Read More >>"> L & A (The Blue) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - L & A
MENU
About Us  

Rapat berjalan biasa-biasa saja. Mereka membahas berita-berita terhangat minggu ini. Tentang perceraian artis kontroversi yang membosankan, tentang liburan pada selebritis, tentang desain baju terbaru, tentang banyak hal di dunia ini yang harus mereka rangkum semenarik mungkin di dalam sebuah buku bacaan.

Gilang, kepala editor,  memimpin rapat dengan layar fokus yang ia tunjuk-tunjuk dengan tangan, menjelaskan ini-itu dan beberapa hal penting lainnya. Ada Fira wakil kepala redaksi sekaligus koordinator redaksi bagian mengurus segala keperluan dari Gilang. Di tim editor The Blue, selain Gilang dan Fira, ada Nanda dan Tara sebagai Reporter di bawah pimpinan Fikri yang menjabat sebagai Redaktur Pelaksana. Ardila dan Devynna yang bertugas mengambil gambar untuk keperluan di majalah juga tentunya. Pekerjaan sebagai Fotografer menurut mereka sangat menyenangkan. Mengambil gambar sekaligus jalan-jalan.

Tidak lupa, beberapa orang penting dari tim percetakan dan pemasaran menghadiri rapat kali ini untuk mempersiapkan majalah edisi ke 12 vol 202 mereka. Sandy, gadis bertubuh bagus yang diering disebut sebagai “jabrik” atau penanggung jawab rubrik atau kepala desk redaktur juga hadir di sana dengan dua orang bawahannya. Ada Ana yang memegang penuh tanggungjawab Artistik, bersama dua orang yang ia percaya sebagai setter/ juru ketik dan korektor.

Sebagai orang yang selalu bergulir di dunia maya untuk pemasaran berita online, Leo hadir dan menyimak rapat dengan baik walau tanpa Dani, partner terbaiknya. Di sampingnya ada Rafly, bagian terpenting dalam perusahaan majalah itu di bagian Litbang.

Riu juga ada di sana, duduk di paling ujung mencatat laporan rapat kali ini. Dia tidak bisa disebut sebagai sekretaris. Karena tugasnya hanya membantu tim editor saja. Sebenarnya Riu tidak begitu peduli apa pekerjaannya, asal dia mendapat tempat untuk berjalan ke sana dan ke mari dan menyebutnya sebagai pekerjaan di kantor ini, Riu sudah merasa senang. Ia tidak masalah di tempatkan di mana saja, yang penting dia bekerja dan menghasilkan uang untuk hidupnya sendiri.

Rapat selesai dalam 40 menit. Semuanya bergegas membereskan barang-barang mereka, dan beranjak kembali ke tempat masing-masing.

"Hei, aku duluan ya, Riu," kata Ana sambil menepuk pelan bahu Ana. Gadis itu terlihat ramah.

Riu tersenyum lalu menganggukkan kepala. Matanya mengantar kepergian Ana yang berjalan bersisian dengan Leo hingga hilang di ujung pintu. Bibir Riu membentuk senyum kecil lagi, rasanya aneh. Mungkin dua orang itu saling tertarik atau memiliki hubungan karena Riu sudah memperhatikan mereka sejak dia 2 minggu bekerja di The Blue.

Gilang menaikkam sebelah alisnya melihat Riu yang bukannya menutup laptop tapi malah melihat ke arah pintu keluar. "Udah?" tanyanya sembari menarik salah satu kursi dan duduk di depan Riu.

Gadis itu tersentak kaget dan menunduk malu. "U-udah. Ini mau simpan filenya," sahutnya buru-buru men-save word kerjanya. Kemudian Riu mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas laptop doraemon kesukaan gadis itu.

"Liatin siapa hayo?" goda Gilang sambil menyelidiki wajah Riu.

Seketika wajah gadis itu merona. Dia menggeleng keras. "Ngga liatin siapa-siapa. Cuma pengen cepet pulang," jawabnya setengah kesal.

Sontak tawa Gilang berderai. Ia memperlihatkan jam tangannya ke depan Riu. "Masih jam 3, Bii," katanya geli.

