Read More >>"> Game Z (7) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Game Z
MENU
About Us  

Kami semua sudah keluar dengan keadaannya masing-masing. Kulihat wajah Denayla pucat pasi, Kak Dian yang beribawa kini berubah menjadi seseorang tentara yang ketakutan, apalagi Kak Mila. Anehnya, Arya hanya terdiam saja. Hanya melihat jalanan yang kini kosong.

Ku lihat sekeliling. Keadaan masih malam dan mencekam. Sepi. Angin malam mengelus-ngelus wajahku. Kakiku pun tidak luput oleh elusan dan endusan angin itu. Oh, ini nyaman sekali. 

Karena aku amatir sekali tentang ibukota jadinya aku hanya salah satu orang asing yang menyasar masuk kedalam orang pribumi ibukota. Untung teman-teman baruku tidak rasis. Oh, syukurlah.

Kemudian, aku mulai jalan dengan arahan Kak Dian. 

Kami mulai melangkah menuju pertigaan didepan. Disana ada ada minimarket yang tidak besar juga dan tidak kecil juga. Kami semua cepat-cepat mengambil semua yang aku butuhkan dan memasukkannya kedalam ransel sekolahku untuk perbekalan.

Lalu, kami melakukan perjalanan kembali. Setelah pertigaan kami diarahkan untuk terus melaju sampai ada gedung menjulang tinggi. Karena penerangan kami hanya mengandalkan senter, jadinya kami hanya melihat seberapa tinggi gedung tersebut.

Kami sampai di gedung tersebut. Lalu Kak Dian mengarahkan kembali untuk berjalan lurus sampai satu kilometer. Di pertengahan perjalanan, kami duduk terlebih dahulu di trotoar.

Kami semua duduk. Arya mendekatiku, “Lelah?” 

Aku mengangguk.

Kemudian kulihat Denayla yang sedang duduk menyelonjorkan kaki. Dari mukanya, kulihat ia Nampak sedih. Tapi, aku tidak tahu sedih karena apa.

“Mau minum?” sembari menyodorkan waterdrink. 

“Udah kok… aku udah ambil,” mataku sambil melirik kearah Kak Dian yang sedang duduk mesra dengan Kak Mila.

“Ok,” kemudian ia menunjuk langit, “bagus yah… bintangnya?” 

“Eh? Iya…” 

“Bulannya kemana?” tanyanya yang membuat hatiku merasakan ada sesuatu yang aneh.

“Entahlah,” aduh… Kok rasanya menjadi-jadi sih?

“Itu karena bulan tidak pernah membenci bintang.”

Aku hanya terdiam. Dan melihat wajahnya yang putih. Oh, Arya. Sebenarnya aku benci kamu. Tapi, entah kenapa, ada sesuatu yang aneh jika aku mendengar dan melihatmu.

“Bulan tidak akan pernah membenci bintang. Mereka sudah berdamai. Dan terkadang, bulan pun selalu bersama bulan dikala rindu. Dan, aku disini sedang rindu. Rindu dengan seseorang,” jelasnya dengan senyum dan lesung pipitnya.

“Siapa?” jawab aku spontan.

“Kamu,” jawabnya langsung.

Aku menutup mulut. Tidak percaya apa yang dikatakan Arya. Jantungku langsung berdegub kencang tidak terkendali.

“Dan aku selalu merindukanmu. Di manapun dan kapanpun. Jadi, aku mohon, mau kah kita berdamai seperti bintang dan bulan? Karena aku hanya punya satu pernyataan bahwa aku merindukanmu.”

Deg… pipiku memerah. Jantungku rasanya mau salto. Itukah Arya yang sebenarnya? Oh… Aku mulai menyukainya.

“Iya. Kita berdamai,” jawab aku dengan melepaskan tanganku dimulutku.

“Jadi… Boleh kan… aku merindukanmu?” tanyanya yang sekarang aku berhadap-hadapan.

“Silakan kalau bisa,” jawab aku seperti anak-anak.

“Bisa dong. Mau?” tanyanya.

“Gimana?” tanya aku semakin penasaran.

Arya langsung mendekapku dan memelukku. Apa? Arya memelukku? Dalam dekapannya, jantungku berdebar-debar hebat, pipiku memanas, dan senyumanku mengembang begitu lebar. Oh, Arya… Kamu adalah orang yang kubenci, tetapi mengapa menjadi seperti ini? 

Arya melepaskan pelukannya, “Bener kan… aku merindukanmu?”

Aku mengangguk.

“Jangan malu… Nanti pipinya merah lho…”

“Eh?”

