Read More >>"> My Noona (Bab 4 - Masa Lalu Menyapa) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - My Noona
MENU
About Us  

2 tahun yang lalu

“Khansa, aku takut…”

“Vio, kamu di mana?!”

“Aku di persimpangan…”

“Persimpangan mana? Tunggu aku! Jangan ke mana-mana!”

“Tapi aku harus pergi, Khansa…”

“KUBILANG JANGAN KE MANA-MANA! VIO, KAMU DI MANA?!”

“Oh iya… Kina suka padamu… Jaga dia baik-baik ya…”

Panggilan terputus, tapi tidak dengan asa Gio. Dia terus mencoba menghubungi Viola. Nada sambung terdengar, tapi tak ada yang mengangkat panggilannya. Entah kenapa saat itu Gio punya firasat yang buruk. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan latihan basketnya dan berniat pergi ke rumah Viola untuk mencari tahu.

Setelah lima belas menit terus mencoba, akhirnya panggilannya tersambung. Namun, bukan suara Viola yang terdengar. Melainkan suara seorang pria, cukup berat. “Halo?”

Gio terkesiap. Bagaimana tidak? Baru saja Viola bilang dia ketakutan, sekarang ada pria yang memegang ponselnya. Apa pria itu sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Viola?

Kang Kansa?”

Si pria yang mengangkat panggilannya terdengar sangat familiar. Suaranya bergetar dan sangat panik.

“I…iya…”

“Kang Kansa, ini Suparman. Suparman satpam sekolah.”

Gio mengerem langkahnya di pintu gerbang sekolah. Kenapa ponsel Viola bisa ada di tangan satpam sekolah? “Kenapa Pak Parman? Viola mana?”

“Itu, Kang…” Suara Pak Parman kehilangan tenaga. Volumenya mengecil, sampai terdengar seperti cicitan. “Neng Vio… Neng Vio… Darah… Nggak napas…”

Seketika langit serasa runtuh di atas kepala Gio. Walaupun kalimat dari si satpam sekolah tidak utuh, tapi ada kata ‘darah’ dan ‘nggak napas’. Kemungkinan baik apa yang masih tersisa dengan dua kata itu? Kecuali mungkin Gio salah dengar. “Pak Parman di mana sekarang?”

“Kebun belakang sekolah, Kang…”

Kebun belakang sekolah? Mungkinkah tempat mereka dulu menanam kapsul waktu mereka? Gio langsung membalik badannya, berlari memasuki area sekolah sekali lagi. “Panggil ambulans, Pak! Cepetan ya! Saya ke sana sekarang!” Dia memacu kakinya secepat yang ia bisa. Alas sepatunya tak terasa menapak lagi. Dia menabrak banyak orang sepanjang perjalanan. Tak peduli. Dia hanya ingin secepat mungkin melihat keadaan Viola.

Tebakan Gio benar. Viola ada di lokasi kapsul waktu itu. Namun, sayang terlambat. Di samping Pak Parman, gadis itu sudah tidak bernyawa. Darah mengalir melalui satu luka torehan di pergelangan tangannya.

Viola pergi untuk selamanya.

 

* * *

 

Sudah lama potongan ingatan terkelamnya tidak muncul ke permukaan. Sejak Gio bertemu dengan Freya, perlahan ingatan itu memudar, digantikan oleh ingatan masa-masa menyengangkan yang setiap hari ia ciptakan bersama noona-nya. Hari pertama dia dan Freya bersenda gurau, secara ajaib malam harinya Gio bisa tidur nyenyak tanpa obat sama sekali. Untuk pertama kalinya Gio berani memutuskan membuang semua obat tidur yang diresepkan psikiaternya. 

Tapi kini Kina tiba-tiba muncul di depan mata Gio. Sahabatnya dulu saat SMP bersama dengan Viola. Dan juga gadis yang Viola titipkan pada Gio beberapa saat sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Sekejap ingatan kelam itu menyeruak menyapa Gio. Hatinya cemas bukan main. Bisakah dia tidur malam ini? Bagaimana kalau tidak? Apa yang harus ia lakukan? Gio tidak punya obat tidur sama sekali untuk membantunya.

“Jadi…kamu sudah satu setengah tahun pindah ke Jakarta?” Kina bertanya setelah mereka terdiam bersisian di tepi pantai Friwen cukup lama. Gadis itu sudah melepas gaunnya, menyisakan selembar baju renang dan handuk tebal yang melindungi tubuhnya dari angin.

“Iya,” jawab Gio sambil menatap kosong ke arah air pantai. Air pantai Friwen hari itu berwarna biru jernih. Rasanya hangat ketika menyentuh jari-jari Gio. Biasanya Gio tak tahan untuk tidak menceburkan diri kalau melihat air seindah itu. Tapi sekarang dia tak ingin melakukan apapun. “Kamu sendiri?”

“Aku sempat pindah ke Berlin. Mengikuti ayahku.”’

“Ah, Berlin…” Gio bergumam. Ia meraup sedikit pasir putih di tangannya, kemudian perlahan ia kucurkan kembali. “Kota yang indah.”

“Iya…”’

Percakapan mereka lagi-lagi mati. Untung saja temannya, William, memanggil dari arah jetty. Kalau tidak, Gio tidak tahu kapan kecanggungan ini akan berakhir. “Gio! Ayo! Tabung oksigennya udah ada nih. Mau turun nggak?”

