Read More >>"> Aku & Sahabatku (Hari Pertama) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku & Sahabatku
MENU
About Us  

Aku datang terlalu pagi. Semua bangku kursi masih kosong tak berpemilik. Dimana aku harus menaruh tasku? Aku enggan untuk menarik satu kursi dan menjadikannya milikku. Aku hanya murid pindahan yang datang di waktu yang kurang tepat. Aku masih berdiri di bibir pintu kelas XI-IPA4 yang katanya itu adalah kelasku. Aku mundur satu langkah.

“Mungkin aku masuk saat bel berdentang saja,” Ucapku lirih sambil melangkah pergi.

Sekolah baruku ini cukup asri. Halamannya rimbun dengan aneka bunga terutama mawar. Pasti tukang kebunnya sangat rajin. Aku berhenti di halaman kelas XI-IPA1 yang letaknya berada di paling ujung bangunan. Bunga mawar di halaman kelas ini sedang mekar. Halamannya lebih luas dibanding kelas lain.

“Cantik sekali,” Seruku cukup keras.

“Kamu datang pagi sekali,” seseorang berseru dari belakangku,” Kamu piket juga hari ini?” Tanyanya lagi saat aku berbalik menatapnya.

Sebelum aku menjawabnya, dia menyodorkan gayung kepadaku.

“Tolong bantu siram mawar dan bunga di halaman. Ini airnya.” Lalu dia menambahkan,” Aku akan merapikan kursi di kelas. Dengan pembagian tugas setidaknya kita bisa selesai piket sebelum murid lain datang.”

Aku tidak tahu harus berkata apa kecuali melakukan apa yang dimintanya.

“Kau bisa menaruh tasmu di kursi manapun. Kesepakatan di kelas kita yang datang lebih dulu boleh mengambil kursi manapun.” Ucapnya.

Wahh… benarkah begitu. Senangnya dengan aturan seperti itu aku akan datang pagi setiap hari. Ohh...., tetapi ini bukan kelasku.

Aku menyelesaikan tugasku dengan cepat. Aku masuk ke ruang kelas dan melihatnya sedang menghapus papan tulis yang penuh rumus matematika.

“Kau sudah selesai?” Tanyanya.

Aku mengangguk.

“Ah….embernya aku taruh di tepi pot bunga,” ucapku lagi.

“Kau harus menaruhnya di kamar mandi. Tadi aku meminjamnya dari kamar mandi.” Dia menjelaskan.

‘Ohh…,” jawabku. Aku berbalik hendak melakukan yang dimintanya.

“Eh tunggu. Biar aku yang mengembalikkan. Itu ember dari kamar mandi anak laki-laki.” Dia segera mengoreksi kalimatnya.

“Oh iya sebelumnya apa kau sering absent?” Dia menatapku penuh selidik,” Sepertinya aku baru melihatmu. Di kelas ini tidak banyak yang memakai kerudung.”

Aku spontan menyentuh kerudung putihku. Sejujurnya baru kali ini aku memakainya. Aku sendiri merasa masih canggung dengan balutan kain ini.

“Aku baru masuk hari ini.” Jawabku.

“Oh....selamat datang kalau begitu.” Ucapnya sambil beranjak pergi. Dia tidak memperkenalkan nama. Dia juga tidak bertanya siapa namaku. Dia juga tidak memastikan apakah aku memang lagi piket pagi ini atau tidak. Bukankah aneh kalau anak yang kali pertamanya masuk langsung memiliki jadwal piket seolah sedang masa orientasi. Untung saja hanya diminta menyiram bunga.

Beberapa menit berlalu, tetapi dia belum juga kembali ke kelas.

Murid lain mulai berdatangan. Tatapan setiap anak mulai menggangguku sebleum aku benar-benar jadi pusat perhatian aku memutuskan pergi. Aku segera mengambil tasku dan kembali ke kelas asalku. Sudah ada beberapa orang yang masuk ruang kelasku. Aku pun memberanikan diri masuk kelas saat bersamaan seseorang menabrakku dari belakang. Aku pun jatuh tersungkur di depan kelas. Semua mata memandang padaku.