Riu melengos malas. Dia sadar akan hal itu, kok. Hanya saja kenapa wajah Riu memerah saat Gilang mengatakan hal tadi. Lantas Riu memutar bola matanya. "Saya keluar ya, Pak." Dan berlalu keluar dari ruangan rapat yang ditata seceria mungkin dengan kursi warna-warni. Ruangan kecil namun terkesan cerah, bahkan cocok untuk anak-anak bermain.

"Hei, aku belum tua. Berapa kali sih, aku bilang," teriak Gilang protes dari dalam yang dibalas Riu dengan mengibaskan tangannya ke samping tanpa melihat pada Gilang.

Gilang menyerah. Gadis itu paling pandai membuatnya kesal dengan tingkah sok cueknya. Setimpal dengan Gilang yang suka menggoda Riu dengan ucapan-ucapan menyebalkan dari mulut Gilang. Pria itu kemudian berjalan keluar ruangan rapat warna-warni itu setengah kesal. 

**

"Hai, Riu..."

Riu yang mendengar namanya diteriakan menoleh ke sumber suara. Ia menurunkan ponsel dari pandangannya dan melihat sebuah motor berhenti di depan halte, tempat di mana Riu sedang menunggu bus ke rumah kontrakannya.

"Hai.." balas Riu dengan senyum cerah ketika melihat Ana yang membuka kaca helmnya. Gadis itu turun dan menghampiri Riu.

"Kamu lagi nunggu bus, ya?" tanya Ana. Dia membuka helm dan memegangnya di samping paha.

Riu mengangguk. Ia menengok ke belakang Ana, laki-laki bernama Leo itu sedang melihat ke arahnya dengan tatapan datar. Hanya sekitar 3 detik, keduanya saling mengalihkan pandangan. "Kamu mau ke mana?" tanya Riu menatap Ana yang duduk di sampingnya.

"Ikut aku, yuk. Aku sama Kak Leo mau makan di kafe di perempatan. Anggap ini sebagai permintaan maaf aku. Aku mohon," ucap Ana memelas. Dia sangat berharap Riu menyetujuinya karena ia masih merasa belum sepenuhnya dimaafkan Riu.

Riu nampak bingung. Ia melirik jam di tangannya. Sebentar lagi bus terakhir akan lewat dan tidak mungkin Riu menunggu sampai subuh di halte ini. Ia melihat Ana begitu tulus menawarkannya ikut ke tempat yang Ana maksud. "Tapi aku harus pulang. Bus terakhir ke daerah rumah aku akan lewat sebentar lagi. Maafin aku..." ucap Riu dengan mada menyesal. Meski dia sangat pergi karena ini pertama kali yang mengajaknya, kecuali Gilang.

"Kak Leo bakal nganterin, tenang aja," kata Ana dengan ceria. Gadis itu benar-benar cantik dengan senyum itu. Riu sempat terpesona dan sedikit iri. Sempurna, batinnya.

Leo melongo di atas motornya menatap ke arah dua gadis itu. Omong kosong apa yang sedang Ana katakan pada anak baru itu. Matanya mengerjap beberapa kali, sebelum ia tersadar Ana kembali menambahkan, "Iya kan, Kak Leo? Jangan menolak, please.." Lantas Leo tidak dapat berkutik jika Ana sudah memohon dengan wajah itu, ia pun menganggukkan kepala menyerah.

"Tapi..." kata Riu ragu.

Ana langsung berdiri dan berjalan ke arah Leo. Menitipkan helmnya yang diterima pria itu masih dengan wajah yang seolah tidak terima akan ide konyol yang dibuat Ana tadi. Namun laki-laki itu tidak protes sama sekali menerima dengan patuh dan menyimpannya di dalam jok motor. 

"Yuk kita jalan ke depan. Kak Leo biar aja duluan," kata Ana memiringkan kepala sedikit memberi isyarat untuk segera pergi.

