Read More >>"> KNITTED (Two) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - KNITTED
MENU
About Us  

Langit langit berwarna putih menjadi hal pertama yang di lihat Dara, setelah itu berganti wajah Raya yang cemas memandang tepat di depan wajahnya tak lama  dia membuka mata.

“ Dar, pusing ?” Tanya Raya khawatir,

“ rambut lo ah,” Dara menggeser kepala Raya menjauh, rambut raya yang sebahu dan tidak pernah mau diikat langsung menyebu wajahnya, rambut wangi strawberry Raya langsung menusuk hidungnya, Dara mengucek matanya yang terkena rambut Raya tadi. “gue dimana ?” tanyanya sambil terus mengucek mata.

“ UKS sekolah,” jawab raya sambil duduk di samping dara, tangannya cepat menghentikan tangan Dara yang sedang asik mengucek mata, “bisa ilang mata lo entar kalo lo kucek gak berhenti berhenti begitu,”

“ rambut lo tuh nusuk nusuk mata gue, kan gatel, lagian kenapa sampe sedeket itu sih Ra, liatin guenya, emang gue kenapa ?” tangan Dara langsung di hentikan Raya saat dia akan mengucek matanya lagi, Dara cemberut dan hanya mengedip-ngedipkan matanya untuk menghilangkan gatal.

“ lo tadi pingsan di kelas, gimana gue gak khawatir! Dari awal liat lo ngelamun tadi pagi, gue udah ngerasa ada yang gak beres, dan kekhawatiran gue itu terbukti kan?! lo gak muncul muncul di lapangan upacara, gak di sebelah gue maupun di sebelah guru, dan waktu kita balik ke kelas gue liat lo tergeletak mengenaskan di depan pintu masuk,” jelas Raya panjang lebar, kemampuan bicara Raya memang tak pernah di ragukan, Dara akan mendukung serratus persen jika Raya mengganti cita citanya yang baru Raya ucapkan minggu lalu – menjadi intel-, Raya terinspirasi suichi akai, tokoh dari komik detective conan yang sudah dibacanya selama ini, ditambah dengan film Kings Man yang ditontonnya,juga film film bergenre detective yang lainnya, Dara bersyukur akhirnya Raya memiliki cita-cita namun sayangnya Dara harus mati-matian membujuk niat mulia Raya yang ingin menjadi pelindung Negara ini berganti menjadi seorang reporter saja,dia bisa mempromosikan keindahan negara kita lewat media bukan ? bukan apa-apa, Dara tak ingin mendukung sahabatnya menjadi apa yang di cita-citakan karena intel sangat tidak cocok dengan Raya yang cerewet dan menceritakan semua yang dia tahu, lakukan dan rasakan. Menjadi seorang intel itu sangat keren, Dara kagum dengan cerita intel yang sering dia lihat di film dan Drama Korea kesukaannya tapi Raya sangat tidak cocok untuk itu. Sedikit yang Dara tahu tentang kriteria untuk seorang intel adalah harus seseorang yang sangat cerdas (Raya masih suka mencontek PRnya, bahkan tak lupa menaruh buku di kolong meja saat ulangan untuk berjaga jaga), harus punya kondisi fisik yang prima dan pandai beladiri untuk menghadapi hal hal yang diluar dugaan (Olah raga satu satunya yang Raya Suka adalah berenang karena Raya tak suka berkeringat),  seseorang dengan pembawaan tenang (jelas bukan Raya) , kalem (benar-benar bukan Raya), dapat menahan diri untuk menceritakan apa yang ingin diceritakan pada orang lain (oke!Raya tidak bisa seperti itu) jika dia jadi intel nanti bisa-bisa dia malah akan mengumumkan dirinya sendiri pada dunia kalau dia itu adalah intel, karena raya cukup aktif di media social, kriteria selanjutnya untuk menjadi intel adalah berani mati dimanapun (untuk yang ini Dara yang tak siap, Dara tak akan pernah siap untuk kehilangan siapapun yang dia sayangi) Ya! Itu kriterianya pintar, gesit, pembawaan tenang, kalem, dan bisa menjaga rahasia juga identitas dirinya! Raya tidak punya satupun kriteria seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi intel. Dara akan benar-benar menghentikan Raya menjadi intel, Dara takut masa depan bangsanya akan terancam jika Raya jadi intel.

“ jangan ngelamun,” tangan Raya melambai di depan wajah Dara yang sedang menatap serius langit-langit putih di atasnya. “lo kenapa bisa sampe pingsan begitu,” desak Raya lagi. Ya! Raya memang cocok jadi reporter yang jago mendesak narasumber, atau sebagai jaksa, atau sebagai polisi investigasi, atau debtcollector, atau apapun asal jangan intel!

