Read More >>"> Love Dribble (Empat | Lagu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Love Dribble
MENU
About Us  

Empat | Lagu

 

"Aduh, pegel banget nih badan gue, lagian ngapain sih tiap hari harus lari keliling lapangan dua puluh kali. Bikin badan pegel tau gak!" keluh Raya sambil memukul pelan bagian-bagian tubuhnya yang terasa pegal ketika selesai latihan dan berganti baju.

"Aduh, kasian deh lo. Pegel ya, Ray, Re? Haduh, untung aja gue gak masuk ekskul basket, jadi gak pegel-pegel deh badan gue" ledek Luna.

"Lo ngeledek ya, Lun? Tapi sayangnya, gue gak capek tuh, wlee!" balas Claire sambil memeletkan lidahnya ke arah Luna.

"Iye deh, terserah lo aja!"

"Ciee, sahabat gue yang paling ngeselin lagi ngambek nih yee" ledek Claire.

"Well, lo ngatain gue sahabat lo yang paling ngeselin juga karena gue satu-satunya sahabat lo kan. Secara lo lebih sering baca novel sama dengerin lagu pake headset kesayangan lo itu daripada bergaul sama orang lain kan. Makanya, gue itu paling segala-galanya deh di mata lo. Paling cantik juga kan pastinya, iya gak?" balas Luna yang mengundang tawa Raya.

"Eh, Lun. Lo kan belom daftar nih mau masuk ekskul apa, jadi... lo masuk ekskul basket aja gimana?" tawar Claire sambil tersenyum devil.


"What?! Oh my God, Clairee! Gue gak se-bodoh itu lah ya, mau masuk ke ekskul basket dimana sahabat gue yang paling sadis dari yang paling sadis jadi ketua nya. Bisa pegel-pegel dah badan gue tiap hari gara-gara elo! Lagian gue pengen masuk ekskul musik aja deh... gimana menurut lo?" balas Luna.

"Gue sih setuju-setuju aja. Lo juga jago kok main piano atau keyboard nya" ucap Claire.

Luna mengangguk-angguk mendengar ucapan Claire.

Raya tersenyum geli. "Emang Claire sesadis apa sih Lun? Kok bisa jadi yang paling sadis dari yang paling sadis sih?" tanya Raya yang penasaran sedari tadi.

"Nih ya, masa waktu kelas dua SMP kalo gak salah, gue kan pernah di-bully kan tuh, gara-gara ketauan suka sama ketua OSIS. Nah, gue di-bully nya pake coret-coret meja gitu selama seminggu. Kan gue rahasia-in tuh pem-bully an gue dari si Claire. Waktu itu, si Claire nganter gue ke kelas, nah, dia baca dah tu coret-coretan di meja gue. Mengamuklah dia! Ngamuk nya sih gak sampe mukul orang, tapi dia sampe gebrak-gebrak meja orang yang nge-bully gue. Orang yang nge-bully gue sampe nangis-nangis. Gimana gak gue bilang sadis?" jelas Luna sambil sesekali melirik Claire yang sedang pura-pura tidak tahu.

"Loh? Itu kan so sweet banget Lun. Kok lo bilang sadis sih?" tanya Raya lagi.

"Iya so sweet. Kalo bukan dia yang nyebarin gue suka sama ketua OSIS ya emang so sweet" jawab Luna sambil melotot menatap Claire.

"Hehe, ampun Lun" ucap Claire sambil mengangkat tangan nya menyerah.

"Untung lo sahabat gue, Re. Kalo bukan, udah gue cincang-cincang lo!" kata Luna.

"Iya, Kak Ire emang sadis tau. Masa kemaren aku gak dibawain bekal cuma gara-gara malem nya aku gak sengaja ngilangin novel nya di kamarku. Sadis kan?" keluh Shiellen.

Claire melotot menatap Shiellen. "Nah, novel nya udah ketemu belom sekarang?" tanyanya.

"Ehm, belom..." cengir Shiellen.

"Kalo sampe seminggu gak ketemu, kakak aduin kamu ke mama!" ancam Claire sambil menatap Shiellen dengan tatapan tajam.

"Yaaah kakak mah. Jangan dong kak..." bujuk Shiellen.

"Len, daripada ngebujuk si kepala batu, mending kamu cari novel nya deh. Soalnya novel punya dia itu udah kayak nyawa dia, kalo ilang gak ketemu, ganti" ujar Luna pada Shiellen yang sedang mengerucutkan bibirnya.

"Oh iya Lun, ngomong-ngomong soal novel, novel gue yang judulnya 'Still Into You' ada dimana ya?" tanya Claire sambil memicingkan matanya menatap Luna.

"Mati gue!", Luna tak henti merutuki dirinya dalam hati karena sudah mengungkit soal novel. Novel 'Still Into You' milik Claire sudah dia hilangkan entah di mana.

