Read More >>"> High Quality Jomblo (BAGIAN LIMA : Yang Tak Kau Lihat) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - High Quality Jomblo
MENU
About Us  

Don't touch my heart.

-Laudito Nugroho -

---

SUASANA pagi mendukung keadaan yang terasa sunyi. Jika suara hujan lenyap, atau hari ini tidak sedang turun hujan, maka bisa saja hanya ada suara jangkrik yang mengisi kebisingan kantor guru SMK Kejora.

Masih pukul delapan, tapi rasanya Laut sudah ingin pulang. Entah sejak kapan, berada di samping perempuan itu membuat Laut merasa enggan. Bukan apa-apa, Laut hanya tidak tahu harus menyikapi perempuan itu dengan cara seperti apa. 

Perempuan itu juga diam, seolah tidak mau walau untuk sekedar menyapa Laut. Ia lebih memilih menggulirkan ponselnya tanpa tujuan, dari pada berbicara dengan Laut. Tapi, apakah bisa dimengerti? jika hati tak bisa diajak berkonspirasi untuk menuruti logika.

Laut hanya ingin menyapa, tidak mengulang kembali kisah mereka yang pernah hancur. Maka dari itu, Laut berdehem untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

"Nggak ada rencana mau memperbaiki nilai siswa yang belum tuntas?"

Jeda sekolah sudah tiba. Tinggal beberapa hari lagi siswa akan menerima raport. Tak seperti Rani, Laut selalu sibuk dengan remidi siswa yang bisa sampai ribuan soal itu. Entah siswanya yang memang tidak bisa mengerjakan, atau Laut yang pelit nilai. 

"Asal nilai Ujian Akhir mereka tuntas, aku tidak mau ambil pusing untuk meremidi siswa. Lagi pula perbaikan nilai siswa pasti nggak hanya untuk mata pelajaran musik saja."

Laut akui, sebenarnya Laut tahu bahwa Rani sedang menyinyirnya. Dengan secara tidak langsung, perempuan itu tentu bilang bahwa Laut hanya membuang waktu siswa. Tapi bagi Laut, kalau ingin sesuatu itu harus berjuang dulu. Kalau nggak bisa tapi Laut memberi nilai tuntas secara cuma-cuma, itu akan membuat siswa malas belajar.

"Oke."

"Ke kantin dulu ya, aku belum sarapan," Laut mengangguk, sambil matanya menatap punggung perempuan itu hingga ditelan sekat. Tak ada kata, Laut hanya tersenyum, senyum miris, seperti sedang mengasihani diri sendiri. Seharusnya Laut sadar, tidak ada gunanya lagi kembali pada masa lalu, jika ia tidak mau mengulang luka yang sama.

Meski Laut tidak tahu sampai kapan, namun ia berharap bahwa seseorang akan membuat dia jatuh cinta lagi, tanpa mengenal apa itu luka. Walau pun Laut tahu, yang namanya jatuh, pasti akan selalu ada luka.

***

"MAU remidi ya? Bareng dong."

Ayunda mensejajarkan langkah di samping Inne dan Julia. Menurut Ayunda, Inne lumayan baik. Namun Julia adalah yang paling menyebalkan dan sok berkuasa. Jadi, Ayunda nggak akan pernah bisa berkomunikasi baik selama di sana ada Julia.

"Katanya lo mau balik, yuk.. Gue juga mau mampir beli kwetiau dulu sih, yang deket rumah lo." 

Dan Julia langsung menarik tangan Inne untuk menjauh dari Ayunda. Ayunda melihat sekeSarasng, beberapa siswa ada yang menatapnya dengan tatapan heran. Mungkin mereka berpikir bahwa Ayunda itu aneh.

Salah Ayunda sendiri, dia nekat berdekatan dengan Julia. Tapi Ayunda tak punya pilihan lain karena Vela yang satu jurusan dengannya memilih tidak berangkat hanya demi nonton film yang lagi tayang di televisi. 

"Dor!!" 

Ayunda tersentak. Ia menatap ke arah belakang dan mendapati Wulan dan Zara cengengesan di belakangnya. Sedetik kemudian, kesal itu perlahan hilang. Karena di otak Ayunda mulai tumbuh ide gila.

