Sore itu, tepat pukul tiga, rintik hujan menemani prosesi pemakaman seorang wanita. Beberapa orang yang ada di sana hanya bisa diam dalam haru melihat seorang pria yang terpaku berlutut di depan makam, milik istrinya.
Satu persatu, orang yang tadi hadir, meninggalkan pemakaman, meninggalkan pria itu bersama istrinya yang sudah terbaring, tertanam. Hujan masih setia dengan rintiknya menemani, membasahi seluruh pakaian pria tampan. Hari itu dia sadar, ia harus merawat sendiri anaknya yang baru lahir, tanpa ibu.
"Nadine ... doakan aku agar bisa merawat Moza dengan baik. Aku mencintaimu. Selamat tinggal."
Pria itu berdiri meninggalkan pemakaman yang sepi dan kelabu. Sejak kemarin, cuaca memang mendukung perasaannya, sedih, seakan turut menangis menemani pria itu. Nadine pergi, setelah melahirkan, Moza, anak mereka. Semuanya membuat pria itu terpukul. Ia tidak tahu, apakah nanti hari-harinya akan sekelabu ini, atau akan ada pelangi setelahnya? Yang dapat ia lakukan hanya melewati hari-hari itu. Harinya masih panjang, pun hari-hari yang akan dimiliki anaknya, Moza.
Pria itu memilih berjalan sebentar di kawasan dekat rumahnya, setelah meminta sopirnya untuk menurunkannya di pinggir jalan. Dia masih mau bertemankan sisa aroma hujan. Hujan adalah keadaan favorit Nadine. Wanita yang sangat mencintai aroma hujan dan basahnya tanah yang tampak segar. Nadine akan meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya demi menikmati hujan, walau tidak selalu ia bisa membiarkan rintik air itu jatuh di kepalanya.
"AWAAAAAAAS!"
BRAK!
Sebuah sepeda berwarna merah muda menabrak tubuh pria yang sedang bersedih itu, membuatnya dan pemilik sepeda terjatuh. Sepertinya lutut sang empunya sepeda terluka, tampak dari ringisan di wajahnya. Pria dengan jas hitam tersebut, Ardha, berdiri, turut membantu gadis kecil bersepeda merah muda. Ardha memperlihatkan wajah kesalnya.
"Dasar bodoh! Mata kamu kemana sih? Sudah tahu hujan, jalanan licin, ngebut pula, dan kamu tidak melihat saya sama sekali? Lihat tuh lutut kamu, jadi luka, kan?" amuk Ardha pada gadis manis berkepang dua itu.
Gadis itu menunduk, takut, "Maaf, Om, Kla nggak sengaja. Kayaknya rem sepeda Kla sudah rusak, jadi-"
"Kamu pikir saya ini bapak-bapak tua sampai kamu panggil Om? Umur saya masih 26, tahu?" Ardha menjambak rambutnya kesal. Rasanya dia hendak mencekik gadis kecil itu, tapi niat itu diurungkan, karena sepertinya gadis di hadapannya itu masih anak SMP, dan wajar saja dia memanggil Ardha dengan sebutan 'om'. Sedangkan gadis kecil yang memanggil dirinya sendiri Kla itu tak berani mengangkat kepalanya karena takut. Dia menunduk sambil meremas tangannya, menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Ya sudah, saya pesankan taksi untuk kamu dan sepeda tuamu itu. Lain kali kalau mau bawa sepeda, cek dulu remnya, berfungsi atau tidak. Setelah sampai di rumah, jangan lupa obati lutut kamu, bersihkan badan kamu, dan minumlah sesuatu yang hangat. Mengerti?"
Kla perlahan mengangkat kepalanya, terkesima dengan semua kalimat yang keluar dari mulut Ardha. Sepertinya anak yang baru beralih ke masa remaja itu, jatuh cinta pada pandangan pertama. Kla merasakan hatinya hangat dengan perhatian dari Ardha. Dia tersenyum dan mengangguk semangat, membalas pertanyaan Ardha, yang artinya dia mengerti.
"Terima kasih, Om."
"Aku masih 26! Ah sudahlah."
Emirah: waaahh makasih apresiasinya hehehe sedikit2 bcany jgn marathon hehehe
Comment on chapter Mama Klatina, Papa Ardha