“Kau tidak apa-apa?” seorang anak perempuan berambut sebahu menyorongkan wajahnya padaku. Mengamatiku dengan seksama membuatku risih.

“Tidak apa,” Jawabku singkat sambil berusaha mengulaskan sebaris senyum.

“Maaf. Aku lupa tidak memakai kacamata. Jadi, pandanganku sedikit kabur,” jelasnya.

"Sandi, kau tak seharusnya melepas kacamatamu." Komentar salah seorang anak padanya. Sandy ternyata itu namanya.

Terjawab sudah kenapa tatapannya begitu menusuk. Dia hanya tidak tahu apa yang ada di depannya. Dia hanya sedang berusaha mefokuskan lensa matanya.

“Kau siapa?” Tanya anak lain.

“Kinan. Kinanti. Aku murid pindahan.”

“Ohhh…” Jawaban mereka begitu kompak.

Setelahnya adalah adegan yang biasa aku alami ketika menjadi murid pindahan. Bercerita tentang sekolah lamaku, kotaku yang dulu, dan sesekali ada juga yng menyelipi pertanyan tentang keluargaku. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang keluarga.

Hanya ada aku dan ayah. Itu cukup menjelaskan semuanya. Mereka akan berhenti bertanya dengan satu kalimat itu dan hanya menyisakan komentar simpatik. Sebuah basa basi di awal pertemuan. Begitulah yang sewajarnya terjadi.

                                                                                                                                       

Aku tidak menyangka mata pelajaran pertama adalah olahraga. Semua siswa di kelas harus pergi ke lapangan basket di gedung serba guna yang letaknya paling belakang. Aku tidak membawa seragam sehingga aku hanya duduk di tepi menonton mereka beraktivitas. Guru memakluminya karena aku baru pindah hari ini. Ternyata bukan kelasku saja yang memakai gedung. Saat masuk sudah ada murid lain yang menguasai lapangan di bagian kanan.

“Aaa!” Seruku spontan.

Aku melirik kanan kiri tidak ada yang menyadari pekikanku barusan. Mereka sibuk dengan obrolan yang tidak aku mengerti.

Anak laki-laki yang menyuruhku menyiram bunga. Aku yakin itu dia. Hanya saja kacamata tidak menghiasi wajahnya seperti pagi tadi kala kami bertemu. Dia tidak memakai kacamata apakah masih mengenaliku. Mungin dia seperti Sandy yang tiba-tiba jadi separuh tuna netra, pandangan yang buram dan tidak bisa mengenali temannya sendiri bila tidak dalam jarak yang cukup dekat.

Aku malah asik memerhatikan kelas lain dibanding kelasku sendiri. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari samping.

“Itu kau kan?” Sebuah pertanyaan yang tidak aku duga akan datang padaku dari seseorang yang tidak ingin aku temui saat ini. Setidaknya tidak secepat ini.

“Cewek aneh kamu masih menginginkan jam tanganku?” Dia menggerakkan lengan kirinya dan menunjukkan jam tangan berwarna kayu.

“Ahhh ternyata kau beneran anak sekolah ini,” Dengan santai dia duduk di sebelahku. Aku menggeser dudukku agar menjauh darinya. Apa yang akan dipikirkan teman yang lain bila aku duduk berdekatan dengannya?

Tunggu aku tidak melihatnya ada di kelasku. Aku sudah memerhatikan semua teman sekelasku. Seratus persen aku yakin tidak ada dia. Ataukah aku melewatkannya. Ini hari pertamaku, meskipun aku mungkin tidak akan bisa menghafal wajah teman sekelasku dalam sekejap, tetapi aku tidak pernah meragukan ingatanku yang cemerlang. Tidak bermaksud sombong keahlianku adalah mengingat walau dalam hitung-hitungan aku sangat lemah. Aku sngat yakin tidak ada anak laki-laki ini di kelasku kecuali dia datang terlambat pagi ini.