"Temenin remidi ekonomi, yuk!"

"Yuk!! Kita berdua juga mau remidi matematika."

Jaman SMP, Ayunda adalah Ratunya matematika. Nggak ada soal yang tidak terpecahkan lebih dari lima menit oleh gadis itu. Kalau ada PR, anak sekelasnya pasti selalu meminjam buku Ayunda. Kalau ada ulangan, semua yang tidak mengerti materi juga akan ditanyakan pada Ayunda.

Namun di SMK semua berbanding terbalik. Ayunda bukan seorang Ratu lagi yang akan didatangi oleh teman-temannya. Ia juga tidak bisa lagi memberi materi dan menjelaskan maksud dari matematika pada temannya. Karena di kelas, Ayunda lebih senang tidur dari pada memperhatikan guru.

Keduanya sampai di kantor dengan selamat setelah melewati geng Angkasa di koridor kelas 12 yang terkenal sebagai preman pentolan sekolah. Memang jika ingin ke kantor, semua akses jalan menuju ke sana harus melewati kelas 12 dulu. Kata Bu Seruni, biar gampang memantau siswa kelas 12 yang bandel.

Ayunda mengerjakan soal sendiri di sofa koridor guru dengan Wulan. Bersyukur guru matematika Wulan adalah Bu Leli, jadi ia tidak akan bernasib buruk seperti Zara yang harus mengerjakan ribuan soal. Dan Bu Leli termasuk golongan guru yang baik hatinya, beliau mengizinkan siswa membuka internet untuk mencari rumus.

"Selesai!" Seru Wulan senang, berbeda dengan Ayunda yang mengeluh tatkala harus mengerjakan soal pilihan ganda satu LKS. 

"Bantuin gue dong sekarang."

"Ye..maunya. browsing aja sendiri."

"Tega,  Lo?" Ayunda menunjukkan buku LKSnya, “Satu buku.."

Ketika Wulan tertawa, ia memilih membuang pandangannya ke arah tangga dan cemberut.

Lalu tanpa ia duga, tubuh Ayunda menjadi kaku. Ada tingkah yang salah saat irisnya jatuh pada mata kopi yang hangat. Menyadari bahwa sepasang kopi itu memperhatikannya sambil tersenyum manis.

Ayunda tak mengelak, senyuman lelaki itu membuat wajah si pemilik terlihat sangat tampan. Sampai ada suara berdehem yang terdengar dari kelas lain di sebelah Ayunda, murid yang diampu oleh Laut. Dan Zara salah satunya. Saat itu Ayunda baru menyadari bahwa Wulan sudah masuk ke dalam kantor untuk mengumpulkan tugas.

Ayunda kembali menunduk dan mengerjakan soalnya. Ada seseorang, yang menangkap basah gadis itu saat menatap Laut. Tatapan memuja, karena entah mengapa, tatapan Laut membuat jantung Ayunda tiba-tiba berdebar tak karuan.

Berbeda dengan Ayunda, Laut justru enggan berpaling saat menatap iris Ayunda. Ia merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya, perasaan yang sudah lama tidak mengusik hatinya, ada bahagia yang fana jelas terasa di dalam hati itu, meletup-letup. Bahkan Laut merasa seperti terbang, perutnya terusik. Seolah ada kura-kura yang berenang di dalam sana. Tepatnya, ketika dia melihat gadis berkucir kuda itu salah tingkah di hadapannya sekarang, dari balik kacamatanya. Karena, menurut Laut, gadis itu terlihat lucu. Dia berbeda.

"Remidi ya?" 

Ayunda mendongak, Laut sudah duduk tepat di sampingnya dengan gaya cool yang paling menawan. Kaki kanannya bertumpu di atas lututnya yang kiri, “Iya, abis kemarin ketiduran pas ujian, jadi nggak selesai."

Laut menaikkan alisnya. Siapa pun yang melihat Laut, pasti jelas jika pria itu sedang ingin menahan tawanya, “Tidur?"

"Hehe.. Ya gitu, abis gimana? Ngantuk."

"Temen-temen kamu nggak ada yang remidi?"