"Tun kan, elo mah gitu Lun! Eh, Ray, lo sabar-sabar ya temenan sama Luna. Ribet orangnya, nyebelin lagi" ucap Claire pada Raya.

"Gue mah gak bermasalah, elo tuh yang bermasalah bisa enggak tahan temenan sama gue!" balas Luna.

"Iya deh, serah lo dah".

Saat mereka sedang asyik mengobrol, Nathan tiba-tiba menghadang jalan mereka.

"Em, Claire? Maaf banget ya soal Gio. Dia emang dingin plus jutek orangnya" kata Nathan.

"Dingin juga gak berarti dia harus boleh ngebentak adek gue kayak gitu juga kan?" ketus Claire.

"Kakak! Udah aku bilang, aku gapapa kok. Lagian, aku kan juga salah... gak merhatiin jalan, jadinya minumku tumpah ke baju Kak Gio" ucap Shiellen.

"Em, gini aja deh, gimana kalo sebagai permintaan maaf, gue atas nama Gio, nganterin kalian pulang. Gimana?" tawar Nathan.

"Tapi--"

"Gue bukan mau modus atau gimana kok. Cuma mau nebus dosa sahabat gue. Lagian gue lagi senggang kok" potong Nathan sambil terkekeh. Tapi dia membetulkan perkataannya dalam hati. Bukan modus kok, cuma pedekate aja.

"Ehm, emang rumah kita searah?"

"Searah kok"

Luna dan Raya yang berbisik-bisik sejak kedatangan Nathan langsung tertawa mendengar jawaban Nathan yang sepertinya ia ucapkan tanpa pikir panjang. Ia bahkan tidak tahu dimana rumah Claire. Mereka tau kalau Nathan hanya ingin mengantar Claire pulang.

"Udah, udah. Claire, mending lo sama Shiellen dianter sama Nathan aja. Kan lumayan, Kak Sherly gak perlu repot ngejemput kalian. Iya gak, Ray?" ujar Luna meminta persetujuan Raya yang dibalas anggukan oleh Raya.

"Betul tuh, kita juga udah dijemput kok! Udah sono lo berdua dianter Nathan aja" suruh Raya.

"Tapi kan--"

"Udah deh Claire, lo pulang dianter Nathan aja ah! Ribet banget deh", Luna segera memotong ucapan sahabatnya yang paling tidak peka dari yang paling tidak peka.

"Iye, iye. Bawel banget sih lo! Udah sana! Go away, go away!" usir Claire.

"Iyaa Iree, byeee semua!" pamit Luna sambil menarik tangan Raya dan pergi dari tempat itu secepat mungkin. Nathan mengucapkan terima kasih kepada mereka melalui isyarat mata.

"Yuk!" ajak Nathan.

Claire tersenyum tipis. "Yuk!"

Mereka berdua, eh ralat, bertiga deh, kan ada Shiellen. Mereka bertiga berjalan menuju parkiran tempat Nathan memarkir mobilnya.

*~?*?~*

Keheningan tercipta di mobil Nathan. Shiellen yang tertidur, Nathan yang menyetir, dan Claire yang sibuk dengan pikiran nya. Lengkaplah sudah keheningan mereka.

Claire yang tidak tahan dengan keheningan itu memutuskan untuk menyalakan radio di mobil Nathan.


Halo Jakarta, para sobat FM ada yang lagi bad mood atau gabut gak? Kalau ada, pas banget nih, saya ada lagu yang pas buat kalian yang lagi gabut. Mau ikut nyanyi boleh, ikut joget juga boleh. Haha.... nah, sekarang kami ada lagu dari HRVY.

Personal.

Mata Claire membulat sempurna. Ini adalah lagu terakhir yang dia nyanyikan bersama Adrian sehari sebelum kejadian mengerikan itu. Baru saja Claudia ingin mengganti saluran radionya, Nathan langsung mencegahnya.

"Lagu ini aja ya. Ini lagu kesukaan gue, please..."

Claire menatap Nathan jengah dan mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menikmati pemandangan indah di luar kaca jendela mobil.

I don't know, why'd you do this to me
You're so cold, you be playing like
Yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah
I got told, danger follows everywhere you go
But i'm simply like
Yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah yeah

Claire memejamkan matanya sambil mendengarkan lantunan lagu dari radio. Lagu ini benar-benar membuat dirinya teringat akan kebersamaannya dengan Adrian. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangisi Adrian lagi. Meskipun matanya sudah panas menahan butiran kristal yang sudah menggenang di pelupuk matanya, yang siap meluncur kapan saja.