“DARA!” sahut  Raya , Dara langsung menoleh pada Raya lalu menggenggam tangan Raya erat.

“ Jangan jadi intel Ra! Lupain soal keinginan lo tentang jadi intel! Gue gak bisa nanggung resiko Indonesia terancam kalo lo keceplosan bilang rahasia Negara kita! Please jangan Ra! Lo jadi reporter aja,atau jadi guru, atau jadi direktur atau apapun asal jangan jadi intel!” pinta Dara sepenuh hati, Raya menatapnya heran, ada apa dengan sahabatnya ini, kenapa tiba-tiba membahas tentang keinginannya menjadi intel, dan kenapa juga dia menentangnya, sahabat bukannya harus saling mendukung?

Raya membenarkan posisi duduknya di tempat tidur Dara, dan menatap sahabatnya yang sedang terbaring dan menatapnya serius.

“ kok lo nentang gue jadi intel ?!” protesnya

“ karena lo sama sekali gak cocok jadi intel,” jawab Dara santai, lalu menjelaskan kriteria seseorang untuk dapat menjadi intel, Dara tahu Raya baru mengumumkan saja cita-citanya belum sampai mencari informasi mendetail tentang apa yang dia inginkan itu, jadi akan lebih mudah untuk Dara membujuk Raya agar melupakan saja cita-citanya itu. Raya hanya dapat melongo hebat mendengarkan penjelasan dara serta ketidak cocokan Raya untuk menjadi seorang intel.  

“ kenapa jadi ngelantur bahas cita-cita mulia gue sih ? gue kan tadi nanya kenapa lo bisa pingsan tadi! lo beneran sakit ya Dar ? tadi kepalanya kebentur keras waktu lo pingsan ? apa mau ke rumah sakit aja ? di CT SCAN ya ? mau ya ?” Raya memegang kedua bahu Dara, sahabatnya langsung berhenti mengoceh dan menatap Raya bingung. Raya jadi tambah khawatir pada sahabatnya ini, Raya memperhatikan Dara yang sekarang sedang mengelus kepala belakangnya, “ Dar! Ke rumah sakit aja ya?!” desak Raya lagi, gadis itu kini sibuk sendiri membereskan tas milik Dara dan bersiap-siap ke rumah sakit. Dara bertambah heran kenapa ada tasnya dan tas Raya disini, apakah Raya punya niat terselubung untuk kabur jika ada situasi dan kondisi yang memungkinkan, seperti saat ini ? saat Raya mencari alasan agar pergi ke rumah sakit ?  

Dara menatap Raya lagi, rumah sakit ? kintan. “ Gak usah Ra, gue gak kenapa-napa.” Dara bangkit dan menghentikan Raya yang masih sibuk merapikan penampilannya untuk ke rumah sakit. “ lo ngapain pake lipgloss ? mau kemana ?” Dara tak habis pikir dengan kelakuan gadis yang memberikan cengiran malu di hadapannya ini.

Dara langsung teringat pertemuannya dengan Kintan yang kilat tadi pagi, setelah Kintan berkata ‘tolong’ dia sudah tak ingat apapun lagi. “ Lo kenapa,Dar ? apa yang bikin lo mikir keras tadi pagi ? lo serius gak perlu cek ke rumah sakit ?” Tanya raya lagi sambil memasukan lipgloss nya kedalam tas,Dara sudah kembali berbaring.

“ gue…kurang tidur soalnya kemaren nonton drama korea nonstop dari pagi, dan gue kepikiran karena endingnya gak sesuai dengan apa yang gue harapkan, jadi gue kepikiran,” bohongnya, dara tak bisa membaginya pada raya untuk yang satu ini.

“ Ya Tuhan, Daraa! Jadi karena itu lo bahas cita-cita gue jadi intel ? sahabat itu harusnya ngedukung lho Dar! Kok lo malah nentang?! Berapa kali gue bilang kalo nonton film atau drama korea itu gak usah di bawa ke hati banget, biasa aja, orang fiktif kok, bo’ongan.” Omel raya gemas. “ udah tau kadang kondisi lo suka gak bisa normal kalo lo banyak pikiran, ini ending cerita aja lo pikirin sampe jauh, artisnya juga gak akan kenapa-napa. ” lanjutnya lagi. Dara mengangkat bahu, dia berusaha bangkit lagi dari tempat tidur namun kepalanya kembali pusing,akhirnya dia berbaring lagi.

“ lo istirahat aja disini, jangan di paksain kalo masih pusing,” Raya membetulkan letak selimut Dara, “gue temenin,” sahutnya riang.

“ kok lo seneng ?” mata Dara menyipit melihat Raya terlihat sumeringah karena menemaninya di UKS. Sahabat macam apa Raya ini, saat dirinya sakit dia terlihat sangat gembira.