"Nggak dong, kan ngerjainnya sama-sama." Ayunda mendengus, “Percuma juga ngerjain sendiri. Kalau guru pengawas aja tingkahnya mendukung kejahatan siswa. Harusnya ngawasin, tapi malah keluar semaunya. Lagian, sekarang nilai lebih dihargai dari pada kejujuran."

***

Prang!

Tak ada hal yang lebih menyakitkan dari patah hati yang kejamnya luar biasa. Ayunda menutup kedua daun telinganya. Air mata berderai dari pelupuk mata bulat itu. Hatinya sakit. 

Ayunda selalu bertanya-tanya kenapa memiliki nasib yang tidak seberuntung orang lain. Kadang ia juga ingin tertawa bersama Ayahnya saat melihat teman-temannya bisa melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan. Ayunda ingin sarapan di ruang makan bersama keluarganya seperti yang ada di dalam film yang selalu ditontonnya. 

Namun ia sadar, kadang takdir senang bermain-main dengan kita. Takdir tidak selalu berkonspirasi dengan harapan kita. Ketika kita menginginkan A, kita mendapat B. Ketika kita menginginkan B, kita mendapatkan A. Dan sebagai manusia, kita harus bisa menerima takdir dengan lapangan dada. 

Sayang, Ayunda hanya seorang remaja. Emosinya tidak stabil, suka memancing tanpa kendali. 

Ting!

Shasi Wulandari

Kalau gak mau punya anak, harusnya jangan lahirin gue ????

Ayunda berdecak. Tangannya memukul dua tulutnya. Marah pada keadaan. Wulan, sahabatnya juga sedang berada dalam masalah keluarga. Sama seperti gadis itu.

Ayunda : Kasi tau gue! Bahagia itu nyata atau fana

Shasi Wulandari : Kenapa takdir gue harus lahir untuk disakiti?

Ayunda : Gue capek!

Menurut Ayunda, dia lebih dekat dengan Wulan dibandingkan dengan Vela dan Zara karena alasan yang satu ini, selain karena Vela dan Zara tidak bisa menjadi pendengar yang baik untuk dia tentunya.

Mereka, sama-sama merasa sakit karena menjadi korban kisah cinta kedua orang tua mereka. Mereka sama-sama tahu apa itu luka karena keluarga mereka hancur. Broken home, begitu orang lain menyebutnya.

"Kamu nitip anak tiri ke aku tapi nggak pernah nafkahin! Mana tanggung jawab kamu sebagai suami?"

Plak!

"Cuma ngasih makan aja nggak ikhlas!"

Ayunda menutup dua telinganya untuk lebih rapat. Dia menangis sejadi-jadinya. Lagi-lagi, ada saja alasan yang membuat hatinya porak-poranda. Hal-hal yang membuat Ayunda bertanya-tanya. Kenapa semua sisi harus menyakiti dia? Apa dia adalah sosok yang tidak pantas dicintai?

"Cukup.. Hiks.. Hiks.." Ayunda menjatuhkan diri di samping ranjang. Dia tidak mau mendengar teriakan-teriakan itu lagi. Ayunda benci. Ayahnya selalu menyakiti Bunda yang Ayunda sayang. 

Brata tak pernah memberi nafkah Fitri, tapi menitipkan anak tiri yang sama sekali tak tahu arti terimakasih. Mereka bahkan selalu menghina Fitri dan membuat Ayunda benci. Tapi Ayunda tak punya pilihan lain.

How do you feel about this chapter?

1 0 2 4 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • FANAMORGANA

    Kweren sekali mampu memporak-porandakan hati dedek

    Comment on chapter EPILOG
  • Ayuni912P

    @Serenasharen kamu aja gemas, apalagi aku :(

    Comment on chapter DUA PULUH : Crying
  • Ayuni912P

    @Lightcemplon jadi pengen MnG sama kamu :V

    Comment on chapter DUA PULUH : Crying
  • Cemplonkisya

    jadi pengen MnG sama pak laut(?) hehe

    Comment on chapter Prolog
  • Serenasharen

    gemas sama pak Laut

    Comment on chapter BAGIAN DELAPAN : Cuma Ngajak Makan
  • Ayuni912P

    iya, nanti dilanjut. Mau aku tulis dulu sampai selesai :)