“Oke,” sahut Gio. Tentu saja dia akan memilih turun menyelam di Friwen Wall daripada terkunci dalam kecanggungan bersama Kina.

“Kamu bisa diving?” tanya Kina ketika melihat Gio bersiap untuk bangkit meninggalkannya.

“Bisa. Aku ambil license-ku tahun lalu di Bali.”

“Aku juga mau belajar diving. Nanti ajari ya.”

“Aku bukan instruktur,” Gio menjawab singkat.

“Maaf…”

Gio langsung merasa tak enak hati melihat wajah Kina berubah murung. Dia tidak bermaksud bersikap dingin pada Kina, tapi tiap kali menatap wajah gadis itu, Gio serasa ditarik lagi ke masa-masa persahabatan mereka dulu bersama Viola. Dan itu sangat mengganggunya. “Kamu sudah punya nomorku kan? Hubungi aku kalau main ke Jakarta.” Gio berharap kalimat itu bisa menutup percakapan mereka.

“Oh, kebetulan sebentar lagi aku pindah ke Jakarta. Ke SMA Eleta Argus. Nanti kita nongkrong bareng ya?”

Gio mematung selama beberapa detik. Sekujur tubuhnya kaku, tak bisa digerakkan. Rasanya seperti ada yang menyengat otaknya saat mendengar nama sekolahnya terucap dari bibir Kina. Apa-apaan ini? Kenapa Kina jadi satu sekolah dengannya? Apakah ini peringatan dari Viola karena Gio tidak memenuhi permintaannya sebelum meninggal untuk menjaga Kina?

 

* * *

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dede_pratiwi

    Kisah Noona-noona fresh banget ceritanya, biasanya kan orang nulisnya oppa2. hehe :)

    Comment on chapter Bab 1 - Noona!
Similar Tags
6 Pintu Untuk Pulang
14      14     0     
Short Story
Dikejar oleh zombie-zombie, rasanya tentu saja menegangkan. Apalagi harus memecahkan maksud dari dua huruf yang tertulis di telapak tangan dengan clue yang diberikan oleh pacarku. Jika berhasil, akan muncul pintu agar terlepas dari kejaran zombie-zombie itu. Dan, ada 6 pintu yang harus kulewati. Tunggu dulu, ini bukan cerita fantasi. Lalu, bagaimana bisa aku masuk ke dalam komik tentang zombie...
Trip
47      39     0     
Fantasy
Sebuah liburan idealnya dengan bersantai, bersenang-senang. Lalu apa yang sedang aku lakukan sekarang? Berlari dan ketakutan. Apa itu juga bagian dari liburan?
Drama untuk Skenario Kehidupan
343      205     0     
Romance
Kehidupan kuliah Michelle benar-benar menjadi masa hidup terburuknya setelah keluar dari klub film fakultas. Demi melupakan kenangan-kenangan terburuknya, dia ingin fokus mengerjakan skripsi dan lulus secepatnya pada tahun terakhir kuliah. Namun, Ivan, ketua klub film fakultas baru, ingin Michelle menjadi aktris utama dalam sebuah proyek film pendek. Bayu, salah satu anggota klub film, rela menga...
#SedikitCemasBanyakRindunya
105      66     2     
Romance
Sebuah novel fiksi yang terinspirasi dari 4 lagu band "Payung Teduh"; Menuju Senja, Perempuan Yang Sedang dalam Pelukan, Resah dan Berdua Saja.
Rasa Itu
10      10     0     
Short Story
Angkara
49      34     0     
Inspirational
Semua orang memanggilnya Angka. Kalkulator berjalan yang benci matematika. Angka. Dibanding berkutat dengan kembaran namanya, dia lebih menyukai frasa. Kahlil Gibran adalah idolanya.
When I\'m With You (I Have Fun)
10      10     0     
Short Story
They said first impression is the key of a success relationship, but maybe sometimes it\'s not. That\'s what Miles felt upon discovering a hidden cafe far from her city, along with a grumpy man she met there.
Shane's Story
77      44     0     
Romance
Shane memulai kehidupan barunya dengan mengubur masalalunya dalam-dalam dan berusaha menyembunyikannya dari semua orang, termasuk Sea. Dan ketika masalalunya mulai datang menghadangnya ditengah jalan, apa yang akan dilakukannya? apakah dia akan lari lagi?
27th Woman's Syndrome
140      92     0     
Romance
Aku sempat ragu untuk menuliskannya, Aku tidak sadar menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Orang ketiga? Aku bahkan tidak tahu aku orang ke berapa di hidupnya. Aku 27 tahun, tapi aku terjebak dalam jiwaku yang 17 tahun. Aku 27 tahun, dan aku tidak sadar waktuku telah lama berlalu Aku 27 tahun, dan aku single... Single? Aku 27 tahun dan aku baru tahu kalau single itu menakutkan
SIBLINGS
0      0     0     
Humor
Grisel dan Zeera adalah dua kakak beradik yang mempunyai kepribadian yang berbeda. Hingga saat Grisel menginjak SMA yang sama dengan Kakaknya. Mereka sepakat untuk berpura-pura tidak kenal satu sama lain. Apa alasan dari keputusan mereka tersebut?