Pipiku bertambah merah.

“Itu… pipimu merah. Jangan malu yah… Nanti kamu nambah cantik,” sahutnya dengan merayu.

“Apa sih…” aku menyikut lengan Arya.

“Ekhm…” suara dehaman itu datang dibelakangku.

“Eh… Kak?” tanya aku kikuk.

“Kalau pacaran itu terus terang saja. Jangan gombal bintang dan bulan dong. Kamu suka kan Mita?” rayu Kak Dian kepadaku.

“Eh… enggak kok,” jawab aku seperti orang bodoh.

“Doakan saja mudah-mudahan pacaran kak,” sahut Arya dengan senyuman manisnya.

“Apa sih...,” aku menyikut lengan Arya.

“Aamiin...,” ujar Kak Dian dan Kak Mita.

Aku menunduk malu karena untuk menutupi wajahku yang merah padam. Oh, ini rumit sekali.

Ku dongakkan kepalaku dan mengedarkan pandang. Ku lihat Denayla sedang duduk menjauh dari kelompok kami. Ada apa dia?

Ku biarkan Arya dan Kak Dian berbincang-bincang. 

Aku duduk disamping Denayla, “Kenapa? Masih shock?”

Ia hanya diam. 

“Den…?” tanya aku. Sekarang aku khawatir.

“Den…?” aku benar-benar khawatir.

“Aku baik-baik saja. I’m fine okay? Not sick. Not Shock. Please… From now on, don’t worry about me. Karena aku sekarang sudah sehat. Aku sudah dewasa. Dan sudah mandiri,” hanya itu jawabannya. Ia pun menjawabnya dengan wajah lesu, tidak bersemangat, dan senyum yang dipaksakan.

“Tapi kan…” 

Percakapanku terpotong akibat suara auman keras dan kencang dari arah kiriku. Aku terkejut dan mulai beranjak berdiri. Suara apakah itu?

Aku mendekat kearah Kak Dian. Kak Dian mengedarkan senternya kemana-mana. 

“Kak suara apakah itu tadi?” tanyaku.

Kak Dian menggeleng dan fokus terhadap senter itu.

Lalu. Ada zombie yang daing dari kanan. Jumlahnya ribuan. Jalannya gontai. Dengan suara raungan. Ia menjadi lebih seram. Apalagi penampilannya. Sudah barang tentu jelek bin seram.

Kemudian kami semua lari mengikuti Kak Dian. Kami terus berjalan lurus. Sesekali Kak Dian berbalik badan untuk melemparkan lightsabernya. Kadang terkena tiga atau lima zombie sekaligus. Tapi, lumayan lah buat memperpanjang waktu.

Kami terus berlari. Keringat kami beradu dengan dinginnya malam. Sumpah! Ini ngilu sekali. Napas kami menderu-deru. Antara semangat dan wajah baru bangun tidur menambah betapa kumalnya kita ini.

Kulihat Denayla dengan berlari tergopoh-gopoh. Jauh dibelakang kami. Aku mengajaknya untuk digendong bersama Arya. Ia menerima. Lalu dengan kekuatan ototnya, Arya menggendong Denayla dengan sangat cepat. 

Kak Dian terus menghunus lightsabernya ke zombie-zombie itu.

Sudah seperampat jam kami berlari dan kita sampai ke tempat tujuan kami. IEU. Ah… akhirnya.

Ditambah lagi zombie itu kini sudah tertinggal jauh. Jauh sekali.

“Kita masuk lewat lobby,” teriak Kak Dian.

Kami semua berlari sangat cepat sekali. Ditambah napas yang menderu-deru. Oh… ini hebat sekali. Aku kini menjadi orang marathon.

Kami lalu masuk ke IEU. Oh, Tuhan. Menggunakan senter yang kita curi dari minimarket. IEU ini hancur sekali. Aku tahu. Ini pusat penyebarannya. 

Lalu kami terduduk di lantai lobby. Kita akan meeting bagaimana cara membuat plan A rampung. 

Kami semua terengah-engah. Dengan sisa tenaga yang ada. Kita semua angkat tenaga.

“Jadi. Gimana? Kita mau apa?” tanya aku setelah meminum dua puluh lima waterdrink.

“Kamu sama kakak yah Mita. Sisanya dijaga sama Arya. Soalnya kamu katanya pintar dibagian kelistrikan. Dan kamu adalah delegasinya. Asik… Baku banget yah…?” jawab Kak Dian dengan becandaan yang receh bin garing.

“Loh. Kakak tahu darimana?”

“Arya.”

Lah… kok Arya bisa tahu?”

