengiyakan. Tangan Gita akhirnya melepas snack tersebut.

“Emang lo mau tanya apa sih?” ujar Farhan sambil membuka kemasan snack ringan tersebut.

“Hmm... gue penasaran aja. Emang siapa sih cewek yang disukai kak Adi?”

“Tuh kan lo suka yah sama Adi? Dari kemarin nanyain dia mulu?” ucapan Farhan membuat Gita menelan ludah. Kedua bola matanya menerawang bebas. Dia benar-benar sudah tertangkap basah.

“Kok lo diem? Bener dong omongan gua? Ah gua bilangin ke Adi lah” ledek Farhan sambil mengambil smartphone di saku jaketnya. Gita pun dengan segera memukul bahu Farhan dengan kepalan tangannya. Membuat Farhan meringis kesakitan.

“Ah, lo kak gak bisa jaga rahasia banget sih!” ujarnya sambil merengut. Farhan pun hanya tertawa kecil melihat tingkah Gita.

“Gue juga belum lihat orangnya. Kata Adi sih dia orangnya lumayan cantik, tapi katanya serem gitu!”

“Lah kok kak Adi doyannya yang serem-serem gitu sih?” Farhan hanya menaikkan bahu, tanda tak tahu.

“Lah, lo sendiri kenapa suka sama Adi? Perasaan kalau dari tampang masih cakepan gua deh.” Gita memutar kedua bola matanya, mengelak pernyataan tersebut.

“PD banget sih lo kak! Gua sih gak lihat dari tampang yah. Yang penting kualitasnya!”

“He, emang kita produk pake dilihat kualitas segala!” Gita hanya menyengir kegirangan mendengar pernyataan tersebut. Gita pun melihat jam di smartphone-nya, yang kini tinggal lima belas menit sebelum pintu gerbang kos ditutup.

“Udah lah kak, ngomong sama lo gak ada habisnya. Gua pulang dulu!”

“Eh temenin gua, mie gua belum habis nih!”

“Pintu gerbang gua sebentar lagi mau ditutup, lo mau tanggung jawab kalau gue kekunci?”

“Kan lo bisa tinggal di kosan gua”

“Apa sih lo kak. Gua tuh cewek kali”

“Oh, kirain gua lo cowok” ledek Farhan lagi. Gita pun beranjak pergi meninggalkan Farhan dengan guyonan receh tak berkelas itu.

“Dah, gua pergi dulu! Inget jangan bilang ke kak Adi yah!” ujar Gita memberi peringatan. Farhan pun memberikan sinyal tangan seolah-olah mengunci mulutnya. Gita pun memberikan salam senyuman perpisahan yang kini malah membuat aliran darah Farhan berdesir.

“Kenapa tubuh gua kaya merinding gitu, pas lihat Gita senyum yah? Apa dia hantu?” batin Farhan heran. Ia pun menghilangan rasa anehnya tersebut, dengan menyeruput mienya kembali.  Namun, semakin lama ingin mengacuhkannya, senyum manis Gita malah terus membayang dalam pikirannya. Membuat Farhan akhirnya menyetujui, bahwa Gita gadis yang manis.

Farhan pun menghela nafas, menyadari tingkah lakunya yang sedikit aneh itu. Hanya saja Farhan ingin mengelak kata hatinya. Entah apa yang akan terjadi, jika Farhan suka pada Gita. Mungkin Gita akan menjauhi dirinya. Dan, hal itu sangat tidak diinginkan Farhan. Apalagi, kini Gita sudah memberitahu tambatan hati kepadanya. Otomatis, Farhan tidak boleh menaruh rasa suka pada Gita sedikit pun.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
Similar Tags
Putaran Roda
2      2     0     
Short Story
Dion tak bergeming saat kotak pintar itu mengajaknya terjun ke dunia maya. Sempurna tidak ada sedikit pun celah untuk kembali. Hal itu membuat orang-orang di sekitarnya sendu. Mereka semua menjauh, namun Dion tak menghiraukan. Ia tetap asik menikmati dunia game yang ditawarkan kotak pintarnya. Sampai akhirnya pun sang kekasih turut meninggalkannya. Baru ketika roda itu berputar mengantar Dion ke ...
Shades Of Nuance
19      10     0     
Romance
"seandainya kita diciptakan untuk menjadi satu, pasti suatu saat kita akan bertemu – Putri Zein" "aku selalu teringat tentang pertama kali aku bertemu dengan mu, kau hanya menatapku datar bukan tatapan memuja. Seorang siswi pindahan yang selalu membuatku muak, dengan kelakuan nya yang selalu ikut campur urusan orang lain. – Choi Min Ho" "mata kami saling bertemu, m...
Cheonita
26      9     0     
Romance
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s ...
To You The One I Love
3      3     0     
Short Story
Apakah rasa cinta akan selalu membahagiakan? Mungkinkah seseorang yang kau rasa ditakdirkan untukmu benar benar akan terus bersamamu? Kisah ini menjawabnya. Memang bukan cerita romantis ala remaja tapi percayalah bahwa hidup tak seindah dongeng belaka.
Mencari Virgo
289      225     2     
Short Story
Tentang zodiak, tentang cinta yang hilang, tentang seseorang yang ternyata tidak bisa untuk digapai.
(not) the last sunset
3      3     0     
Short Story
Deburan ombak memecah keheningan.diatas batu karang aku duduk bersila menikmati indahnya pemandangan sore ini,matahari yang mulai kembali keperaduannya dan sebentar lagi akan digantikan oleh sinar rembulan.aku menggulung rambutku dan memejamkan mata perlahan,merasakan setiap sentuhan lembut angin pantai. “excusme.. may I sit down?” seseorang bertanya padaku,aku membuka mataku dan untuk bebera...
TAKSA
2      2     0     
Romance
[A] Mempunyai makna lebih dari satu;Kabur atau meragukan ; Ambigu. Kamu mau jadi pacarku? Dia menggeleng, Musuhan aja, Yok! Adelia Deolinda hanya Siswi perempuan gak bisa dikatakan good girl, gak bisa juga dikatakan bad girl. dia hanya tak tertebak, bahkan seorang Adnan Amzari pun tak bisa.
AraBella [COMPLETED]
344      90     0     
Mystery
Mengapa hidupku seperti ini, dibenci oleh orang terdekatku sendiri? Ara, seorang gadis berusia 14 tahun yang mengalami kelas akselerasi sebanyak dua kali oleh kedua orangtuanya dan adik kembarnya sendiri, Bella. Entah apa sebabnya, dia tidak tahu. Rasa penasaran selalu mnghampirinya. Suatu hari, saat dia sedang dihukum membersihkan gudang, dia menemukan sebuah hal mengejutkan. Dia dan sahabat...
A Perfect Clues
106      32     0     
Mystery
Dalam petualangan mencari ibu kandung mereka, si kembar Chester-Cheryl menemukan sebuah rumah tua beserta sosok unik penghuninya. Dialah Christevan, yang menceritakan utuh kisah ini dari sudut pandangnya sendiri, kecuali part Prelude. Siapa sangka, berbagai kejutan tak terduga menyambut si kembar Cherlone, dan menunggu untuk diungkap Christevan. Termasuk keberadaan dan aksi pasangan kembar yang ...
BEST MISTAKE
195      45     0     
Romance
Tentang sebuah kisah cinta yang tak luput dari campur tangan Tuhan yang Maha Kuasa. Di mana Takdir sangat berperan besar dalam kisah mereka. "Bisakah kita terus berpura-pura? Setidaknya sampai aku yakin, kalau takdir memang tidak inginkan kita bersama." -K