“Kau mungkin salah mengenali orang.” Aku beralasan.

Dia masih mengamatiku sambil menopang dagu dengan tangan kirinya.

“Kau tahu ingatanku ini cukup kuat. Meskipun kamu mengubah penampilanmu dengan helaian kain ini.” Dengan tidak sopan dia menyentuh ujung kerudungku.

“Ta, ngapain kamu di situ?!” Seseorang memanggilnya.

Orang yang memanggilnya adalah anak laki-laki yang memintaku menyiram bunga. Sungguh kebetulan. Dia tidak memamakai kacamata tetapi dia bisa mengenali temannya dengan jarak yang cukup jauh. Mungkinkah dia juga mengenaliku? Ahhh...aku tidak peduli. Toh itu bukan aku yang salah. Aku malah membantunya menyelesaikan tugas piket tadi pagi.

Dan orang di hadapanku ini. Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu orang ini lagi sehingga dengan percaya dirinya aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Dan orang yang memanggilnya adalah anak laki-laki yang memintaku menyiram bunga. Hari pertamaku benar-benar membuatku tidak ingin berkata-kata.

Dia hanya melambaikan tangan tidak peduli panggilan temannya. Namun, entah kenapa aku merasa semua mata memandang ke arah kami terutama anak perempuan baik kelasku maupun kelas lain yang ada gedung ini.

“Jadi, apa kau benar seorang bintang? Kenapa semua orang memandang ke sini?” Aku mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang di gedung itu.

“Begitulah…,” jawabnya ringan.

Dia tidak peduli dengan tatapan semua orang seolah sudah terbiasa.

"Kenapa kamu tidak memakai baju olahragamu?" Aku baru sadar dia masih memakai seragam putih abu-abu sepertiku.

'Sepertimu," jawabnya.

"Kau anak baru juga?" Ucapku tanpa curiga.

"Jadi, kamu anak baru, bukan sedang sakit. Pantas saja..." Tiba-tiba dia bangkit dan meninggalkanku tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Dia berlari ke bagian kanan lapangan di mana teman-teman sekelasnya sedang pemanasan. Sesampainya di sana dia membuka seragamnya dengan cepat dan melemparnya ke tepi lapangan. Salah satu teman sekelasnya mengambil bajunya dan merapikannya. Saat guru datang dia sudah berakting sedang pemanasan. Apakah dia punya insting kapan guru akan datang?

"Aku berharap tidak akan bersinggungan dengannya lagi." Ucapku pelan.

Dia adalah poros perhatian. Matahari di antara bintang-bintang. Berada di dekatnya hanya mengundang keributan. Aku hanya ingin kedamaian di sekolah baruku ini. Keheningan bukan sorotan mata penasaran orang-orang. Tidak ada yang tahu isi hati setiap orang kecuali dirinya sendiri . Setiap diri pasti memiliki cela yang ingin dipendamnya. Aku tidak ingin mengungkap cela yang kumiliki ataupun membuka cela teman-teman yang lain. 

"Teman perempuan tidak akan menjauhiku kan karena aku mengobrol dengan idola sekolah mereka." Batinku mulai resah.

Aku bersyukur keresahanku itu sia-sia. Mereka hanya terkejut melihat anak baru sepertiku mengenal anak laki-laki itu. Meskipun, ada yang merasa wajar karena anak yang akrab disebut sang juara itu sangat terkenal tidak hanya di kalangan sekolah ini saja tetapi antar sekolah lain juga. Dia selalu juara umum di sekolah dan juga sering memenangkan olimpiade sains.

Luar biasa pikirku.