    Comment on chapter BAGIAN EMPAT : Ketika Salah Tingkah
  • nhovyanha

    Kok cuma 5 part doang kak ?
    Ini kayak wp atau gimana sih ?
    Bingung aku,
    Soalnya baru pertama kali baca di laman kayak gini.
    *maaf

    Comment on chapter BAGIAN EMPAT : Ketika Salah Tingkah
Similar Tags
BACALAH, yang TERSIRAT
135      20     0     
Romance
Mamat dan Vonni adalah teman dekat. Mereka berteman sejak kelas 1 sma. Sebagai seorang teman, mereka menjalani kehidupan di SMA xx layaknya muda mudi yang mempunyai teman, baik untuk mengerjakan tugas bersama, menghadapi ulangan - ulangan dan UAS maupun saling mengingatkan satu sama lain. Kekonyolan terjadi saat Vonni mulai menginginkan sosok seorang pacar. Dalam kata - kata sesumbarnya, bahwa di...
Sebuah Penantian
15      5     0     
Romance
Chaca ferdiansyah cewe yang tegar tapi jauh didalam lubuk hatinya tersimpan begitu banyak luka. Dia tidak pernah pacaran tapi dia memendam sebuah rasa,perasaanya hanya ia pendam tanpa seorangpun yang tau. Pikirnya buat apa orang lain tau sebuah kisah kepedihan.Dulu dia pernah mencintai seseorang sangat dalam tapi seseorang yang dicintainya itu menjadi milik orang lain. Muh.Alfandi seorang dokt...
LASKAR BIRU
65      25     0     
Science Fiction
Sebuah Action Science-Fiction bertema Filsafat tentang persepsi dan cara manusia hidup. Tentang orang-orang yang ingin membuat dunia baru, cara pandang baru, dan pulau Biru. Akan diupdate tiap hari yah, kalau bisa. Hehehe.. Jadi jangan lupa dicek tiap malamnya. Ok?
Before You Go
4      4     0     
Short Story
Kisah seorang Gadis yang mencoba memperjuangkan sebelum akhirnya merelakan
Half Moon
14      7     0     
Mystery
Pada saat mata kita terpejam Pada saat cahaya mulai padam Apakah kita masih bisa melihat? Apakah kita masih bisa mengungkapkan misteri-misteri yang terus menghantui? Hantu itu terus mengusikku. Bahkan saat aku tidak mendengar apapun. Aku kambuh dan darah mengucur dari telingaku. Tapi hantu itu tidak mau berhenti menggangguku. Dalam buku paranormal dan film-film horor mereka akan mengatakan ...
Ruang, Waktu Dan Cinta
40      4     0     
Romance
Piya Laluna, Gadis yang riang itu berubah kala ia ditinggal ayahnya untuk selama-lamanya. Ia kehilangan semangat, bahkan ia juga jarang aktif dalam komunitas sosialnya. Selang beberapa waktu, ia bertemu dengan sosok laki-laki yang ia temui di beberapa tempat , seperti toku buku, halte, toko kue, dan kedai kopi. Dan di ruang waktu itulah yang memunculkan rasa cinta diantara keduanya. Piya yang sed...
Too Sassy For You
21      12     0     
Fantasy
Sebuah kejadian di pub membuat Nabila ditarik ke masa depan dan terlibat skandal sengan artis yang sedang berada pada puncak kariernya. Sebenarnya apa alasan yang membuat Adilla ditarik ke masa depan? Apakah semua ini berhubungan dengan kematian ayahnya?
Dialogue
37      3     0     
Romance
Dear Zahra, Taukah kamu rasanya cinta pada pandangan pertama? Persis senikmat menyesapi secangkir kopi saat hujan, bagiku! Ah, tak usah terlalu dipikirkan. Bahkan sampai bertanya-tanya seperti itu wajahnya. Karena sesungguhnya jatuh cinta, mengabaikan segala logika. With love, Abu (Cikarang, April 2007) Kadang, memang cinta datang di saat yang kurang tepat, atau bahkan pada orang yang...
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
28      13     0     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
Sweetest Thing
48      15     0     
Romance
Adinda Anandari Hanindito "Dinda, kamu seperti es krim. Manis tapi dingin" R-