“ soalnya gue belum ngerjain PR Akutansi, gue lupa, belum sempet nyontek juga, penuh banget tadi yang ngumpul di mejanya Ratna.” Raya terkikik. “ada untungnya juga lo pingsan,” katanya sambil mencubit pipi Dara. Ooh, jadi karena ingin mangkir dari hukuman berdiri di depan kelas dengan name tag besar yang bertuliskan ‘SAYA TIDAK MENGERJAKAN PR’ yang di kalungkan di depan dan belakang selama satu jam pelajaran, Dara menggeleng, dasar Raya. Raya memang bukan contoh anak kepala sekolah yang baik. PR aja masih males dia kerjain.

“ makanya gue bilang lo gak cocok jadi intel, Ra,” sindir  Dara, Raya tak peduli dia masih tersenyum senang karena selamat dari hukuman bu Widuri yang memalukan itu yang sekaligus akan mengahancurkan reputasi ayahnya.

“ itu makanya lo ambil tas gue sama tas lo kesini ?” tanya Raya lagi, ingin memastikan apakah benar Raya akan kabur jika ada kesempatan, mengantar Dara kerumah sakit misalnya.

“ mau nyalin PR punya lo, gue tadi ribet kalo nyari-nyari buku tugas lo, jadi gue bawa sama tasnya aja,” jawabnya sambiil membuka tas dara dan mencari buku yang diinginkannya.

Pintu UKS terbuka, Pak Darman masuk dengan dokter Pandu yang tadi keluar karena menerima telfon.

“ lho, Raya ? lagi ngapain disini ?” Pak Darman menatap Raya tajam

“ nemenin Dara, pak, tadi Dara sendirian, dokter Pandu kan keluar,” jawabnya cepat, melebihi batas normal untuk yang mendengarnya, sebenarnya Raya berusaha biasa saja, namun dia tak bisa menyembunyikan getaran suaranya di jawaban ekstra cepat tadi.

Pak Darman kaget mendengar jawaban ekspres Raya, keningnya berkerut, matanya memandang Raya curiga, namun sepertinya pak darman tak mau berurusan lebih lama dengan Raya, mengingat tadi pagi dia sudah berurusan dengan anak atasannya ini. “ nah, sekarang kan dokter sudah disini, kamu boleh ke kelas sekarang.” Titahnya, Raya melongo, tidaak, dia belum mengerjakan PR akuntansi.

“ tapi nanti kalau Dara sendirian lagi gimana ? dokter Pandu juga kan mungkin nanti akan ada keperluan,” Raya harus berusaha untuk tetap di UKS , harus tetap di UKS agar dapat menghindari hukuman bu Widuri.

“  saya sekarang akan antar Dara pulang, karena untuk kondisi seperti ini Dara lebih baik istirahat dirumah dari pada di UKS,” dan jawaban dari pak Darman mengantam hati Raya, dia melihat Dara tersenyum kecil, Raya yakin senyuman itu meledeknya, Raya menatap dara dan memohon pertolongan.

“ ehm..begini pak, tadi saya dapat telfon dari mertua saya kalau istri saya akan melahirkan, saya mau ijin pulang sekarang,” potong dokter pandu, dokter muda itu tersenyum lebar, rona bahagia terpancar dari wajahnya, menghipnotis orang untuk ikut tersenyum juga saat melihatnya seperti yang tiga orang yang ada di dalam uks ini.

“ ooh begitu, baiklah. selamat ya dokter, semoga lahirannya lancar, ibu dan bayinya juga sehat.” Pak Darman menjabat tangan dokter muda itu sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan bangga bagai ayah pada anaknya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.

“ selamat dokter,” kata Raya dan Dara  berbarengan, Dokter pandu yang sedang siap-siap pulang menoleh dan tersenyum.

“ terimakasih,” jawabnya bahagia.

“ baiklah, Dara tunggu dulu disini sebentar, saya akan menghubungi orang tua kamu.” Kata pak darman lagi. Kepala dua gadis itu berputar cepat ke arah pak darman, saking cepatnya menoleh karena serangan tak terduga dari pak  darman kepala Raya sampai mengeluarkan bunyi -krekk-.