This is the part where i'm gonna get hurt
I never listen but i didn't deserve it
I was young and she was my first love
So they say that you live and you learn

Nathan yang awalnya hanya mendengarkan lagu sambil sesekali bersenandung mengikuti irama kini mulai ikut bernyanyi mengikuti lagu favorit nya.

Like yeah
She gon' mess with your head (oh yeah)
And she flirt with your friends (oh yeah)
Make you wish you were dead
Everytime she moves on she says
Don't take it personal. (Don't take it personal)
Everytime she moves on she says

Claire mengusap matanya pelan, menghapus air matanya. Ia tersenyum getir mendengar Nathan bernyanyi mengikuti lagu. Ia teringat saat dirinya bernyanyi sambil memainkan gitar sedangkan Adrian bernyanyi sambil memainkan drum milik Adrian. Ia kemudian ikut menyanyi. Dan kali ini bersama Nathan. Bukan Adrian.

Who else knows,
all my friends are blowing up my phone
Something's telling me
No no no no no no no no nooo (oooh)
This is the part where i'm gonna get hurt
I never listen but i didn't deserve it
I was young and she was my first love
So they say that you live and you learn

Mereka berdua pun hanyut dalam alunan merdu lagu itu.

Like yeah
She gon' mess with your head (oh yeah)
Make you wish you were dead
Everytime she moves on she says
Don't take it personal. (Don't take it personal)
Everytime she moves on she says

Claire berusaha menahan gejolak yang ada di hatinya yang menginginkan Adrian yang bernyanyi bersamanya, bukan Nathan. Claire tahu kalau ia bukan Adrian, yang saat ini bernyanyi dengannya bukan Adrian. Tapi Nathan. Tapi kalau saja boleh, apakah dirinya boleh bersikap egois? Ia sungguh merindukan sosok Adrian yang menghiburnya di kala ia sedih, sosok Adrian yang bagai pahlawan baginya. Tapi sayangnya, ia tidak di-izinkan untuk egois.

She won't do you no favours
Beautifull but she's dangerous
She was only gon' break you
Drive me crazy like yeah yeah yeah yeah
Oh yeah
She gon' mess with your head (oh yeah)
And she flirt with your friends (oh yeah)
Make you wish you were dead
Everytime she moves on she says

Nathan yang duduk di kursi kemudi sangat menikmati saat-saat ini. Dirinya sangat senang ketika dirinya bernyanyi bersama Claire. Berbanding terbalik dengan Claire yang justru ingin lagunya cepat selesai. Claire ingin menghentikan mulutnya yang saat ini sedang bernyanyi. Tapi, apa daya jika hatinya melawan otaknya.

YEAH. She gon' mess with your head (oh yeah)
And she flirt with your friends (oh yeah)
Make you wish you were dead
Everytime she moves on she says. YEAH

Sungguh, Claire ingin lagu ini cepat berakhir. Matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tapi kali ini dia membiarkan air matanya di pelupuk matanya, tanpa berniat mengahapusnya. Mengingat segala kenangannya saat bernyanyi bersama Adrian.

She gon' mess with your head (oh yeah)
And she flirt with your friends (oh yeah)
Make you wish you were dead
Everytime she moves on she says
Don't take it personal. (Don't take it personal)
Everytime she moves on she says

Tak lama kemudian, lagu pun berhenti. Napas Claire sudah tak beraturan. Dia cepat-cepat mengusap air matanya sebelum Nathan melihat air matanya.

"Suara lo bagus"

Suara Nathan membuat Claire mengalihkan perhatiannya kepada cowok itu sepenuhnya.

Claire tersenyum tipis. "Thanks. Suara lo juga bagus kok. Lo masuk ekskul musik ya?"

"Well, gue harus kasih lo satu bintang karena berhasil nebak dengan tepat" balasnya.

"Pantesan... oh iya, temen gue yang tadi, yang rambutnya panjang itu mau masuk ekskul musik katanya" ujar Claire. Mencari bahan obrolan.

"Oh ya? Bagus kalo gitu. Lumayan, anggotanya nambah"

"Iya sih, tapi awas ya, suara Luna gak sebagus permainan piano nya" ujar Claire sambil tertawa yang kemudian diikuti Nathan.

"Iya, tenang aja. Anak-anak musik bakal back up temen lo kok" ucap Nathan sambil tersenyum.

"Eh Nath! Yang cat nya warna putih itu rumah gue" ucap Claire sambil menunjuk rumah berlantai tiga bercat putih.

Nathan meminggirkan mobilnya di depan rumah Claire.

"Makasih Nath" ucap Claire sambil membuka pintu mobil.

"Claire!"

"Apa?" tanya Claire sambil kembali menoleh kepada Nathan.

"Adek lo mau ditinggal di mobil gue aja?", Claire menepuk jidatnya. Sekali lagi, ia hampir melupakan keberadaan adiknya itu.