“Tapi… Kenapa enggak sama Arya aja? Arya juga bisa kali tentang kelistrikan?” tanyaku heran.

“Terima saja Ta,” sahut Denayla disampingku.

“Ok lah.”

Ok. Aku akan berkeliling IEU.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Semanis Rindu
100      34     0     
Romance
Aku katakan padamu. Jika ada pemandangan lain yang lebih indah dari dunia ini maka pemandangan itu adalah kamu. (Jaka,1997) Sekali lagi aku katakan padamu. Jika ada tempat lain ternyaman selain bumi ini. Maka kenyamanan itu ada saat bersamamu. (Jaka, 1997) Jaka. nama pemuda jantan yang memiliki jargon Aku penguasa kota Malang. Jaka anak remaja yang hanyut dalam dunia gengster semasa SM...
BACALAH, yang TERSIRAT
133      19     0     
Romance
Mamat dan Vonni adalah teman dekat. Mereka berteman sejak kelas 1 sma. Sebagai seorang teman, mereka menjalani kehidupan di SMA xx layaknya muda mudi yang mempunyai teman, baik untuk mengerjakan tugas bersama, menghadapi ulangan - ulangan dan UAS maupun saling mengingatkan satu sama lain. Kekonyolan terjadi saat Vonni mulai menginginkan sosok seorang pacar. Dalam kata - kata sesumbarnya, bahwa di...
Once Upon A Time
6      6     0     
Short Story
Jessa menemukan benda cantik sore itu, tetapi ia tak pernah berpikir panjang tentang apa yang dipungutnya.
Dunia Gemerlap
176      44     0     
Action
Hanif, baru saja keluar dari kehidupan lamanya sebagai mahasiswa biasa dan terpaksa menjalani kehidupannya yang baru sebagai seorang pengedar narkoba. Hal-hal seperti perjudian, narkoba, minuman keras, dan pergaulan bebas merupakan makanan sehari-harinya. Ia melakukan semua ini demi mengendus jejak keberadaan kakaknya. Akankah Hanif berhasil bertahan dengan kehidupan barunya?
Verletzt
19      8     0     
Inspirational
"Jika mencintai adalah sebuah anugerah, mengapa setiap insan yang ada di bumi ini banyak yang menyesal akan cinta?" "Karena mereka mencintai orang yang tidak tepat." "Bahkan kita tidak memiliki kesempatan untuk memilih." --- Sebuah kisah seorang gadis yang merasa harinya adalah luka. Yang merasa bahwa setiap cintanya dalah tikaman yang sangat dalam. Bahkan kepada...
R.A
35      10     0     
Romance
Retta menyadari dirinya bisa melihat hantu setelah terbangun dari koma, namun hanya satu hantu: hantu tampan, bernama Angga. Angga selalu mengikuti dan mengganggu Retta. Sampai akhirnya Retta tahu, Angga adalah jiwa yang bimbang dan membutuhkan bantuan. Retta bersedia membantu Angga dengan segala kemungkinan resiko yang akan Retta hadapi, termasuk mencintai Angga. - - "Kalo nanti ka...
MASIHKAH AKU DI HATIMU?
3      3     0     
Short Story
Masih dengan Rasa yang Sama
Youth
158      48     0     
Inspirational
Salah satu meja di kafe itu masih berisikan tiga orang laki-laki yang baru setahun lulus sarjana, mereka mengenang masa-masa di SMA. Dika, Daffa, dan Tama sudah banyak melewati momen-momen kehidupan yang beragam. Semuanya tak bisa mereka pilih. Mereka diizinkan berkumpul lagi setelah sempat berjanji untuk bertemu di tanggal yang mereka tentukan. Apa pun yang terjadi, mereka harus berkumpul pa...
Black Roses
449      124     0     
Fan Fiction
Jika kau berani untuk mencintai seseorang, maka kau juga harus siap untuk membencinya. Cinta yang terlalu berlebihan, akan berujung pada kebencian. Karena bagaimanapun, cinta dan benci memang hanya dipisahkan oleh selembar tabir tipis.
Untold
15      10     0     
Science Fiction
Tujuh tahun lalu. Tanpa belas kasih, pun tanpa rasa kemanusiaan yang terlampir, sukses membuat seorang dokter melakukan percobaan gila. Obsesinya pada syaraf manusia, menjadikannya seseorang yang berani melakukan transplantasi kepala pada bocah berumur sembilan tahun. Transplantasi dinyatakan berhasil. Namun insiden kecil menghantamnya, membuatnya kemudian menyesali keputusan yang ia lakukan. Imp...