                                                                                                                              

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • Sacchan

    Halo, mampir juga yuk ke cerita aku di sini --> https://tinlit.com/view_story/1627/3345

    Ditunggu comment dan reviewnya yaa..
    Terima kasih :)

    Comment on chapter Anak Baru
Similar Tags
Cazador The First Mission
133      88     0     
Action
Seorang Pria yang menjadi tokoh penting pemicu Perang Seratus Tahun. Abad ke-12, awal dari Malapetaka yang menyelimuti belahan dunia utara. Sebuah perang yang akan tercatat dalam sejarah sebagai perang paling brutal.
Accidentally in Love!
10      10     0     
Romance
Lelaki itu benar-benar gila! Bagaimana dia bisa mengumumkan pernikahan kami? Berpacaran dengannya pun aku tak pernah. Terkutuklah kau Andreas! - Christina Adriani Gadis bodoh! Berpura-pura tegar menyaksikan pertunangan mantan kekasihmu yang berselingkuh, lalu menangis di belakangnya? Kenapa semua wanita tak pernah mengandalkan akal sehatnya? Akan kutunjukkan pada gadis ini bagaimana cara...
Akhir SMA ( Cerita, Cinta, Cita-Cita )
84      54     0     
Romance
Akhir SMA yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiran seorang cewek bernama Shevia Andriana. Di saat masa-masa terakhirnya, dia baru mendapatkan peristiwa yang dapat mengubah hidupnya. Ada banyak cerita terukir indah di ingatan. Ada satu cinta yang memenuhi hatinya. Dan tidak luput jika, cita-cita yang selama ini menjadi tujuannya..
Amherst Fellows
196      138     0     
Romance
Bagaimana rasanya punya saudara kembar yang ngehits? Coba tanyakan pada Bara. Saudara kembarnya, Tirta, adalah orang yang punya segunung prestasi nasional dan internasional. Pada suatu hari, mereka berdua mengalami kecelakaan. Bara sadar sementara Tirta terluka parah hingga tak sadarkan diri. Entah apa yang dipikirkan Bara, ia mengaku sebagai Tirta dan menjalani kehidupan layaknya seorang mahasis...
Menghapus Masa Lalu Untukmu
128      83     0     
Romance
Kisah kasih anak SMA dengan cinta dan persahabatan. Beberapa dari mereka mulai mencari jati diri dengan cara berbeda. Cerita ringan, namun penuh makna.
Love You, Om Ganteng
266      172     0     
Romance
"Mau dua bulan atau dua tahun, saya tidak akan suka sama kamu." "Kalau suka, gimana?" "Ya berarti saya sudah gila." "Deal. Siap-siap gila berarti."
Aku. Kamu. Waktu
180      113     0     
Romance
Aku adalah perempuan yang tidak diperkenankan untuk hidup oleh orang lain. Aku adalah perempuan yang berdosa hanya karena jatuh cinta. Aku adalah perempuan ketiga dari kisah cinta yang bukan sesungguhnya
May be Later
393      201     0     
Romance
Dalam hidup pasti ada pilihan, apa yang harus aku lakukan bila pilihan hidupku dan pilihan hidupmu berbeda, mungkin kita hanya perlu mundur sedikit mengalahkan ego, merelakan suatu hal demi masa depan yang lebih baik. Mungkin di lain hari kita bisa bersanding dan hidup bersama dengan pilihan hidup yang seharmoni.
Move on
0      0     0     
Romance
Satu kelas dengan mantan. Bahkan tetanggan. Aku tak pernah membayangkan hal itu dan realistisnya aku mengalami semuanya sekarang. Apalagi Kenan mantan pertamaku. Yang kata orang susah dilupakan. Sering bertemu membuat benteng pertahananku goyang. Bahkan kurasa hatiku kembali mengukir namanya. Tapi aku tetap harus tahu diri karena aku hanya mantannya dan pacar Kenan sekarang adalah sahabatku. ...
The Twins
107      69     0     
Romance
Syakilla adalah gadis cupu yang menjadi siswa baru di sekolah favorit ternama di Jakarta , bertemu dengan Syailla Gadis tomboy nan pemberani . Mereka menjalin hubungan persahabatan yang sangat erat . Tapi tak ada yang menyadari bahwa mereka sangat mirip atau bisa dikata kembar , apakah ada rahasia dibalik kemiripan mereka ? Dan apakah persahabatan mereka akan terus terjaga ketika mereka sama ...