Riu masih digeluti segala macam rasa bingung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Ana, alu berjalan bersisian di troroar mengobrolkan tentang perkenalan biasa. Menanyakan tempat tinggal, menanyakan umur, dan beberapa hal lain. Mereka cepat akrab dan Riu merasa nyaman dengan gadis bertubuh bak model itu.

**

Jadi, di sinilah Riu bersama dua orang yang masih terasa asing baginya. Ana begitu cerewet menanyakan banyak hal, sama seperti pertama kali mereka mengobrolkan beberapa hal selama di perjalanan tadi. Sementara pria di sampingnya lebih banyak diam sambil menyesap kopinya. Riu memperhatikan keduanya, dua orang dengan kepribadian berbeda, namun nampaknya mereka baik'-baik saja. Bahkan pria bernama Leo Adryn -yang Riu lihat di daftar karyawan kantor- itu tidak terganggu dengan mulut Ana yang terus menyerocos.

Ana memotong daging setengah matang kesukaannya, lalu mencolek sambal di depannya. Sebelum daging itu sampai ke mulut Ana, tangannya ditahan oleh Leo. Pria itu menepuk-nepukan daging di ujung garpu itu ke bibir mangkuk sambal itu beberapa kali hingga hilang. "Ngga boleh! Udah berapa kali aku bilang, Ana," peringat sambil menatap Ana dengan alis yang bertaut samar.

Gadis itu langsung memasang muka cemberut. "Sedikit saja," katanya memohon.

"Tidak akan!" Leo mengenyahkan mangkuk sambal itu jauh-jauh dari hadapan Ana, setidaknya Ana tidak dapat meraihnya dengan tangan kecuali ia nekat berdiri dan beranjak mencari semangkuk kecil sambal itu. "Jangan bikin aku cemas kalau nanti kamu tiba-tiba menelpon sakit perut. Aku panik Ana," katanya dengan lemah lembut.

Gadis itu kembali cemberut. Ia memasukkan potongan kecil daging yang sudah dingin itu ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan perasaan kesal.

"Biar aku ambilkan saus tomat," kata Leo kemudian beranjak mencari saus tomat di meja lain yang kosong. Mengambilnya dan kembali ke meja mereka.

Perhatian, ucap Riu dalam hati melihat insiden kecil itu. Riu tersenyum tipis. Ia menatap makanannya. Riu hanya memesan mie goreng dengan telur mata sapi di atasnya, kesukaannya.

Riu mengangkat kepala dan menatap Ana yang masih makan dengan wajah tidak seceria tadi mungkin karena dilarang makan saus sambal oleh Leo. Ah, Riu ingat betapa merahnya kuah bakso yang tumpah dari mangkuk Ana ke bajunya. Ternyata gadis itu suka makanan pedas. "Kak Ana punya penyakit mag, ya?" tanya Riu. Ia memanggil Ana sejak satu jam lalu saat mereka saling menanyakan umur, tentu saja Ana yang memulai pembahasan itu.

Ana menatap Riu sedikit terkejut. Lalu bibirnya mengerucut. Beberapa detik kemudian Riu melihat Ana mengangguk lemah. Seolah itu adalah hal paling bencana dalam hidupnya tidak bisa menyantap makanan pedas seumur hidup sekali saja.

"Iya, Riu," jawab Leo dengan nada rendah. "Tapi Ana masih sering diam-diam makan makanan pedas di belakang aku," tambahnya sambil melirik Ana sedikit berang.

Riu menatap Leo saat bicara. Suara pria itu lembut sekali. Apakah ini alasannya jarang berbicara agar suara merdu itu tidak rusak? Lalu ia menatap Ana dan menatap Leo lagi. "Iya Kak Ana ngga boleh melakukan itu lagi," kata Riu tersenyum kecil.

Ana menatap Riu lalu menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Riu. "Tetap aja rasanya hambar makan tanpa saus sambal. Atau apalah gitu, aku suka yang menantang rasa.."

"Alasan apapun itu ngga boleh," potong Leo.

"Ish!" desis Ana melirik Leo tidak suka. "Kak Leo jahat."