“ biar Raya disini saja nemenin saya pak, nanti jam pelajaran ketiga saya masuk, istirahat sampai mata pelajaran pertama selesai udah cukup kok, saya kuat untuk belajar lagi,” Dara meyakinkan, tapi melihat dahi pak Darman berkerut seperti itu dara harus memutar otak lebih lagi, “saya takut sendirian pak,kalau ada Raya saya ngerasa aman, orang tua saya lagi keluar kota, kakek saya di operasi hari ini, kakak saya …” Dara berhenti sejenak dia harus mencari satu alasan lagi untuk meyakinkan pak Darman, “ kakak saya kuliah pak, lagipula dia mah orangnya cuek, saya gak percaya kalo saya bakal di rawat sama dia. Saya kuat kok pak buat belajar, Cuma sekarang saya masih pusing, gak apa-apa ya pak disini dulu sebentar.”  kata dara lagi, Pak Darman menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengangguk.

Pak darman keluar UKS dengan dokter pandu karena ada rapat mingguan pada jam itu dan meninggalkan raya dan dara di ruangan. Raya menghela napas lega.

“ thankyou berat daaaarrr,” sahutnya lega dan memeluk dara dengan semangat.

“ rambut lo, rambut lo!!” dara meronta dan sekuat tenaga melepaskan dirinya dari pelukan raya.

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A Ghost Diary
18      4     0     
Fantasy
Damar tidak mengerti, apakah ini kutukan atau kesialan yang sedang menimpa hidupnya. Bagaimana tidak, hari-harinya yang memang berantakan menjadi semakin berantakan hanya karena sebuah buku diary. Semua bermula pada suatu hari, Damar mendapat hukuman dari Pak Rizal untuk membersihkan gudang sekolah. Tanpa sengaja, Damar menemukan sebuah buku diary di tumpukkan buku-buku bekas dalam gudang. Haru...
My Andrean
86      26     0     
Romance
Andita si perempuan jutek harus berpacaran dengan Andrean, si lelaki dingin yang cuek. Mereka berdua terjebak dalam cinta yang bermula karena persahabatan. Sifat mereka berdua yang unik mengantarkan pada jalan percintaan yang tidak mudah. Banyak sekali rintangan dalam perjalanan cinta keduanya, hingga Andita harus dihadapkan oleh permasalahan antara memilih untuk putus atau tidak. Bagaimana kisah...
MERAH MUDA
4      4     0     
Short Story
Aku mengenang setiap momen kita. Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir.
The Last Mission
5      5     0     
Action
14 tahun yang silam, terjadi suatu insiden yang mengerikan. Suatu insiden ledakan bahan kimia berskala besar yang bersumber dari laboratorium penelitian. Ada dua korban jiwa yang tewas akibat dari insiden tersebut. Mereka adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai peneliti di lokasi kejadian. Mereka berdua meninggalkan seorang anak yang masih balita. Seorang balita laki-laki yang ditemuka...
Dark Fantasia
25      18     0     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
One Step Closer
17      7     0     
Romance
Allenia Mesriana, seorang playgirl yang baru saja ditimpa musibah saat masuk kelas XI. Bagaimana tidak? Allen harus sekelas dengan ketiga mantannya, dan yang lebih parahnya lagi, ketiga mantan itu selalu menghalangi setiap langkah Allen untuk lebih dekat dengan Nirgi---target barunya, sekelas juga. Apakah Allen bisa mendapatkan Nirgi? Apakah Allen bisa melewati keusilan para mantannya?
Kebaikan Hati Naura
4      4     0     
Romance
Naura benar-benar tidak bisa terima ini. Ini benar-benar keterlaluan, pikirnya. Tapi, walaupun mengeluh, mengadu panjang lebar. Paman dan Bibi Jhon tidak akan mempercayai perkataan Naura. Hampir delapan belas tahun ia tinggal di rumah yang membuat ia tidak betah. Lantaran memang sudah sejak dilahirikan tinggal di situ.
Sherwin
4      3     1     
Romance
Aku mencintaimu kemarin, hari ini, besok, dan selamanya
Throwback Thursday - The Novel
212      66     0     
Romance
Kenangan masa muda adalah sesuatu yang seharusnya menggembirakan, membuat darah menjadi merah karena cinta. Namun, tidak halnya untuk Katarina, seorang gadis yang darahnya menghitam sebelum sempat memerah. Masa lalu yang telah lama dikuburnya bangkit kembali, seakan merobek kain kafan dan menggelar mayatnya diatas tanah. Menghantuinya dan memporakporandakan hidupnya yang telah tertata rapih.
Daniel : A Ruineed Soul
5      5     0     
Romance
Ini kisah tentang Alsha Maura si gadis tomboy dan Daniel Azkara Vernanda si Raja ceroboh yang manja. Tapi ini bukan kisah biasa. Ini kisah Daniel dengan rasa frustrasinya terhadap hidup, tentang rasa bersalahnya pada sang sahabat juga 'dia' yang pernah hadir di hidupnya, tentang perasaannya yang terpendam, tentang ketakutannya untuk mencintai. Hingga Alsha si gadis tomboy yang selalu dibuat...