"Shiel, bangun Shiel. Mimpi indah kamu ditunda dulu ya" kata Claire sambil menggoyang-goyangkan tubuh Shiellen untuk membangunkan adiknya itu.

"Hem, apaan sih kak?" tanya Shiellen sambil menguap kecil.

"Ayo turun, udah sampe"

Shiellen mengangguk lalu melompat turun dari mobil Nathan. Setelah mengucapkan terima kasih pada Nathan, Shiellen segera berlari masuk ke dalam rumahnya.

"Sekali lagi makasih ya Nath" ucap Claire tulus.

Nathan mengangguk. "Udah sono, lo masuk gih! Gue pergi abis lo masuk. Byee!" suruhnya.

"Iya, dah Nathan!" pamit Claire.

Setelah memastikan Claire sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pagar, Nathan melajukan mobilnya menuju rumahnya.

***
TBC

Haloo, fiuh, akhirnya selesai juga part Empat ini. *ngelap keringet. Hehe, selamat menikmati deh. Bye!

Salam hangat,

@Mella3710

How do you feel about this chapter?

0 1 3 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • Mella3710

    Novel

    Comment on chapter Prolog
  • yosuyoung

    Ini novel atau buku diary?

    Comment on chapter Prolog
  • Laylilaaa

    Okeh @Mella3710

    Comment on chapter Prolog
  • Maxia848

    Semangat. Ini great. Wohoo

    Comment on chapter Prolog
  • Laylilaaa

    Keren ceritanya! Semangat

    Comment on chapter Prolog
  • Minebendita

    Keren loh! Semangat terus!

    Comment on chapter Prolog
  • dede_pratiwi

    nice story, ditunggu kelanjutan ceritanya :)

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
My Teaser Devil Prince
65      26     0     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
A - Z
30      12     0     
Fan Fiction
Asila seorang gadis bermata coklat berjalan menyusuri lorong sekolah dengan membawa tas ransel hijau tosca dan buku di tangan nya. Tiba tiba di belokkan lorong ada yang menabraknya. "Awws. Jalan tuh pake mata dong!" ucap Asila dengan nada kesalnya masih mengambil buku buku yang dibawa nya tergeletak di lantai "Dimana mana jalan tuh jalan pakai kaki" jawab si penabrak da...
Akai Ito (Complete)
31      14     0     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...
The Past or The Future
3      3     0     
Romance
Semuanya karena takdir. Begitu juga dengan Tia. Takdirnya untuk bertemu seorang laki-laki yang akan merubah semua kehidupannya. Dan siapa tahu kalau ternyata takdir benang merahnya bukan hanya sampai di situ. Ia harus dipertemukan oleh seseorang yang membuatnya bimbang. Yang manakah takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya?
Love Never Ends
96      23     0     
Romance
Lupakan dan lepaskan
Selfless Love
45      24     0     
Romance
Ajeng menyukai Aland secara diam-diam, meski dia terkenal sebagai sekretaris galak tapi nyatanya bibirnya kaku ketika bicara dengan Aland.
Untuk Reina
151      44     0     
Romance
Reina Fillosa dicap sebagai pembawa sial atas kematian orang-orang terdekatnya. Kejadian tak sengaja di toilet sekolah mempertemukan Reina dengan Riga. Seseorang yang meyakinkan Reina bahwa gadis itu bukan pembawa sial. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Riga?
Sepasang Mata di Balik Sakura (Complete)
80      5     0     
Romance
Dosakah Aku... Jika aku menyukai seorang lelaki yang tak seiman denganku? Dosakah Aku... Jika aku mencintai seorang lelaki yang bahkan tak pernah mengenal-Mu? Jika benar ini dosa... Mengapa? Engkau izinkan mata ini bertemu dengannya Mengapa? Engkau izinkan jantung ini menderu dengan kerasnya Mengapa? Engkau izinkan darah ini mengalir dengan kencangnya Mengapa? Kau biarkan cinta ini da...
Dinding Kardus
110      30     0     
Inspirational
Kalian tau rasanya hidup di dalam rumah yang terbuat dari susunan kardus? Dengan ukuran tak lebih dari 3 x 3 meter. Kalian tau rasanya makan ikan asin yang sudah basi? Jika belum, mari kuceritakan.
Kisah Alya
3      3     0     
Romance
Cinta itu ada. Cinta itu rasa. Di antara kita semua, pasti pernah jatuh cinta. Mencintai tak berarti romansa dalam pernikahan semata. Mencintai juga berarti kasih sayang pada orang tua, saudara, guru, bahkan sahabat. Adalah Alya, yang mencintai sahabatnya, Tya, karena Allah. Meski Tya tampak belum menerima akan perasaannya itu, juga konflik yang membuat mereka renggang. Sebab di dunia sekaran...