Riu tertawa kecil melihat pertengkaran keduanya. "Kakak berdua lucu, ya. Kayak orang pacaran yang sedang bertengkar."

Ah, sepertinya ucapan Ana tadi salah. Membuat keduanya saling menunjukkan wajah menegang. Ana yang cepat-cepat memalingkan wajah ke arah lain. Pipinya bersemu merah. Sementara Leo hanya berdeham kecil kemudian menyesap kopinya yang sudah dingin.

Riu mengulum bibir melihat keduanya saling diam. Sepertinya Riu membuat kesalahan di makan malam perkenalan mereka. Ia menundukkan kepala menatap mie gorengnya dan memakannya. Mendadak rasa mie goreng itu menjadi hambar.

**

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Nobody is perfect
92      33     0     
Romance
Pada suatu hari Seekor kelinci berlari pergi ingin mencari Pangerannya. Ia tersesat, sampai akhirnya ditolong Si Rubah. Si Rubah menerima si kelinci tinggal di rumahnya dan penghuni lainnya. Si Monyet yang begitu ramah dan perhatiaan dengan si Kelinci. Lalu Si Singa yang perfeksionis, mengatur semua penghuni rumah termasuk penghuni baru, Si Kelinci. Si Rubah yang tidak bisa di tebak jalan pikira...
Rain
325      276     4     
Short Story
Hujan mengubah segalanya dan Hujan menjadi saksi cinta mereka yang akhirnya mereka sadari.
ATHALEA
17      10     0     
Romance
Ini cerita tentang bagaimana Tuhan masih menyayangiku. Tentang pertahanan hidupku yang akan kubagikan denganmu. Tepatnya, tentang masa laluku.
No, not love but because of love
20      10     0     
Romance
"No, not love but because of love" said a girl, the young man in front of the girl was confused "You don't understand huh?" asked the girl. the young man nodded slowly The girl sighed roughly "Never mind, goodbye" said the girl then left "Wait!" prevent the young man while pulling the girl's hand "Sorry .." said the girl brushed aside the you...
Reality Record
72      33     0     
Fantasy
Surga dan neraka hanyalah kebohongan yang diciptakan manusia terdahulu. Mereka tahu betul bahwa setelah manusia meninggal, jiwanya tidak akan pergi kemana-mana. Hanya menetap di dunia ini selamanya. Namun, kebohongan tersebut membuat manusia berharap dan memiliki sebuah tujuan hidup yang baik maupun buruk. Erno bukanlah salah satu dari mereka. Erno mengetahui kebenaran mengenai tujuan akhir ma...
Enemy's Slave
10      6     0     
Romance
Kesha Ayu Shakira dan Leon Bima Iskandar. Keduanya saling bermusuhan. Bahkan generasi sebelumnya--alias mama dari Kesha dan mama dari Leo--keduanya juga sudah menjadi musuh bebuyutan. Berujung saat mama masing-masing saling menyumpah ketika kehamilan masing-masing; bahwa anak mereka akan saling jatuh cinta dan saling menjatuhkan. Apakah sumpah-serapah itu akan menjadi kenyataan?
Before You Go
4      4     0     
Short Story
Kisah seorang Gadis yang mencoba memperjuangkan sebelum akhirnya merelakan
Can You Love Me? Please!!
28      12     0     
Romance
KIsah seorang Gadis bernama Mysha yang berusaha menaklukkan hati guru prifatnya yang super tampan ditambah masih muda. Namun dengan sifat dingin, cuek dan lagi tak pernah meperdulikan Mysha yang selalu melakukan hal-hal konyol demi mendapatkan cintanya. Membuat Mysha harus berusaha lebih keras.
Kutu Beku
4      4     0     
Short Story
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang berusaha dengan segala daya upayanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, melepas rindu sekaligus resah, dan dilputi dengan humor yang tak biasa ... Selamat membaca !
Fallen Blossom
313      218     4     
Short Story
Terkadang, rasa sakit hanyalah rasa sakit. Tidak membuatmu lebih kuat, juga tidak memperbaiki karaktermu. Hanya, terasa sakit.