Prolog
Di tempat ini, aku duduk menghadap keluar jendela. Memandangi taburan bintang dari lampu-lampu kota Bandung. Sebelumnya aku sudah menikmati sunset dari tempat yang sama. Tempat yang kau impi-impikan untuk datang ke sini. Aku senang mendengar pengakuanmu. Bahwa kau suka tempat ini karena ada aku. Katamu, tidak ada yang istimewa dari perjalanan ini bila bukan aku yang di sisimu. Bila bukan aku yang mengenggam tanganmu.
Tahukah kau, aku sangat tersanjung saat mendengar itu. Kau gadis yang pandai merayu dan membuatku tersipu malu. Dan kau juga pandai membuatku rindu di saat kau jauh. Katamu, kau tidak secantik gadis-gadis yang bisa merias dirinya sedemikian menarik. Katamu, kau tidak punya pakaian bagus untuk jalan-jalan denganku. Katamu, kau ingin memakai gaun berwarna merah seperti warna kesukaanku meski kau sendiri menyukai warna biru. Katamu, kau mencintaiku. Katamu, kau tidak bisa hidup tanpaku.
Setiap hari, kau mengisi hari-hariku dengan tingkah-tingkah anehmu. Dengan ucapan-ucapan yang tidak pernah aku duga. Dengan kata-kata yang bisa membuat jantungku tidak tenang. Dengan senyum yang pandai menggetarkan hatiku. Kau ahli dalam segala hal. Membuatku tersenyum, membuatku tertawa, membuatku bahagia, membuatku merindu, bahkan terluka, dan meluluh lantakan hati..
Oh, ya. Aku tidak akan lupa, kau juga tahu cara memperlakukanku, memperhatikan keseharianku, mengingatkan lupaku, dan menjaga kesehatanku.
Kau juga pandai membuat aku jatuh cinta sedalam ini.. saat aku percaya kesetiaan tidak cocok disandingkan dengan cinta.. kau membuat aku merubah pikiranku tentang itu semua.. Kau memang pandai dalam segala hal.. Dan kau adalah segalaku..
Di tempat ini, aku duduk menghadap keluar jendela. Memandangi taburan bintang dari lampu-lampu kota Bandung. Sebelumnya aku sudah menikmati sunset dari tempat yang sama. Tempat yang kau impi-impikan untuk datang ke sini. Aku senang mendengar pengakuanmu. Bahwa kau suka tempat ini karena ada aku. Katamu, tidak ada yang istimewa dari perjalanan ini bila bukan aku yang di sisimu. Bila bukan aku yang mengenggam tanganmu.
Tahukah kau, aku sangat tersanjung saat mendengar itu. Kau gadis yang pandai merayu dan membuatku tersipu malu. Dan kau juga pandai membuatku rindu di saat kau jauh. Katamu, kau tidak secantik gadis-gadis yang bisa merias dirinya sedemikian menarik. Katamu, kau tidak punya pakaian bagus untuk jalan-jalan denganku. Katamu, kau ingin memakai gaun berwarna merah seperti warna kesukaanku meski kau sendiri menyukai warna biru. Katamu, kau mencintaiku. Katamu, kau tidak bisa hidup tanpaku.
Setiap hari, kau mengisi hari-hariku dengan tingkah-tingkah anehmu. Dengan ucapan-ucapan yang tidak pernah aku duga. Dengan kata-kata yang bisa membuat jantungku tidak tenang. Dengan senyum yang pandai menggetarkan hatiku. Kau ahli dalam segala hal. Membuatku tersenyum, membuatku tertawa, membuatku bahagia, membuatku merindu, bahkan terluka, dan meluluh lantakan hati..
Oh, ya. Aku tidak akan lupa, kau juga tahu cara memperlakukanku, memperhatikan keseharianku, mengingatkan lupaku, dan menjaga kesehatanku.
Kau juga pandai membuat aku jatuh cinta sedalam ini.. saat aku percaya kesetiaan tidak cocok disandingkan dengan cinta.. kau membuat aku merubah pikiranku tentang itu semua.. Kau memang pandai dalam segala hal.. Dan kau adalah segalaku..